Love In Pesantren

Love In Pesantren
Bukan milikku


__ADS_3

Hari ini Pesantren mengadakan acara perpisahan bagi Hulliyah. Acara sederhana namun meriah, tangis dan tawa mengharu biru dalam acara. Perpisahan ini terasa sangat berat sebab Hulliyah harus meninggalkan Pesantren, dimana Hulliyah menemukan berbagai cinta dengan rasa berbeda. Cinta di dalam Pesantren membuat Hulliyah menganggap Pesantren adalah tempatnya pulang.


Oh ayolah kenapa judulnya Love In Pesantren?


Nanti author jawab di bawah ya hihi.


Manusia tak pernah tahu masa depan yang akan mereka hadapi, begitupun dengan Hulliyah tak pernah terbersit sedikitpun dalam benaknya untuk menikah. Namun ternyata nasib berpihak baik terhadapnya, Hulliyah akan menikah dengan seseorang yang selalu hadir dimimpinya.


Hulliyah merasakan rencana Tuhan begitu indah. Doa-doanya terjawab, meskipun tak pernah dia berdoa secara gamblang bahwa Hulliyah menginginkan Beni sebagai jodohnya. Ternyata memang jodoh tak kemana.


Ini kenyataan.


"Li, jangan lupain aku yaa!"


Neli memeluk Hulliyah sesaat sebelum Hulliyah masuk ke dalam mobil yang sudah menjemputnya. Mobil keluarga Beni tentunya. Di dalamnya sang ibunda sudah duduk terlebih dahulu.


"Tentu, aku gak mungkin lupa semua tentang kalian."


Mata Hulliyah berair tatkala memandangi keseluruhan bangunan yang ada di dalam gerbang itu, memandang seluruh penghuninya. Berat memang, tapi ini pasti terjadi pada setiap penghuninya.


Hulliyah baru saja akan masuk mobil, tiba-tiba sebuah mobil tepat berhenti di belakang mobil yang akan Hulliyah tumpangi.


Hadeeuh ada aja yang ganggu ya.


Ustadz Zamzam keluar dari mobil itu melalui kursi penumpang. Terus yang mengemudi siapa?


Hulliyah sempat melihat ke arah kursi pengemudi, ternyata itu Haqi. Hulliyah masih bisa melihatnya walaupun kaca mobilnya tertutup. Haqi nampak memperhatikan Hulliyah dari dalam. Tatapan mereka sempat terkunci namun kemudian Hulliyah memutusnya secara sepihak.


Ada perasaan tak rela dalam hati Haqi, tapi dia mencoba membuangnya jauh-jauh.


Emangnya siapa aku? Kenapa tak rela sekali rasanya?


Udahlah Haqi dengan author saja.


Ustadz Zamzam berjalan menghampiri Hulliyah.


"Maaf telat, ada titipan dari Nimas." kata Ustadz Zam.


Kemudian menyodorkan sebuah kotak berwarna pink seukuran dengan papan catur yang terlipat.


"Apa ini?"


Hulliyah penasaran.


"Nanti buka aja di dalam mobil, Nimas juga minta maaf tidak bisa mengantarmu."


"Ah iya Stadz, aku ngerti. Kalau begitu aku pamit, salam buat Nimas. Assalamualaikum."


Hulliyah pun masuk ke dalam mobil yang kemudian melaju. Hulliyah pergi menyambut bahagianya.


----------------


Di dalam mobil yang tengah berjalan itu, Hulliyah membuka kotak pemberian dari Nimas.


Ternyata di dalamnya terdapat banyak sekali foto-foto. Hulliyah mengambil selembar foto kemudian memperhatikannya.


Foto pertama yang di ambil setelah mereka satu kobong.


Ya, itu foto Hulliyah beserta keempat temannya.


"Polos banget sii kita ...."


Maaf Li, kamu muji diri sendiri?

__ADS_1


"Foto siapa itu?"


Sang ibu mulai penasaran.


"Ini Bu, aku sama teman sekobong yang dulu. Kapan yaa bisa ketemu lagi?"


"Ah kamu berlebihan, memangnya menikah jadi akhir dari segalanya apa?"


Hulliyah menoleh ke arah ibunya.


"Tapi tetap saja terbatas Bu."


"Emang iya Hulli, tapi itu tergantung sama kita nya juga. Kita harus pintar-pintar ambil hati suami supaya kita tidak terkekang. Satu lagi, kamu harus pinter nyervisnya."


Eh author mikir dulu, ini nyervis apa ya Bu?


"Isshh Ibu, apaan sih ...."


Hulliyah malu.


"Yee ... ini fakta neng, iya kan Pak Supir?"


Sang ibu melemparkan pertanyaan pada supir yang sedari tadi menahan tawanya mendengar obrolan ibu dan anak itu.


"Iya Bu, benar sekali."


Duh Pak supir semangat sekali.


Perjalanan menjadi sangat hidup karena ibunya Hulliyah yang pintar bicara berhasil membuat supir ikut bicara. Mereka heboh berdua, sementara Hulliyah memilih memejamkan matanya.


---------------


"Li, hei ...."


