Love In Pesantren

Love In Pesantren
Masih Farrel


__ADS_3

Disaat semua orang telah pulang, Farrel terpaksa harus tinggal lebih lama di rumah itu sebab ada yang ingin disampaikan oleh marbot yang mengajaknya ke rumah itu.


"Maaf Nak saya mengganggu waktunya."


Sang marbot duduk sembari menyodorkan air kepada Farrel.


"Sebenarnya ada apa Pak?" tanya Farrel.


"Ada yang ingin bertemu Nak Farrel. Orang tersebut sekarang ada di sini tetapi masih belum berani ke luar."


Farrel mengerutkan keningnya antara heran dan penasaran.


"Siapa Pak?"


"Sebentar saya coba panggilkan lagi."


Marbot itu pun berjalan masuk ke dalam sebuah kamar. Farrel yang penasaran menunggu dengan sabar.


Tidak lama kemudian marbot itu datang bersama seorang pria paruh baya. Tampilannya sungguh memprihatinkan, lengan tangan penuh tato mengeriput dimakan usia.


Pria itu menunduk memeluk lengannya sendiri. Butuh beberapa menit untuk Farrel mengenali pria itu.


"Pak Imran?" tanya Farrel.


Perlahan pria yang dipanggil Pak Imran itu memberanikan diri menatap Farrel. Kemudian mengangguk.


Farrel berdiri menghampiri kemudian mencium tangan Pak Imran. Sedangkan Pak Imran yang mendapat perlakuan seperti itu justru bergeming di tempatnya. Sungguh jauh dari bayangannya akan sikap Farrel ini.


Pak Imran adalah ayah tiri dari Farrel yang mengakibatkan ibunya bunuh diri. Pak Imran yang sudah insyaf selalu berusaha mencari anak tirinya itu untuk meminta maaf. Kini, Pak Imran masih belum percaya bahwa anak yang selalu dia sakiti dulu malah bersikap sopan padanya.


"Bapak, apa kabar?" tanya Farrel sesaat setelah mereka duduk kembali di kursi.


"Beginilah Nak, sudah tua dan tidak berdaya." jawab Pak Imran.


Farrel menyentuh tangan yang terbungkus kulit itu dengan lembut. "Selama ini Bapak kemana? Setelah Ibu meninggal, Bapak pun menghilang."


Pak Imran kembali menunduk menyadari kesalahannya.


"Sebenarnya Bapak ada waktu itu, tetapi Bapak bersembunyi. Bapak tidak memiliki keberanian untuk sekedar menampakkan wajah di depan kalian."


Farrel merasa prihatin dengan kondisi Pak Imran saat ini. Farrel iba, meskipun dulu dirinya tidak pernah diperlakukan dengan baik oleh ayah tirinya tersebut.


"Bapak mencarimu Nak, Bapak ingin minta maaf atas segalanya. Bapak minta maaf."


Pak Imran menunduk semakin dalam sangat menyesal sangat-sangat menyesal.


"Semua yang terjadi sudah menjadi takdir kita Pak, saya sudah memaafkan semua Pak. Jangan ada beban dalam diri Bapak! Saya ikhlas menerima semuanya, semoga semua jadi pembelajaran bagi kita. Dan ...."


Farrel menghentikan ucapannya saat akan mengucapkan kalimat tentang ibunya. Penyesalan tentang pilihan salah yang dipilih sang ibu membuat ucapan Farrel tercekat bercampur sesak.


"Kenapa Nak?" tanya Pak Imran.


"Ah tidak Pak, saya cuma berharap Bapak hidup tenang dan menikmati hidup jangan ada beban!" Farrel memilih tidak membicarakan tentang ibunya.


"Tapi dosa saya sangat besar kepadamu." Pak Imran menahan buliran air yang hadir dan menumpuk di matanya.

__ADS_1


"Kita tidak bisa mengukur dosa seseorang hanya Alloh yang tahu Pak."


Farrel tersenyum getir namun tulus.


"Terimakasih Nak, terimakasih sudah mau memaafkan Bapak." Kali ini Pak Imran memeluk Farrel dengan penuh haru. Penyesalan kenapa dulu dia tidak pernah melakukannya pada Farrel datang.


"Al quran mengajarkan kita untuk memaafkan dan Alloh tidak menyukai orang-orang yang dzalim Pak. Kalau tidak salah ada di surat Asy-Syura ayat 40. Hehe ... kalau saya salah benerin Pak."


Ucapan Farrel begitu menyejukkan, membuat Pak Imran lega dan kini hidupnya akan dia pakai untuk beribadah dan belajar walaupun sisa umur yang entah kapan terambil tetapi tidak ada batas waktu untuk belajar bukan?


