
Apa yang akan dilakukan bila kita ada di persimpangan jalan?
Ketika jalan tiba-tiba bercabang menjadi dua, setiap jalan ada tempat tujuan yang berbeda. Benarkah kita harus memilih sesuai hati?
Sore hari pun tiba, keinginan Hulliyah untuk pulang akhirnya tercapai. Hulliyah sangat bersemangat untuk pulang, dengan menggendong Zamima dia duduk di belakang. Di kursi depan, siapa lagi kalau bukan Nimas dan Ustadz Zamzam.
Sementara Haqi mengikuti mereka di belakang dengan mengemudi mobil sendiri.
Perjalanan itu ditempuh lebih cepat dan lancar, mereka sudah tiba di area Pesantren sebelum magrib.
Hulliyah masuk ke dalam kobongnya yang sepi, kebetulan teman sekobongnya sudah pergi ke mesjid untuk i'tikaf menunggu waktunya sholat magrib.
Hal itu sudah biasa mereka lakukan, berangkat ke mesjid lebih awal sebelum menunaikan ibadah sholat.
---------- -
Hulliyah membaringkan tubuhnya yang dia rasa begitu letih.
Angannya kembali menerawang pada sosok Beni.
Hulliyah tersenyum simpul, lalu kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian bangkit.
"Astagfirulloh, sadar Hulli mimpi mulu kamu. Kayak author."
Hulliyah beranjak dan bergegas membersihkan diri dan pergi ke mesjid.
Hulliyah memilih membuang jauh perasaan yang mungkin sudah dimodifikasi oleh syetan supaya dia terhanyut.
Hulliyah akan fokus belajar, Hulliyah berusaha menyadari yang terpenting saat ini adalah mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Toh umur Hulliyah adalah yang termuda di antara teman-temannya.
Jadi, please thoor jangan dulu nikahkan aku!
Di pertimbangkan yaa Li wkwk.
-----------------
Setelah sholat magrib, para santri tidak langsung kembali ke kobong. Mereka masih berada di mesjid, ada yang tadarus Al-quran, ada pula yang menyempatkan berdzikir.
Hingga waktu sholat isya berakhir, barulah mereka keluar mesjid dan berbondong-bondong menuju madrasah untuk mengkaji kitab kuning.
Madrasah ini sangat besar, dan mampu menampung puluhan santri yang sudah memasuki tahap akhir.
Ruangan yang di sekat oleh tembok pembatas antara santri putra dan santri putri tersebut, kini sudah di penuhi santri yang sudah bersiap untuk membuat logatan (terjemahan dibawah huruf Arab yang ada di kitab kuning).
Apa yaa bahasa Indonesianya? Aku lupa, yang jelas kalau bahasa Sundanya ngalogat gitu deh.
Mama Haji sudah berada di depan para santri dan memberikan materi serta terjemahan dari kitab.
Kebetulan kali ini kitab yang sedang di kaji yakni kitab Uqudulujain atau kitab yang membahas perihal rumah tangga.
__ADS_1
Hulliyah dan para santri yang lain, menyimak uraian yang disampaikan oleh Mama Haji dengan seksama.
"Dalam bab ini kitab ini membahas tentang 'larangan berdandan dan berhias secara berlebihan'."
Mama Haji mengedarkan pandangannya pada seluruh santri yang ada di madrasah tersebut, kemudian melanjutkan penerangannya.
"Rosululloh mengatakan dalam sabdanya, 'aku melihat di surga ternyata sebagian besar isinya adalah orang yang fakir, dan aku melihat neraka sebagian besar isinya adalah perempuan', nah loh Hulli mau bagaimana?"
Hulli mendongak karena tiba-tiba Mama Haji memanggil namanya, kemudian tersenyum simpul sambil menutupi sebagian wajahnya karena malu akan teman-temannya yang langsung meledek.
"Ayo jawab Hulli, kenapa di neraka kebanyakannya perempuan?"
Kali ini Mama memberi pertanyaan padanya.
"Emm karena kaum perempuan punya banyak dosa."
Hulliyah menjawab asal dan di sambut gelak tawa dari kawan-kawannya.
