Love In Pesantren

Love In Pesantren
Ketakutan seorang ayah


__ADS_3

Sang ayah sudah bersiap dengan motornya, tetapi Haqi tiba-tiba bicara, "saya tidak mengizinkan Sypa dibawa naik motor, biar saya yang membawanya naik mobil."


Tanpa menunggu jawaban dari mertuanya, Haqi membopong Hulliyah melewati sang ayah mertua dan motornya. Haqi berjalan menuju mobilnya yang terparkir cukup jauh dari rumah Hulliyah.


Tepat di samping perkebunan satu-satunya jalan besar yang mampu memuat mobil.


Sang ibu mengikuti di belakang, sementara sang ayah masih diam di dekat motornya. Tidak ada kata yang keluar dari mulut sang ayah.


Haqi meletakkan tubuh Hulliyah dengan hati-hati di kursi penumpang bersama dengan ibu mertuanya.


Haqi segera membawa dirinya masuk ke kursi pengemudi, mesin mobilpun telah dinyalakan. Lampu telah menyala menerangi kegelapan malam itu. Kemudian dengan sangat tiba-tiba sang ayah datang di depan sana tersoroti lampu mobil.


Haqi menunggu ayah mertuanya mendekat.


Sang ayah mengetuk kaca mobil, Haqi pun membukanya. Haqi sudah siap berdebat dan tidak akan menyerahkan Hulliyah pada ayahnya.


"Ayah ikut."


Satu kalimat diluar ekspektasi meluncur bebas dari mulut ayah Hulliyah, Haqi sedikit tercengang dibuatnya, tetapi kemudian membuka pintu mobil dan mempersilahkan ayah mertuanya masuk tepat di sebelahnya.


---------------------


Jalanan desa yang sepi membuat mobil yang dikendarai Haqi sampai lebih cepat di klinik tempat praktek Dokter Ramlan, dokter yang cukup terkenal di kampung itu.


Haqi membawa Hulliyah masuk ke dalam, berhubung waktu sudah memasuki akhir praktek, alhasil klinik sudah sepi pasien. Hal itu membuat Hulliyah langsung ditangani oleh dokter.


Begitu dibaringkan, Hulliyah mengejap dan sedikit kaget melihat sekitarnya.


"Sebentar ya, saya cek tensinya dulu," ucap Dokter Ramlan.


Masih dengan keterkejutan yang tidak bisa digambarkan, Hulliyah pasrah saat sang dokter mengecek tekanan darahnya.


Dokter Ramlan menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tekanan darah Hulliyah. Dokter Ramlan mengecek tekanan darah Hulliyah sampai tiga kali untuk memastikan.


Akhirnya sang dokter selesai mengukur tekanan darah Hulliyah dan bertanya, "kepalanya sakit?"


Hulliyah mengangguk sebelum memberikan jawaban.


"Tadi sakit banget Dok, tapi cuma sebelah kiri."


"Tekanan darahnya tinggi seratuslimapuluh per delapan, mengakibatkan sakit kepala sebelah atau migrain."


Dokter Ramlan duduk di kursinya kemudian menuliskan resep obat yang harus dibeli di apotek klinik tersebut.


"Oh iya, jangan terlalu stres ya! Jangan mikir yang berat-berat! Lagipula masih muda mikirin apa si?" Dokter Ramlan sedikit menggoda.


Hulliyah yang didampingi Haqi dan ibunya hanya memberikan seulas senyum tipis. Matanya kemudian beralih pada Haqi yang juga tengah menatapnya.

__ADS_1


Haqi kini diliputi kelegaan saat kembali bisa melihat senyuman dari istrinya itu.


-------------


Hulliyah keluar dari ruangan Dokter Ramlan dibantu oleh Haqi dan sang ibu. Sang ayah terburu-buru menghampirinya dengan raut wajah yang masih panik.


"Lia gak apa-apa 'kan?" Sang ayah memegang lengan Hulliyah.


Hulliyah menepis tangan ayahnya pelan, kemudian kembali berjalan tanpa menjawab pertanyaan sang ayah.


Hulliyah marah pada sang ayah, bolehkan dia marah?


Bolehkan Hulliyah kecewa terhadap ayah kandungnya tersebut?


Hulliyah hanya sedang tidak ingin berbicara dengan ayahnya. Untuk saat ini.


Ayah Hulliyah mematung, hatinya serasa remuk tatkala anak kesayangannya tidak mau berbicara padanya. Ayah Hulliyah memandangi anaknya yang berjalan lemas itu. Sang ayah tidak tega melihatnya, baginya Hulliyah tetaplah gadis kecil yang dulu.


