Love In Pesantren

Love In Pesantren
Keraguan


__ADS_3

Terhitung lebih dari dua puluh empat jam lagi Haqi dan Hulliyah akan bersatu dalam ikatan resmi. Detik yang terus berjalan nyatanya membuat keraguan di hati Hulliyah semakin membuncah.


Hulliyah tidak ingin melihat orangtuanya terkena musibah hanya karena dirinya. Semua kejadian yang menimpa ayah dan ibunya sungguh membuat Hulliyah bimbang.


Kini, Hulliyah di kamarnya bersembunyi dari keramaian yang tercipta di dalam rumahnya. Hulliyah mulai berpikir, apa sebaiknya dia pergi malam ini untuk menghindari hari lusa?


Tangan Hulliyah gemetar membuka jendela kamarnya.


Hulliyah kembali menimbang-nimbang keputusannya. Lari kemana?


Hulliyah siap menerima kekecewaan dari semua orang yang mencintainya.


Hulliyah juga menyayangkan sikap Haqi yang mengacuhkannya, kala Hulliyah mengingat hal itu tekadnya semakin bulat.


Dia akan pergi!


Keramaian menerobos ruang malam, Hulliyah masih menyusun strategi supaya bisa pergi.


Hulliyah menatap ke arah luar jendela ke dalam gelap itu. Semua orang sedang berpusat pada area belakang rumah. Hulliyah merasa ada kesempatan itu.


Perlahan menutup kembali jendela kamar, Hulliyah menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menambah energi tubuhnya.


Diambilnya tas kecil di atas lemari, Hulliyah memasukan satu gamis dan selembar kerudung ke dalamnya tidak lupa mukenah parasut yang mudah dilipat.


Semuanya maafkan aku, Kak Haqi maafkan aku.


Hulliyah merancau dalam hatinya. Sungguh saat ini dia ingin ketenangan.


Hulliyah berjalan perlahan membuka pintu dan keluar segera saat dirasa kondisi aman. Benar saja, di depan rumahnya itu sangatlah sepi tidak ada satu orangpun yang ada di sana.


Akhirnya Hulliyah melangkah pergi.


Hulliyah meninggalkan tujuannya yang sedikit lagi menjadi nyata. Hulliyah menghancurkan semua perjuangan yang telah dirinya dan Haqi lakukan.


Hulliyah pergi bersama keraguannya.


-----------------


Haqi yang sudah tertidur di atas karpet bulu milik Ustadz Zamzam tiba-tiba terbangun karena telinganya mendadak bergemuruh. Haqi memegangi telinga sebelah kanannya itu karena gemuruh itu semakin kuat dan menyakitkan.


Setelah beberapa menit, barulah gemuruh itu menghilang. Haqi mengusap-usap telinganya.


"Sepertinya aku harus ke Dokter THT besok." kata Haqi pada dirinya sendiri.


Waktu yang kala itu menunjukkan pukul dua dinihari, membuat Haqi beranjak dari kenyamanannya. Haqi keluar dari rumah Ustadz Zamzam dan pergi menuju mesjid yang ada di area Pesantren.


Setibanya di sana, Haqi berpapasan dengan santri petugas patrol malam. Haqi masuk ke dalam mesjid setelah tadi usai mengambil wudhu.


Haqi datang kepada Tuhannya malam itu, malam dimana Hulliyah meninggalkannya.


Haqi terlarut dalam ibadahnya, Haqi hanya ingin mengobrol dengan Tuhannya. Haqi ingin dekat kepada Tuhannya. Berterimakasih atas semua yang diberikan Tuhan kepadanya.


Beberapa saat kemudian Haqi selesai dengan ibadahnya dan hendak keluar, namun Haqi mengurungkan niatnya ketika melihat Mama Haji masuk ke dalam mesjid. Haqi memutuskan untuk menunggu Mama Haji dan menyapanya ketika Mama selesai dengan urusannya.


Haqi memilih melantunkan ayat suci sambil menunggu Mama Haji.


---------------

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Mama berbalik badan ke arah Haqidan tersenyum ramah. Haqi yang telah selesai dengan bacaan ayatnya dengan sigap mendekat dan mencium tangan dari Mama Haji.


"Pengantin kok bisa ada di sini?" tanya Mama.


"Kebetulan saya menginap di rumah Ustadz Zam," jawab Haqi.


Mama Haji tersenyum mendengar penuturan dari Haqi.


"Apa dihatimu muncul keraguan?" tanya Mama Haji lagi.


Haqi menggelengkan kepalanya kuat.


"Saya tidak mungkin ragu Ma, saya sangat yakin terhadap Sypa."


"Syukurlah, Mama lega mendengarnya. Sebenarnya Mama takut ada tiga hal yang dibisikan syetan kepadamu menjelang pernikahan yang sah."


