Love In Pesantren

Love In Pesantren
prasangka


__ADS_3

Ustadz Zamzam menggandeng tangan Nimas keluar ruangan kelas.


Ahayy ngiri dah author.


"Aa ke rumah Mama dulu ya."


Nimas mengangguk dan meminta izin main di kobongnya yang dulu.


Setibanya di kobong, Nimas disambut oleh para sahabatnya yang memang sedang libur mengaji.


"Cieeee yang disamperin suami."


Rista kalau lagi baik emang ga ketulungan lemesnya.


Baru juga duduk udah di sodorin candaan yang bikin gedeug Nimas.


"Apa sii kamu Ta."


Nimas terlihat malas membahas.


"Nimas, Rista bakalan nyusulin kamu dan Siti."


Tiba-tiba Hulliyah menyambar mengalihkan perhatian.


Apa maksudnya Rista bakalan nikah?


"Kamu mau nikah Ta?"


Aihhh Rista ngangguk.


"Sama siapa Ta?"


Nimas ko kepo.


"Amir si anak filsafat."


Sofia kini mengeluarkan suara, ga ingin kehilangan moment sepertinya.


"Jangan fikir Rista taaruf loh Nim."


Lanjut Sofia menggoda Rista.


"Maksudnya?"


Nimas bingung sendiri.


"Iyaaa aku tuh ga di jodohin seperti kamu dan Siti. Aku sama kak Amir saling cintaa."


Raut wajah Rista yang dibuat-buat membuatnya terlihat lucu, para sahabatnya pun tergelak kencang.


"Iyaa cinta iya, tapi hidungnya kondisikan dong jangan kembang kempis gitu."


Timpal Hulliyah membuat mereka semakin tergelak.


Nimas pun menerawang dan bersyukur karena semua sahabatnya telah kembali bersamanya.


Setelah semua yang terlewati ternyata kesabaran Nimas membuahkan hasil. Namun apakah kali ini kata sabar mampu membuat Nimas bahagia bersama suaminya?


Entahlah.


Yang jelas Nimas itu sebenarnya tidak lemah dan malah sebenarnya dia tuh termasuk orang yang ngotot dan tidak pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang dia mau.


------------------------


Sore harinya Nimas pulang lebih dulu karena ternyata urusan Ustadz Zamzam bersama Mama Haji belum selesai.


Setibanya di rumah, Nimas tak lantas memasak entah mengapa dirinya malas untuk melakukan apapun dan lebih memilih merebahkan diri sambil menonton televisi.


Sampai akhirnya Nimas ketiduran ckck.

__ADS_1


Ustadz Zamzam pun pulang dan sedikit dikejutkan dengan kelakuan istrinya.


Kerudung yang sudah berantakan, gamis sedikit tersingkap, kaki yang naik sebelah ke atas sandaran kursi.


Eh itu tidur gak ada anggunnya sama sekali haha. Semoga Ustadz gak illfeel ya.


Sang Ustadz malah tersenyum dan berlalu ke dapur.


Ngapain Ustadz ke dapur ya? Jangan-jangan mau ambil air terus siram Nimas lagi hmmmm, author ngomong apa ya? Dikira ini sinetron ibu tiri apa haha.


---------------------------


Nimas mengerjapkan matanya terbangun dari alam mimpi.


Mimpi main bola sepertinya.


Diliriknya jam dinding dia memekik seketika, " astagfirulloh, aku belum masak."


Tergesa-gesa Nimas menuju dapur.


"Neng , hei jangan lari-lari !!"


Nimas berhenti seketika mendengar suara Ustadz Zamzam.


"Aa udah pulang? Maaf, aku belum masak A."


Nimas menunduk merasa bersalah.


Sang Ustadz berjalan mendekatinya mengusap kepala istrinya. Kemudian mengangkatnya pelan.


"Ayo kita makan."


Apa?


Nimas mengernyit heran, sang Ustadz membalasnya dengan senyuman kemudian menuntun Nimas ke meja makan.


Apa ini?


Ustadz masak?


Berbagai pertanyaan tak terungkapkan dalam hatinya. Nimas juga merasa malu karena dirinya tadi bermalas-malasan.


Mereka pun makan masakan Ustadz Zamzam.. Tereeeeng.


-------------------------


Sebulan kemudian..


Malam ini Nimas baru selesai mengaji Al-quran. Sementara Ustadz Zamzam sudah berada di atas tempat tidur sambil membaca sebuah buku.


Nimas pun tersenyum-senyum mendekati Ustadz Zamzam.


