Love In Pesantren

Love In Pesantren
aku ingin jadi diriku


__ADS_3

Tiga bulan sudah, aku menjadi seorang istri. Ya memang sii istri yang tidak dianggap uh seperti sebuah judul yaa, tapi ini nyata.


Huuuuh, ku hembuskan nafas berat. Lelah sebenarnya aku tuh.


Hidup seperti ini tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Menikahi pria yang menyukai temanku. Aisshh kenapa lagi-lagi aku bikin judul sii?


Aaaah daripada aku pusing lebih baik aku lanjutkan kegiatanku saat ini. Eh iya lupa belum kasih tahu. Jadi selama tiga bulan terakhir ini, aku mencoba peruntungan dengan membuat kaligrafi untuk hiasan.


Akhirnya salah satu hobiku bisa menjadi tempat usahaku. Hmmm.


Sebenarnya Farrel memang memberiku nafkah setiap bulannya. Meskipun waktu memberinya tak ada kata-kata yang manis. Contohnya begini nih, "Nih buat beli garam." Dia lempar deh tuh amplop ke hadapanku.


Isshhh, liatin aja kamu yaa.


Tapi ada satu sisi yang membuatku sedikit bahagia karena sekarang Farrel rajin melaksanakan sholat wajib.


Meskipun dia belum mau ke mesjid, setidaknya kami selalu berjamaah kalau ada kesempatan.


Eiiits jangan salah paham dulu yaa, kami hanya sholat. Sikapnya padaku tak pernah berubah sedikitpun, aku sering diabaikan olehnya. Haissh aku mulai terbiasa ko tenang aja jangan panik hihi.


Pagi ini saat aku hendak mencuci, dengan sangat terburu-buru Farrel masuk ke dalam rumah. Entahlah dia habis darimana yang jelas sekarang dia teriak-teriak lagi memanggilku.


Aku pun setengah berlari menghampirinya ke dalam kamar.


"Iya."


"Kemasi baju kamu, kita ke rumah Uwa."


Apa katanya?


Aku malah terpaku karena bingung, melihat Farrel memasukan baju-bajunya itu ke dalam koper miliknya.


Kemudian dia menoleh ke arahku, ku lihat tatapannya tajam menusuk.


"Kamu denger ga sih?"


"Eh eum iya."


Sungguh aku gugup plus kaget.


Sesegera mungkin aku mengambil beberapa gamis dan kerudungku lalu ku masukan ke dalam tas milikku.


Kemudian aku mengejarnya sambil menenteng tas ini. Farrel menunggu dalam mobilnya sambil terus memandangi jam yang dia pakai di pergelangan tangannya.


"Dasar keong."


Itu hinaan kan ya?


Tapi kenapa aku ingin tertawa mendengarnya.


-------------------


Sesampainya di rumah Uwa, Siti menyambutku. Eh tunggu, kenapa seluruh penghuni seakan sudah tahu akan ke datangan kami?


Ah sudahlah, pasti tadi Farrel sudah memberitahu mereka.


Siti menggiringku ke sebuah kamar.


"Nah, kamu bakalan tidur di sini Sof. Aku tinggal dulu ya."


Aku memgangguk.


Setelah agak lama menunggu, tapi apa yang aku tunggu? Haha.


Aku pun keluar kamar mencari siapa saja yang ada di rumah ini.


Sayup ku dengar suara dari teras rumah ini. Aku pun berjalan ke arahnya.


Ku dapati di sana Uwa dan Siti sedang bercanda bersama Reasad.

__ADS_1


"Eh Sofi, sini !!"


Ucapan Uwa selalu diiringi senyuman ramah.


Aku pun ikut duduk bersama mereka, namun satu yang membuatku janggal. Kemana Farrel?


Mobilnya juga ga ada.


"Wa, Farrel mana?"


Pertanyaan yang tak bisa ku tahan itu keluar juga.


"Loh, dia kan ke Yogya ada urusan bengkel yang mendesak di sana."


Apa?


"Emang Farrel ga bilang?"


Siti terlihat heran.


Aku menggelengkan kepala, tak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Katanya Farrel di sana bakalan agak lama. Jadi dia nitipin kamu di sini."


Apa?


Eh gimana?


Aku di titipin?


Ah pasti itu kalimat Uwa aja yang di permanis. Farrel ga mungkin bicara semanis itu.


Tapi kenapa hatiku terbang?


Ah jangan Sof, jangaan!! Farrel ga semanis itu.


