
Melihat Nimas di tarik paksa tadi, membuat Farrel yakin bahwa rumah tangga Nimas bermasalah. Berarti masih ada celah untuknya mendekati Nimas.
Sejak awal pertemuan di pantai waktu itu, Farrel sudah menaruh ketertarikan pada Nimas.
Waktu pertemuan kedua di pasar, dia yakin bahwa dirinya memang berjodoh dengan Nimas.
Saat tahu bahwa Nimas sudah menikah, hatinya tak rela.
Namun kini Farrel merasa harus memperjuangkan perasaannya. Setelah melihat perlakuan Ustadz Zamzam terhadap Nimas.
Farrel pun bertekad untuk terus mengintai Nimas sampai ada kesempatan dia akan masuk merebut Nimas.
Wih ko serem yak.
Ustadz Zamzam hati-hati !!!!
Seperti saat ini, Farrel melihat Nimas meringis di kejauhan sana. Dirinya berinisiatif mendekat dan memberikan kursi pada Nimas.
"Makasih ya."
Nimas emang ramah deh, tuh ada yang baper Nim.
"Mau aku ambilkan makanan?"
Eh.
Ini suaminya yang mana sii, ko malah yang perhatian orang lain.
"Enggak usah."
Senyuman Nimas membuat Farrel makin terpesona.
Haisssh Rel, bini orang itu. Istighfar woi.
Sang Ustadz masih asik bersama temannya hingga dia ga sadar Nimas sedang di dekati kumbang penikung.
"Terimakasih sudah menolongku waktu itu."
Nimas mulai fokus nih.
"Ga masalah."
Mereka pun mengobrol banyak hari itu. Farrel menganggap hal itu paling berkesan, sedangkan Nimas hanya menganggap biasa dan bersikap ramah padanya hanya semata untuk membalas kebaikan Farrel.
Iya tapi anak orang jadi salah paham gitu Nim. Disangkanya ada lampu ijo.
Ustadz Zamzam baru sadar di saat-saat terakhir. Dia tidak bisa berfikir jernih dan segera menghampiri Nimas.
"Kita bertemu lagi ya."
Ustadz basa basi tuh supaya Nimas gelagapan. Eh tapi sikap Nimas biasa aja yak.
"Iya Stadz, apa kabar?"
Farrel nantangin sepertinya.
"Alhamdulilah, kalau begitu saya ambil istri saya kembali. Lain kali tidak akan saya pinjamkan lagi. Pulang neng !! Assalamualaikum."
Eh itu Nimas apa baskom, pake acara dipinjemin segala.
Nimas menurut dan mengikuti langkah sang suami. Mereka pun pulang.
---------------------
Tibalah mereka di rumah setelah tadi saling diam.
"Neng, sepertinya kamu punya fans deh."
Hah.
Baru saja membuka pintu rumah, sang Ustadz mengeluarkan uneg-unegnya yang sejak tadi membelenggu fikirannya.
Nimas diam sejenak, sebelum akhirnya pergi menuju kamar.
"Neng, aku lagi ngomong."
Sang Ustadz mengikuti Nimas ke kamar.
__ADS_1
"Ih Aa keluar dulu, aku mau ganti baju !!"
Nimas kaget karena Ustadz Zamzam mendadak masuk.
Ustadz Zamzam merubah ekspresi kesalnya menjadi geli.
"Kenapa sii, kita kan suami istri."
"Ga boleh pokoknya."
Nimas tidak ingin sang Ustadz mencari kesempatan.
"Iyaa aku tutup mata nih."
Jangan percaya Nim nanti ngintip lagi.
"Balik badannya jangan ke sini arahnya."
"Ribet amat neng, haha."
Eh Ustadz ketawa.
"Ga lucu !!"
Nimas memberengut sembari mengganti bajunya buru-buru.
"Ya lucu lah neng, masak aku gak boleh lihat. Apa sii yang enggak aku tahu tentang tubuh neng."
Aisshhh.. Ustadz !!
Nimas sudah selesai berganti baju kemudian berlalu keluar tanpa memberi tahu Ustadz Zamzam yang sedang nyerocos bicara.
Haha.. Petak umpet ala santri wkwk.
"Udah belum neng?"
Eh dia beneran main petak umpet.
Karena merasa terlalu lama, sang Ustadz berbalik badan dan membuka matanya.
Dia tersenyum kesal tidak mendapati istrinya di kamar.
Nimas mengotak-atik hp nya, lalu untuk pertama kalinya. Dia memetik kata-kata bijak dari Sayyidina Ali bin Abi Tholib* : Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik***.
