Love In Pesantren

Love In Pesantren
Menafkahimu


__ADS_3

Kuda besi yang ditumpangi Hulliyah berhenti di persimpangan jalan. Hulliyah harus berjalan kaki sebentar untuk bisa sampai ke Pesantren. Hulliyah menapakkan kaki di trotoar panjang itu, langkahnya perlahan melewati jalanan yang cukup lengang di siang hari.


Melewati beberapa pertokoan kecil dan pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya di sisi trotoar. Hulliyah menikmati suasana dalam kebebasan ini. Hal yang jarang dilakukannya selama di Pesantren. Ketika Hulliyah melewati pedagang aksesoris, dirinya melihat bros-bros cantik.


Hulliyah memutuskan untuk melihat-lihat aksesoris di sana. Seketika Hulliyah teringat keempat temannya yang kini sudah berjauhan. Dulu mereka sempat membuat bros couple. Hulliyah merindukan sahabat-sahabatnya.


Hanya dengan Nimas, Hulliyah masih sering bertemu. Namun entahlah suatu hari nanti ketika Hulliyah telah benar-benar keluar dari Pesantren.


Mengingat hal itu membuat kesedihan menelusup ke relung hatinya.


Hulliyah masih memilih-milih bros yang menurutnya semua terlihat cantik itu. Hulliyah mengingat Rista dan juga Siti yang sudah jarang dia temui. Rindu terhadap keduanya membuat Hulliyah menekuk wajahnya. Mengingat kenangan masa lalu membuatnya sedikit tak bersemangat.


Andai waktu tak berjalan secepat ini, aku ingin menikmati kenangan kemarin selama mungkin. Semua datang untuk pergi, semua hadir untuk menghiasi kenangan.


Hulliyah tersenyum samar mengingat hal lucu yang telah dilewati sewaktu di Pesantren.


Kala mengingat Sofia, Hulliyah tertegun sebentar merasakan kepedihan.


Apa mungkin kita bertemu kembali Sof?


Kesedihan selalu hadir ketika mengingat sahabatnya yang belum sempat bahagia di dunia yang fana ini. Hulliyah hanya berharap semoga Sofia tertidur di alam kubur, terbangun saat nanti hari telah berakhir, bumi telah hancur, ketika itu kiamat tiba.


Hulliyah berharap Sofia tenang dengan segala amal kebaikannya selama masih hidup.


------------


Hulliyah kembali berjalan meninggalkan pedagang aksesoris itu, meninggalkan nostalgia indah yang menjadi kenangan manis itu. Hulliyah kembali menyusuri trotoar itu. Melewati kantor polisi membuat Hulliyah bertemu dengan Beni yang kebetulan keluar untuk bergantian shift dengan rekannya.


Hulliyah tidak bisa menghindar dengan terpaksa tersenyum, kemudian melanjutkan perjalanannya tanpa mau menoleh.


"Lia tunggu!"


Beni mengejar Hulliyah dan mensejajarkan langkahnya. Beni terus berusaha untuk berbicara pada Hulliyah.


"Li, bisa kita bicara sebentar?" pinta Beni.


Hulliyah tak menghentikan langkahnya. Hulliyah ingin menjauh, sejauh-jauhnya. Hulliyah ingin melindungi hatinya supaya tidak membenci.


"Aku mau minta maaf Li!" Beni nampak memelas karena Hulliyah tak merespon ucapannya.


"Kan udah ...."


Hulliyah terus berjalan, ingin rasanya Hulliyah berlari menjauhi Beni.


"Tapi aku ingin meminta maaf secara langsung Li, ayolah Hulliyah! Jangan sok kamu jadi wanita!"


Perkataan Beni dengan nada tinggi itu akhirnya mampu membuat Hulliyah terhenti.


Apa katanya tadi?


Hulliyah wanita sok?


"Maaf, apa aku tidak salah dengar? Kamu bilang aku sok?"


Hulliyah mencoba meredam amarahnya yang mulai tersulut itu.


"I-itu mak-sud aku ...." Beni terbata.


Andai saja Hulliyah tidak ingat akan hadist nabi yang berbunyi, orang yang perkasa bukanlah orang yang menang dalam perkelahian, tetapi orang yang perkasa adalah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah.


Hulliyah memang marah saat ini, Hulliyah memilih menghindar tanpa melanjutkan perbincangannya dengan orang yang telah menghancurkan semua asanya.

__ADS_1


Detik itu juga Hulliyah pergi dan setengah berlari meninggalkan Beni dengan niatnya yang masih menggantung itu.


---------------


Hulliyah berada di Pesantren berharap bahagia akan digapainya. Bertumpu pada harapan baru dan janji baru yang diberikan seseorang yang baru.