Mama Haji tersenyum kemudian kembali berkata, "Sebab kaum perempuan itu sedikit mentaati Alloh, sedikit mentaati Rosulnya, dan sedikit mentaati suaminya. Kaum perempuan lebih suka memamerkan dandanannya yaitu tabaruj."
Mama menjeda penjelasannya dan menyesap air minum dalam gelas yang ada di hadapannya.
"Berdandan boleh, yang tidak boleh itu apa Hulli?"
Lagi-lagi Hulliyah mendongak dengan cengiran.
"Berlebihan Ma."
Author paham Ma.
Mama Haji pun melanjutkan uraiannya.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10 malam, Mama pun mengakhiri kajian kitab kuning tersebut dan membiarkan para santri kembali ke kobongnya masing-masing.
---------------------
Hulliyah kini berada di dalam kobong bersama Neli teman sekobongnya. Ya mereka hanya berdua di kobong itu sebab dua orang teman sekobong mereka tengah pulang kampung.
"Li, tahu gak besok mau ada kunjungan Bupati kemari?"
Neli berbicara sambil memperhatikan Hulliyah yang tengah membereskan pakaian miliknya.
"Oo ada acara ya, pantesan di luar masih rame. Tapi tumben Bi Haji enggak nyuruh aku bantu konsumsi ya?"
Neli mulai antusias dan mendekati Hulliyah.
"Karena besok kamu dan aku kebagian tugas menyambut di depan Bupati."
"Hah? Enggak ah, aku enggak mau."
__ADS_1
Hulliyah yang terbiasa berada di balik layar sangat tidak menginginkan harus berada di depan banyak orang.
Apalagi orang itu adalah orang-orang yang terbilang penting di daerahnya.
"Mau protes juga percuma, udah di tentuin kemarin. Kamu sii musti nginep di rumah Nimas kan?"
Ledek Neli yang merasa puas melihat raut wajah Hulliyah yang putus asa.
"Rumah mertuanya Nimaaas, ah kamu kenapa ga bilangin aku taruh saja di seksi konsumsi."
Neli tergelak sambil geleng-geleng, "Hulli kamu ini sekali-kali harus di depan biar enggak butek kena asap terus."
Hulliyah menyerah, meskipun dirinya tak menyukai berada di depan banyak orang. Tapi untuk kali ini Hulliyah mencoba berani.
Gitu dong Hulli, uunnch author bangga.
----------------------
Esok hari pun tiba, Hulliyah dan Neli sudah rapi dengan kemeja berwarna putih untuk bawahannya mereka memakai kain jarik khas santriwati di Pesantren tersebut. Kerudung hitam polos tanpa motip menjadi pelengkap keanggunan mereka berdua.
Mereka sudah berada di depan meja selamat datang dekat gerbang.
Beberapa saat kemudian rombongan Bupati datang. Di sana tiga mobil berwarna hitam serta di tambah sebuah mobil yang membawa para polisi yang mengawal Bupati berada tepat di belakangnya.
"Wihh Neli, kok sebanyak ini yang hadir."
Hulliyah gelagapan sendiri melihat banyaknya orang yang datang bersama Bupati tersebut.
Hulliyah menunduk tak berani menatap mereka semua, gerbang pun di buka oleh dua orang santri putra.
Para polisi lengkap dengan senjatanya berlarian untuk memberi jalan pada sang Bupati yang datang.
"Li, liat Li. Polisi itu ganteng Li."
Neli menarik-narik tangan Hulliyah.
"Apaan kamu tuh Nel ih."
Hulliyah terpaksa mendongak mengikuti telunjuk Neli yang menunjuk salah satu Polisi yang tengah berada tepat di sebelah seseorang yang berpredikat Bupati di daerahnya.
Deg.
Tiba-tiba dunia Hulli mendadak goyang, semacam gempa yang dia rasa sendiri. Tubuhnya bergetar bahkan membuatnya mundur satu langkah.
Beni?
Tibalah sang Bupati di hadapan Hulliyah, memberi salam tanpa bersentuhan. Fokus Hulliyah masih pada Polisi yang bernama Beni, yang bahkan tidak meliriknya sama sekali.
Beni mengiringi Bupati masuk ke area Pesantren dan tak sedikit pun dirinya menatap atau mengetahui bahwa dia berpapasan dengan seseorang yang mengaguminya sejak dulu.
__ADS_1
Sebut saja fans hihi