Love In Pesantren

Love In Pesantren
Menyalahkan diri sendiri


__ADS_3

Akhirnya sore ini, Hulliyah datang ke rumah Nimas untuk berangkat bersama.


"Naik apa kita?"


Tanya Nimas disela kegiatannya mempacking barang yang sekiranya diperlukan dirinya dan juga Zamima.


"Tadinya sih aku mau naik kereta api, tapi semalam Sofia telpon katanya biar kita naik mobilnya Farrel aja."


"Berarti Farrel ikut?"


Tiba-tiba Ustadz Zamzam ikut berbicara.


"Sepertinya begitu."


Suara klakson membuyarkan obrolan mereka.


Nimas, Hulliyah dan Ustadz Zamzam yang menggendong putri kecilnya pun keluar dan mendapati Sofia di sana tengah tersenyum.


Ustadz Zamzam memberikan Zamima pada Nimas.


"Semoga selamat sampai tujuan, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku."


Nimas mengiyakan dan membiarkan sang Ustadz menciumi Zamima.


"Mima jangan nakal jangan rewel yaa."


Ocehan sang ayah dibalas tawa geli Zamima.


Hmmm sungguh pemandangan yang indah.


-------------------


Awalnya perjalanan berjalan lancar, Zamima tertidur di pangkuan Nimas. Hulliyah nampak nyerocos menjelaskan tentang kampung halamannya.


Hulliyah bisa disandingkan dengan radio yang tak berhenti bersuara, sesekali di sahuti Sofia maupun Nimas.


Sementara Farrel terlihat jengah mendengarnya dan lebih memilih memakai headset guna menyelamatkan telinganya.


Setengah perjalanan telah mereka lewati sampai akhirnya Zamima bangun. Zamima bangun sambil menangis tantrum.


Tidak biasanya Zamima seperti itu membuat Nimas panik.


Hulliyah dan Sofia pun ikut panik dibuatnya.


"Rel, kita istirahat aja dulu, Mima kasihan." pinta Sofia.


Farrel pun menepikan mobilnya, Nimas bergegas keluar sambil menggendong Zamima yang masih dengan tangisannya yang keras membuat Nimas kewalahan.


"Kepanasan kali Nim, buka dulu deh jaketnya."


Hullliyah membantu membukakan jaket Zamima, sementara Sofia membantu mengipasinya.


"Maaf yaa, perjalanannya jadi terganggu begini, ini perjalanan jauh pertama Mima. Mungkin Mima kaget ya."


Nimas yang telah berkeringat karena panik memandang Zamima sambil terus berusaha menenangkannya.


"Ga apa-apa Nim, kita aja orang dewasa pegel apalagi Mima."


Seketika itu rasa bersalah timbul di hati Nimas karena keegoisannya Mima harus menderita.


"Ko nangis dua-duanya si."


Sofia makin panik karena melihat kini Nimas pun menangis memeluk Zamima yang masih menjerit-jerit itu.

__ADS_1


Sofia segera mengambil alih Zamima dan Hulliyah menenangkan ibunya.


Duh ko jadi ribet.


Nimas yang tak tega melihat Zamima malah ikut menangis, Hulliyah kini memeluk Nimas untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Seharusnya aku ga ikut Hulli."


Disela isakannya, Nimas berbicara lirih dipandanginya Zamima yang menangis makin menjadi di gendongan Sofia.


Nimas pun bangkit dan kembali menggendong Zamima, sambil menangis Nimas berusaha menenangkan Zamima.


Setelah agak lama, barulah tangisan Zamima mereda. Nimas langsung memberikannya ASI.


"Apa aku mending pulang aja ya?"


Nimas berkata waktu mereka mulai duduk kembali di dalam mobil.


"Setelah belokan ini kita nyampe Nim. Lagian kasihan Mima kalau harus kembali perjalanannya lebih jauh lagi."


Setelah difikir, memang benar dan akhirnya Nimas pun tetap melanjutkan perjalanan bersama para sahabatnya itu.


Dipandangi kembali wajah Zamima, hidung dan matanya nampak memerah karena menangis.


Sejujurnya Nimas tak tega melihatnya dan lagi Nimas menangis.


Yaelah Nim, Mima kan udah ga nangis. Kenapa malah kamu yang nangis lagi ckck.


"Udah dong Nim, jangan nangis nanti Mima ikutan nangis lagi."


Hulliyah berkata asal namun ada benarnya juga.


