Love In Pesantren

Love In Pesantren
seperti apakah kamu?


__ADS_3

Sakit ini mengapa menyesakkan? Dan dia, mengapa dia tak peka akan perasaanku?


Atau hanya aku yang berlebihan? Aku yang terbawa suasana, terlena oleh godaan syetan.


Aku masih di kamar berpura-pura tidur mungkin lebih baik.


----------------------------------------------


Malam ini kami makan malam bersama ibu, ternyata temannya kak Zam datang bersama istrinya.


Kak Zam yang mengundang mereka makan malam bersama.


Setelah makan, kami berbincang di teras depan yang sudah disulap jadi tempat lesehan yang nyaman.


"Pandu, neng Neti udah berapa bulan ngisi?" Pertanyaan pertama dari ibu yang menanyai Pandu perihal kehamilan istrinya.


"Baru 8 minggu bi, doain semoga sehat lancar segalanya." Jawab Pandu.


"Kalian kapan nyusul Zam?" Tanya Pandu.


Uhuk uhuk.... Kak Zam sampai batuk diberi pertanyaan seperti itu. Entah mengapa aku jadi kesal dengan tingkahnya, tinggal jawab aja sii apa susahnya lagian kita udah ngelakuinnya ih, sebbel aku sama Kak Zam tapi ku coba tampilkan muka teduhku.


Oh ya Tuhan aku sungguh berdosa, aku sudah jadi golongan orang munafik.


"Kami gak menunda, sedikasihnya aja. Iya kan dek?"


Tuh kan dia balik nanya, aku mengangguk saja biar cepat.


"Nah gitu dong ibu senang dengernya. Semoga ibu cepat dapat cucu.. Uuuh pasti lucu."


Ibu mertuaku ini menghayal sepertinya, karena kulihat raut wajahnya yang menerawang sambil senyum-senyum.


"Sini Neng deket Aa, semakin malam semakin dingin."


Aih.. Apalagi tuh, pamer atau apa sii. Temennya Kak Zam itu emang sengaja sepertinya, mungkin karena aku dan Kak Zam duduk berjauhan.


"Manisnyaaaa.. Tuh Zam manggilnya neng aa gitu biar romantis." Seloroh ibu membuatku dan kak Zam saling menatap.


Eh tunggu deh, baru tadi siang kami melakukan perubahan panggilan ini pun baru penyesuaian, seandainya ini diganti lagi, uh jadi trending topik ga nih novel yang gak jelas ini.


Dan akhirnya kami hanya saling tersenyum.


Pandu sungguh memperlakukan istrinya dengan manis hal-hal kecil yang dibuat manis oleh pasangan itu. Aku hanya bisa memperhatikan sambil tersenyum, gemas sekali rasanya melihat mereka.


"Kapan kamu balik ke pesantren Zam?"


"Inshaalloh besok, jangan bilang ke pesantren dong! rumah ku cuma deket pesantren."


"Iya itu maksudnya. Wah bakal sering ketemu Sofia dong."


Ih apaan si Pandu itu, membuat hening seketika. Kemudian Neti mencubit lengannya, aku lihat itu mereka berbisik. Sedang ibu, beliau menatapku sambil tersenyum.


Hei apakah aku sudah terlihat mengenaskan disini? Hingga apa yang aku dengar seolah semuanya bertujuan menyindirku.


Dan lihat dia, suamiku. Sama sekali tak ada sikap manisnya padaku.


Ya, aku tahu aku mengerti posisiku di sini hanya pengganti.

__ADS_1


Hari semakin larut, Pandu dan Neti berpamitan pulang. Kami pun bubaran pergi beristirahat, menyegarkan badan untuk perjalanan besok.


"Dek, kamu ko jadi pendiam?"


Aku yang baru akan terlelap kembali tersadar dan membuka mata.


"Maksud kakak apa?"


"Ya, adek seperti sedang mendiamkan kakak."


"Itu perasaan kakak saja, sudahlah ayo tidur. Besok kakak nyetir."


Lalu aku berbalik badan membelakangi kak Zam, ku remas bantalku menghilangkan perasaan kalut dalam dadaku.


-----------------------------------------------


Pagi ini kami berangkat, setelah berpamitan dengan ibu dan tetangga dekat.


Kak Zam fokus dengan stirnya sementara aku membuka ponselku.


Eh tunggu, ini ada notif pesan dari salah satu orang tua muridku.