Farrel mengantarkan Pak Imran pulang ke rumahnya, ternyata Pak Imran sudah dua minggu memantau dirinya dan tidak berani menampakkan diri karena rasa malu dan bersalah yang begitu besar.


Hingga kemarin dia bertemu dengan marbot di mesjid tempat Farrel biasa beribadah.


Gayung bersambut Pak Imran ditolong oleh marbot tersebut.


-------------


Kini Farrel berada di sebuah rumah berdindingkan anyaman bambu, sedikit lusuh tempat tinggal Pak Imran.


"Bapak tinggal di sini?" tanya Farrel.


"Iya Nak, jelek ya?"


"Bukan begitu, apa Bapak tidak ingin tinggal bersama saya?"


Pak Imran menggelengkan kepalanya pelan, kemudian menatap lekat sang anak tiri yang dulu pernah disiksanya. Pak Imran bahkan melihat pelipis Farrel lekat-lekat, satu bekas luka yang tidak pernah dia lupakan. Bekas sundutan rokok di sana masih terlihat jelas dan membekas dalam.


Pak Imran merasa bersalah dan sakit yang teramat dalam hatinya.


"Bagus kan Pak, kayak tatto."


Ucapan Farrel yang nyeleneh nyatanya tak bisa menghibur Pak Imran saat ini.


Air mata penyesalan berhamburan keluar membasahi pipinya yang keriput.


"Sudah Pak, berkat Bapak aku jadi jagoan loh di sekolah. Teman-teman takut semua karena bekas luka ini."


Farrel merangkul sang ayah tiri dengan sangat tulus tiada dendam sedikitpun.


Beberapa saat kemudian, Farrel berpamitan pulang setelah gagal membujuk Pak Imran agar mau pulang bersamanya.


Farrel meninggalkan Pak Imran dengan senyuman yang menenangkan. Farrel mengendarai mobilnya namun tidak berniat untuk ke rumahnya.


Farrel membawa dirinya ke sebuah pemakaman dimana pusara ibunya berada.


Farrel berjalan gontai mendekati makam yang terawat itu. Berjongkok dan mengusap batu nisan yang ada di hadapannya.


Assalamualaikum ahladdiyaar minalmu'miniina walmuslimiina wainna inshaAllohu lalaahiquna nas alulloha lanaa walakumul 'afiyah.


Farrel bergumam memberi salam kepada pusara itu.


Farrel membaca do'a yang diperuntukkan untuk ibunya. Sesak datang lagi, Farrel berharap doanya meringankan siksaan yang didapat ibunya di dalam sana.


Jikalau teringat akan perbuatan ibunya yang menghilangkan nyawa diri sendiri. Farrel merasa rapuh, dirinya bersedia menggantikan ibunya dan membiarkan ibunya bahagia dan ketenangan di akhirat.

__ADS_1


Farrel tahu kesalahan ibunya sangat fatal, namun bisakah dengan do'a-do'a yang dia kirimkan ibunya terhindar dari siksa.


"Oh ibu ...."


Farrel berlama-lama mengusap batu nisan yang bertuliskan nama ibunya.


Sekian lama Farrel berjongkok, akhirnya Farrel pun bangkit dan bersiap pergi. Namun belum sempat kakinya melangkah, Farrel melihat seorang wanita sedang menangis di depan sebuah makam.


Awalnya Farrel tidak peduli akan urusan orang lain, tetapi tangisan itu kian nyaring dan mengharuskannya memandang ke arah wanita itu.


Ketika wanita itu bangkit dan mengangkat wajahnya, Farrel melihat Sofia di wajah itu. Farrel tertegun.


Adakah di dunia ini seseorang yang sangat mirip satu dengab yang lain selain saudara kembar?


Tubuh Farrel seakan terkunci, rasa rindunya pada sang istri membuat dunia seakan lambat berputar.


Farrel masihdi tempat itu meskipun seseorang yang mirip Sofia telah pergi dan tidak terlihat lagi.


Farrel baru sadar ketika setitik air yang jatuh dari langit menerpa hidungnya yang mancung.


Farrel mengerjap dan melihat sekeliling.


Sepi.


Farrel memutuskan untuk pulang menenangkan diri. Inilah yang terjadi jika dirinya pulang ke kota tempat tinggalnya semua kenangan seakan menghantui dan dia tidak bisa tertidur dengan tenang.


Apa sebaiknya Farrel menetap saja di Yogya, biarkan kenangan itu lapuk termakan masa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ya ampun nulis beginian sampe tiga hari loh.

__ADS_1


__ADS_2