
Sang lembayung berwarna jingga mengiringi perjalananku dan Farrel. Setelah obrolan hangat tadi, hening mendominasi kami lagi.
Aku anggap tadi obrolan hangat, Untuk pertama kalinya Farrel banyak bicara padaku.
Soalnya kalian kan tahu selama ini Farrel gimana. Yah meskipun dalam obrolan kami tadi, aku sedikit kecewa, ah entahlah aku kecewa kenapa?
Yang jelas aku ga suka sama omongannya yang menyuruhku pergi darinya. Ingin aku menghentakan kaki ini uh.
Dalam hening ini, hanya suara mesin yang terdengar. Aku berdehem, sebagai tanda bahwa aku akan bicara.
Test mic dulu supaya Farrel tidak kaget. Aku menoleh perlahan ke arahnya yang tengah fokus itu, aaaaahh kenapa dia bisa keren gitu sii.
Astagfirulloh sejak kapan aku begini, aihh ini pasti karena aku kelelahan ini.
"Kita ke Pesantren dulu ya, ada titipan buat Mama, terus nanti kita ke rumah Nimas ada titipan buat dia juga."
"Iya."
Farrel jawab pemirsahhh.
Tumbenan kamu Rel, aku sedikit melotot mendapat respon jawaban darinya.
Memang benar apa kata Uwa, Farrel itu orang baik. Hanya saja dia tak bisa menempatkan bagaimana ekspresinya.
----------------
Setibanya di Pesantren adzan maghrib berkumandang.
Alhasil kami pun beribadah terlebih dahulu, setelahnya aku pergi ke rumah Mama. Aku tunggu Farrel kenapa lama sekali di mesjid sii?
Bi Haji yang melihatku tak tenang kemudian duduk mendekatiku.
"Mungkin suamimu nunggu sampai sholat isya Sof."
Ah masa si Bi?
Eh tapi mungkin juga dia ketahan sama Mama di mesjid hihi syukurin!!
Aku tersenyum membenarkan ucapan Ibi.
Dan benar saja, saat aku dan Bi Haji kembali ke mesjid guna menunggu waktunya sholat isya yang beberapa menit lagi itu. Aku mendapati Farrel duduk bersama Ustadz Zamzam dan Mama, nampaknya mereka sedang membicarakan sesuatu.
Aihh lihat itu air mukanya berubah-ubah gitu, bisa serius, kaget, serta tersungging senyuman,Duh aku ko seperti kecanduaan senyumnya gitu sii.
Hmm mereka lagi diskusi tentang apa sii?
Aku jadi penasaran.
---------------------
Seperti yang telah direncanakan kami pergi ke rumah Nimas, bersama Ustadz Zamzam yang kebetulan bertemu di mesjid.
Kami berjalan kaki dan meninggalkan mobil di Pesantren, karena jarak Pesantren dan rumah Ustadz Zamzam sangatlah dekat.
Eh ko Farrel sama Ustadz Zam bisa seakrab itu. Sepanjang jalan mereka mengobrol dengan asiknya seakan lupa ada aku di belakang mereka.
Angaplah aku tiang listrik wahai para lelaki yang asik ngobrol.
"Saya belum mengucapkan terimakasih, untuk yang pernah terjadi dulu?"
Ustadz Zam melirik sebentar ke arahku.
"Untuk apa Stadz? Perasaan saya belum pernah nolongin Ustadz."
Farrel tergelak pelan.
Ustadz Zamzam pun tersenyum kecil, "Dulu waktu istri saya terjatuh dari kamar mandi, kamu yang nolongin. Andai tidak ada kamu entahlah apa yang akan terjadi. Tapi dengan bodohnya saya malah memfitnah kamu."
Ustadz Zamzam menggeleng-gelengkan kepalanya penuh sesal.
__ADS_1
"Itu sudah berlalu Stadz, yang penting Ustadz jagain deh tuh istrinya. Nanti ada yang ngambil nyesel."
Candaan Farrel membuatku berfikir apa dia masih berniat merebut Nimas?
Tapi dia kan punya pacar saat ini.
Ah iya, Rani. Wanita yang pernah ku temui.
Apa mungkin Farrel ingin melepasku karna dia akan serius bersama Rani?
Baiklah Rel, mari kita berpisah.
Jika dengan berpisah kita berdua bahagia mari kita lakukan.