Aku buka pesan itu, eh baru saja kubuka orangnya sudah menelpon. Akhirnya aku angkat telponnya.


""Assalamualaikum""


""Waalaikumusalam""


""Bu guru apa kabar? Ini Arsyil udah kangen.""


""Alhamdulillah bu, inshaalloh besok saya sudah mengajar kembali.""


Dan blablbla, percakapan kami mulai merembet ke hal-hal yang lain. Tanpa sadar aku tertawa karena ibunya Arsyil.


Mobil pun berhenti, Kak Zam turun dari mobil eh ada apa, kemudian aku akhiri aksi telponanku.


Setelah beberapa menit Kak Zam kembali sambil membawa kantong plastik berisi tahu bulat.


"Kenapa berhenti kak?"


"Tanganku pegel dek." Kata Kak Zam sambil menyodorkan kantong plastik itu, aku pun meraihnya lalu ku letakkan di pangkuanku.


Aku raih tangannya, aku pijit-pijit semoga pegalnya cepat hilang.


Tapi beberapa saat kemudian Kak Zam balik meremas jemariku, aku yang terkejut diam.


Dia mau ngapain? Kenapa dia semakin mendekat? Bahkan nafasnya kini sudah terasa menerpa wajahku.


Apakah sebentar lagi akan ada adegan seperti di novel-novel romantis yang pernah ku baca?


Membayangkannya saja sudah membuatku panas dingin.


Sejurus kemudian aku memejamkan kedua mataku, aku pasrah sungguh.


Lama mataku tertutup tapi ko tidak ada yang terjadi. Aku buka mataku perlahan namun apa yang ku dapati.


Kak Zam sedang asik makan tahu bulat yang tadi di pangkuanku.

__ADS_1


Aaaaaaaaaa.. Maluuuuu..


Aku palingkan pandanganku ke arah samping sambil menggigit bibir bawahku menahan malu.


Tolong jangan bayangkan wajahku!!


"Kamu mau dek, nih aaaa," orang yang menyebabkan aku malu malah terlihat santai dan menyodorkan tahu bulat itu ke depan mulutku.


Aku sambar saja dengan cepat, ini nih yang namanya tragedi tahu bulat.


Kak Zam terkekeh dengan tingkahku, alahh emang apa peduliku. Beraninya dia mempermainkanku.


"Kamu lapar ya dek, nyambernya seperti cicak buru nyamuk haha.."


Ih apa katanya? Kak Zam ngatain aku mirip cicak.


Kesel deh, kak Zam mulai menunjukan sisi barbarnya yang dia lakukan ketika bersama bang Gazani.


Heii para gadis yang dulu memuja suamiku, kalian pasti akan illfeel kalau tau kelakuannya yang tersembunyi ini.


Sesaat kemudian Kak Zam mengemudi kembali, senyumnya tak pernah lepas dari bibir kritingnya itu.


Aihh bibir yang tadi aku harapkan, huft..


"Ngelamun aja kamu dek, eh gimana menurutmu tentang saran ibu?"


Iya ih kenapa aku jadi lebih sering ngomong dengan hatiku?


Apa katanya tadi?


"Saran ibu yang mana kak?"


"itu looh tentang panggilan kita neng."


Ko rasanya gimana ya kala kak Zam mengucapkannya.


"Aku sih terserah aja, apalah arti sebuah panggilan," kataku.


"pinter deh kamu neng, yaudah panggil Aa dong sekarang!"


"Iya A." Singkat aja biar dia ga dengar, rasanya aku belum sanggup haha.. Tuh kan aku malu lagi ku sembunyikan senyumku tak ingin si Aa melihat.


Aih Aa..


"Yang jelas dong neng, Aa ga denger."


Isshh apa sii maunya dia, bikin aku malu berkali-kali.


"Iya Aa," aku naikan volume suaraku penuh penekanan.


Semoga puas suamiku, tuh kan dia malah ketawa. Sebel.


Perjalanan pun berlanjut tanpa ada suara, hanya kulihat sesekali Aa yang tersenyum-senyum gak jelas. Ah apa peduliku dia sedang memikirkan apa, aku tak peduli lebih baik aku tidur sebentar.


#Uhuk.. Uhuk (author)


#Apa sii thoor (Nimas)

__ADS_1


#udah mulai manis (author)


#ah itu mah kamu yang nulisnya berlebihan ( Nimas )


__ADS_2