Love In Pesantren

Love In Pesantren
Apa ya judulnya?


__ADS_3

Nimas dan Hulliyah masih asik mengobrol, sesekali tertawa melihat tingkah Zamima yang makin hari makin menggemaskan.


Setelah sekian lama antrian jamaah sudah mulai mengurai, hanya menyisakkan satu orang yang kemudian berpamitan pulang.


Nimas pun masuk diiringi Hulliyah yang menggendong Zamima.


"Assalamualaikum."


Mama nampak sumringah mendapati Nimas berkunjung. Setelah menjawab salam, Mama Haji merentangkan kedua tangannya menyambut Zamima yang tiba-tiba berlari ke arahnya.


"Eh cucu Mama yang cantik."


Zamima serta merta duduk dalam pangkuan Mama Haji.


"Ih Mima, maaf Ma."


Nimas nampak tak enak.


"Enggak apa-apa Nim, kami senang bertemu Mima," ujar Bi Haji.


"Iyaa kamu itu pelit sekali Nimas, sering-sering main ke sini bawa Mima!"


Mama Haji nampak mencubiti pipi gembul Zamima.


"Kata Ustadz Zam, Mima bakalan punya adek lagi ya?" Bi Haji yang duduk di sebelah Mama bertanya.


Nimas tersipu, "Ah iya Bi, inshaalloh."


"Tuh Li, Nimas udah mau dua, kamu kapan?"


Hulliyah mencebik dan merasa heran kenapa selalu pertanyaan itu yang menghinggapi dirinya.


Hulliyah memilih diam. Hingga akhirnya obrolanpun beralih topik.


Uh Hulliyah lega dong yaa.


---------------


Beberapa bulan berlalu, semua kehidupan dalam cerita ini berjalan normal dan biasa-biasa saja. Nimas yang bahagia dengan keluarga kecilnya saat ini sedang menunggu kelahiran anak kedua, yang tinggal menunggu hari.


Siti dan Rista bahagia dengan keluarga mereka masing-masing.


Farrel, hmmm duda muda ini sekarang menyibukkan diri dengan bekerja. Farrel masih enggan untuk menikah lagi meski beberapa kali sang Uwa membujuk.


Luka hatinya belum sembuh dan tak akan pernah sembuh. Farrel memilih menikmati kesendiriannya dalam bayang-bayang mendiang istrinya.


Sesekali Farrel menjenguk makam Sofia, sekedar menabur bunga juga menyalurkan rasa rindunya.


Sofia yang pergi secara mendadak begitu menggoreskan kesakitan yang mendalam dalam jiwa Farrel. Terkadang Farrel berpikir untuk menyusul Sofia. Namun semua ditepisnya dengan keimanan yang diwariskan Sofia kepadanya.


Pagi ini sebelum Farrel pergi ke Yogya, dirinya menyempatkan diri berziarah ke makam Sofia.

__ADS_1


Setibanya di pemakaman, Farrel berjalan menuju gundukan tanah dimana jasad Sofia beristirahat.


Farrel berjongkok, mengusap batu nisan itu.


"Assalamualaikum istriku, aku datang lagi nih. Aku mau minta izin, mungkin beberapa bulan ke depan aku tidak bisa menjengukmu dulu. Aku harus menetap di Yogya sementara waktu, bengkel di sana butuh aku untuk bisa pulih. Namun aku yakin do'a yang aku panjatkan akan tetap sampai kepadamu walaupun aku tak datang ke sini."


Farrel menjeda perkataannya sambil mengusap nisan atas nama Sofia Mufliha itu.


"Sayang, jangan bosen nungguin aku di sana ya! Tetaplah menunggu, aku ... aku sangat rindu Sof."


Pipi yang semula kering kini telah teraliri cairan yang berasal dari matanya. Bilang saja saat ini Farrel memang cengeng, Farrel lebih mudah menangis jika menyangkut Sofia. Sesakit itu yang dia rasakan.


Hari berubah semakin terik, sudah dua jam Farrel di sana. Berkata dengan hati betapa rindunya dia pada Sofia.


Farrel berdiri kemudian menyeka matanya yang sembab.


"Aku pergi dulu, assalamualaikum zaujaty."


Sedikit info Farrel sekarang jadi orang yang taat dalam agamanya, Farrel berusaha untuk hijrah. Karena dia tidak ingin selamanya di neraka, Farrel ingin bertemu Sofia. Ya Sofia, istri yang terlambat dia miliki.


