Love In Pesantren

Love In Pesantren
Sebentar saja


__ADS_3

Setiap malam Farrel melantunkan ayat demi ayat yang dibacanya dengan meraba satu persatu huruf. Mendoakan selalu mendoakan, supaya Sofia cepat bangun dari mimpi panjangnya.


Orang terdekatnya silih berganti menemaninya setiap hari. Jika malam tiba, Farrel hanya ingin ditinggal berdua dengan Sofia.


Seperti malam ini, Farrel di tinggal sendiri di ruangan itu. Seusai mengaji, kini Farrel duduk di samping Sofia yang masih tertidur pulas itu.


Sebelah tangannya menggenggam jemari yang lemah itu. Betapa sakitnya menghadapi kenyataan ini.


Farrel menghela nafas beberapa kali, menahan sesak itu sulit.


Seorang Farrel menjadi saksi sang ayah kecelakaan, Farrel juga menyaksikan sang ibu meregang nyawa dengan mengenaskan.


Lalu apalagi ini?


Farrel menabrak istrinya sendiri?


"Sofi, bangun! Maafkan aku Sof. Kamu harus bangun!"


Farrel mengelus lembut pipi Sofia.


"Kamu masih harus menemaniku Sof ... Aku akan mencoba jadi imam yang baik buat kamu, tolong kasih aku kesempatan!"


"Beri aku kesempatan walau hanya sebentar, aku ingin memelukmu. Aku rindu kamu."


Farrel kembali mengeluarkan air mata kesedihannya.


--------------------


Tiada kekuasaan paling mulia kecuali milik Sang Pencipta. Semua miliknya dan akan kembali pada-Nya.


Sang mentari menelusup masuk melalui celah tirai yang sedikit terbuka.


Di samping tempat tidur itu terlihat Farrel sedang melaksanakan sholat.


Bukan, bukan sholat subuh. Farrel sedang belajar sholat dhuha.


Ko dhuha Rel?


Jawabannya karena Farrel ingin meminta rejeki pada Tuhannya, rejeki kesehatan untuk Sofia.


Di tengah kekhusyuannya itu, seseorang yang selalu di nanti untuk bangun akhirnya membuka mata.


Perlahan menatap kosong pada jendela, tanpa kata, tanpa gerak, raga Sofia terbangun tapi tidak dengan jiwanya.


Mata Sofia menerawang kosong menatap jendela itu.


Beberapa saat kemudian Farrel usai dengan ibadahnya lalu terkesiap tatkala melihat Sofia membuka mata.


Haru bahagia membuncah pada diri Farrel, dengan tergesa mendekati Sofia.


Memeluk tubuh itu, menangis.


Tapi Sofia diam tak merespon.


Farrel yang merasakan keanehan itu, akhirnya melepas dekapannya. Menangkup wajah sang istri, menggiringnya supaya menatap matanya.


Farrel tak kuasa untuk tak menangis.


Sofia tak menatapnya, matanya kosong.


"Sof, ini aku Farrel. Hei lihat! Aku di sini."

__ADS_1


Sofia diam.


-------------------


Kini di ruangan itu sudah ada dokter, ayah dan ibu Sofia pun datang secepat mungkin setelah mendapat kabar Sofia telah sadar.


Semua kebahagiaan itu kemudian diiringi kepiluan.


Sofia ada tapi tidak ada.


Hal yang terburuk dari kehilangan ingatan.


Sungguh keadaan ini membuat semua orang bergelung dalam kepedihan yang mendalam.


Sofia mengalami penurunan kesadaran dan tidak dapat merespon apapun dalam istilah kerennya dikenal dengan sebutan stupor.


Akankah ada keajaiban lagi, apakah termasuk manusia serakah bila terus menuntut pada Tuhan untuk lebih berbaik hati lagi?


-------


Sofia kini terduduk di bangkarnya dengan tatapan kosong menembus kaca jendela.


Mengedip secara perlahan tak peduli akan sekitar.


Sofia dimana?


Ini bukan Sofia.


