Love In Pesantren

Love In Pesantren
Rival


__ADS_3

Sang adik merebut ponsel milik Haqi kemudian menatap layar itu lamat-lamat.


"Gak sopan! Kalau mau masuk itu kasih salam atau ketuk pintu, bukan nyelonong." ucap Haqi.


Sang adik mendelik tajam tidak terima dengan ucapan kakaknya.


"Kakak yang budeg, dari tadi aku ketuk gak nyahut-nyahut. Eh pas masuk ternyata lagi liatin bini."


"Kamu ngomong apa? Ngatain Kakak apa?" tanya Haqi tak terima.


"Budeg." Adiknya menjawab enteng.


Haqi dibuat gemas sendiri dengan kelakuan adiknya ingin rasanya dia mencekik adiknya itu, tetapi Haqi ingat pada perut buncit sang adik sehingga dia harus mengalah dan meremas-remas guling dipangkuannya sebagai pelampiasan.


"Kamu harus berterimakasih sama ponakanku, kalau gak ada dia ... Kakak cekik kamu." kata Haqi.


"Wah KDRT ini, aku bilangin Kakak Ipar ya. Biar batalin pernikahannya, takutnya nanti Kakak ngapa-ngapain Kakak Ipar lagi kalau udah nikah."


"Emang udah diapa-apain kok, lapor saja sana!" tantang Haqi.


Perkataan Haqi barusan membuat sang adik menganga kemudian menutup mukanya berpura-pura malu.


"Duh aduh, aku kan polos Kakak ..."


Haqi menatap sinis adiknya. "Kamu lebih pengalaman juga, sampai kembung gitu," ejek Haqi sambil menunjuk perut adiknya.


Pertikaian tidak sampai disitu, Haqi dan adiknya masih saling melontarkan ejekan demi ejekan namun hal itu bukan karena mereka saling membenci melainkan bentuk kasih sayang yang tidak harus selalu diungkapkan.


-------------------


Setelah puas bertikai dengan adiknya, Haqi meminta izin ayah dan ibunya untuk pergi ke Pesantren menemui Mama Haji. Ada banyak hal yang ingin Haqi bicarakan kepada Mama Haji.


"Gak baik calon pengantin jalan-jalan sebelum hari H." Bu Salamah melarang anaknya untuk pergi.


"Itu hanya mitos Ummi, lagian aku bukan calon pengantin kok. Aku kan udah nikah."


Haqi bersikeras untuk pergi.


Bu Salamah tidak bisa lagi menghalangi Haqi untuk pergi.


Akhirnya Haqi berangkat diiringi kecemasan dari keluarganya.


Ya ampun, emangnya aku mau perang apa? Dianterin sampai teras sama semua orang ckck.


Haqi menganggap tindakan kelurganya berlebihan. Setelah itu Haqi menjalankan mobilnya pergi ke Pesantren.


-----------


Di Pesantren ternyata sedang ada pengajian mingguan, Haqi ikut masuk ke dalam Aula untuk menunggu Mama Haji selesai sembari mengikuti tausiyah itu.

__ADS_1


Mama Haji yang berdiri di mimbar sedang memberikan tausiyah yang diambil dari hadist arba'in bab ke limabelas.


"Jika seorang mengimani Alloh dan hari akhir maka orang itu akan melakukan tiga perkara. Ada yang tahu apa saja itu?" tanya Mama disela tausiyahnya. Semua jama'ah menggelengkan kepala tanda tidak tahu atau bahkan takut salah.


"Pertama, orang yang mengimani Alloh dan hari akhir itu akan diam, maksudnya diam apa? Jawabannya adalah jika tidak ada omongan yang bermanfaat maka diam. Tidak banyak bicara hal-hal yang sembarangan."


Mama meneguk air di depannya sebelum melanjutkan tausiyahnya.


"Kedua, orang tersebut akan memuliakan tetangga. Ada yang tahu definisi tetangga dalam islam?" tanya Mama Haji.


"Tetangga itu empat puluh rumah ke barat, empat puluh rumah ke timur, empat puluh rumah ke utara, serta empat puluh rumah ke selatan. Itu namanya tetangga." Mama Haji menjelaskan tanpa menunggu jawaban dari para jama'ah.


"Terus satu lagi nih orang yang beriman pada Alloh dan hari akhir ini adalah selalu memuliakan tamu. Sekiranya kita tahu adab dalam menjamu tamu itu bagaimana."


