
Haqi benar-benar menepati janjinya untuk tidak mendekati Hulliyah. Sekalipun dia sangat rindu, Haqi memilih melihat Hulliyah dari kejauhan. Haqi menahan hasratnya untuk mendekat, Haqi mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan diri untuk bekerja.
Seperti siang tadi, Haqi yang datang melihat proyek pembangunan sumur bor di area Pesantren sebenarnya melihat Hulliyah berlari ke arahnya. Ingin rasanya Haqi menyambutnya dengan pelukan. Namun Haqi tidak bisa mengingkari janjinya, Haqi harus menghindar.
Maafkan aku Sypa! Bersabarlah sebentar lagi.
Haqi terburu-buru menjauh dari sana, tidak ingin semua akan menjadi masalah lagi Haqi berjalan menjauhi tempat itu.
Rencananya Haqi akan terbang ke Palembang setelah proyek sumur bor selesai. Terhitung beberapa minggu lagi pembangunan itu rampung, membuat Haqi bersemangat.
Orangtuanya pun sudah beberapa kali menghubungi dan menanyakan kelanjutan niat baik Haqi, namun Haqi selalu mengulur waktu alasannya karena pekerjaan.
Haqi ingin masalahnya selesai secara bertahap dan untuk meminang Hulliyah dia tidak ingin terburu-buru.
----------------------
Siang ini Haqi bersama Ustadz Zamzam pergi ke toko buku. Mereka bersama-sama akan mencari buku LKS untuk anak didiknya.
Sesampainya di sana Haqi yang mengendarai mobil sedikit terpaku kala melihat Hulliyah yang keluar dari toko itu bersama Neli. Haqi ingin keluar dan menyapanya tetapi otak bodohnya menolak secara terang-terangan.
"Yuk Qi! Keluar!" ajak Ustadz Zamzam.
Haqi mengerjap kaku.
"Mm...anu, Ustadz saja yang beli. Aku tunggu di sini!"
Ustadz Zamzam nampak keheranan melihat gelagat tak biasa dari sahabatnya itu.
"Ok deh, tunggu ya!"
Ustadz Zamzam pun keluar dari mobil itu. Benar saja, ketika Ustadz Zamzam keluar dia langsung berpapasan dengan Hulliyah. Terlihat mereka saling menyapa, sang Ustadz terlihat menunjuk ke arah mobil. Haqi sudah menebaknya pasti Ustadz Zamzam memberitahu keberadaan dirinya. Namun dengan bodohnya Haqi malah bersembunyi.
Hulliyah nampak melangkah ragu mendekati mobil Haqi. Diketuknya kaca mobil perlahan, sementara Haqi yang tidak bisa menghindar pun akhirnya menyerah.
Haqi membuka jendela kaca itu dan tersenyum ramah tanpa dosa.
"Assalamualaikum." salam Hulliyah ragu.
"Waalaikumussalam Sypa...."
Haqi pun mengajak Hulliyah masuk ke dalam mobil, mengobrol apa salahnya bukan?
Setelah Hulliyah berada di sampingnya, kesunyian mengambil alih. Terlalu banyak kata yang ingin mereka utarakan sehingga keduanya bingung harus memulai darimana.
"Kakak apa kabar?"
Pertanyaan perdana dari bibir Hulliyah akhirnya memecah kesunyian.
"Alhamdulillah baik, Sypa sendiri bagaimana?"
Haqi berkata dengan kaku.
"Ya, beginilah ... baik bahkan sangat baik." Hulliyah tersenyum yang terkesan dipaksa.
__ADS_1
Haqi tak lantas menjawab, dirinya malah sibuk melihat ponselnya.
"Kakak sengaja menghindar 'kan?" tanya Hulliyah.
Haqi mengerjap lalu menoleh ke arah Hulliyah.
"Aku tahu Kakak menghindar."
Hulliyah tersenyum mengatakan hal itu.
Hulliyah memalingkan wajahnya ke arah lain, kemana saja yang penting tidak melihat wajah Haqi.
"Assalamualaikum Mi...."
Haqi tiba-tiba berbicara membuat Hulliyah melirik ke arahnya. Haqi sengaja melakukan panggilan video dengan ibunya.
"Waalaikumusalam Nak, lagi dimana itu? Kayak di dalam mobil."
Haqi tertawa kecil kemudian berkata, "Seratus buat Umi. Aku lagi di dalam mobil sama Mantu Umi."
Haqi mengarahkan kamera ponselnya ke arah Hulliyah. Hal itu membuat Hulliyah gelagapan salah tingkah.
"Namanya Sypa, manis 'kan istriku?" kata Haqi.
