Love In Pesantren

Love In Pesantren
Pesantren in love


__ADS_3

Malam ini, seperti biasa aku menidurkan Mima hingga lelap. Sementara A Zam masih belum kembali dari mesjid, katanya sii tadi ada rapat bersama DKM.


Sambil menunggu A Zam, aku iseng nih buka-buka sosial media. Hanya sebatas selingan, gak seperti author kita yang kerjaannya main hp hihi peace thor.


Uh coba lihat ini notif dari tadi tringtrong-tringtong, fuih berasa orang penting dong aku kkkk.


Ku buka satu persatu story whatsapp, tiba-tiba ada yang menarik perhatianku.


Nomor yang belum sempat aku namai tapi sudah ku simpan, iya nomor Farrel.


Eh dia unggah foto, aku kepo doong teruslah aku buka.


Sedikit terkejut, aku lihat dalam foto itu Farrel bersama wanita berambut panjang duduk saling berselonjor kaki, kepala si wanita disandarkan di pundak Farrel, aiihh mereka lagi main drama kali ya.


Tunggu.


Itu bukan Sofia?


Terus?


Kok semesra itu? Mereka bukan muhrim kan?


Pertanyaan yang entah aku tujukan pada siapa tak bisa kuhentikan keluar dari mulutku berupa gumaman pelan.


Karena takut Mima terbangun, aku beranjak keluar kamar.


Ku dudukan diri ini di kursi meja makan.


Mencoba menghubungi seseorang.


Nihil, Sofia tak mengangkat telponnya.


Duh ko aku jadi khawatir begini sii.


Tak lama kemudian A Zam pulang dari mesjid.


"Assalamualikum."


"Waalaikumsalam. Rapatnya lama A."


Ku hampiri A Zam ke ruang tamu.


A Zam terlihat meringis.


"Kenapa sii?"


Heran aku nih.


Dih malah iklan pasta gigi, mentang-mentang giginya putih dan rapi.


"Sini dong duduknya biar enak ngobrolnya."


Sambil menepuk-nepukkan tangannya ke atas kursi yang ada di sebelahnya.


Ok deh aku turutin.


"Mima, udah lama tidurnya?"


A Zam bertanya sesaat setelah aku duduk di sampingnya.


"Lumayanlah, bahas apaan di mesjid?"


Ku tatap wajah A Zam yang kembali meringis.


Makin penasaran.


"Bahas kegiatan Ramadan."


"Terus?"


"Setiap habis subuh ada kuliah subuh buat anak-anak sekolah. Terus aku yang jadi Mubalighnya."


Tangannya ku lihat mengusap tengkuknya, aku tahu dia keberatan tapi tak berani membantah.


Aku tahu kamu luar dalam A.


"Aa keberatan?"


A Zam tersenyum tipis.


"Bukan keberatan, hanya merasa belum cukup ilmu aja."


Aku merasakannya A.


"Kenapa malah kalah sebelum berperang?"


A Zam hanya tersenyum.

__ADS_1


Aku genggam tangannya.


"Aa bisa ko."


Dih malah liatin aku.


"Terimakasih neng. Inshaalloh."


Tuh tangan udah ga bisa diem deh Aa.


"Nah gitu dong, kan ganteng."


Eh aku ngomong apa?


"Jadi sekarang neng udah ngakuin nih aku ganteng."


Isshhh kan geer jadinya.


"A, Sofia baik-baik saja kan?"


Perlahan senyum A Zam memudar.


"Semoga."


Tuh kaan jawabannya tidak meyakinkan begitu.


"Kasihan Sofiaa Aa."


Mungkin nada bicaraku agak dibuat-buat.


"Neng, biarlah Sofia dengan kehidupannya kita tidak berhak ikut campur. Lagipula apa yang neng takutkan sebenarnya?"


Ck.


"Sofia sahabatku A, aku ngerasa dia lagi ada masalah sekarang. Tadi aku lihat foto Farrel sama perempuan dan itu bukan Sofia A."


"Hei hei aku tahu kalian bersahabat, tapi tidak dengan ikut campur juga neng."


Au ah, capek ngomong sama Aa.


"Neng, kita harus senantiasa berprasangka baik. Alloh melarang kita banyak prasangka karena sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa."


Iya Pak Ustadz.


Gini nih kalau punya suami Ustadz.


Banyak dalil tentang prasangka salah satunya dalam surat Al-Hujurat ayat 12 ya.


