Love In Pesantren

Love In Pesantren
Di sini akhirnya


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Nimas sudah sangat kerepotan mempersiapkan perlengkapan untuk menginap di Villa. Walaupun hanya akan menginap semalam, tetapi Nimas mempersiapkan perlengkapan seperti akan pindah rumah.


Segala sesuatu keperluan kedua anaknya dia siapkan dengan teliti.


Setelah semua siap, kini Nimas bergelut di dapur membuat sarapan sekaligus bekal yang akan dibawa ke Villa.


Sementara sang Ustadz tengah bercanda dengan kedua anaknya di dalam kamar. Tawa Zamima terdengar sampai dapur membuat Nimas menyunggingkan senyum disela kegiatannya memasak.


Andai saja tidak pernah ada masalah, hidupnya mungkin akan selalu bahagia. Ah bukan hidup namanya jikalau datar-datar saja.


Tinggal bagaimana cara untuk menyikapinya, Nimas tahu semua itu. Setelah banyaknya kesakitan yang dia terima, tidak salahkan jika kini dirinya menuntut sang suami supaya lebih peka?


Waktu bergulir semakin siang Haqi dan Hulliyah sudah datang menjemput untuk pergi bersama-sama. Nyatanya yang paling repot di sini tetaplah Nimas. Setelah tadi dengan susahnya membujuk Zamima untuk mandi sekarang Nimas dibuat pusing karena Zamima ingin disuapi olehnya.


Sementara Khalila belum dia dandani. Untunglah Hulliyah mengerti dan membantu mengurus Khalila.


-------------------------


Setelah berbagai drama pagi hari, akhirnya mereka berangkat juga ke tempat tujuan yakni Villa yang dekat dengan objek wisata danau buatan di kota itu.


Hari terus merangkak menuju puncaknya, tetapi tak menyurutkan semangat mereka yang akan menghabiskan akhir pekannya di danau tersebut.


Lokasi yang tidak terlalu jauh, membuat mereka sampai hanya dengan satu jam perjalanan.


Setibanya di tempat tujuan, mereka dimanjakan dengan pemandangan yang asri, sejuk, serta indah. Suara deburan halus riak air danau mengikuti arah angin menuju daratan, terdengar syahdu bagai alunan musik memanjakan telinga. Udara yang bergerak itupun menari-nari menyentuh apa yang dilewatinya. Dedaunan bergoyang kala terlewati olehnya, menjadi nilai tambah yang mempercantik suasana di sana.


Danau yang lumayan besar itu dikelilingi bangunan-bangunan yang memang diperuntukkan untuk kegiatan wisata. Beberapa penginapan dan Villa berjejer di sekitarnya.


Lapak-lapak pedagang ikut meramaikan tempat itu. Sungguh suasana yang bersahabat untuk mereka yang ingin berlibur.


--------------------


Ustadz Zamzam menunjukkan jalan menuju sebuah Villa yang akan mereka tempati. Villa yang bergaya minimalis itu memiliki dua kamar dengan ruang tamu dan dapur menyatu tanpa sekat. Halaman belakangnya menghadap langsung ke danau. Ada sebuah bangku dari bambu di sana.


Nimas dan Hulliyah sangat bersemangat melihat-lihat isi Villa. Mereka tidak tahu apa yang direncanakan suami mereka masing-masing, yang jelas ini menjadi liburan pertama mereka bersama-sama.


Berbagai rencana apa yang akan mereka lakukan nanti malam serta esok hari mereka bicarakan.


Mereka beristirahat di halaman belakang sambil menikmati indahnya pemandangan danau. Teriknya matahari tak menyurutkan semangat mereka. Zamima anteng bermain di dekat mereka, sementara adiknya tertidur di kamar.


Ditengah keseruan mereka mengatur rencana tiba-tiba dari arah dalam sang Ustadz datang. Hulliyah seakan mengerti situasi, dia bergegas masuk ke dalam sambil mengajak Zamima.


Tinggallah kini Ustadz Zamzam dan Nimas dalam hawa panas matahari dan mata hati.


"Gimana neng suka tempatnya?"


Ustadz Zamzam mendudukkan dirinya di samping Nimas.


Nimas menatapnya sengit, kemudian tanpa menjawab pertanyaan suaminya Nimas melenggang masuk ke dalam.


Sang Ustadz yang kecewa akan sikap Nimas hanya bisa menghela napas. Sungguh dirinya dilanda kekalutan yang luar biasa.


Rasanya diabaikan istri ternyata lebih sakit dibandingkan dengan tidak mendapatkan donatur.


Hanya karena ingin menjaga image sang Ustadz rela mendzolimi istri.


Hal yang manusiawi memang karena tak ada satupun makhluk yang sempurna apalagi untuk mengejar urusan duniawi.


Sekali lagi, Ustadz juga manusia.


"Kenapa lagi Stadz?"

__ADS_1


Suara Haqi yang tiba- tiba muncul membuat sang Ustadz terperanjat dan membiarkan berbagai lamunannya berlarian.


Ustadz Zamzam belum menjawab pertanyaan Haqi, sebelum akhirnya Haqi duduk di sampingnya.


"Nimas masih nyuekin aku."


Haqi tergelak mendengar ucapan Ustadz Zamzam. Haqi menepuk- nepuk pundak sang sahabat bertujuan untuk menguatkan tetapi juga sedikit meledek.


"Stadz, masih inget gak materi PAI kelas tiga?" tanya Haqi.


Sang Ustadz mengerutkan keningnya dalam.


