
Farrel menarik tangan Sofia menuju mobilnya.
Diseret sii ini mah namanya.
"Lepas Rel sakit!!"
Sofia menarik tangannya namun gagal.
Farrel membuka pintu mobil dan barulah cengkraman tangan itu terlepas.
Farrel berjalan memutar dan masuk mobil duduk di kursi pengemudi.
Tak ada suara di sana, hingga mobil pun melaju.
"Kamu mempermalukan aku Rel."
CEKIIIIIIIIT....
Satu kalimat Sofia membuat mobil itu mengerem mendadak.
Farrel mendelik ke arah Sofia.
"Ngomong apa kamu?"
Wah nadanya gak enak banget di dengar.
Sofia yang masih kaget pun semakin takut karena ucapan Farrel.
Apa dia salah bicara?
Upps iya Sofia ga sadar tadi dia bilang apa.
"Setidaknya kamu pamitan tadi."
"Jadi kamu mau bilang aku ga punya sopan santun gitu?"
Nyadar dong Rel.
"Bukan begitu."
Ucapan Sofia tercekat karena melihat binar mata Farrel yang tak bersahabat.
"Kamu yang seharusnya malu, berangkat-berangkat tanpa izin suami."
Loh.
"Tapi kan Ustadz Ahmad udah minta izin."
"Diam kamu !!"
Sentakan keras yang diberikan Farrel pada Sofia membuat Sofia menunduk seketika.
"Dasar istri ga punya moral kamu, ga tahu hukum agama. Ga berguna kamu bertahun-tahun di Pesantren."
Eh ko ga enak gini.
Ngomong dong Sof.
"Pindah ke belakang !!"
Hah?
Sofia mengangkat wajahnya.
"Aku bilang pindah ke belakang !!"
Duh Farrel ga usah teriak-teriak juga kali.
Sofia pun bergegas pindah ke jok belakang.
Farrel pun melajukan mobilnya kembali.
Beberapa saat kemudian mobil terhenti lagi di tengah jalan. Sofia sedikit kebingungan, namun kemudian kebingungannya terjawab setelah seorang gadis datang membuka pintu mobil dan tersenyum ramah padanya dan juga Farrel.
"Lama nunggu?"
Cih,, suara Farrel mendadak lembut gitu.
"Lumayan, eh ini teteh istri kamu ya?"
Gadis itu menoleh ke arah Sofia yang juga tengah menatapnya.
"Iya."
Sofia menjawab singkat.
__ADS_1
Kemudian gadis itu mengalihkan pandangannya ke depan.
"Aku lapar."
Duh sok manja deh.
"Mau makan dimana?"
Ucap Farrel, sebelah tangannya terulur membelai rambut gadis itu.
Lalu apa respon Sofia?
Dia senyum sambil geleng-geleng pemirsahhh.
Ckck coba kalau author uh jambak aja jambaaak.. Hihi contoh ga baik ya.
-----------
Kini Sofia di dalam mobil sendirian menunggu sepasang kekasih yang tengah makan di sebuah restoran.
Sebenarnya sih tadi Sofia diajakin, tapi Sofia nolak. Yah bagus yaa ditolak, hmm lagian makan bareng pacar ajak istri. Eh gimana haha?
Sofia memilih berkutat dengan ponselnya mencari referensi baru dalam mengembangkan kaligrafinya.
Sudah banyak customer yang memakai jasanya untuk di jadikan hiasan di berbagai mesjid bahkan rumah.
Tapi Sofia ga sombong looh.. Bahkan ga ada yang tahu Sofia menggeluti bidang ini. Farrel yang notabene suaminya pun acuh tak mau tauu.. Uuuh Farrel, heii kamu yang lagi pacaran!! nanti author getok pakai centong baru nyaho.
-------------------
Malam harinya sepulang dari Pesantren dan mengantar pujaan hatinya Farrel. Kini Sofia tengah berada di dapur untuk makan.
Yaa secara tadi dia ga ikut makan di restoran pasti laper dong dia.
Sementara itu Farrel masih duduk di ruang tamu sambil sesekali menulis sesuatu dalam bukunya.
Nulis apa Rel? Nulis diary yak.
Dengan lahapnya Sofia makan tanpa menghiraukan seseorang yang berjalan di hadapannya membuka lemari es, kemudian meneguk air mineral di tempatnya berdiri.