Nimas berusaha meredam tangisnya.


Duh Rel, inget disebelah kamu ada istri woii.


Setengah jam berlalu akhirnya mereka sampai ditujuan. Hawa sejuk menyambut kedatangan mereka.


Hamparan kebun teh nan hijau nampak indah di sore hari menuju senja ini.


Biasanya waktu perjalanan hanya akan memakan waktu satu jam, tapi karena ada insiden tadi perjalanan mereka molor dua jam.


Nimas kini jadi agak pendiam, setiap kali melihat wajah sang putri setiap itu pula rasa bersalah menyeruak di dadanya.


Ga gitu juga Nim.


Menjelang magrib barulah mereka sampai di rumah Hulliyah, setelah tadi berjalan kaki dari tempat diparkirkannya mobil. Perjuangan terbayarkan sudah karena yang pertama dilakukan ialah menyapa Sulis dan kedua orang tua Hulliyah yang menyambut mereka dengan gembira.


---------------


Selepas isya, dentuman musik dinyalakan. Karena memang adat kebiasaan di kampung Hulliyah memang seperti itu. Menyalakan musik semalam suntuk jika ada yang punya acara.


Tentu saja hal itu membuat Zamima terusik dan kembali menangis bahkan menjerit.


"Dedeknya pasti kaget ya."


Suara ibunya Hulliyah berlomba dengan suara musik itu.


"Duh ini ga bisa, aku mau pulang aja."


Nimas putus asa kemudian memberikan pesan singkat kepada suaminya agar menjemputnya. Tak perlu waktu lama Ustadz Zam pun menelpon.


Nimas mencari tempat yang agak sepi dari suara musik itu. Sementara Zamima di gendong Sofia meskipun itu tak berarti apa-apa. Zamima masih saja menangis.

__ADS_1


""Aa jemput aku sekarang!!""


""Kenapa neng? Ada apa?""


""Mima nangis terus.""


Ustsdz Zamzam.pun mengerti dan langsung mengiyakannya.


Nimas kembali ke tempat dimana Sofia dan Zamima berada.


Zamima masih terus menjerit-jerit, Nimas pun tak enak hati pada si pemilik rumah lalu meminta maaf, " Kak Sulis maaf yaa, semoga besok acaranya lancar, dan dedeknya cepat sembuh. Maaf aku kesini malah bikin berisik anakku nangis terus."


Nimas tersenyum getir.


"Ga apa-apa Nim lagian wajar anak segitu kalau baru pertama kali perjalanan jauh."


Nimas mengangguk sambil terus menyalahkan dirinya.


"Nanti A Zam akan menjemputku pulang."


"Loh ko gitu Nim?"


Sulis sedikit tak terima.


Nimas tersenyum lagi.


"Aku mau pulang aja kasihan Mima."


Meski Sulis menahannya tapi Nimas bersikeras akan pulang malam ini juga.


Sofia datang menghampiri Nimas dengan Zamima yang agak tenang.


"Nim, Mima badannya anget."


Nimas mengambil Zamima dan benar suhu tubuh anaknya itu meningkat.


Nimas makin panik kan jadinya.


--------------------


Beberapa jam kemudian Ustadz Zamzam tiba di sana.


Dan kini Nimas dan Ustadz Zamzam tengah berada di dalam mobil untuk kembali pulang setelah tadi berpamitan terlebih dahulu.


Zamima memang sudah tidak menangis tapi badannya semakin panas membuat Nimas tak tenang, entah mengapa sedari tadi sang Ustadz pun tak mengeluarkan suaranya sedikitpun.


Nimas tak memperdulikannya kini yang ia pedulikan hanya keadaan Zamima.


Sesaat kemudian tubuh Zamima menegang, Nimaa pun panik.


"Aa, Mima kenapa ini?"


Sang Ustadz menoleh dan kaget melihat putrinya kejang-kejang mata Zamima melotot arah retinanya ke atas. Jari-jarinya yang lentik saling berbelok.


"Kenapa? Kenapa ini?"


Mereka berdua panik pemirsahh.


Untung saja saat melewati jalan besar, mereka melewati Rumah sakit di sana.


Sang Ustadzpun turun membukakan pintu mobil agar Nimas juga keluar.


Sesegera mungkin Ustadz Zamzam merebut Zamima dan berlari memasuki ruangan IGD. Nimas mengikutinya dibelakang dengan isakan tentunya.

__ADS_1


__ADS_2