Kali ini Hulliyah berharap banyak pada Haqi.


Untuk itu, setelah amarah membelenggunya Hulliyah berusaha keluar dan menerjang harapannya. Mencoba tersenyum setiap detik, yang harus diingat ialah bahagia bersam Haqi. Tidak benci pada siapapun, Hulliyah bertekad dalam hati.


Subuh ini kala sang fajar masih malu untuk menampakkan diri, Hulliyah terbangun bersama Neli menuju dapur untuk memasak. Kebetulan hari ini jadwal mereka untuk memasak. Setiap kobong digilir untuk memasak setiap harinya, mereka biasa menyebutnya dengan tugas patrol.


Memasak untuk ratusan santri bukanlah hal yang mudah, apalagi hal itu hanya dilakukan oleh dua orang saja.


Hulliyah dan Neli memasak nasi liwet untuk para santri, beruntungnya mereka dibantu oleh santriwati lain yang bangun lebih dulu daripada yang lain.


Saat kumandang adzan subuh terdengar, pekerjaan mereka telah selesai.


Setelah berjamaah sholat subuh dan mendengar kajian. Para santri membersihkan diri mereka kemudian menuju satu ruangan untuk sarapan. Suasana kebersamaan berbaur menjadi satu, canda tawa sesekali terdengar, sungguh suasana yang dirindukan oleh semua alumni Pesantren.


Sekali lagi love in Pesantren.


----------------------


Setelah semua acara pagi usai, Hulliyah pergi ke bagian TU Pesantren tersebut dirinya bermaksud untuk membayar uang listrik beserta uang kitab yang digunakannya.


Setibanya di sana, Hulliyah langsung berhadapan petugas TU Ustadzah Zakiah.


"Maaf Ustadzah saya baru mampu bayar segini."


Hulliyah menyodorkan uang yang dilipat-lipat dalam sakunya.


Ustadzah nampak mengerutkan kening, kemudian membuka buku besar di hadapannya.


"Lunas? Apa Bapak yang membayarkannya kemarin?" Hulliyah keheranan.


"Bukan, beberapa minggu yang lalu ada orang yang mengaku suami kamu terus beliau membayar semua tanggunganmu di Pesantren ini," jawab Ustadzah Zakiah.


Kak Haqi?


Jadi, waktu itu Kak Haqi datang melihat proyek sembari mampir ke sini?


Jiwa Hulliyah berontak, ingin sekali bertanya.


"Ustadzah ... apa boleh saya mengambil ponsel saya yang semalam dititipkan?"


"Boleh, tapi sebentar saja ya!"


Setelah mendapat ponsel itu, Hulliyah segera mencari nomor Haqi dan menghubunginya.


"Assalamualaikum ...."


Haqi membalas salam Hulliyah di seberang sana.


"Bisakah Kakak ke Pesantren sebentar? Ada hal yang ingin aku tanyakan."


Akhirnya mereka sepakat untuk bertemu setelah Haqi pulang mengajar.


----------------


Haqi menepati perkataannya, dia datang tepat pukul satu siang. Haqi menemui Mama Haji terlebih dahulu, setelah mendapatkan izin Hulliyah mengajak Haqi ke atap madrasah tempatnya merenung.

__ADS_1


"Kenapa ngobrolnya di sini? Biar romantis ya?"


Haqi sedikit meledek Hulliyah.


"Apa benar Kakak yang membayar semua sangkutanku di Pesantren ini?"


Hulliyah berkata langsung pada poin yang sedari tadi mengganjal pikirannya.


"Iya ...." jawab Haqi.


"Kenapa Kak? Aku tidak memintanya."


Haqi berjalan ke tengah atap yang luas itu.


"Karena salah satu kewajibanku adalah menafkahimu."


"Tapi sungguh Kak, aku ga enak nerimanya."


"Mulai saat ini, Sypa harus terbiasa ... ok?" kata Haqi.


Hulliyah mencoba berdamai dengan keadaan, mencoba menerima dan terbiasa dengan keadaan barunya sebagai seorang istri dari Haqi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maafkan jika ceritanya berputar-putar.


Kalau kalian mau Haqi cepat resmiin Hulliyah, aku minta bantuannya ya. Mau gak bantuin aku?


Aku cuma minta like dan komen kalian guyss.


Syukur-syukur vote juga, tapi ga maksa ko hihi.

__ADS_1


Pilihan ada ditangan kalian, semakin banyak like dan komennya semakin cepat pula Haqi bawa orangtuanya dan meresmikan Hulli.


Ok deh, happy reading😊


__ADS_2