"Yang mana?"


Haqi merubah posisi duduknya hingga menatap sang sahabat.


"Yakin nih mau aku jelasin? Lucu gak sih aku nasehatin seorang Ustadz?"


Ustadz Zamzam mencebik kesal.


"Aku bukan Ustadz, sekalipun semua orang memanggil aku dengan sebutan itu aku masih belum layak sebenarnya. Cepat nasehati aku sebagai teman? Teman yang butuh bimbingan, tegur aku!"


Haqi tersenyum kemudian berbicara, "aku pernah mendengarkan kajian juga tentang hal ini."


"Apa?"


Ustadz Zamzam penasaran.


"Adab suami terhadap istrinya. Ah pasti Ustadz sudah tahu kan? Tapi coba renungi deh, ada poin dimana disitu disebutkan bahwa seorang suami jangan terlalu sering mempersoalkan kesalahan istri."


Haqi berhenti sejenak melihat ke arah dalam Villa.


Haqi menatap Ustadz Zamzam yang kini sedang menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


"Stadz, coba lihat Nimas!"


Haqi menunjuk ke arah Nimas di dalam Villa melalui jendela kaca yang lumayan besar. Nimas terlihat kerepotan sendiri menggendong Khalila sementara Zamima seperti sedang merengek di sampingnya.


Ustadz Zamzam mengangkat wajahnya kemudian menatap ke arah Nimas.


"Syukur apalagi yang kamu dustakan Stadz? Apa pernah Nimas mengeluh akan keadaannya? Apa pernah Nimas mengeluh kelelahan seharian ngurusin anak-anak kamu?"


Ada tombak yang tiba-tiba menusuk hati sang Ustadz, sakit.


Sang Ustadz sakit, membayangkan betapa dirinya sudah menyakiti Nimas. Ustadz Zamzam menatap Nimas dari luar dengan pandangan nanar penuh sesal.


"Kamu benar Qi, astagfirulloh."


Tidak menunggu waktu lama, Ustadz Zamzam berjalan cepat menuju ke dalam Villa. Sang Ustadz berjalan tanpa menghiraukan Haqi yang menatapnya dengan takjub.


Tiba di dekat istri dan anak-anaknya, Ustadz Zamzam menggendong Zamima kemudian mendekati Nimas dan memeluknya erat.


Sang Ustadz mendekap mereka Nimas dan kedua putrinya sangat erat seakan takut sesuatu secara paksa membawa mereka pergi.


"Maafkan aku Neng, maafkan."


Nimas terkejut dengan tingkah suaminya, tak ada kata yang keluar dari mulutnya.


Sang Ustadz melepaskan dekapannya kemudian menatap wajah sang istri yang cukup datar dalam bereaksi.


Bukan tidak tersentuh, Nimas hanya takut. Takut untuk kembali berharap sang suami seperti dulu.

__ADS_1


Sebelum sang Ustadz sempat berbicara, Hulliyah dan Haqi datang.


"Nim, boleh ya aku bawa Lila jalan-jalan keluar sebentar. Mima juga, ayo!"


Hulliyah dan Haqi membawa Khalila dan Zamima keluar Villa semata untuk membiarkan Ustadz Zamzam dan Nimas menyelesaikan masalahnya yang terlanjur berlarut-larut.


Kini hanya berdua di dalam Villa itu, Ustadz Zamzam kembali memeluk istrinya. Kata maaf terucap dengan ketulusan yang maha tinggi.


Nimas yang awalnya diam, kini mulai mengusap punggung sang suami.


"Aku sudah memaafkan Aa bahkan sebelum Aa minta maaf. Aku yang berdosa mendiamkan Aa."


Ustadz Zamzam menhgelengkan kepalanya kuat-kuat. Melepas pelukannya dan menatap wajah istrinya.


"Aku yang berdosa, aku yang tidak bersyukur. Neng mau 'kan menjalani hidup dengan orang sepertiku? Orang yang tidak tahu caranya bersyukur, orang yang banyak kekurangan ini. Aku akan terus berusaha dan mencoba tidak akan menyakitimu lagi. Bantu aku menjadi suami yang baik, aku ingin membahagiakanmu, membina rumah tangga yang sakinah bersamamu, mendidik anak-anak kita bersama. Neng mau 'kan?"


Mata itu kini berair dengan derasnya penyesalan yang datang ini sangat menyesakkan dada Ustadz Zamzam. Beberapa hari tidak diberi senyuman oleh Nimas membuatnya kehilangan semangat.


Kini, anggukan kepala dari sang istri bagaikan harta yang sangat berharga untuknya. Nimas mengangguk sembari tersenyum, menyeka air mata di pipi suaminya, memberi kecupan hangat di kening sang suami.


Hal itu membuat perasaan haru dari sang Ustadz membuncah kemudian memeluk Nimas kembali dan mengangkatnya. Rasa syukur karena sang istri kini tersenyum lagi padanya membuat Ustadz Zamzam sangat bahagia dan berjanji tidak akan menyia-nyiakan apa yang dimilikinya saat ini.


"Aku sangat mencintaimu Nimas."


 


Kisah Nimas dan Ustadz Zamzam


TAMAT


 


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Akhirnya Ustadz Zam sadar😁


Terimakasih lagi nih buat kalian yang nemenin aku dari awal sampai saat ini😁Semoga ini bukan hanya sekedar menjadi bacaan tapi juga ada sedikit ilmu yang nyempil di dalamnya hihi😁


Kalian semua terbaik😗

__ADS_1


__ADS_2