Love In Pesantren

Love In Pesantren
Di mataku kamu tetap anak kecil


__ADS_3

Hulliyah masih menormalkan kondisi tubuhnya yang merasa kelelahan meskipun sudah beristirahat. Hulliyah masih mendudukkan dirinya di tempat tidur, matanya memperhatikan sang ibu yang terlihat sedang membereskan pakaian Hulliyah yang dia bawa dari Pesantren.


"Udah Bu, simpan saja! Nanti aku beresin sendiri." Hulliyah mencoba melarang ibunya.


"Nanggung ini. Oh iya barusan Nak Haqi nelpon, nanyain kamu udah sampai apa belum."


"Bodo Ah ...." Hulliyah kecewa pada Haqi yang tidak menghubunginya dan malah menghubungi orang lain.


"Eh kenapa? Mukanya ditekuk gitu." tanya ibu.


Hulliyah menggelengkan kepalanya kemudian keluar kamar meninggalkan sang ibu yang masih sibuk membereskan pakaiannya.


--------------------


Rumah Hulliyah kini mulai berhias diri, dipercantik sebagai tanda akan adanya acara besar di rumah itu. Tetangga terutama para ibu berdatangan silih berganti untuk nyambungan (istilah dalam Bahasa Sunda yakni kebiasaan memberikan makanan ataupun sesuatu kepada tetangga yang akan melaksanakan pesta).


Diantara para tetangga itu, ibunya Beni turut hadir.


"Semoga kali ini pernikahannya lancar, yang paling penting mempelai prianya gak kabur lagi."


Do'a yang baik tapi menusuk terdengar di telinga Hulliyah yang notabene memiliki kepekaan luar biasa untuk merasakan sakitnya hati.


Meski sebenarnya Hulliyah pun memiliki ketakutan itu, kini Hulliyah berharap besar pada Haqi.


Ah tapi sekarang menghubungi saja tidak, apa bisa Hulliyah percaya pada Haqi?


Hulliyah termenung sendiri setelah kepulangan para tetangga, kata-kata yang benar adanya kini bercampur dan saling membelit dalam kepala Hulliyah.


"Pengantin melamun aja," suara sang ibu membuat Hulliyah mengerjap.


Sang ibu mendudukkan dirinya di samping Hulliyah, sang ibu memperbaiki kerudung Hulliyah yang hampir tak berbentuk.


"Mikirin apa?" tanya ibunya.


Hulliyah menunduk lesu.


"Aku takut Bu," jawab Hulliyah.


Sang ibu tersenyum kemudian memegang telapak tangan anaknya, mengelusnya penuh sayang.


"Tidak ada yang perlu ditakutkan, ada Ibu Nak. Ibu selalu ada di sampingmu. Kamu tidak sendirian, lagipula Nak Haqi bukan Beni. Percaya sama Ibu."


Hulliyah menatap ibunya, mata sang ibu seketika memberi kehangatan untuknya. Hulliyah merasakan ketenangan setelah mendengar penuturan ibunya. Hulliyah seolah merasakan trauma menjelang hari bahagianya.


Benarkah Haqi berbeda dengan Beni?


Sungguh pertanyaan yang sulit dijawab dan terus berputar-putar dalam benak Hulliyah.


"Sekarang jangan melamun-melamun lagi! Kita siap-siap nanti sore pengajian."

__ADS_1


Sang ibu mengingatkan bahwa sore nanti akan ada pengajian untuk mendo'akan kelancaran acara pernikahan.


Hulliyah menganggukkan kepalanya, meski ketakutan itu masih ada tetapi Hulliyah kini hanya bisa berserah kepada Sang Pencipta.


---------------------------


Sore harinya pengajian digelar, para tetangga yang memang diundang turut hadir memberikan do'a.


Hulliyah melantunkan ayat suci Al-quran ditengah acara. Pengajian berjalan dengan sangat khusyuk dan syahdu.


Tibalah waktunya, Hulliyah meminta maaf kepada kedua orangtuanya. Hulliyah terduduk di bawah ayah dan ibunya. Hulliyah memandang wajah sang ayah yang kala itu masih diam tanpa ekspresi.


Hulliyah meraih tangan ayahnya dan menciumnya sebagai tanda hormat.


Hulliyah menangis di pangkuan ayahnya meminta maaf telah mengabaikannya beberapa minggu belakangan ini.


"Maafkan Lia, Ayah ... maafkan," ucap Hulliyah lirih.


Sang ayah merasakan haru yang amat sangat, kemudian membangunkan Hulliyah dan memeluknya sayang.


