
Siang ini Hulliyah mengunjungi Nimas di rumahnya.
Nimas mempersilahkannya masuk ke dalam.
Seperti biasa, tanpa di suruh Hulliyah melenggang menuju dapur Nimas membuat minumannya sendiri. Sementara Nimas di ruang tamunya menunggu.
Saat Hulliyah kembali dengan membawa dua gelas minuman, Nimas dengan cengiran khasnya menyambut salah satu gelas itu.
"Terimakasih jadi ngerepotin."
Itu rumah siapa sii?
Ya mereka memang sudah biasa seperti itu, Hulliyah tanpa sungkan selalu menganggap rumah itu adalah rumahnya.
Selagi ga ada Ustadz Zamzam, Hulliyah bebas melakukan apa saja di sana.
"Tumben kesini, pasti ada sesuatu nih."
Obrolan mereka dimulai, mari kita simak. Eh reality shoow kali ah.
"Tau aja, aku mau pulang besok sore."
Hulliyah mengambil alih Zamima dari pangkuan Nimas.
"Ko mendadak, emang ada apaan? Jangan bilang kamu mau dinikahin lagi."
Ciee yang punya pengalaman pulang ke rumah tahu-tahu udah nikah haha.
"Sembarangan!! Keponakanku mau disunat."
"Kirain, pas datang kesana di kamar kamu udah ada suami."
"Itu mah kamu."
Haha kena kan Nimas.
"Eh iya, kakak juga ngundang kamu sama temen kita satu kobong yang lain. Kamu datang kan? Kalau mau ikut besok kita barengan berangkatnya."
Kakak Hulliyah yang dimaksud adalah senior mereka sewaktu di Pesantren, Nimas mengenalnya karena kakak Hulliyah adalah salah satu Mudaris yang membimbing kobong Nimas dulu.
"Oo, anaknya Kak Sulis yang disunat? Aku pengen banget tapi ga tahu deh, nanti aku tanya A Zam dulu ya."
"Rayu aja Nim, biar diizinin."
Hulliyah mengedip-ngedipkan matanya.
Mata genit?
Nimas mencebik sambil bergidik akan kelakuan Hulliyah.
"Ajak yang lain juga, biar rame. Kita piknik bareng, uh seru."
Nimas berbinar-binar.
"Emang kamu yakin diizinin?"
Hulliyah menatap Nimas.
"Katanya suruh rayuu."
Nimas serius?
Hulliyah akhirnya hanya menggelengkan kepalanya, candaannya dianggap solusi oleh Nimas.
"Aku udah nelpon Rista sama Siti, tapi mereka ga bisa dateng. Ga tahu deh kalau Sofia, tadi dia bilang lihat besok aja."
Ribet yaa, yang udah pada punya suami. Harus ada izin kalau mau pergi-pergi.
Hulliyah cepetan dong punya suami biar bisa izin-izinan hihi.
-------------
Di tempat lain, di rumah Farrel tepatnya. Sofia tak tenang dalam diamnya menggoreskan pena pada helaian kertas putih mempercantik kata-kata tulisan dalam bahasa Arab, Sofia sedang melakukan pekerjaannya selama ini. Ya, Sofia tengah membuat kaligrafi untuk pesanan keluar kota.
Hal yang membuatnya tak tenang ialah undangan yang diberikan Hulliyah. Sofia merasa sangat berhutang budi pada Sulis di masa lalu. Sehingga kini dirinya ingin sekali datang pada undangannya. Tapi bagaimana caranya?
Apakah Farrel akan mengizinkannya?
Tak ada yang tahu selain mencoba, iya Sofia akan mencoba meminta izin pada Farrel.
Rayu aja Sof rayu, Eh ini beda masalahnya kkkkk.
__ADS_1
Dan saat selesai sholat berjamaah untuk kesekian kalinya.
Sofia meremas tangannya dibalik mukena yang dia kenakan.
Lidahnya bersiap untuk bicara, meski ada semacam tali yang membelenggu sang lidah. Sofia paksa untuk bicara.
"Rel.."
Seperti biasa Farrel tak menjawab.
"Farrel.."
Sofia mencoba lagi dengan suara lebih keras.
Farrel meliriknya saja, itu sudah untung.
"Aku mau minta izin."
Setelh mendapat lirikan, barulah Sofia bicara lagi.
Lagi-lagi Farrel diam tak menanggapi, dia sibuk melipat sarung yang dia kenakan.
Ck, ngobrol sama tembok aja Soof. Author kesel juga.
"Aku minta izin pergi ke rumah Hulli."
Akhirnya Sofia bicara sendiri.
