
Tidak berbeda jauh dengan Nimas, Hulliyah juga merasakan kebahagiaan karena bisa tinggal bersama sang suami. Hidup bersama melewati dua tahun pernikahan yang bergelombang.
Sejauh ini mereka hidup bahagia walau belum ada tanda-tanda akan hadirnya malaikat kecil diantara mereka berdua.
Bulan ini memasuki minggu kedua yang artinya, pengajian bulanan diadakan di Pesantren. Sejak malam tiba Hulliyah sudah merengek supaya Haqi mengizinkannya pergi.
Hulliyah rela melakukan apapun demi mendapat izin dari sang suami. Haqi yang sangat menyayangi Hulliyah sebenarnya tidak masalah jika istrinya itu pergi ke Pesantren, tetapi Haqi sedikit mencari kesempatan untuk menggoda istrinya.
Bagi Haqi, bisa membuat istrinya membrengut adalah kesenangan tersendiri.
"Boleh 'kan Kak? Boleh ya?"
Hulliyah masih memohon saat dirinya sudah berbalut selimut bersama Haqi.
Haqi sedari tadi menahan senyum karena ingin mengetahui perjuangan Hulliyah dalam membujuknya sejauh mana.
Masih belum bersuara, Haqi membelakangi Hulliyah karena tidak tahan lagi untuk tertawa.
"Kak?" Suara manja khas Hulliyah akhirnya menjebol pertahanan Haqi.
Haqi berbalik dan kini saling berhadapan dengan istrinya.
"Kak?" ucap Hulliyah lagi.
Haqi meletakkan telapak tangannya di atas bibir Hulliyah. "Jangan memanggilku seperti itu lagi! Aku gak kuat. Iya kamu boleh ke Pesantren."
Sebenarnya tindakan Haqi tidak ada manis-manisnya sama sekali, alih-alih meletakkan jari telunjuk di bibir Hulliyah Haqi justru membekapnya seperti seorang yang akan membius.
Biarpun begitu, Hulliyah tetap kegirangan dan merangkul suaminya sekuat tenaga. Haqi harus berteriak agar Hulliyah melepaskan dekapannya yang dirasa menyulitkan jalan napasnya.
Begitulah Haqi dan Hulliyah memilki cara berbeda untuk mengungkapkan cinta kasih mereka.
----------------
Pagi ini Haqi mengantar Hulliyah ke rumah Nimas, permintaan dari sang istri yang ingin berangkat ke pengajian bersama temannya dikabulkan tanpa berat hati.
"Udah ya, Kakak berangkat. Nanti siang pulang dari sekolah Kakak jemput." kata Haqi.
"Siap bos!" Hulliyah meletakkan telapak tangannya seperti sedang menghormati bendera.
Haqi mengacak kerudung istrinya dengan sangat gemas, hingga Hulliyah memberengut karena harus kembali berdandan membenarkan kerudungnya yang acak-acakkan.
Setelah Haqi berlalu, Hulliyah pun melanjutkan niatnya ke rumah Nimas. Diketuknya pintu itu serta salam yang terurai dari mulutnya mampu membuat penghuni rumah keluar.
"Waalaikumussalam, Hulli ...."
Seperti biasa Nimas merangkul sahabatnya itu seperti telah bertahun-tahun tidak bertemu.
Nimas mengajak Hulliyah masuk ke dalam rumahnya.
"Eh Hulli, sama siapa?" Ustadz Zamzam yang sedang menggendong Khalila datang menghampiri istri dan juga istri dari sahabatnya.
"Diantar Kak Haqi." jawab Hulliyah.
"Loh ... sekarang kemana tuh anak?"
Ustadz Zamzam berniat keluar rumah, tetapi urung karena perkataan Hulliyah, "kata Kak Haqi, dia duluan ke sekolah. Kalau mampir takutnya Nimas tergoda sama dia."
Nimas dan Ustadz Zamzam saling menatap pertanda heran dengan ucapan Hulliyah.
"Maksudnya?" tanya Nimas.
"Kak Haqi cerita, katanya Ustadz Zam suka cemburu kalau Kak Haqi main ke sini."
__ADS_1
Seketika itu tawa Ustadz Zamzam berhamburan keluar.
"Pasangan aneh kalian tuh."
Nimas menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berlalu menuju kamarnya untuk berdandan.
"Bibi ...." teriakkan Zamima mengalihkan perhatian Hulliyah.
Zamima berhambur memeluk Hulliyah persis seperti yang ibunya lakukan. Dari sini kita yakin bahwa Zamima memiliki kesamaan dengan ibunya.
"Waduh anak Bibi nih makin cantik. Kenapa main di kamar terus, anak manis?"