"Tidak Lia, anak Ayah. Ayah yang seharusnya bersujud padamu, ayah terlalu mementingkan ego dan tidak menghargai perasaanmu. Ayah terlalu takut kamu menderita, Ayah tidak sadar ternyata Ayahlah yang membuatmu menderita."


Sang ayah mengeluarkan hal yang selama ini dipendamnya. Hulliyah menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian berkata, "tidak Yah, aku yang salah."


Interaksi yang tercipta antara Hulliyah dan ayahnya membuat suasana dilingkupi keharuan.


"Berbahagialah bersama Haqi, Ayah merestui Nak. Tidak ada seorang ayah pun yang tidak ingin melihat anaknya bahagia, begitu juga dengan Ayah. Kini Ayah yakin, Haqi terbaik untukmu."


Hulliyah kemudian beranjak pada sang ibu dan meminta maaf akan kesalahannya lagi.


Dulu waktu akan menikah dengan Beni, Hulliyah pun melakukan hal yang sama tetapi kali ini sungguh berbeda, keharuan yang tercipta pun berbeda. Hulliyah berharap semua akan lancar pada waktunya.


---------------------


Di tempat lain, Haqi yang baru tiba di rumahnya sepulang dari Palembang masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Haqi datang bersama keluarga besarnya, adik bersama suaminya, ayah dan ibunya, kemudian sanak saudara yang lain juga ikut.


Hal itu mengakibatkan rumah kecilnya penuh sesak.


Haqi masuk ke dalam kamar menghindari kebisingan karena ulah keponakannya. Haqi mendapatkan pesan berupa video dari adiknya Hulliyah.


Haqi mendudukkan diri di atas tempat tidurnya kemudian membuka video itu.


Haqi melihat di sana Hulliyah yang melantunkan ayat suci sampai Hulliyah yang menangis bersama ayah dan ibunya.


Haqi menyunggingkan senyum bahagia melihatnya.


"Good job anak manis."


Haqi berkata secara spontan melihat video itu. Haqi ikut berbahagia karena kini Hulliyah dan ayahnya sudah saling memaafkan.

__ADS_1


"Qi ... makan dulu!" teriakan sang ibu membuat Haqi harus mengakhiri video tersebut. Haqi keluar kamar dan menghampiri keluarga besarnya yang sudah mulai berkumpul untuk makan.


"Maaf berisik ya Qi."


Salah satu saudaranya merasa tidak enak dengan kelakuan anak-anak yang turut ikut ke rumah Haqi.


"Aku seneng loh, biasanya aku sendirian melamun kerjaanku."


"Tenang aja Kak besok-besok mah ada yang nemenin, acie ...." Sang adik menimpali dengan penuh candaan.


"Diam kamu anak kecil!" Haqi melempar sejumput nasi ke arah adiknya.


"Dih ... dih, aku bukan anak kecil lagi Kakak! Liat nih perutku udah buncit, udah bisa bikin anak." Adiknya Haqi memamerkan perutnya yang memang sudah membesar karena hamil.


Namun bagi Haqi, adiknya itu tetaplah anak kecil dan tidak pernah besar walau kini nyatanya adik kecilnya itu akan segera memiliki anak.


"Di mata Kakak, kamu itu masih Tk tau."


Lagi-lagi Haqi melemparkan sejumput nasi ke arah adiknya.


"Ummi, Kakak tuh buang-buang makanan." Adiknya mengadu pada Bu Salamah.


"Kalian memang sama saja, cepat makan!"


Perintah dari Bu Salamah seperti perintah jenderal yang tidak bisa dibantah.


Mereka pun akhirnya makan tanpa perdebatan, walau sesekali Haqi dan adiknya saling melemparkan tarapan sinis karena merasa peperangan diantara mereka belum selesai.


Seusai makan, Haqi kembali ke dalam kamarnya guna melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat terjeda. Haqi memutar kembali video itu dan mempausenya ketika dalam layar menampakkan wajah Hulliyah dengan sangat jelas.


Haqi menatap wajah istrinya dengan penuh kekaguman, *make up natura*l yang dikenakan Hulliyah membuatnya nampak segar dipandang mata.


"Oh ini mempelainya?"


Sang adik membuat Haqi berjingkat bagaimana tidak, tanpa sepengetahuan Haqi adiknya itu sudah duduk tepat di sampingnya.


"Kapan kamu masuk?" tanyanya.


Sang adik tidak menjawab, dia malah merebut ponsel sang Kakak dan memperhatikan Kakak iparnya di layar itu..


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2