"Pergi aja sii, ngapain minta izin. Emangnya aku bapak kamu apa?"
Dengan santainya Farrel berujar kemudian berjalan keluar kamar.
Sofia melepaskan mukena yang melekat pada tubuhnya, kemudian menyusul Farrel yang kini telah membuka laptopnya di meja makan.
Hah, buka laptop di meja makan?
Mau dimakan?
"Kamu bukan bapakku, tapi suamiku."
Sofia akhirnya berdiri disamping Farrel walaupun kakinya gemetaran dia tak peduli.
Farrel mendongak menatap Sofia datar.
Ucapnya datar.
Uh sumpah yaa karakter Farrel bikin author gregetan.
"Aku ga bisa pergi kalau kamu ga izinin."
Sofia bicara cepat tanpa bernafas.
"Kenapa?"
Eeuuuuh bener deh kamu tuh Rel.
"Karena derajat suami lebih tinggi ketimbang istri, seorang istri harus menurut apa kata suaminya."
Farrel terpaku memandangi Sofia yang tengah berdiri disampingnya itu. Mendadak Farrel ingat kejadian awal-awal dirinya menikahi Sofia, dimana Sofia tak menginjakkan kakinya sama sekali di teras karena Farrel melarangnya.
Author nemu hadist nih yang isinya begini,
"... Dia tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya, jika dia berbuat demikian maka Alloh melaknatnya dan para malaikat memarahinya kembali..." (H.R Abu Daud Ath Thayalisi)
"Gimana?"
Pertanyaan Sofia membuatnya terkejut dan salah tingkah sendiri.
"Euh itu, boleh."
Farrel memijat pangkal hidungnya karena malu tertangkap basah sedang melamun dihadapan Sofia.
"Beneran?"
Sofia berbinar memegangi lengan Farrel tanpa sadar.
"Boleh, tapi ada syaratnya."
Raut wajah Sofia seketika berubah.
Duh pakai syarat segala emangnya mau melamar kerja apa?
__ADS_1
"Aku harus ikut."
Hah?
Ini Farrel ga salah ngomong nih.
---------------------
Sementara malam ini di rumah Nimas, Ustadz Zamzam baru saja pulang dari mesjid untuk sholat isya.
Nimas menyambutnya lalu membiarkan sang suami duduk di Sofa itu.
"Aa mau kopi?"
Sang Ustadz menggeleng dan merasa heran dengan kelakuan istrinya itu.
"Aa mau apa atuh? Teh manis? Biar aku bikinin."
Begini yaa Nimas kalau ada maunya.
Lagi-lagi Ustadz Zamzam menggeleng.
Nimas pun menghentakkan kakinya kemudian duduk disebelah Ustadz Zamzam.
"Mau aku pijitin?"
Eh.
"Aku mau neng yang manis."
Aww aww author ga kuat. Haha.
Nimas membalas gombalan sang suami dengan pukulan di paha suaminya itu.
"Ish.. Aku lagi serius Aa."
"Lagian ga biasanya genit seperti ini."
Genit?
"Masa nawarin minum aja disangka genit sii."
Sang Ustadz tergelak, melihat bibir istrinya yang sudah manyun itu.
"Pasti ada maunya ini, neng mau apa?"
Ko ketebak ya?
Nimas pun menghela nafas, memang menghadapi suami macam begini harus ekstra kekuatan kanuragan biar tak mudah baper.
Ngomong apa aku?
"Boleh ga aku ke rumah Hulli?"
Kali ini Nimas menampilkan wajah memelasnya.
Sang Ustadz pun tersenyum kemudian mencubit pipi Nimas.
"Kalau ada maunya seperti ini, neng itu bikin gemess."
Author juga gemes sama kalian uh.
"Boleh ga? Berangkatnya besok sore."
Ustadz Zamzam membenarkan posisi duduknya.
"Ko mendadak, Aa ga bisa ikut dong."
Siapa juga yang ngajakin Ustadz ya?
"Ga apa-apa A, berangkatnya sama Hulli ko. Boleh yaa, aku belum pernah ke rumah Hulli, katanya di sana ada perkebunan teh terus ada banyak peternakan. Aku mau nenangin diri sama Zamima."
"Lah neng mau ngapain ke peternakan?"
Goda Ustadz Zamzam.
"Iii bukan mau ke peternakannya, aku mau ke rumah Hulli, anaknya Kak Sulis di sunat. Boleh yaa A?"
Ustadz Zamzam diam penuh arti, kemudian memandang istrinya dalam.
"Boleh.."
__ADS_1
Dan Nimas pun memeluk sang suami.