Ah sepertinya ada maunya ini kkkkkk.


"A.."


Sang Ustadz melirik sekilas kemudian fokus kembali ke bukunya.


Agak jahat sii.. Siapa tahu kan istri minta di belai. hihi.


"Aa, besok anterin aku periksa ke dokter kandungan ya. Sekalian mau di USG juga."


Tatapan Nimas penuh harap.


Ustadz Zamzam menutup bukunya dan sejenak berfikir.


"Sepertinya Aa tidak bisa neng, besok kebetulan ada acara santunan anak yatim ada Pak Bupati mau hadir. Duh gimana ya?"


Senyuman yang tadi terbit berubah samar.

__ADS_1


"Ya sudah ga apa-apa, aku sendiri saja."


Jika ada yang lebih pahit dari rasa obat maka inilah salah satu hal terpahit yang Nimas alami.


"Maaf yaa sayang, tapi neng ga boleh sendiri. Aku akan minta tolong Sofia mengantarmu."


Nimas hanya mampu mengangguk patuh walau dalam hati dia kecewa.


Keesokan paginya, Ustadz Xamzam sudah berangkat dari pukul 7 pagi tadi karena ada acara.


Sementara Nimas ternyata di jemput Rista karena Sofia tidak bisa mengantar.


"Ga apa kan kita naik motor? Kamu bisa ga Nim."


"Jangan remehin ibu hamil ya kamu!!"


Ah Nimas, kan Rista ngeri lihat kamu. Mungkin Rista takut di salahin kalau Nimas jatuh hihi.


Di usia kandungannya yang memasuki bulan ke empat, Nimas tidak pernah mengeluh apa pun pada siapa pun tentang kehamilannya. Hanya saja untuk semalam Nimas benar-benar sangat mengharapkan sang suami mengantarnya. Tapi apa daya ada yang lebih penting dari dirinya sebagai seorang istri.


Huhhhh, Nimas menghembuskan nafasnya perlahan menahan rasa gugup yang tiba-tiba datang karena menunggu nomor antrian dirinya disebut.


Kegugupannya seakan lenyap tatkala Rista berbicara terbata padanya.


"Nim-Nimas iitu Us-Ustadz Zam."


Hati Nimas berdesir mungkinkah suaminya menyusul, oh alangkah bahagia dia.


Namun.


Setelah Nimas melihat ke arah yang di tunjuk Rista. Nimas terkaget membatu, bahkan menyalahkan matanya.


Bukan itu pasti bukan A Zam.


Ustadz Zamzam tengah memapah gadis yang dikenal Nimas bernama Hannah... Selain Ustadz Zamzam ada pula seorang laki-laki yang sudah berumur mengikuti di belakang mereka.


Tapi lihatlah, gadis bernama Hannah itu mencengkram lengan Ustadz Zamzam begitu kuat.


"Siapa sii Nim? Biar aku samperin !!"


Rista seakan tak bisa menerima keadaan di luar logikanya.


Cepat Nimas meraih tangan Rista kemudian menggeleng.


"Tapi Nim.."


Sekuat tenaga Nimas menahan sesuatu yang berat di matanya lalu tersenyum getir.


Ya, dia mencoba memahami dulu situasi tak ingin syetan menguasai hatinya Nimas beristigfar menenangkan hatinya.


Rista pun kembali tenang, walau ingin sekali dia melabrak atau sekedar bertanya pada suami dari sahabatnya itu.


"Ustadz tuh kenapa sii Nim? Ga bisa anterin kamu, tapi malah begini kelihatannya. Kessel aku."


Nimas tidak menjawab dia mencoba fokus menenangkan hatinya.


Terlihat di sana sang Ustadz tengah mencari tempat duduk, kebetulan di belakang kursi Nimas ada kursi kosong. Alhasil pandangan Ustadz Zamzam tertuju pada Nimas, dan tersentak melihat istrinya ada di sana dan melihat dirinya sedang bersama Hannah.


Sang Ustadz tertegun sebentar, kemudian menuju kursi kosong itu sembari terus memapah Hannah yang tengah meringis.


Ustadz mendudukkan Hannah tepat di belakang Nimas.


"Neng, nanti aku jelaskan di rumah."


Nimas tersenyum getir.


Sang Ustadz tidak bisa berbuat banyak melihat sorot mata Nimas yang sulit diartikan.


Sementara Rista mati-matian menahan kegeramannya karena sang sahabat mencengkram tangannya kuat, supaya Rista dapat menahan diri.

__ADS_1


__ADS_2