Mantap nih kali ini, setibanya di rumah aku akan membicarakan hal ini dengan Farrel.
Ku tatap punggungnya ada getaran halus entah apa itu, yang jelas inilah terakhir kali aku mengikutinya di belakang.
Tidak akan ada lain kali setelah ini. Kami akan menjadi orang lain.
Ustadz Zamzam terdiam setelah digoda Farrel, ada apa? Apa mungkin dia cemburu?
Apa ada yang terjadi setelah kejadian di kampung Hulli?
Aku mengiringi percakapan mereka dengan lamunan, hingga tanpa sadar Ustadz Zam telah membuka pintu gerbang pertanda kami telah sampai.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam, Sofiiiii."
Saat Nimas membuka pintu, kami dengan hebohnya saling berpelukan.
Entahlah padahal baru kemarin tapi rasanya berbeda setiap kali bertemu.
Kami pun masuk ke dalam rumah mereka, eh tunggu.
Kenapa ada yang berbeda di sini?
Ah ini pasti ada sesuatu.
-------------------
Kami membiarkan para pria di ruang tamu, sementara aku diajak Nimas k kamarnya.
Mima sudah tidur rupanya.
"Jadi Mima sakit Nim?"
Sesaat setelah kami mengobrol dan membicarakan Mima yang sedang sakit.
"Iyaa, kemarin aku takut banget Sof. Tapi alhamdulilah sekarang udah mendingan."
Nimas mengelus-elus pipi Mima dengan sendu.
"Ustadz Zam marah?"
Aduh mulutku ko ga bisa di rem, aku menyadari kesalahanku.
Nimas tersenyum lalu mengangguk pelan.
Tuh kaaan apa ku bilang, pasti deh mereka berantem.
Aku pun mencoba menguatkan hati Nimas dengan menyalurkannya lewat genggaman tanganku.
"Aku emang salah ko, jadi pantas kalau A Zam marah."
Ck kebiasaan Nimas nih selalu menyalahkan diri sendiri dari dulu.
"Enggaklah, gak salah kalau aku jadi kamu nih. Aku udah siram Ustadz Zam pake air."
__ADS_1
Aku mencoba meghiburnya.
"Emang kamu berani?"
"Enggak."
Kami pun terkikik pelan karena takut Mima terbangun.
"Gak nyangka kamu kaleng juga."
Ucap Nimas menahan tawa.
Aku juga geli sama diriku yang sekarang kenapa aku jadi insan yang berjiwa lepas begini.
Kami pun memutuskan untuk keluar kamar, takut Mima terbangun dengan kelakuan kami.
------------------
Di ruang tamu kudapati Ustadz Zam dan Farrel yang masih saja asik berdua, namun saat kami keluar kamar perhatian mereka pun teralihkan.
"Duh yang kangen-kangenan di kamar, kelihatannya bahagia bener."
Maaf Stadz itu sindiran atau apa?
Akhirnya kami bergabung dengan mereka.
"Pulang yuk!!"
Hah.
Farrel ngajakin pulang ternyata.
Aku pun berpamitan dan meninggalkan rumah Nimas. Tadi sih Nimas ngajakin nginep, ah itu tidak mungkin meskipun aku ingin.
Aku dan Farrel sampai di rumah hampir jam sebelas malam.
Setelah bersih-bersih aku merebahkan diri di kasur ini lagi. Sementara masih sibuk dengan ponselnya di seberang sana, seketika aku ingat niatku tadi.
Aku memilih bangkit dan duduk di kasurku menatap Farrel yang tengah sibuk itu.
"Rel, aku mau ngomong."
"Hmm."
Bahkan dia gak lihat mukaku ih.
"Aku setuju."
Nah, baru deh dia noleh tapi keningnya berlipat-lipat gitu.
"Setuju apa?"
Mulai fokus kan dia sekarang, meskipun tangannya masih memegang ponselnya.
"Tawaran kamu, sore tadi. Aku akan pergi."
Tapi ko dia diem aja gitu yaa.
"Rel.."
Aku ragu untuk menyadarkannya, seperti orang yang melamun gitu kamu Rel.
"Ok."
Loloslah kata itu, kenapa hatiku seperti diremas begini?
"Aku anterin kamu besok ke rumah orang tuamu."
Seketika air mata meluncur tanpa aba-aba.
__ADS_1
Inilah akhirnya.