
Aku berjalan cepat mencari angkutan umum meninggalkan mesjid ini.
Tadi aku menelpon Farrel yang ternyata tak bisa hadir dalam acara karena sedang menemani Rani berbelanja.
Hatiku mendadak panas, aku memilih pulang meninggalkan acara.
Entah rasa apa ini? Semenjak malam itu, Farrel memang selalu memperlakukanku dengan sangat baik. Farrel benar-benar menganggapku sebagai seorang teman.
Farrel banyak bicara mengenai masa lalunya yang begitu menyakitkan.
Bahkan masalah percintaannya dengan Rani anak dari seorang TNI, tak luput dari pembicaraan kami.
Ada sisi hatiku yang senang, tapi sisi hati yang lain begitu tersiksa.
Satu yang ingin aku lakukan untuknya yakni menuntunnya mempelajari agama. Setidaknya sebelum kami berpisah suatu saat nanti, aku ingin Farrel hidup dengan lebih baik.
Dalam kesungguhannya begitu ingin tahu, membuatku terenyuh dan terpanggil untuk membantunya.
-----------------
Malam ini, Farrel tak kunjung pulang ke rumah. Aku merasa sedih saat ini, biasanya kami sholat berjamaah saat dia ada di rumah.
Tapi kini harus ku relakan Farrel bersama Rani.
Aku beranjak menuju kasur kesayanganku, membalutkan tubuh dengan selimut. Setidaknya tidur saat ini lebih baik daripada memikirkan Farrel.
Huh, sejak kapan sii aku mikirin dia?
Entah sejak kapan aku tertidur, saat ku terbangun sosok yang sedari tadi ku tunggu sudah terlihat berbaring di tempatnya.
Ku pandangi Farrel sejenak, kemudian beranjak meninggalkan kamar.
Tujuanku satu yakni kamar mandi.
Saat kembali ke kamar, aku melihat Farrel tengah terduduk di kasurnya.
Eh ini kan masih malam.
"Kenapa bangun Rel?"
Farrel mendongak menatapku, eh kenapa tatapannya dalam begitu. Aku pun sedikit menyipitkan mataku.
Sesaat kemudian Farrel memalingkan wajahnya ke samping.
Ga di jawab kan pertanyaanku huh.
Aku bersiap tidur kembali, dan ku acuhkan Farrel yang masih terduduk itu.
"Kamu ga tahajud?"
Dia nanya.
"Aku lagi libur sholat."
Hening.
"Emang sholat ada liburnya."
Eh.
Aku pun beranjak duduk dan mulai menatapnya.
"Buat para wanita ada, kalau kamu mah engga."
Jangan sampai dia salah paham!
"Ko gitu?"
Haisshh, Uwa ponakanmu ini gimana ini?
"Ya bisalah."
"Iya kenapa?"
Farrel semakin penasaran, eh kenapa dia malah duduk di kasurku.
"Kamu beneran ga tahu, atau cuma pura-pura?"
Curiga!
"Serius, aku nanya."
Sorot matanya menyiratkan kesungguhan.
Aku pun menghela nafas, ok kita mulai pelajaran baru.
"Wanita diharamkan untuk sholat ketika sedang datang bulan."
Kenapa Farrel liatin aku?
"Kamu sekarang lagi datang bulan?"
Aihh kenapa wajahku mendadak panas seperti ini?
__ADS_1
"Iya, udah ah sana ke kasurmu! Aku mau tidur lagi."
Namun Farrel tak kunjung menghindar.
"Boleh ga aku tidur di sini, hanya untuk malam ini."
Hah.
"Aku barusan mimpi buruk."
Ck umur aja udah gede tapi mental masih kekanakan.
Aku pun mengiyakannnya. Ini jadi kali kedua kami tidur satu tempat.
Aku memilih membelakanginya dan berharap segera terlelap.
"Maaf untuk tadi siang."
Hadeeuh baru juga tutup mata. Mau mengangguk, ah pasti dia juga sedang membelakangiku tak mungkin melihat.
"Iya."
"Besok temenin aku yuk!"
Lanjut!
"Kemana?"
"Main badminton di GOR Sukapura."
Dia suka badminton?
"Iya."
Nah beberapa menit hening, mungkin Farrel sudah tidur. Akhirnyaa aku juga tidur ah.
"Sof."
Refleks ku buka lagi mata ini. Karena kesal akhirnya aku balikan tubuh ke arahnya.
"Kamu tu...."
Apa ini?
Jadi dari tadi Farrel liatin aku?
Aku tak melanjutkan kalimat yang tadi terjeda, kekesalanku hilang seketika.