Sang ibu menepuk-nepuk pipi Hulliyah sesampainya mereka di kampung halamannya itu.


"Sudah sampai hei."


Hulliyah mengerjap dan menyadarkan dirinya.


"Oh, udah?"


Hulliyah membuka pintu mobil, betapa terkejutnya Hulliyah di sekitar mobil itu diberhentikan orang-orang berkumpul seperti sedang menyambut artis Ibukota.


Saking banyaknya orang di sana, Hulliyah sampai kesulitan berjalan menuju rumahnya yang memang harus dia tempuh dengan berjalan kaki melewati kebun teh.


"Si Lia beruntung ya, bakal jadi mantunya juragan."


Selentingan kata yang membuat Hulliyah sedikit merasa bangga.


"Jangan-jangan si Lia pake pelet lagi."


Saat para tetangga menerka-nerka tanpa peduli ucapannya menyakitkan apa tidak.


Jleb ... ingin marah, tapi Hulliyah masih bisa mengontrol emosinya.


Setelah menerobos kerumunan tetangga, akhirnya Hulliyah sampai di rumah. Suasana rumah sangat ramai, banyak keluarga Hulliyah dari luar kota yang sengaja datang.


Hulliyah disambut dengan gembira, dan segera dibawa masuk ke dalam rumah.


"Calon mantennya nih."


Teriak ayahnya Hulliyah membanggakan anaknya.

__ADS_1


Ya,beliau sangat bangga sebab dari sekian banyaknya anak gadis di kampung itu ternyata putra dari juragan kampung tersebut memilih putrinya.


"Ah ayah, malu aku."


Hulliyah menarik tangannya yang sedang diangkat sang ayah ke udara.


Wih udah mirip petinju yang menang sabuk nih hihi.


----------


Begitulah seterusnya, semua keluarga merasa bangga sebab Hulliyah akan dinikahi Beni yang notabene putra dari seorang juragan di kampung itu.


Hari berlanjut sampai akhirnya tibalah hari ini. Hari dimana Hulliyah siap dipinang sang pujaan.


Debaran jantung beradu dengan alat-alat makeup yang kini tengah dipakaikan sang perias di wajah ayu Hulliyah.


Hulliyah menautkan kedua tangannya sesekali meremas jemarinya sendiri untuk menguatkan diri sendiri dan menghilangkan kegugupan yang luar biasa dahsyat menyerangnya.


"Wah ... Lia cantik sekali, orang yang gak pernah dandan mah emang begini. Waktu nikah auranya muncul."


Celotehan sang perias terdengar nyaring, saking takjubnya dengan keindahan alami yang terpancar dari wajah Hulliyah atas bantuan makeup dan tangannya.


Karena mendengar ucapan sang perias, akhirnya semua orang di kamar itu penasaran dan melihat Hulliyah.


"Wah bener Li, pangling."


Semua memuji tapi tak membuat Hulliyah tersenyum. Dalam kegugupannya Hulliyah terus berdoa dalam hati, diselingi dzikir mohon agar hatinya tenang.


Tibalah saatnya keluar dari sarang, Hulliyah digandeng ibu beserta bibinya berjalan perlahan menuju sebuah meja yang akan menjadi saksi ijab kobul.


Hulliyah yang baru keluar itu membuat semua orang terpesona. Termasuk di sudut sana Haqi yang datang menemani Ustadz Zamzam terperangah tatkala tak sengaja melihat Hulliyah keluar.


Seketika jantung Haqi berdebar dengan begitu kuatnya, matanya terbuai oleh keindahan yang bukan miliknya.


Bagai belati yang menggores-gores hatinya, rasa sakit yang amat sangat membuat Haqi memalingkan pandangannya ke arah lain.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ekhem ... mohon perhatiannya sebentar!


Ada yang ngomong katanya begini, "thor kenapa novel ini judul sama isinya ga nyambung?"


Terus ada yang ngomong lagi, "Judulnya Pesantren, kok latarnya kebanyakan di luar Pesantren? Terus kenapa gak banyak nyeritain tentang kegiatan Pesantren?"


Aku jawab yaa!


Pertama, kenapa isi dan judulnya gak nyambung? Hmmm sepertinya anda tidak membaca bab 58 (Pesantren in love), di bab itu aku nulis kenapa aku pakai judul ini. Di sini aku mau menyampaikan bahwa tokoh dalam kisah ini menemukan cinta di Pesantren, eiitts bukan melulu cinta pada lawan jenis, aku bercerita tentang persahabatan disini, tentang keikhlasan dan lain sebagainya.


Kedua, latarnya kebanyakan di luar Pesantren. Lah emang iyaaa masa terus-terusan diem di Pesantren. Misal nih ada judul hantu di sekolah, masa iya selama cerita mereka terus sekolah? Kan gak mungkin. Nah ini pun sama.

__ADS_1


Terus aku gak banyak nyeritain kehidupan di dalam Pesantren, untuk jawaban ini aku bilang tegas aku bukan santri. Daripada salah aku lebih baik bermain aman saja.


Sekian dari si bodoh yang sok ini.


__ADS_2