
Di ruangan ini, aku kini berdiri. Aku kuatkan diri menghadapi hal terburuk yang mungkin terjadi.
"Sebentar deh, rasanya saya pernah melihat neng Nimas ya?."
Suara Pak Mustafa memutus kontak mataku dengan Hannah.
"Mungkin saja Pak."
Aku tersenyum.
Gak mungkinkan aku bilang kalau aku ini istri yang terbuang, uh mirip judul sinetron deh udah.
"Ada perkembangan barukah tentang Hannah?"
Tuh lihat suamiku perhatian banget deh kamu.
"Yah begitulah Stadz, harus segera di operasi."
Wajah Pak Mustafa berubah sendu.
Aku maju mendekati Hannah.
"Semoga Allah segera mengangkat penyakitmu."
Dan jauhi suamiku !!!
Duh syetan dalam hatiku ikut bicara.
Mirip lirik lagu ya haha.
Hannah terlihat lebih banyak diam, apa karena ada aku?
Boleh geer kan ya?
Pak Mustafa pergi keluar karena di panggil dokter. Tinggallah di sini kami bertiga.
"Aa masih betah?"
Sebutlah itu ambigu.
"Neng mau pulang sekarang?"
Aku tak menjawab, aku hanya berusaha makin dekat dengan Hannah.
Setelah melihat kondisinya dari dekat, aku tak tega. Wanita secantik dia dan sesempurna dia tak berdaya hanya karena sebuah musibah berupa penyakit. Jujur aku iba.
"Semangat dong, jangan cemberut gitu. Serahkan semua pada Alloh yang maha berkehendak. Senyum ya !!"
Lalu ku berikan tasbih pada Hannah yang ada di dalam tasku.
"Aku tahu pasti kamu punya banyak tasbih, anggap saja ini ikatan persahabatan dariku."
Eh A Zam ngapain lihatnya seperti itu, dih berkaca-kaca pula.
"Aku pamit ya, assalamualaikum."
Aku melenggang ke luar ruangan tanpa menunggu A Zam.
Kulihat tadi Hannah terbengong-bengong. Eh apa ada yang salah?
Biarlah..
Setelah berapa lama berjalan, A Zam belum muncul juga.
Ah mungkin dia memilih menemani Hannah.
Sungguh sekarang aku ga apa-apa. Melihat kondisi Hannah yang seperti itu rasa sakit hatiku menguap begitu saja, hilang entah kemana.
Agak lama aku menunggu angkutan umum di tengah teriknya matahari.
Hingga sebuah suara ku dengar.
"Nimas."
Ada yang memanggilku?
Siapa?
Kulihat seorang yang sepertinya aku kenal.
"Farrel?"
"Alhamdulilah kamu masih inget. Assalamualaikum."
Dih dia nyengir.
"Waalaikumussalam."
"Lagi ngapain di rumah sakit?"
"Jenguk temen, kamu?"
Jawabku sekenanya.
__ADS_1
Bisa ga sih gak nyengir gitu aku geli liatnya.
"Sama, jenguk temen juga. Sekarang mau kemana?"
Belum sempat aku jawab, tanpa ku sadari mobil A Zam sudah ada di belakangku.
"Ayo neng."
"Ah iya, Farrel saya permisi. Eh untuk yang waktu itu saya sangat berterimakasih."
"Its ok."
Aku pun masuk ke dalam mobil setelah saling bertukar salam.
Dalam mobil tak ada satu pun kata keluar.
Aneh.
A Zam kenapa jadi pendiam gitu sii.
"Jadi jajan mie ayamnya?"
Akhirnya setelah sekian lama ku tunggu dia tanya juga.
Aku kan gengsi mau ngomong duluan hihi.
Aku mengangguk antusias.
"Ngapain tadi orang itu?"
Orang-orangan sawah.
"Siapa?"
"Sepupunya Ustadz Ahmad."
Biasa aja dong ketus gitu huh.
"Namanya Farrel A, cuma nyapa aja."
"Nyapa ya... Ooo."
Idih ko gitu bibirnya dijelek-jelekin.
Dan sampailah kami di penjual mie ayam yang ku rindukan, eh bukan penjualnya tapi mie ayamnya.
"A, aku mau tiga mangkok."
Lihat ekspresi A Zam, haha lucu.
"A, aku mau es kelapa."