"Tadi aku lagi dandanin Lila, tapi Ayah malah gendong Lila." Gadis kecil itu bercerita.
"Lagian kamu Mim, masa muka Lila dicoret-coret. Nanti Ibu marah lagi, Ayah juga yang kena." seloroh Ustadz Zam.
Hulliyah tertawa kecil mendengar perdebatan diantara anak dan ayah itu. Hulliyah sedikit membayangkan apakah nanti Haqi pun akan bersikap seperti itu pada anak mereka.
"Bibi, aku bakal punya adik dua loh."
Zamima berkata dengan begitu bersemangat. Zamima memang lancar berbicara meski usianya baru tiga tahun.
"Oh ya? Nimas hamil lagi Stadz?" tanya Hulliyah.
Ustadz Zamzam mengangguk antusias.
"Wah selamat ya."
Mereka pun berbincang sebentar sampai akhirnya Ustadz Zamzam berpamitan untuk berangkat untuk mengajar.
Beberapa saat kemudian Nimas telah selesai dengan urusannya kemudian menghampiri Hulliyah.
"Bentar lagi ya, tunggu pukul sembilan." Nimas mendudukkan dirinya di samping Hulliyah.
"Eh? A Zam ngasih tahu ya?"
Hulliyah mengangguk.
"Inshaalloh Li."
Senyum terbit dari bibir Hulliyah. "Selamat ya Nim, aku ikut seneng."
"Makasih, kamu semoga cepat nyusul." ucap Nimas.
Hulliyah sedikit kepikiran saat ini. Mengapa usia pernikahan yang sudah dua tahun tetapi dirinya belum jua hamil?
Hulliyah mengubur sejenak perasaan itu dan kembali ke dunia nyata dimana sekarang dirinya bersama Nimas mulai berangkat ke Pesantren.
------------------
Beberapa saat kemudian Nimas dan Hulliyah serta Zamima dan Khalila tiba di Pesantren. Hulliyah menyempatkan diri menyapa Bi Haji serta teman-teman santrinya yang sudah beberapa bulan ini tidak bertemu termasuk Neli.
"Kangen aku Li," ujar Neli.
Mereka sudah duduk di Madrasah yang dijadikan tempat pengajian kali ini.
Nimas sibuk mengejar anak-anaknya yang tidak mau diam di tempat.
Sementara Neli masih mendekap lengan Hulliyah dari samping.
"Kita mirip pasangan yang lama gak ketemu ya Nel?" ucap Hulliyah.
Perlahan Neli melepas tangan Hulliyah dan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Ah kamu Li, aku kan kangen."
Hulliyah terkekeh dengan sikap Neli yang tidak berubah itu.
"Iya kangen, aku juga kangen. Sini lebih deket!" Hulliyah menarik tubuh temannya itu supaya lebih mendekat padanya.
Semua berjalan sesuai jalannya masing-masing. Begitupun persahabatan, pasang surut diselingi kehidupan pribadi yang rumit.
Memanjakan hati dengan bersyukur adalah kunci utama kebahagiaan.
Acara pengajian pun dimulai, semua jamaah duduk dan mulai bersiap menyerap ilmu baru.
-----------------
Setelah dua jam lamanya pengajian berlangsung, kini para jamaah membubarkan diri dan keluar dari madrasah satu persatu.
Hulliyah bersama Nimas beriringan meninggalkan madrasah. Mereka berdua menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Mama Haji.
Di rumah Mama Haji, Zamima dan Khalila mendominasi percakapan. Hal tersebut sungguh hiburan untuk Mama Haji yang tidak memiliki anak.
Ditengah canda tawa di rumah itu, tiba-tiba seseorang datang dan memberi salam. Seseorang itu ternyata Beni.
Sedikit terkejut melihat Hulliyah, Beni bersikap biasa pada akhirnya.
"Saya kemari ingin mengundang Mama ke acara pernikahan saya." Beni menyodorkan sebuah undangan di atas meja.
"Kapan ini Nak?" tanya Mama Haji.
"Inshaalloh dua minggu lagi Ma."
Beni menjawab pertanyaan Mama Haji tetapi matanya tertuju pada Hulliyah seolah memberitahu Hulliyah.
"Aku harap kamu juga hadir Li."
Belum memindahkan tatapannya meski tatapan itu tidak mendapat balasan, Beni berucap kepada Hulliyah.
"Inshaalloh, jika tidak ada halangan." kata Hulliyah.
Entah akan seperti apa rasanya menghadiri pernikahan dari mantan calon mempelai pria kita.
Ah kalimatnya saja sudah belibet apalagi melaksanakannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...
.
__ADS_1