Sebersit bayangan ketika Hulliyah masih kecil terbayang dalam pikirannya. Hulliyah kecil yang sering berlari-lari dan menyambutnya ketika pulang dari kebun.


Hulliyah kecil yang selalu membuatnya tertawa dan melupakan kepenatan harinya.


Kini, Hulliyah sudah dewasa. Sang ayah masih belum menganggapnya seperti itu. Hulliyah tetaplah anaknya, anak tersayangnya. Sang ayah hanya ingin yang terbaik untuk masa depan anaknya.


Ayah Hulliyah berjalan mengikuti Hulliyah, Haqi, dan istrinya yang sudah lebih dulu keluar dari klinik.


Ayah Hulliyah kemudian menatap Haqi yang tengah menyetir di sampingnya.


Apa laki-laki ini benar-benar akan menjaga Lia dan membahagiakannya?


Aku tidak ingin memberikan anakku pada sembarang orang.


Sang ayah mulai mempertimbangkan posisi Haqi yang tiba-tiba datang merebut hati anaknya.


Menjadikannya tersisih dan menjadi laki-laki nomor dua di hati anaknya, hal itu semakin membuat hatinya tak rela.


Sang ayah ingin Hulliyah bahagia dengan materi tanpa harus pergi menjauh darinya. Untuk itu sang ayah menyetujui Beni yang kala itu datang ke rumahnya.


Namun apa ini?


Lelaki asing yang kini menjadi menantunya itu sudah pasti akan membawa Hulliyah pergi. Sang ayah berat melepas anaknya terlebih jika Hulliyah dibawa menjauh dari hidupnya sungguh sang ayah tidak ingin itu terjadi.


------------------


Pukul sebelas malam mereka tiba di rumah, Haqi masih setia mendampingi Hulliyah, memapahnya sampai di depan pintu masuk.


Setelah pintu terbuka lebar, Haqi menurunkan tangan Hulliyah yang melingkar di pundaknya.

__ADS_1


Haqi mengelusnya pelan sambil tersenyum.


"Cepat masuk! Langsung tidur, jangan melamun terus!"


Ketika ayah Hulliyah mendekat, Haqi menuntun tangan Hulliyah supaya berpegangan padanya.


"Maafkan saya sudah lancang tadi Pak." kata Haqi.


Sang ayah mertua menatapnya tanpa berucap. Tetapi sebelum Haqi benar-benar menjauh Hulliyah melepas tangan ayahnya dan meraih lengan Haqi.


"Aku mau tidur, tapi ditemenin Kakak," ucap Hulliyah.


Haqi menghentikan gerakannya dan memandangi Hulliyah dengan sendu.


"Malam ini kamu menginap di sini!"


Sang ayah tiba-tiba berkata sambil berlalu masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


Hulliyah dan Haqi saling bertatapan, seulas senyum lebih dulu diberikan Hulliyah. Hal itu membuat Haqi tersenyum lebar kemudian mengangkat tubuh istrinya dan merekapun masuk ke dalam rumah.


----------------------------


Haqi membaringkan Hulliyah kemudian menutup pintu kamar.


"Kata Ibu, Sypa belum makan dari pagi. Kenapa?" tanya Haqi sesaat setelah duduk di tepian tempat tidur, mengusap kepala istrinya penuh sayang.


"Aku gak mau Kak, makanannya pahit."


Haqi tersenyum sementara tangannya mengusap-usap pipi Hulliyah yang berwarna kuning langsat itu.


"Aku suapin ya? Dijamin rasanya gak pahit," ujar Haqi meyakinkan.


Hulliyah terdiam sejenak merasa telah dibodohi seperti anak kecil, tapi anehnya Hulliyah menyukai itu.


Akhirnya dengan rayuan maut nan manis itu, Haqi berhasil membujuk Hulliyah untuk makan.


"Tunggu sebentar! Aku ke dapur ambil makanannya."


Haqi berkata pelan hampir seperti bisikan, kemudian beranjak keluar kamar.


Haqi berjalan menuju dapur, untungnya Haqi sudah mengetahui letak dapur itu sehingga Haqi tidak merasa kesulitan menemukannya. Ketika melewati ruang keluarga, ayah Hulliyah ternyata masih berada di sana terpihat seperti sedang melamun.


"Lia sudah tidur?" tanyanya ketika melihat Haqi keluar kamar.


"Belum Pak, mau makan dulu katanya." jawab Haqi.


Sang ayah menghela napas panjang kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2