---------------------


Berbeda dengan semua orang yang bisa dibilang bahagia. Di sudut kehidupan sana seseorang yang awalnya hanya pemeran pendukung dalam cerita ini. Perlahan menyembul jadi kisah pemeran utama.


Ya, dia adalah Hulliyah Sypa. Sisi kehidupannya ingin normal seperti kebanyakan orang, tapi raga tersekat oleh norma-norma sebagai santri.


Hulliyah dihadapkan pada kebimbangan hati.


Beberapa bulan ini dia kehilangan akses untuk bertemu dengan Beni, semenjak kejadian di toko buku waktu itu. Sosok Beni menghilang bagai buih di lautan.


Namun harapan tinggalah asa yang tidak jadi nyata. Beni tak pernah sekalipun berkunjung.


Hulliyah pun mengubur rasa yang telah bersemayam terlalu lama itu. Hulliyah menjalankan hidupnya dengan normal, mencoba menata hati untuk masa depan.


Hari ini, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba sang pria yang berbulan-bulan menghilang itu menampakkan dirinya kembali di lingkungan Pesantren.


Tepatnya pukul delapan pagi, Beni nampak mendatangi rumah Mama Haji. Entah untuk urusan apa.


Hulliyah yang tak mengetahui kedatangan Beni, sedang asik menjemur pakaian. Kebetulan hari ini adalah hari libur untuk Tk.


Hulliyah memanfaatkan waktu luangnya dengan sangat baik.


Hulliyah lagi me time hihi.


"Lia."


Beni menyapa dari arah belakang membuat Hulliyah menoleh ke arahnya.


Hulliyah ragu, benarkah sosok itu adalah seseorang yang dirindukannya?


"Assalamualaikum, Beni?"

__ADS_1


Hulliyah menyipitkan matanya mencoba sadar dari mimpi. Siluet tubuh tegap yang terhalangi sinar mentari itu jelas-jelas bersuara seperti Beni.


Enggak usah drama deh Hulli, kamu enggak mimpi kok.


"Waalaikumsalam, apa kabar?"


Beni menggaruk kepala bagian belakangnya. Rasa tak enak tiba-tiba menyeruak dalam dadanya.


"Alhamdulillah baik."


Hulliyah memalingkan pandangannya setelah tahu bahwa benar itu adalah Beni.


"Bisa kita ngobol sebentar?"


Beni berkata dengan sangat berhati-hati.


Hulliyah terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku tadi meminta izin pada Mama Haji untuk mengajak kamu pergi keluar, tapi beliau tidak mengizinkan. Beliau mempersilahkan kita mengobrol di area Pesantren saja."


Karena tidak mendapat respon atas pertanyaannya, Beni pun memakai jurus jitu sehingga Hulliyah mengiyakan ajakannya.


Di sinilah mereka kini, tepat di pendopo tempat santri hafiz menghafal al-quran.


Duduk di kursi yang biasa di peruntukkan untuk penonton. Riuh suara para hafiz menjadi pengiring obrolan antara dua anak manusia itu.


"Waktu di toko buku ... kenapa pulang duluan? Padahal aku nyariin kamu."


Beni menatap lekat Hulliyah yang jarak duduknya agak jauh itu.


"Aku enggak mau ganggu kamu."


Hulliyah berkata tanpa menatap Beni.


Beni nampak sedikit terkesiap.


"Ja-jadi kamu lihat?"


Hulliyah tersenyum miris, "sebenarnya maksud kamu apa ngajak aku ke toko buku waktu itu?"


"Enggak ada maksud apa-apa, aku beneran minta ditemenin doang. Tapi waktu itu Karina nelpon nanyain keberadaanku, setelah tahu dia nyusul dan terjadilah."


Nada suara Beni merendah.


"Aku saranin kamu nikah sama pacar kamu, jangan jadi pengecut yang hanya merusak wanita."


Beni menatap Hulliyah lagi.


"Aku tidak seperti itu Lia, waktu itu kami khilaf. Maaf kamu harus melihatnya."


"Terus sekarang kamu ingin bicara sama aku ada apa?" tanya Hulliyah.

__ADS_1


"Aku dipindah tugaskan sejak terakhir kita bertemu, aku juga dapat rumah dinas. Sepertinya aku butuh istri."


Hah?


__ADS_2