Haqi mencondongkan pandangannya ke arah Mama Haji. "Apakah itu Ma?"


Mama Haji tersenyum kemudian menjelaskan maksud ucapannya.


"Menjelang pernikahan biasanya syetan yang tidak menyukai akan kehalalan mulai gencar menggoda manusia yang akan menikah. Syetan akan menimbulkan keraguan sebelum hari pernikahan, kemudian syetan akan menimbulkan rasa laris manis pada mempelai maksudnya sang calon pengantin akan merasa dirinya mendadak banyak yang suka."


Lalu apa yang ketiganya Ma?" Haqi nampak tidak sabar menunggu penuturan Mama Haji.


"Ketiganya, syetan akan menampilkan kekurangan dan kelemahan calon mempelai. Nak Haqi pasti tahu ujungnya bagaimana 'kan?"


Haqi mengangguk, "inshaalloh saya benar-benar yakin Ma."


Akhirnya menjelang subuh itu Haqi bertanya berbagai hal pada Mama Haji menghabiskan waktu sebelum waktu subuh tiba.


--------


Suami dari sepupunya itu ada di luar kota. Hal itu membuat Hulliyah leluasa menginap di sana untuk beberapa waktu.


"Teteh kenapa ke sini?" tanya sepupunya yang kaget dengan kedatangan Hulliyah.


"Teteh hanya ingin nenangin diri dulu." Hulliyah terduduk lesu pikirannya mulai berkecamuk lagi.


Sang sepupu tahu betul apa yang dirasa Hulliyah, dirinya yang berusia lima tahun dari Hulliyah sangat mengerti dengan apa yang Hulliyah alami.


"Teteh boleh nginep di sini 'kan?" tanya Hulliyah.


Sepupunya mengangguk mengizinkan.


"Tapi janji kamu ga boleh kasih tahu semua orang kalau Teteh ada di sini!"


Ancaman dari Hulliyah nyatanya membuat sepupunya itu menaruh curiga.


"Apa Teteh sedang kabur?"


Deg.


Kembali jantung Hulliyah bergemuruh menahan pilu. Hulliyah hanya diam, sungguh mulutnya terkunci saat ini. Hulliyah tidak mengerti dengan keadaannya saat ini.


-------------------


Hulliyah kini berada di dalam kamar bersama sepupunya, mereka mengobrol sampai subuh menyapa.

__ADS_1


Mata hati Hulliyah mulai terbuka kembali tetapi tidak sepenuhnya kembali. Hulliyah masih ketakutan akan adanya musibah susulan yang akan menghampiri keluarganya.


Pagi ini Hulliyah sarapan bersama sepupunya.


"Kata Ibu, tadi subuh Uwa pingsan karena Teteh gak ada di kamar." ucap sepupu Hulliyah mengawali percakapan.


"Ibu ...." ucap Hulliyah lirih.


"Aku bilang aja, Teteh ada di sini lagi titirah."


Hulliyah mendelik tajam merasa sangat kecewa terhadap sepupunya itu.


"Teteh 'kan udah larang kamu!"


Sang sepupu dengan tenangnya memakan makanan yang ada di depannya.


"Teteh gak kasihan sama Uwa?"


Pertanyaan yang membuat Hulliyah bungkam seketika, tujuannya pergi adalah untuk menghindarkan keluarganya dari musibah. Lalu apa ini?


Sekarang dirinya lah yang menjadi sumber dari musibah tersebut.


Hulliyah menurunkan pundaknya lesu, kebimbangan sungguh menghancurkannya.


"Sebaiknya Teteh di sini saja dulu, besok biar Paman jemput kita."


Sepupu Hulliyah membuat lamunan Hulliyah beterbangan.


"Tapi Teteh lagi kabur!" ucap Hulliyah dengan polosnya.


Sang sepupu tergelak mendengar penuturan dari Hulliyah.


"Iya iya Teteh lagi kabur."


Tawa itu nyaring memenuhi ruangan dipagi itu. Hal yang dirasa sangat lucu itu tidak berlaku bagi Hulliyah. Kini Hulliyah merasa bersalah pada semua orang. Namun Hulliyah tidak akan merubah keputusannya. Hulliyah harus pergi dari rumah sepupunya dan tidak meninggalkan jejak sedikitpun.


.


.


.


.


.


..


Ya ampun mau nikah aja ribet ya ckck.


Mohon dukungannya untuk ambisiku sebagai manusia.


Ayo bantu like dan komen.


Eh apaan komenannya ga pernah dibales.


Haha tahukah kalian aku bahagia baca komenan kalian tuh, kadang aku screenshoot buat dipamerin di status Whatsapp juga.

__ADS_1


Kampungan ya aku🤣


__ADS_2