Love In Pesantren

Love In Pesantren
Perjuangan


__ADS_3

Terhitung sepuluh hari sudah, Haqi tidak bertemu dengan Hulliyah.


Rindu?


Tentu saja rindu, apalagi pengantin baru yang seharusnya selalu bersama menikmati candu cinta, kini terpisah itu rasanya hampa. Tapi tentu itu berlaku untuk pasangan yang normal. Berbeda dengan Hulliyah dan Haqi yang menikah secara dadakan.


Candu cinta?


Ahayyy bahasaku.


Siang itu Haqi nampak tengah berada di Pesantren, berbincang dengan Mama Haji mengenai program pemerintah yakni sarana air bersih yang akan di pusatkan di lingkungan Pesantren dan sekitarnya.


Haqi nampak serius dengan pekerjaannya. Oh iya, selain menjadi guru Haqi juga seorang penggiat lingkungan hidup di sebuah lembaga pemerintahan. Oleh karena itu, Haqi selalu sibuk bekerja di lapangan seperti ini.


"Jadi, nanti kami akan membuat sumur bor di sekitar sini Ma."


Haqi membicaraan rencana yang akan dilakukan dalam waktu dekat itu.


"Boleh saja, asal tidak berdampak buruk bagi masyarakat sekitar sini."


"Tentu tidak, justru ini akan sangat menguntungkan bagi masyarakat. Saya jamin." kata Haqi.


Akhirnya mereka pun sepakat.


-------------


Ketika Haqi sedang memakai sepatunya bersiap untuk pulang, tiba-tiba Mama Haji berbicara.


"Nak Haqi, apa benar yang saya dengar mengenai Hulliyah?"


Haqi menghentikan gerakan tangannya, kemudian berbalik menghadap Mama Haji.


"Jika yang Mama dengar saya adalah suami Sypa, itu memang benar."


Sejenak Mama Haji memperhatikan Haqi.


"Sebenarnya ada apa? Mama berhalangan hadir waktu itu," kata Mama Haji.


"Insiden kecil Ma ...."


Haqi pun menceritakan kejadian yang mengharuskan dirinya menikahi Hulliyah.


Kini Haqi bersama Mama Haji kembali duduk di kursi.


Mama Haji terlihat simpatik setelah mendengar cerita Haqi.


"Saya kembali ke sini malah sibuk bekerja, Bapak mertua pasti menganggap saya tidak serius dengan ucapan saya."


Haqi tersenyum miris.


"Lalu kapan kamu mau menjemput kedua orangtuamu," tanya Mama.


"Saya belum tahu Ma, pekerjaan saya tidak memungkinkan untuk ditinggal."


"Lalu Hulliyah memungkinkan untuk kamu tinggal?"


Eh pertanyaan menohok dari Mama membuat Haqi bungkam beberapa saat.


"Kamu tidak kasihan pada Hulliyah yang menanti kedatangan kamu untuk menjemputnya?" lanjut Mama.


"Tapi pekerjaan saya benar-benar tidak bisa ditinggal Ma. Saya harus apa?"

__ADS_1


Haqi nampak bingung.


"Bawa Hulliyah ke sini!"


Mama berkata dengan nada tegas.


"Saya sudah coba meminta Sypa agar ikut saya, tapi Bapak tidak mengizinkan."


Mama nampak menghela napas berat.


"Setidaknya kamu usaha nak, kasihan Hulliyah. Teruslah berdoa supaya Alloh SWT melembutkan hati Bapak mertuamu.


"Iya Ma," jawab Haqi lemah. Pikirannya menjadi berkecamuk antara kerinduan dan ketidak mampuan.


----------------


Sepulang dari Pesantren Haqi menyempatkan diri untuk pergi ke rumah Ustadz Zamzam.


Kebetulan hari ini Ustadz Zamzam libur mengajar sehingga memungkinkan Haqi bertemu dengannya di rumah.


Benar saja, sewaktu Haqi datang Ustadz Zamzam berada di rumah sedang bermain dengan Zamima.


"Jadi, bagaimana rencana kamu?"


Sesaat setelah mereka duduk bersama mereka mulai mengobrol mengenai Hulliyah.


Duh Hulli pasti kupingnya panas nih diomongin dari tadi kkkkkk.


"Saya bingung Stadz, saya bukan tidak kasihan dengan Sypa karena menggantungkan status kami. Tapi keadaan tidak memungkinkan. Orangtua saya juga masih sibuk dengan pekerjaannya."


"Yah, kalau begitu kamu tunggu aja sampai memungkinkan."


"Tapi Stadz, bagaimana dengan Sypa?"