Nimas mempostingnya di sosial media yang dia miliki.
Belum ada 5 menit, postingan Nimas sudah ramai komentar.
Salah satunya dari Farrel yang memberi komentar paling banyak. Lebih tepatnya spam supaya diperhatikan, pinter deh kamu Rel.
\=\=Janganlah dendam !! Lebih baik cari yang terbaik.
\=\=Jangan galau !! Sayang wajah cantiknya.
\=\=Jangan bersedih !! Ada seseorang yang siap tersenyum kala engkau sakit.
Duh ini frontal si Farrel.
\=\=Jangan mengganggu milik orang lain !!
Eh itu komentar Ustadz Zamzam ternyata.
Nimas terkesiap melihat semua komentar itu dan terpaku pada satu komentar dari suaminya.
Nimas buru-buru menghapus postingannya.
Sore harinya Ustadz Zamzam pulang.
Nimas menyambutnya walau tak sehangat biasa.
Sang Ustadz berganti pakaian kemudian duduk memangku laptopnya di ruang tamu, dan memang Nimas sedang ada di sana.
"Neng, fansmu hebat."
Apa sii?
Nimas menoleh dan acuh.
__ADS_1
"Fans apa?"
Nimas pura-pura nih.
"Neng."
Sang Ustadz mendekati danmemegang tangan Nimas.
"Lepasin !!"
Nimas menepis tangan Ustadz, namun sang Ustadz tidak menyerah kali ini. Dia bersimpuh di bawah kursi mengunci pangkuan Nimas.
"Mau sampai kapan kita seperti ini?"
"Aku ga bisa neng !! Katakan aku harus apa, supaya neng bisa memaafkanku."
Nimas diam.
"Bicara neng, aku harus apa?"
Nimas menghela nafas berat.
"Apa bisa Aa mengabulkan?"
Ustadz Zamzam menatap mata sang istri penuh kesungguhan.
"IshaAlloh sayang, katakan aku harus apa?"
"Cintai aku."
Mengatakan itu saja air mata Nimas lolos keluar dengan derasnya.
Sang Ustadz diam, kemudian menghapus air mata Nimas dengan kedua tangannya.
"Aku mencintaimu neng, sangat mencintaimu."
Ih terpaksa gak itu yaa.
"Aku ga percaya. Kemarin-kemarin Aa kemana saja."
Ustadz Zamzam mengusap wajahnya.
"Aku mencintaimu neng, tapi aku takut rasa cinta ini mengalahkan cintaku pada sang pencipta. Aku tidak ingin neng, makanya aku memilih menyayangimu daripada mencintaimu. Tapi ternyata itu jadi bumerang dan hubungan kita bukannya sakinah malah berantakan seperti ini."
Sang Ustadz menunduk sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Dulu sekali, pertama kali neng masuk pesantren. Aku selalu memperhatikanmu dalam diam. Tahukah neng, aku mencoba meredam rasa cinta ini. Tahukah neng, setiap hari aku memimpikanmu."
Lebay.
"Ternyata neng ditakdirkan untukku, itu kebaikan Tuhan yang paling aku syukuri. Maafkan aku meminangmu tanpa sepengetahuanmu. Maafkan aku telah jadi imam yang tidak baik sering menyakitimu. Sesungguhnya tiada perempuan lain yang mampu mengetuk hatiku selain neng."
Nimas semakin berderai air mata, entahlah kini dirinya yang ragu mencintai suaminya.
Entahlah mungkin sudah banyak luka yang ditorehkan sang Ustadz sehingga Nimas tak bisa langsung menerima pengakuan panjang lebar dari suaminya.
"Kita sama-sama perlu waktu A."
Sang Ustadz tersenyum tipis lalu mengeratkan genggagaman tangannya.
"Selama menjalani waktu itu, teruslah bersamaku, teruslah ikuti aku. Wahai makmumku."
Nimas mengangguk pelan.
"Bolehkah aku memelukmu sekarang?"
Nimas menyipitkan matanya, lalu berdiri sambil berbicara, "menyentuhku pun itu perlu waktu, maafkan aku A."
Nimas berlalu meninggalkan Ustadz Zamzam.
Bersaksi cinta di atas cinta.
Ternyata Ustadz Zamzam bukan tidak mencintai Nimas hanya saja dirinya punya ketakutan tersendiri.
#Sok tahu author ah (Nimas)
#Kali-kali kan aku juga ingin bicara bijaksana gitu hihi (Author)
__ADS_1
#Hadeuh, iya deh asal kamu senang (Nimas)