Love In Pesantren

Love In Pesantren
Rebutan


__ADS_3

Semenjak ada Zamima, setiap seminggu sekali ibu Nimas dan ibunya Ustadz Zamzam selalu datang bersamaan meskipun tidak janjian.


Mereka terkadang berebut ingin menggendong Zamima. Tidak ada kata gantian kalau berhubungan dengan cucu mereka.


Seperti hari ini contohnya, dikala pagi baru menyapa ibu Nimas sudah bertamu demi hanya untuk lebih dulu satu langkah dari besannya.


"Ibu pagi banget ke sininya."


Sesaat setelah mereka sarapan Nimas memulai obrolan.


"Ibu gak mau keduluan lagi, biar lebih lama sama cucu ibu inii. Uuh sini sayang sama nenek."


Sang ibu mengambil Zamima dan memangkunya.


Nimas dan Ustadz Zamzam saling menatap dan tersenyum.


Aneh tapi lucu, rebutan cucu.


Bikin satu lagi Stadz biar adil hihi.


Tak lama kemudian ibunya Ustadz Zamzam pun datang.


Dimulailah acara rebutan cucunya.


-------------------


Ustadz Zamzam memilih mengikuti Nimas ke dapur dibanding melihat dua orang nenek kece itu berebut cucu.


Dilihatnya Nimas tengah mencuci piring, sang Ustadz menyunggingkan senyum melihat istrinya kemudian mendudukkan diri di kursi meja makan sambil bersidekap dada.


Eh kenapa enggak kamu bantuin Nimasnya Stadz biar romantis.


"Neng, jadi kan nemenin aku ke acara di Sekolah Mts?"


"Inshaalloh, acaranya jam sembilan kan?"


Nimas berucap sambil membilas piring yang sedang di cucinya.


"Iya, kalau sudah selesai di sini cepetan dandan ya !"


Hah.


Nimas mendelik.


"Jadi Aa malu punya istri kumel jelek begini. Udah sana berangkat aja sendiri ! Aku gak jadi ikut."


Nah loh Stadz.


Sang Ustadz menatap punggung Nimas kini.


"Loh loh, kok neng bicara seperti itu. Maksud Aa neng bersih-bersih, ganti baju."


Ustadz mulai cemas.


"Oh jadi aku kotor? Aku bilang Aa berangkat sendiri aja."


Nimas makin menjadi, ayo lanjutkan !


Eh.


Ustadz Zam berdiri mendekati Nimas.


Dengan cepat Ustadz Zam memegang pundak Nimas hingga kini menghadapnya.


Di tatapnya wajah sang istri yang sedang manyun itu.


"Gemes deh sama neng."


Ustadz Zamzam mencubit kedua pipi istrinya agak keras.


Tadi di tatap lama kirain mau di kecup, eh malah di cubit. Hmmm otak authornya lagi eror kali yaa nonton drama korea melulu.

__ADS_1


Lagi-lagi Nimas mendelik manja.


"Liatin akunya jangan nusuk gitu dong neng, aku ga kuat."


Ustadz ga kuat apa?


Nimas tersenyum samar, menahan kemanisan sang suami.


Ah Nimas mah.


----------------------------


Setelah selesai mencuci piring, Nimas pun mandi dan berganti pakaian kali ini dia menggunakan gamis polos berwarna peach dan sedikit renda di kedua pergelangan tangannya di padukan dengan kerudung warna serupa. Membuat penampilan ibu satu anak itu terkesan segar dan yang pasti tidak kelihatan sudah punya anak.


Duh Stadz hati-hati takut ada Farrel kedua.


Acara kali ini mereka tak membawa Zamima, alasannya yaa apalagi kalau bukan karena kedua nenek yang berdalih menjaga Zamima karena kangen.


Begitulah seorang nenek tuh kadang lebih sayang sama cucunya ketimbang anak kandungnya.


Atau mungkin ibu Nimas dan ibu Ustadz Zam terkena sindrom nenek muda hihi ngaco.


-------------------


Sepanjang perjalanan di habiskan dengan obrolan ringan ala suami istri itu yang terkadang ada manis-manisnya gitu.


"Eh A, waktu pengajian kemarin aku ketemu Sofia. Bahkan dia mampir ke rumah sama Siti dan Hulliyah juga."


"Bagus dong, semacam reuni kan."


Ustadz Zam santai.


Lama tak ada tanggapan dari sang istri Ustadz Zam pun melirik ke arah Nimas yang malah terlihat menerawang dengan sorot matanya tepatnya sii melamun.