"Mashaalloh manis sekali, Umi mau dong bicara sama Mantu."
Haqi pun memberikan ponsel miliknya pada Hulliyah, Haqi ikut mendekat supaya wajahnya juga muncul di layar. Hulliyah sedikit risih karena kini jarak wajah Haqi dan juga wajahnya sangatlah dekat. Menoleh sedikit saja sudah pasti kena.
"Tunggu ya Nak! Kita akan segera bertemu."
Sang mertua tidak sabar ingin bertemu dengan menantunya.
"Umi nitip Haqi ya, dia itu sebenarnya anak manja. Harap dimaklumi," kata ibunya Haqi.
Hulliyah menoleh ke arah Haqi yang sedang menggaruk tengkuknya.
Haqi anak manja?
"Wah Umi nih, udah dulu ya. Dadah Umi sayang assalamualaikum...."
Haqi memutus sambungan video itu secara sepihak.
"Loh Kak, kan Umi belum selesai ngomong."
Hulliyah tak terima dengan tindakan Haqi.
"Kalau diterusin, Umi ngomongnya bakal terus ngelantur."
"Emang apa yang salah? Tadi Umi cuma ngomong Kakak anak manja," kata Hulliyah.
Kini Haqi menatap Hulliyah dalam.
"Aku manja kamu terima?" tanyanya.
__ADS_1
Hulliyah mengangguk matanya kini membalas tatapan Haqi.
"Selain manja aku juga jorok, kamu terima?"
Lagi-lagi Hulliyah mengangguk tanpa memalingkan pandangannya.
"Terus aku juga susah bangun pagi, kalau makan berantakan nasi kemana-mana, aku juga gak pernah lipet baju yang udah kering di jemuran, aku suka lupa bawa handuk kalau mau mandi. Kamu terima?"
Hulliyah tersenyum. Entah sadar atau tidak, tangannya memegang pipi Haqi.
"Aku bakalan terima semua kekurangan Kakak, Kakak susah bangun nanti aku bangunin, makan berantakan nanti aku sapuin, bajunya nanti aku lipetin, kalau Kakak gak bawa handuk pas udah mandi nanti aku ambilin."
Haqi terpaku mendengar penuturan Hulliyah, " beneran?"
Hulliyah mengangguk yakin.
"Bertahan sebentar lagi, menungguku meresmikanmu."
Haqi berucap lirih, sejurus kemudian mengecup pelipis istrinya itu lama.
Kecupannya baru terlepas setelah terdengar ketukan kaca dari luar. Ternyata Ustadz Zamzam sudah selesai dan menunggu kepanasan di luar.
"Untuk saat ini kita harus menjalani hidup seperti ini, tetapi setelah resmi aku mengambilmu dari Pesantren dan orang tuamu. Aku berjanji akan membayar semua waktu kita yang terbuang ini. Mau 'kan menungguku?"
Hulliyah melihat kesungguhan di kedua mata Haqi. Hulliyah mengangguk dan tersenyum.
Haqi pun lega dan akhirnya membuka pintu mobil terlebih dahulu, kemudian berjalan mengitarinya dan membukakan pintu untuk Hulliyah.
Setelah Hulliyah keluar dan mereka berdiri sejajar, Haqi memegang kepala Hulliyah mengusapnya pelan.
"Hati-hati ya!" bisik Haqi.
"Aduh ... aduh ... udah woi! Panas ini."
Ustadz Zamzam yang sudah masuk ke dalam mobil meledek Haqi.
"Maaf Stadz," Hulliyah berkata merasa tidak enak kepada Ustadz Zamzam.
"Santai Li, udah yuk Qi! Keburu siang."
Mereka pun berpisah di sana, Hulliyah menatap mobil itu sampai tak terlihat dari jangkauan matanya.
Hulliyah pun berjalan mencari Neli dan mobil yang tadi ditumpanginya. Namun setelah berputar-putar mencarinya, Hulliyah tak kunjung mememukannya.
Hulliyah akhirnya merogoh tas jinjing yang dibawanya, mengambil ponsel miliknya.
Ternyata Neli mengiriminya pesan bahwa tadi pergi sebentar untuk membeli bumbu dapur ke Pasar terdekat. Kemudian pada pesan selanjutnya Neli mengatakan bahwa mobilnya mogok dan harus ke bengkel.
Hulliyah membuang napasnya, matanya menoleh ke kiri dan kanan mencari sekiranya ada angkutan umum yang lewat.
Beruntung baginya, sebuah angkot melintas.
Hulliyah akhirnya pulang menumpangi angkot itu, membawa hati yang berbunga-bunga memikul mimpi yang sebentar lagi jadi nyata.
__ADS_1