Seseoarang itu kemudian ikut dudukdi meja makan, bersidekap dada dengan angkuhnya.
"Yang tadi itu Rani."
Eh siapa yang nanya ya?
"Kami udah jalan empat bulan."
Jalan apa Rel? Jalan santai?
Author ikut dong siapa tahu dapat sandal jepit hihi.
"Hei !!! Kamu denger ga suami lagi ngomong apa?"
Sofia menghentikan makannya.
"Suami? Yang mana suami?"
Sofia acuh lalu membawa piring kotornya ke tempat cuci piring.
"Ya aku suami kamu, dengerin!!"
Sofia mendelik kemudian duduk berhadapan dengan Farrel.
"Suami pamer pacar?"
Pertanyaan Sofia yang telak membuat wajah Farrel berubah datar seketika.
"Gini deh Rel. Kamu mau aku bilang sama Uwa? Atau kamu mau aku hukum?"
Uh Sof uh, author gemess.
"Lama-lama kamu makin berani ya."
Farrel murka.
"Pilihan di tangan kamu."
Sesungguhnya, hati Sofia kini rapuh untuk menatap sang suami saja dirinya enggan dengan berbagai bentakan yang telah dia terima selama ini. Tapi ada misi dalam hidupnya kali ini yakni meluruskan jalan Farrel, melembutkan hati yang keras pada diri Farrel.
Sofia yakin dirinya ditakdirkan untuk menuntun Farrel ke jalan yg lebih baik.
Duh Sofi, misimu berat yaa.
Setelah lama menunggu, akhirnya Farrel setuju untuk di hukum.
__ADS_1
Nah loh.
"Apa hukumannya?"
"Hafalin surat Ar-Rahman. Aku tunggu besok pagi."
Baru saja Sofia akan berdiri namun urung dilakukan karena ucapan Farrel yang satu ini.
"Ar-Rahman itu apa?"
Hah?
Sofia duduk kembali.
"Surat dalam Al-quran Farrel."
"Aku, emhh aku, aku gak bisa baca Al-quran."
Kali ini Sofia menatap Farrel.
"Dulu, aku ga pernah mau belajar. Meskipun Uwa memaksa aku tetep ga mau. Bahkan waktu Ahmad masuk Pesantren aku sempat kabur dari rumah saking ga mau ikut di masukin ke dalam Penjara islam itu."
"Astagfirulloh Farrel, apa tadi kamu bilang? Penjara islam?"
Sofia menggelengkan kepalanya.
"Iya kan kalau udah masuk Pesantren kita ga bisa bebas kan?"
Duh Farrel ko bisa polos gitu sii.
Sofia tersenyum akhirnya.
"Tapi gimana dong, kamu tetep harus di hukum. Kalau enggak, aku terpaksa bilang Uwa."
"Jangan!! Jangan bilang Uwa."
Farrel panik.
Sofia bergeming dalam duduknya memperhatikan sang suami.
"Ajari aku baca Al-quran."
Kalimat itu yang di tunggu Sofia akhirnya muncul juga ke permukaan. Sofia tersenyum dalam diam.
Sofia menang lagi kan.
Uwa masih jadi senjata untuk menaklukan Farrel, karena Sofia tahu betapa Farrel menyayangi Uwanya tersebut.
"Ok, mula-mula kamu harus belajar iqro dulu. Besok aja deh aku beli, sekarang istirahatlah kamu pasti cape pulang dari Yogya."
Kemudian Sofia berlalu ke kamarnya untuk beristirahat meninggalkan Farrel di sana yang masih termenung.
Niat hati ingin menyakiti Sofia eh dirinya kalah...
Ini namanya senjata makan tuan bukan sii.
Farrel tak habis fikir kenapa dirinya selalu kalah menghadapi Sofia. Apa Sofia dilindungi jin?
Begitu fikiran bodohnya bergerilya.
Farrel, Farrel tahu ga kamu tuh gemesin sebenernya polos sepolos kepala pelontos.
Farrel masih di sana, dirinya enggan untuk sekedar membaringkan tubuhnya di kasur. Karena pastinya dia akan berdekatan dengan Sofia yang entah mengapa selalu membuat sesak di dadanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
# Agak-agak gimanaa gitu yaa ini cerita. Maafkan bila kurang nyambung, author juga bingung haha. Nikmati aja yaa, senikmat-nikmatnya. (Author)