Farrel mendekatinya duduk di sampingnya, ditatapnya wajah mulus sang istri, dibelainya kepala Sofia.


"Mau sampai kapan kamu begini Sof?"


Farrel menangkup wajah Sofia, berusaha mempertemukan pandangan mata itu lagi tapi hasilnya sama, Sofia tak ada di mata itu.


Farrel mengecup kening itu penuh kerinduan, tak ada reaksi apa pun yang diberi Sofia.


"Kamu mau keluar dari kamar ini ya?"


Farrel yang melihat Sofia terus memandangi jendela, akhirnya berinisiatif membawa Sofia keluar kamar perawatan.


Farrel menggendong Sofia ke kursi roda kemudian membawanya berjalan-jalan melewati lorong rumah sakit itu.


Farrel terus mengobrol seakan Sofia memberi balasan, Farrel mengoceh menceritakan kesan pertama dirinya melihat Sofia.


Dan kini Farrel membawa Sofia ke tempat yang agak sepi di area rumah sakit, di sana terdapat sebuah bangku yang menghadap langsung pada air mancur kecil di tengah halaman rumah sakit.


Farrel menggendong Sofia perlahan, kemudian mendudukkannya di pangkuan. Mendekap Sofia di tengah terik matahari nyatanya membuat kenyamanan tersendiri untuk Farrel.


Membiarkan kepala Sofia bersandar di dadanya, Farrel mulai bercerita layaknya mendongeng.


"Kamu percaya kan Sof, kalau aku bilang dulu kamu jutek?"


Farrel tersenyum kecil mengingat-ingat awal mula dia mengenal Sofia sebagai temannya Nimas.


"Waktu kamu ngajuin taaruf? Aku sempat syok, terus aku nganggap kamu murahan juga. Maaf yaa sayang."


Farrel mencium kepala Sofia.


"Awal-awal nikah, aku anggap kamu orang aneh Sof. Kamu benar-benar ga keluar rumah ketika aku melarangmu. Saat itulah aku mulai sedikit melirikmu."


Farrel kembali mencium pipi Sofia.

__ADS_1


Apa reaksi Sofia?


Tidak ada pemirsah, matanya mengedip-ngedip perlahan tak ada sahutan atau respon apapun.


"Terimakasih, sudah hadir di hidupku melakukan perbaikan pada hati ini. Menjahit luka-lukaku dengan ketulusan, terimakasih kamu berusaha bangun meski aku tahu ini sulit kamu lakuin. Terimakasih."


Perkataan Farrel tersendat-sendat, akibat sesak yang tiba-tiba melingkupi hatinya.


Author juga nyesek Rel.


Di detik selanjutnya, Sofia sedikit kejang kemudian nafasnya muncul timbul sedikit mengeluarkan suara seperti mengorok, membuat Farrel panik tapi dia berusaha tenang.


Orang-orang yang kebetulan lewat mendadak berhenti dan menyaksikan.


Farrel mengeratkan pelukannya.


"Kamu mau pergi ya sayang? Per-pergilah! Aku ikhlas."


Farrel sungguh mengetahui situasi ini, dia membisikkan dua kalimat syahadat di telinga Sofia dengan gemetar.


Merelakan Sofia bahagia di alam lain, berat sungguh tapi Farrel tak bisa menahan Sofia untuk lebih lama lagi bersamanya.


SELAMAT JALAN SOFIA.


------------


Diteriknya matahari siang ini tiba-tiba hujan turun mengguyur mengiringi isakan Farrel mendekap istrinya yang telah tiada.


Orang-orang yang sedari tadi menyaksikan pun teriris hatinya melihat pemandangan bak drama ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


..


Skip dulu yaa udah, author ga kuat.


Perlu kalian tahu its the real!


Salah satu teman Nimas di kehidupan nyata memang ada yang meninggal karena sakit.


Nama aslinya Mufliha Nuraeni di sini author gambarkan Sofia Mufliha.


Al-Fatihah.

__ADS_1


__ADS_2