Uh Uwaa manisnya dirimu.


Ih Siti tahu aja aku lagi melamun hihi.


"Sofi, gimana apa udah ada tanda-tanda isi?"


Hah?


Isi? Isi apa maksudnya?


Pulsa?


"Isi apa?"


Kemudian Siti mengelus-elus perutnya sambil nyengir jenaka.


Aisshh aku tahu maksudnya.


Aku menggeleng cepat.


"Yaah ko belum sii, Uwa pengen punya cucu dari Farrel nih."


Nada bicara Uwa mirip anak kecil yang sedang merengek minta jajan.


Tapi, aku merasa bersalah sekarang.


Bagaimana bisa aku hamil? Bahkan sampai sekarang Farrel belum pernah meminta haknya.


Aku jadi malu sendiri membayangkannya.


Ampuun Sofii, ampuun. Kenapa otakku jadi condong ke arah sana, hadeuh.


"Eh muka kamu merah, Sof. Hayyo looh bayangin apa?"

__ADS_1


Suara ledekan Siti menyadarkanku.


Akhirnya aku jadi bahan candaan Uwa dan Siti. Uh sebel.


------------------


Seminggu berlalu, Farrel ga pernah menelpon ataupun mengirimiku pesan. Hal itu membuat diriku sedikit kecewa.


Ah memangnya aku berharap apa?


"Sofi, tadi Farrel telpon."


Uwa berbicara saat kami tengah di dapur menyiapkan masakan untuk makan malam.


"Gimana kabarnya Wa? Apa dia sehat?"


Uwa tersenyum.


"Dia, baik. Kalian bisa sehati gitu ya hmm."


Hah?


"Sehati apa?"


Uwa meletakkan pisau yang tengah di pegangnya.


"Iyaa, tadi Farrel juga nanyain hal yang sama tentang kamu. Kalimatnya juga sama. Ah Uwa ingin jadi pengantin baru lagi jadinya."


Eh eh, kenapa tuh mata Uwa menerawang begitu?


Tapi apa benar, Farrel nanyain kabar ku?


Ah sungguh mustahil.


--------------------


Setelah tiga minggu berlalu di rumah Uwa. Dengan tanpa komunikasi sama sekalidengan Farrel, aku semakin yakin dia senang berjauhan denganku.


Hari ini, aku bersama Siti dan Ustadz Ahmad bersiap pergi ke Pesantren. Hari ini adalah Ulang tahun pernikahan Mama dan Bi Haji.


Ustadz Ahmad bilang, Farrel sudah mengizinkanku. Aku percaya saja, bahkan untuk mengirim pesan padanya saja aku enggan.


Aku takut mengganggu pekerjaannya.


Untungnya Ustadz Ahmad berbaik hati memintakanku izin.


Acara di Pesantren ini di hadiri hampir semua alumni di sini. Kali ini tim kami lengkap, ceilah tim.


Nimas, Rista, Hulli, Siti, dan aku tentunya. Kami mengobrol di dalam aula ini. Iringan nasyid teralun begitu syahdu sepanjang acara. Mama dan Bi Haji tampak bahagia, bagaimana tidak ini adalah ulang tahun ke-30nya.


Sungguh usia pernikahan yang panjang namun selalu harmonis. Ustadz Zam, Ustadz Ahmad, dan Kak Amir ikut bergabung bersama kami.


Melihat mereka, aku mendadak ingat Farrel. Ah tidak, untuk apa aku mengingatnya?


Apa aku rindu? Ah tentu tidak.


Atau aku iri? Ya, mungkin aku iri melihat para sahabatku yang kini tengah becanda dengan keluarga kecilnya masing-masing.


Sang jomblo satu-satunya diantara kami yakni Hulli tadi pamit karena membantu seksi konsumsi.


Tuh kaaan yang jelas jomblo disini yaa aku.


Aku tersenyum melihat, Ustadz Zam memperlakukan Nimas. Manis sekali ya ampun, boleh gak aku iri?


Hatiku getir, dari dulu aku ingin seperti Nimas, aku ingin mengunggulinya. Namun semakin aku mencoba lebih baik darinya, semakin aku tertinggal jauh.


Karena terlalu asik menyamakan diriku dan Nimas sampai-sampai aku lupa seperti apa aku ini?


Akhirnya aku terjebak dan tidak bisa jadi diri sendiri.

__ADS_1


Aku selalu ingin melebihi kamu tapi aku tak bisa menggapaimu wahai sahabatku.


__ADS_2