Love In Pesantren

Love In Pesantren
Zamima dan Khalila


__ADS_3

Dua tahun berlalu, para aktor kehidupan memainkan perannya atas instruksi Sang Pencipta. Tidak ada suatu hal yang terjadi kecuali semua kehendak dan campur tangan Tuhan diibaratkan bagai dalang yang memainkan semua tokohnya.


Selama dua tahun ini Zamima tumbuh menjadi anak cantik dan manis. Khalila tak kalah mempesona dari sang kakak, Khalila bak boneka hidup yang membuat semua orang gemas melihatnya.


Dua bidadari cantik kesayangan Ustadz Zamzam itu tumbuh dengan ceria.


Suatu hari di kediaman Ustadz Zamzam, Nimas yang baru menyadari bahwa period datang bulannya telah lewat termangu sendiri di ruang tengah. Sedangkan anak-anaknya terlelap dalam tidur siangnya.


Ketukan pintu tidak menggoyangkan lamunannya. Nimas bergeming dalam diam walau sang pengetuk pintu telah masuk dan membuka pintu.


Seraya mengucap salam, seseorang yang ternyata suaminya itu terkesiap mendapati Nimas berada di sana namun diam bak patung.


"Assalamualaikum ...."


Kali ini Ustadz Zamzam mengucapkan salam tepat pada telinga Nimas.


Nimas yang kaget tanpa sengaja mengeluarkan jurus yang biasa dia pakai di dapur.


Nimas menyentuh wajah sang suami dengan kecepatan atlet badminton melakukan smash keras.


Ustadz Zamzam mengaduh kesakitan mengusap-usap pipinya yang dirasa pedas mendapat serangan tiba-tiba.


"Eh Aa, maaf ...." Nimas pun sama kagetnya dengan gerakan cepat mengusap pipi sang suami.


"Neng lagi ngelamunin jadi Jacky Chan ya?" tanya Ustadz Zamzam.


Nimas tidak menjawab candaan sang suami, melihat wajah suaminya tiba-tiba mood dari seorang Nimas berubah drastis.


"Aa bau banget ih. Mandi sana!"


Sang Ustadz yang awalnya akan duduk di samping istrinya dengan rasa sedikit jengkel menciumi seluruh badan dan juga bajunya.


"Enggak bau kok." Sang Ustadz meloloskan diri duduk di dekat Nimas. Namun hal tidak terduga terjadi, Nimas menutup hidungnya dan menjauhi suaminya.


"Mandi dulu! Nanti aku mau bicara."


Sang Ustadz pasrah dan berlalu ke kamar mandi. "Bikinin kopi ya Neng!" Meskipun kesal sang Ustadz memberi perintah pada Nimas dengan penuh kelembutan.


Mungkin Ustadz Zamzam takut terkena jurus yang dikeluarkan Nimas tadi.


------------------


Seusai mandi, Nimas mengajak suaminya duduk di kursi meja makan. Mereka berhadap-hadapan seperti akan bertarung catur.


"Ada apa si Neng? Dari aku pulang roman-romannya ada yang penting." tanya Ustadz Zamzam.


Nimas bersidekap dada dan memandang sinis suaminya.


"Aku telat."

__ADS_1


Ustadz Zamzam mengangguk-angguk seolah paham tetapi kemudian matanya berhenti tepat pada mata sang istri kemudian menatap perut Nimas.


"Ma-maksudnya? Neng begini?" Sang Ustadz menggerakan tangannya membentuk setengah lingkaran tepat pada perutnya.


Nimas membuang wajahnya, entah kenapa melihat sang suami bertingkah bodoh malah membuat dirinya muak tidak karuan.


"Jadi, bener Neng?"


Ingin sekali Nimas meninju wajah suaminya ketika kini Ustadz Zamzam bersimpuh di bawahnya. Memegang tangan Nimas erat-erat, sesekali mendusel-duselnya pada hidung yang sedari tadi kembang kempis menunggu pernyataan dari Nimas.


"Belum pasti sih A, tapi sepertinya iya."


Terbitlah senyum pada wajah lelaki yang memiliki bulu-bulu tipis di sekitar bibirnya itu.


"Amin, semoga ya Neng. Nanti malam aku beli alat tesnya untuk ngeyakinin. Abis itu kita ke Dokter ya Neng."


Berbagai rencana tanpa persetujuan Nimas dirancang sang Ustadz.


Nimas pasrah mengikuti keinginan sang suami, mengangguk pertanda setuju.