Ustadz Zamzam tergelak kemudian berbicara, "Hulli sii keliatannya santai aja, justru di sini aku mikirnya kamu yang gimana? Udah rindu istri ya? Akhirnya kamu mengerti juga bagaimana galaunya seorang suami."


Kembali Ustadz Zamzam tergelak, kali ini lebih keras terlebih melihat ekspresi sahabatnya yang tengah gusar itu.


"Kamu benar Stadz, aku harus jemput Sypa. Biar bagaimanapun dia istri saya sekarang."


Akhirnya keputusan yang diambil Haqi adalah kembali ke kampung halaman Hulliyah. Haqi bertekad untuk membawa Hulliyah pergi bersamanya, bagaimanapun caranya.


---------------


Haqi tiba di rumah Hulliyah sehabis isya.


Kini Haqi tengah menunggu bapak mertuanya yang masih belum pulang dari mesjid. Haqi duduk di dalam ruang tamu ditemani Hulliyah yang nampak malu-malu berhadapan dengan sang suami.


"Sypa baik-baik saja 'kan selama saya tinggal?"


Haqi memperhatikan Hulliyah yang nampak menunduk di kursi yang berada dihadapannya.


"Baik Kak."


Hulliyah masih menunduk seakan tidak berani menatap wajah Haqi.


Pengantin malu-malu.


"Maaf saya baru datang, pekerjaan saya numpuk banget kemarin. Em ... Sypa mau kan ikut saya?"


Haqi bertanya dengan ragu.

__ADS_1


"Memang sudah seharusnya 'kan saya ikut Kakak?"


Seperti sengatan listrik yang tiba-tiba mengenai tubuhnya, ucapan Hulliyah barusan begitu memberikan kekuatan bagi Haqi.


"Terimakasih, saya akan berjuang demi kita."


Aww, Bang Haqi manis banget sii.


Obrolan mereka seketika berhenti tatkala sang penguasa rumah itu pulang.


Iya ayah Hulliyah datang dengan wajah yang masih tak bersahabat, kemudian menyuruh Hulliyah masuk ke dalam kamar.


"Saya sudah bilang, kamu jangan kemari kecuali bersama orangtua kamu!"


Ayah Hulliyah masih saja angkuh.


"Untuk waktu dekat saya belum bisa Pak, pekerjaan saya ...."


"Alasan saja! Guru? Apa iya sesibuk itu? Kalau Beni sih saya percaya, secara dia polisi. Tapi dia nyempetin tuh pulang kemari bahkan dengan calon istrinya yang baru."


Ada nada kesal dalam setiap kata yang dikeluarkan ayah Hulliyah.


Kesal sama Beni tapi marahnya sama Haqi?


"Maaf Pak."


Sungguh Haqi tidak mampu lagi berkata-kata selain maaf.


"Sekarang kamu mau apa datang ke sini?"


Tatapan ayah Hulliyah seakan mencengkram wajah Haqi.


"Saya ingin membawa Sypa Pak."


"Enak saja kamu, apa kamu pikir saya akan memberikan anak saya begitu saja? Hanya karena kamu menikahinya secara sirih, jangan harap kamu hisa membawa Hulliyah. Keinginan saya simpel, bawa orangtua kamu nikahi Hulliyah secara resmi. Begitu saja susah, bagaimana saya bisa percaya sama kamu!"


Haqi menyadari perkataan ayah Hulliyah memang ada benarnya. Sekarang hanya tinggal dirinya yang harus membuktikan janjinya. Tapi kenapa rasanya sangat sulit, keinginannya tersendat ketidakmampuan dirinya mengendalikan situasi.


"Ayah ini kenapa menghalangi Lia bahagia?"


Ibu berjalan dari arah dapur, sebenarnya ibu sudah tidak tahan lagi berbicara sejak pembicaraan tadi di mulai.


"Ayolah Yah, izinkan Nak Haqi membawa Lia."


Ayah menatap ibu dengan sengit.


"Ibu mau Hulliyah dibawa lelaki ini tanpa pernikahan resmi? Lalu bagaimana jika lelaki ini menghamili Hulliyah?"


Ibu terlihst menahan senyum karena perkataan suaminya.


"Memangnya kenapa kalau Hulliyah hamil? Toh ada suaminya."


Ayah kembali murka, "iya, ayah tidak mau Hulli terjebak hubungan tidak jelas ini."


"Tidak jelas bagaimana? Dimata agama mereka sudah sah. Hulliyah wajib melayani suaminya, Ayah sudah tidak memiliki hak di sini apalagi melarang-larang seperti ini."


Ayah terdiam sejenak, ayah meresapi perkataan istrinya.


"Baiklah, saya izinkan."


Haqi mengangkat kepalanya hingga kini menatap kedua mertuanya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2