"Neng.."


Ustadz Zam membuat suara agak keras, hingga Nimaa tersentak.


Ucap Nimas pelan, syukur deh Nimas ga latah.


"Lagian neng ngelamun gitu. Ada apa heum?"


Masih fokus nyetir.


Nimas membuang nafasnya berat.


"Aa udah tahu Sofia nikah."


Nimas sedikit mencondongkan badannya ke arah Ustadz Zam demi melihat wajah suaminya.


Ustadz Zamzam mengangguk.


Nimas sedikit berdecak.


"Aa ga bilang sama aku. Kenapa Sofia bisa sama Farrel?"


Rasanya pertanyaan itu begitu berat untuk di sembunyikan di otak Nimas.


Sang Ustadz menepikan mobilnya di parkiran sekolah. Ya, mereka baru saja sampai di Mts tujuan mereka.


Sebelum turun, Ustadz Zamzam tahu istrinya masih belum mau turun. Jadi dia mengalihkan pandangan ke arah Nimas yang sedari tadi menatapnya.


"Namanya jodoh neng, siapa yang tahu. Seperti kita. Tahu-tahu sekarang udah punya Mima kan."


Mendengar sang Ustadz yang berbicara seperti itu membuat Nimas sedikit tersentil.


Pertanyaan bodoh macam apa yang dia fikirkan. Bukankah Tuhan sudah mengatur semua tentang hambanya sebelum hambanya lahir ke dunia.


Lama ga belajar di Pesantren nih Nimas.


Tapi tetap saja ada satu hal yang mengganjal di hati Nimas. Entah mengapa kenyataan dirinya menatap wajah Sofia kemarin yang begitu sendu, Nimas jadi menerka-nerka apa yang terjadi.

__ADS_1


"Tuh kaan ngelamun lagi."


Sang Ustadz menggenggam tangan Nimas menekannya pelan kemudian berbisik.


"Mari kita menjadi tua bersama."


Kalimat sederhana namun begitu menancap di hati Nimas.


Entah sudah berapa banyak anak panah di hatinya dari hasil gombalan yang selalu suaminya ucapkan.


---------------


Ustadz Zamzam dan Nimas kini tengah berada di aula sekolah berbaur dengan yang lain.


Sudah dapat di pastikan Ustadz Zamzam langsung sibuk kesana kemari.


Nimas memperhatikannya dalam diam sambil duduk di sebuah kursi tamu undangan bersama yang lain.


Kemudian fikirannya menerawang kembali ke masa-masa paling pahit dalam hidupnya.


Mungkin dulu dirinya akan merasa diabaikan bila suaminya sibuk sendiri begini, tapi kini yang Nimas rasakan hanya rasa bangga terhadap suaminya itu. Siapa yang tidak bangga coba? Ustadz Zam yang kalem plus ganteng ternyata juga gesit, cepat tanggap.


Semua urusan dia handle begitu dia datang.


"Assalamualaikum Nimaaaas."


Pekikkan itu membuat lamunan Nimas buyar.


"Waalaikumsalam bu Nanda."


Nimas tersenyum saat mengetahui pelaku yang membuyarkan lamunannya.


"Saya kira dedeknya di bawa."


Tuh mukanya dibuat-buat banget kecewanya.


"Kebetulan di rumah lagi ada ibu."


Masih dengan senyum merekah.


"Gak berasa yaa kita bakalan memasuki bulan suci."


Kata Bu Nanda yang kini telah mendudukan diri di sebelah Nimas.


"Ah iyaa, dan Ramadan ini berbeda buat saya."


Nimas tersenyum sambil kembali menatap sang suami yang sibuk itu.


" Ini Ramadan pertama punya suami sama anak yaa."


Bu Nanda sedikit menggoda.


Seketika Nimas tergelak pelan tanpa menjawab pertanyaan Bu Nanda.


"Uuuh jiwa kesendirianku meronta Niiim."


Haha..


Makanya cepetan nikah bu.


Acara kali ini merupakan acara menyambut bulan suci Ramadan, siswa-siswi memeriahkan acara dengan berbagai pertunjukkan bakat.


Mulai dari marawis, khasidah, dan banyak lagi.


Nimas antusias menyaksikannya meskipun di sebelahnya ada kereta api yang terus-menerus berasap. Yang sesekali memecah konsentrasinya.


Namun Nimas masih bisa menikmati acara tersebut hingga sore hari. Dan saat acara itu usai.


Nimas mengucapkan satu nama.


"Mima."

__ADS_1


__ADS_2