Sekian lama kami berpandangan tanpa bicara, aku tak sadar sejak kapan tangan Farrel terangkat merapikan rambutku yang sedikit menutupi wajah.
Bisikan macam apa itu?
Ini pasti mimpi!
"Sofia Mufliha temanku, sampai kapan kamu bisa jadi temanku?"
Sepertinya ini bukan mimpi.
"Kamu kenapa sii Rel?"
Aku mengerjap menepis tangannya yang ada di kepalaku, aku sedikit mundur memberi jarak lebih antara kami. Aku sadar, kami sebatas teman. Jadi sebaiknya aku menarik diri.
"Mimpiku buruk Sof, sepertinya pertemanan kita tidak akan lama. Kamu bakalan ninggalin aku kan?"
Eh.
"Bukankah sudah jelas Rel, suatu saat kita akan berpisah."
Aku tepiskan senyuman meski perkataanku barusan sangat menyakitkan bagi diriku.
"Dalam mimpiku kamu pergi jauh dan tak bisa aku lihat lagi."
Aku tersenyum lagi, tak ku sangka Farrel sepolos ini.
"Itu hanya mimpi Farrel, jika nanti kita berpisah aku pastikan kita masih tetap berteman."
"Tos."
Hah?
Farrel menaikan telapak tangannya, minta 'tos' maksudnya?
Aku takut salah jadi diam aja deh.
Tapi kemudian Farrel meraih tanganku mengangkatnya ke atas, menempelkan telapak tangannya dengan tanganku. Farrel menatapku sambil tersenyum.
Tangan kami masih di udara, perlahan masing-masing jari kami masuk dalam sela-sela hingga kini saling membelit.
Aku menatap tanganku dan tangannya yang berubah jadi genggaman. Ku alihkan menatap wajahnya.
"Tos pertemanan kita." Ucapnya sambil tersenyum.
Berdenyutlah hatiku.
__ADS_1
Perlahan tangan kami pun turun tapi tak terlepas, hingga kami tertidur masih dengan 'tos pertemanan', tangan yang tergenggam sampai subuh.
-----------------
Keesokan harinya, kami bersiap untuk pergi ke GOR sesuai pembicaraan tadi malam, aku bersedia menemaninya main badminton.
Saat aku keluar kamar, ku dapati dia tengah berdiri sambil melihat ke arah jam tangannya.
"Maaf lama, ayo!"
Saat aku akan melewatinya tiba-tiba Farrel menarik tanganku.
" Kamu pakai celana?"
Ada yang salah?
"Kita kan mau olahraga, masa aku pakai gamis."
Farrel malah menarikku kembali ke kamar.
"Ganti pakai gamis, aku ga nyuruh kamu ikut olahraga. Aku cuma nyuruh kamu buat nemenin aku aja. Cepat ganti waktu kamu cuma lima menit!"
Farrel menutup pintu kamar, uh nanti aku di sana cuma nonton?
Ingin sekali aku menggerutu tapi lebih baik aku beristighfar aja.
Setelah lima menit berlalu aku keluar, kali ini aku memakai gamis simpel lurus tanpa embel-embel. Aku memakai kerudung yang simple pula.
"Kenapa kerudungnya kurang panjang? Ganti lagi sana!"
Maunya apa sii dia?
"Tapi Rel, aku bakalan terlihat aneh di sana."
Nadaku sedikit merengek.
"Kalau kamu ga mau, jangan pergi! Aku sendiri saja."
Aku mulai jengah sekarang.
"Ya udah, ngapain ngajak aku pergi aja sendiri."
Menyebalkan!
Tapi apa?
Bukannya pergi, Farrel malah masuk ke dalam kamar.
Dia kembali membawa kerudung syar'i ku.
Aiihh yang benar saja aku pergi ke Gelanggang Olahraga memakai kerudung itu.
Baiklah, baiklah tatapannya sudah mengintimidasi. Akhirnya aku menurutinya, sebisa mungkin menenangkan hati supaya tidak kesal.
Farrel pun tersenyum melihat penampilanku saat ini.
Kemudian kami pun berangkat ke tempat tujuan, meski banyak sekali drama yang dilalui sebelum berangkat tak membuat semangat Farrel untuk berolahraga surut.
Nantikan kejadian di GOR ya!
Ada di part selanjutnya hihi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Manteman harap maklum yaa, kalau ceritanya agak-agak gimanaaa gitu. Aku tuh kalau nulis suka dadakan seperti tahu bulat jadi hasilnya begitu deeh. hehe.
Jangan lupa jempolnya yaa!
__ADS_1
Terimakasih**.