"Kangen ngaji ya?"


Senyumin aja deeh biar diizinin.


"Boleh."


Horeee ingin rasa aku jingkrak-jingkrak.


"Nah gitu dong senyum, jangan manyun mulu."


Ihh apa katanya?


"Neng, kenapa sii tiap hari aku dibikin gemes sama neng?"


Aku mendelik tajam ke arahnya.


"Apaan sih?"


Mencoba menyembunyikan senyuman uuuh.


"Beneran deh, makin hari makin cantik, makin bikin aku gemes terus makin aku tambah cinta."


Aih aihhh mulai, ini tidak baik untuk kesehatan jantungku lebih baik aku segera kabur.


Belum sempat aku berdiri sigap A Zam menarikku dalam pelukannya.


"Terimakasih sudah bertahan bersamaku."


Bisikan yang membuat sekujur badanku merinding. Dia menciumi kepalaku ah kalau begini kan aku yang kalah.


"Udah ah nanti Mima bangun, aku mau ke kamar."


"Apa? Neng mau lanjut di kamar gitu maksudnya?"


Aisshh aku dorong aja dia uh.


Eh apaan malah ketawa dasar.


"Jangan malu-malu gitu dong aku makin gemes."

__ADS_1


Iiiiiih kabur aja aku kabuur.


A Zam malah makin tertawa mengiringi langkahku masuk kamar.


Bener deh badanku jadi panas dingin ih.


-------------------------


Keesokan harinya di Pesantren, kebetulan ada kajian pagi untuk para santri yang bisa dibilang tahap akhir dan kebanyakan dari mereka adalah angkatanku.


Ini kesempatanku ikut kajian itu, ya meskipun kali ini aku bawa bayi hihi.


Untungnya Mima ga rewel anaknya, malah aku juga anteng mengikuti kajian kali ini.


Kalau dulu aku selalu bawa catatan bila sedang ada kajian ini. Sekarang aku hanya meyimak dan merekamnya di otakku.


Untungnya Mama dan Bi Haji sangat terbuka terhadapku mereka selalu mengundangku ke sini ke Pesantren ini. Tempat dimana aku menemukan banyak cinta di sini.


Ya Pesantren in love and Love in Pesantren.


Cinta itu ada di sini, itu bagiku.


-----------------------------


"Hulli, kamu pernah nelpon Sofia?"


Sesaat setelah kajian usai, aku masih mengobrol bersama Hulliyah di ruangan Madrasah ini.


"Belum, eh gimana kalau kita Video callan sama Sofia terus Siti sama Rista juga."


"Boleh, boleh."


Ucapku antusias.


Dan sambungan pun tersambung.


"Assalamualaikum."


Kami berlima saling mengucapkan salam lalu tertawa.


"Siapa yang jawab kalau semuanya assalamualaikum?"


Celetuk Rista si pengantin baru.


"Kangen kaliaan."


Hulli yang tengah bersamaku merangkulku, mungkin kalau situasinya bertemu langsung, maka kami akan saling berpelukan.


"Aku jugaaa."


Rista, Siti, dan Sofia serempak menjawab.


Obrolan pun berlanjut, sejak tadi aku terfokuskan akan sosok Sofia yang terlihat tak tenang. Meskipun dia ikut mengobrol namun ku lihat matanya tak bisa diam seperti sedang mengawasi sesuatu dan benar tak lama kemudian wajahnya terlihat pucat.


"Teman-teman, aku tutup duluan ya sambungannya. Assalamualaikum."


Lalu sambungan Sofia terputus.


Ada apa denganmu Sof?


"Sit, rumah kamu deket ga sama Sofia?"


Tanyaku pada Siti.


"Agak jauh sii lumayan, kenapa?"


Siti penasaran.


"Ah enggak cuma nanya."


Kemudian kami berbincang kembali hal-hal yang berbau nostalgia yang membuatku rindu.


------------------


Aku di Pesantren agak lama memang, biar. Gak tiap hari ini hihi.


Sekitar pukul dua siang A Zam menjemputku.


"Betah yaa, kalau ga di jemput ga bakal pulang."


Ini sindiran atau apa?


"Maaf A."


A Zam terlihat geleng-geleng.


"Mima ga rewel?"

__ADS_1


A Zam mengusap pipi Mima penuh sayang.


Aku juga geleng-geleng yang berarti tidak Mima ga rewel Aa.


__ADS_2