A Zam nurut, dia beranjak membeli es kelapa.
Bener nih kata ibu, aku harus buat A Zam repot hihi.
A Zam sudah kembali dan kembali melahap mie ayam nya.
"Ko belum dimakan neng?"
"Gak laper, buat Aa Aja."
A Zam melotot karena kaget.
"Jangan bercanda neng, ayo dimakan."
Siapa juga yang becanda.
"Dedeknya mau ayah yang habisin mie nya."
A Zam menatap satu persatu mangkok mie ayam itu, masih penuh haha.
"Kita kasih sama orang aja ya neng, ini gak akan kemakan. Nanti mubazir."
Belum nyoba udah nyerah kamu A. Aha!! Mending pura-pura marah aja.
"Pokoknya harus Aa yang makan TITIK !!"
Walau dengan wajah terpaksa, A Zam mengikuti keinginanku.
Satu mangkok habis, masuk mangkok kedua. Boleh gak nih aku foto?
"Neng, udah ga kuat aku."
"Aa sayang sama anak gak?"
Diberi pertanyaan seperti itu A Zam melanjutkan makannya.
Di mangkok ketiga A Zam benar-benar pucat, ih aku yaa ko seneng kerjain A Zam.
Maafkan daku kakanda. Haha.
Meski dengan susah payah akhirnya mangkok ke empat tandas juga. Yeay jago juga A Zam. Jago makan.
__ADS_1
"Perut aku sakit neng."
Lebih sakit mana sama sakit hatiku kemarin huh.
"Pulang yuk."
Aku berjalan menuju mobil meninggalkan A Zam yang meringis karna sakit perut.
Beberapa saat kemudian A Zam menyusul masuk mobil.
Amboiii keringetnya bercucuran, ko aku seneng nyiksa dia.
Ampuni akuuu.
"Neng sengaja ya?"
A Zam menyeka keringatnya dengan tissu.
"Bukan mauku, itu maunya anak Aa."
Ahaiii mirip judul novel tuh. Author aku iklanin tuh novelmu bukan mauku.
----------------------
Hari ini tepatnya pernikahan Rista dan kak Amir. Aku sudah berada di tempat acara bersama dengan sahabatku bahkan ada Siti juga.
Aihhh lihat perutnya udah buncit gitu.. Apa kabar aku?? Jangan tanya.
Rista dan Kak Amir terlihat bahagia sekali. Ah kan mereka saling cinta.
Beda sama aku, tuh kaan A Zam sibuk sendiri sama temannya.
"Bumil, jangan melamun aja !!"
Dasar Hulli bisanya ngagetin aku.
"Hulli lihat deh Siti, Ustadz Ahmad sweet banget yaa. Meskipun teman-temannya pada ngumpul dia milih nemenin Siti, jagain Siti."
Kok Hulli liatin aku begitu banget.
"Nimas, apa kamu bahagia menikah sama Ustadz Zam?"
Eh.
Sepertinya aku salah ngomong ini.
"Ya iyalah Hulli, kamu tuh ada-ada aja."
Aisshh Hulli jangan bikin aku salah tingkah, tatapanmu itu ih.
"Assalamualikum."
"Waalaikumussalam, eh Farrel ya?"
Biasa aja dong Hulli.
"Iya, kalian berdua kok di pojokan ngobrolnya."
"Biar romantis," jawabku asal.
Eh kok pada ketawa.
Farrel terbahak memegangi perutnya, untung saja suara dentuman musik yang memekakkan telinga jadi penolong kami di sini untuk tidak mencuri perhatian.
"Teman kamu lucu, di luar anggun di dalam ajur haha."
Eh eh ngomongin siapa itu?
"Neng, ke sana yuk !!"
Sejak kapan ada A Zam?
"Lepas A, aku ga mau di pegang kamu !!"
Matanya gitu amat, apa dia sedang marah?
"Jangan jauh-jauh dariku !!"
Ih.
Aku pun berdiri di samping A Zam yang kembali asik ngobrol sama teman-temannya.
Heii kenapa nyeret aku kesini cuma dibikin jadi patung. Uh.
Pegal juga lama-lama berdiri.
"Mau duduk !!"
Farrel.
"Makasih yaa."
Aku pun duduk pada kursi yang dibawakan Farrel.
__ADS_1
#Part ini kok aneh (author)