Sang Ustadz berdiri kemudian membantu Nimas berdiri, mendekapnya penuh kasih. Perjalanan bahtera rumah tangga yang tidak sulit serta dibayangi ketidakpekaan, nyatanya mampu menghasilkan keharmonisan yang tercipta atas buah dari kesabaran.


"Tapi A ...."


Suara Nimas membuat sang Ustadz melepas pelukannya, menatap wajah sang istri yang terlihat murung itu.


"Aku malu ... nanti orang bilang apa tentang kita? Dikiranya kita suka bikin anak."


Sang Ustadz tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar penuturan polos yang keluar dari mulut istrinya.


Nimas mendelik merasa dipermainkan oleh suaminya.


Sang Ustadz cepat tanggap mengantisipasi bencana peperangan sejak dini dengan kembali merangkul istrinya.


"Gak usah dengerin apa kata orang sayang ... toh kita yang jalanin, kita yang didik, kita yang nafkahin. Biar orang berkata apa, tapi yang dibilang orang ada benernya juga sih. Aku emang seneng bikin anak."


Nimas melotot mendengar penuturan suaminya apalagi kalimat terakhirnya. Oleh karena itu Nimas kembali mengeluarkan jurus, kali ini jurus yang dipakainya adalah jurus cabikan harimau. Sang Ustadz kembali mengaduh kali ini lebih keras, sang Ustadz mengusap bahunya yang terasa sakit sambip tersenyum getir.


"Waduh ... hamil yang sekarang sepertinya Aa harus lebih hati-hati nih." ucapnya nyeleneh.


Sementara Nimas berlalu ke kamar karena mendengar suara Khalila yang memanggilnya. Namun dalam hati menggerutu tiada henti, entah mengapa kekesalan selalu memuncak ketika behadapan dengan suaminya.


Dasar Ustadz mesum! Orang-orang di luaran gak tahu kelakuannya di rumah ih.


Setelah masuk ke dalam kamar barulah Nimas beristighfar.


"Aku berdosa ...." ucapnya lirih.


-----------------------

__ADS_1


Malam hari ketika suara tokek bersahutan, Nimas menunggu suaminya pulang dari apotek. Seperti yang telah direncanakan Ustadz Zamzam akan membeli alat tes kehamilan.


Nimas menunggu sambil membacakan buku cerita untuk si sulung. Zamima sangat menyukai cerita-cerita yang dibacakan ibunya.


Zamima tidur di atas pangkuan ibunya, bila malam tiba ibunya hanya akan menjadi miliknya. Zamima mengalah jika Khalila masih terbangun tetapi ketika Khalila sudah tertidur, maka dekapan sang ibu selalu diburunya untuk dijadikan penghangat.


Kali ini Nimas membacakan kisah Nabi Ilyas kepada Zamima.


"Nabi Ilyas adalah nabi keturunan keempat dari Nabi Harun. Nabi Ilyas diutus oleh Alloh di daerah Baalbek, nama kota tersebut diambil dari kata nama Baal yang merupakan nama dari dewa yang disembah pada zaman itu."


"Loh Bu, bukannya jangan nyembah selain Alloh ya?" Pertanyaan polos dari Zamima membuat Nimas menghentikan sejenak bacaannya.


"Tentu jangan sayang, untuk itu Nabi Ilyas diutus di sana untuk mengajak kaumnya beribadah hanya kepada Alloh."


Zamima mengangguk-angguk seolah paham.


Belum sempat Nimas melanjutkan ceritanya, Ustadz Zamzam datang dengan menenteng dus kecil berisi martabak serta kantong plastik yang diyakini Nimas berisi alat tes kehamilan.


Zamima melompat menyambut ayahnya, memburu makanan yang ada di tangan ayahnya. Sang Ustadz duduk dan memangku Zamima kemudian membuka bungkusan yang dibawanya.


"Neng nyanyi dong!" kata Ustadz Zamzam.


Eh?


Nimas merasa heran dengan tingkah suaminya yang terlihat sedang bahagia itu.


"Yah Ibu gak mau nyanyi tuh Mim. Kita aja yang nyanyi yuk!" Sang Ustadz menggoda Nimas dan berdendang ria bersama sang anak yang berjoget-joget sebelum nyanyian dimulai.


"Harusnya Neng nyanyi gini, Abang bawa apaan? Nanti Aa jawab, Abang bawa bungkusan." kata sang Ustadz.


Dih.


Nimas memutar bola matanya jengah dengan kelakuan suaminya yang hanya dia yang tahu.


.


.


.


.


.


..


.


.

__ADS_1


__ADS_2