Haqi yang duduk paling pojok mendengarkan penuturan Mama Haji dengan seksama. Haqi larut dalam keasikannya sendiri sehingga lupa akan tujuannya menemui Mama Haji.


Setelah pengajian usai, Haqi malah menaiki mobilnya dan menggasnya untuk pulang. Sesampainya di ujung jalan, barulah Haqi menyadari dan memutar balik mobilnya. Namun disaat itu, Haqi melihat sosok yang menjadi rivalnya dimasa lalu.


Haqi melihat Beni dengan baju biasa tanpa mengenakan seragamnya sedang berdiri di pinggir jalan.


Haqi ingin bersikap tak acuh, tetapi hasratnya tidak bisa. Akhirnya Haqi menyapa dan membuka kaca mobil setengahnya.


"Assalamualaikum."


Beni menyipitkan kedua matanya menerka-nerka siapa yang memberinya salam.


"Siapa ya?"


"Ini saya, yang waktu itu ketemu di jalan sepulang dari kampung Hulli." kata Haqi.


Beni menatap Haqi gusar, bukannya dia tidak mengenal Haqi hanya saja Bwni merasa malas untuk mengobrol dengan orang yang menggantikan tempatnya itu.


"Oh iya saya ingat. Darimana?" Beni berbasa basi.


"Habis dari Pesantren."


"Oh seperti itu, bagaimana kalau kita minum kopi dulu. Anggap saja bentuk terimakasih karena anda pernah menolong saya. Kebetulan di sana ada cafe. Mari!"


Beni terpaksa mengajak Haqi untuk berbincang sebentar meski hatinya menolak, setidaknya dia masih ingat budi kebaikan Haqi dan Beni tidak ingin memiliki hutang budi jadi dia akan membayarnya hari ini.


-------------------


Meja bundar dihiasi pot bunga kecil dan juga dua cangkir kopi kini menjadi saksi obrolan antara kedua pria yang sama-sama mengenal Hulliyah.


"Saya dengar lusa Lia ...." Beni menggantung ucapannya.


"Iya, kami akan meresmikan pernikahan. Jika memiliki waktu silahkan datang!" kata Haqi.


Beni tersenyum miring, "sebenarnya apa yang Anda lihat dari Lia?"

__ADS_1


Haqi menatap Beni, merasa heran dengan pertanyaan yang ditujukan untuknya.


"Maksud Anda?"


Beni tertawa pelan kemudian meneguk kopi miliknya.


"Ayahnya Lia itu matre, asal Anda tahu. Lia juga tidak cantik-cantik amat, dandanannya kayak ibu-ibu pengajian."


"Maksud saya, kenapa Anda menjelek-jelekkan istri saya?" ucap Haqi.


Beni menatap Haqi seakan meremehkan, "saya tahu Anda menikahi Lia hanya supaya ada yang menunggu rumah dan masak 'kan?"


Haqi menatap Beni dengan tajam, dirinya geram karena Hulliyah dijelek-jelekkan oleh Beni.


"Anda diam berarti saya benar, iya 'kan? Saya dulu juga begitu, terpaksa akan menikahi Lia karena alasan itu." Beni kembali berkoar.


"Beruntungnya istri saya tidak jadi dengan Anda, berarti Alloh benar-benar sayang terhadapnya dan tidak membiarkan Sypa menderita karena menikah dengan Anda. Saya menjadikan Sypa istri saya, karena akhlaknya. Saya menikahinya karena Alloh tidak ada alasan apapun selain itu. Saya tegaskan pada Anda, jangan sekali-kali menjelekkan istri saya pada siapapun! Permisi."


Haqi berlalu meninggalkan Beni yang sedikit tercengang dengan ucapannya.


Beni merasa tidak nyaman karena posisinya tergantikan begitu saja. Beni tidak terima, sekarang syetan dalam dirinya sedang berusaha mencari cara supaya Haqi menelan semua perkataannya dan meninggalkan Hulliyah.


Aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain pun tidak!


----------------


Haqi melajukan mobilnya dengan perasaan yang kesal. Berkali-kali Haqi beristigfar supaya perasaannya tenang tetapi tetap saja, Haqi merasa kesal dan ingin memukul Beni. Sekuat tenaga Haqi mencoba menenangkan jiwanya supaya tidak diambil alih oleh syetan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#Plis thor jangan kayak sinetron!(readers)

__ADS_1


#Nonton sinetron aja ga pernah, gimana mo bikin sinetron😭(author)


Yang pasti kalian akan suka😉


__ADS_2