Love In Pesantren

Love In Pesantren
Sofia


__ADS_3

Flash back on Sofia.


Entah apa yang ada di benak Farrel, hingga dia bersedia menikahi Sofia.


Yang pasti itu bukan cinta.


Sofia sadar resiko yang akan dia hadapi, namun dia tak bisa mundur lagi.


Keputusan yang mendadak dia ambil, membuatnya akan masuk ke dalam sebuah kisah baru.


Tepat seminggu setelah pernikahan, Farrel yang bersikap baik di depan orang tua Sofia. Berhasil membujuk kedua mertuanya itu untuk melepas Sofia tinggal bersamanya.


Sesampainya di rumah Farrel, Sofia tertegun di depan pagar itu. Bukan karena terpesona akan rumah itu, tapi ketakutan dirinya pada Farrel semakin memuncak.


Farrel yang terlebih dahulu masuk, berbalik badan dan mengernyitkan kening melihat istrinya terpaku depan gerbang pagar.


"Sofi, cepetan !!"


Sofia mengerjap salah tingkah.


"Ah iya."


Dengan langkah terburu-buru Sofia berjalan mengikuti Farrel masuk ke dalam rumah.


"Ini kamar kita."


Farrel membuka salah satu pintu kamar, nampak dua buah single bed tanpa ranjang di sana.


Letaknya cukup berjauhan yang satu di sisi jendela kaca sementara yang satunya lagi berada di seberangnya.


Sofia ragu masuk ke dalam kamar itu.


"Jangan ketakutan begitu istriku ! Aku ga bakalan apa-apain kamu ko, bahkan aku pastikan kamu akan jadi perawan seumur hidup kamu."


Hah.


Farrel ko nyeremin.


Sofia mendongak menatap wajah sang suami yang menampilkan senyuman sinis.


"A-apa maksud kamu?"


Farrel tertawa keras namun terdengar miris.


"Atau kamu mau aku melakukannya heum?"


Farrel mendekati Sofia yang tengah menatapnya nanar.


Farrel memegang dagu Sofia dan menggerak-gerakkannya ke kiri dan kanan.


"Tapi maaf, aku ga berselera sama kamu."


Di hempaskannya dagu Sofia kasar.


Sadis sumpah Rel kamu tuh.


Farrel melenggang keluar meninggalkan Sofia yang mematung dan menangis.


Demi apa, Sofia sekarang merasa kesakitan yang amat sangat di hatinya.


"Sehina itukah aku."


Rancauan Sofia begitu getir terdengar.


-----------


Malam ini, ketika Sofia akan bersiap tidur. Dirinya di kejutkan dengan suara pintu terbuka dengan sangat keras.


Kemudian dilihatnya Farrel menuju lemari pakaian dan mengemasi pakaiannya.


Sofia terduduk dalam ketakutan.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?"


Tak ada jawaban.


Farrel keluar membawa tas berisi pakaiannya itu keluar kamar.


Sofia menarik nafasnya dalam.


Belum sempat Sofia berbaring lagi, Farrel kembali ke kamar itu.


"Kamu, hei kamu. Selama aku pergi, jangan pernah membuka pintu rumah. Apa pun yang terjadi, jangan pernah membuka pintu depan, dan jangan pernah menginjakkan kaki kamu di teras rumah. Kamu ngerti?"


Sofia mengangguk lalu menunduk.


Farrel pun berlalu keluar dan pergi meninggalkan rumah itu.


Kamu kurung Sofia, Rel?


Keesokan harinya, Sofia terbangun dan sadar bahwa dia berada di rumah ini


Dengan langkah gontai dia masuk kamar mandi mengambil air wudhu dan mengadu pada Tuhannya.


Yang kuat yaa Sofiii perjalananmu akan segera dimulai.


------------------


Sofia benar-benar tak membuka pintu rumah, dia membenahi yang ada dalam rumah saja.


Saat di rasa perutnya lapar, Sofia menuju dapur berharap ada makanan atau bahan yang bisa dia masak.


"Alhamdulillah ada telur."


Namun kelegaannya tak berlangsung lama, saat Sofia menyalakan kompor ternyata gasnya habis.


Berkali-kali Sofia mencoba menyalakannya namun gagal.


Sofia beranjak mencari rice cooker, dia berfikir akan merebusnya saja.


Nihil... Barang yang dicari pun tak ada.


"Lebih baik aku pesan makanan online aja."


Sofia menghapus sisa air matanya dengan asal dan mulai memesan makanan.


Sudah beberapa kali Sofia minum air yang ada di dispenser sambil menunggu pesanannya sampai.


Hingga notif di ponselnya berbunyi menandakan sang pengirim telah sampai.


"Assalamualaikum."


Nyaring terdengar, suara si pengantar makanan.


Senyuman Sofia mengembang dan bergegas menjawab salam dan akan membuka pintu, namun Sofia mendadak teringat pesan Farrel.


Hingga Sofia mengurungkan niatnya membuka pintu, dan lebih memilih membuka jendela kaca di sebelah pintu tersebut.


"Mas, buka aja gerbangnya. Saya ambil dari sini."


Sang pengirim itu pun mengernyit merasa aneh.


"Mbaknya ke sini, gerbangnya di kunci."


"Ya Alloh, bagaimana ini? Berdosakah aku jika menerobos pintu ini."


Sofia memandangi pintu itu.


Buka aja Sof, Farrel ga bakal tau.


Aku mirip bisikan yee.


"Mas lempar aja ya."

__ADS_1


Teriak Sofia putus asa.


Sang pengirim makanan pun menganga dibuatnya. Dan mulai berfikir, apakah Sofia orang waras apa tidak.


"Nanti hancur mbak!"


"Saya gantung di sini saja ya."


Sang pengirim hendak menggantungkan makanan itu, Sofia buru-buru bicara.


"Jangan mas, saya ga bisa ambil. Lempar saja tepat ke arah jendela ini. Hancur ga apa-apa."


Sang pengirim pun makin tak percaya akan kejiwaan Sofia dan memilih melemparkan makanan itu supaya cepat selesai urusannya.


Sofia mengambil makanan yang telah terlempar itu dengan hati pedih.


Sofia membuka makanan itu dan mulai memakannya sambil menangis.


Malangnya kamu Sofi.


Andai saja Sofia tak mengingat hadist yang mengatakan bahwa istri tidak boleh keluar rumah atas izin suaminya.Mungkin Sofia sudah sedari tadi keluar.


Tapi Sof, ada juga loh hadist yang memperbolehkan bila keadaannya mendesak seperti kamu.


Ah biarlah Sofia dengan pemikirannya.


Sepi yang Sofia rasakan, di jalaninya dengan ikhlas. Sofia berharap keputusannya akan berbuah indah di kemudian hari.


Semoga aja ya Sof, semoga.


Di tengah kepiluannya, Sofia mendapat kabar bahagia dari Hulliyah bahwa Nimas telah melahirkan beberapa hari yang lalu.


Tangis itu berubah jadi wajah yang haru ikut bahagia, dan disini Sofia berjanji pada dirinya bahwa dia akan mencapai kebahagiaan sama seperti sahabatnya itu.


.


.


.


.


.


..


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#**Boleh ga author sedih?


Ada sebuah ketakutan yang semoga ketakutan itu tak nyata.


Saya menulis cerita ini awalnya kagum pada seseorang, mendengar kisahnya saya tertarik.


Saya aplikasikan di sini, saya hanya seseorang bodoh agama yang mencoba belajar dari seseorang yang jadi inspirasi saya di cerita ini.

__ADS_1


Cerita ini murni saya persembahkan untuk para wanita-wanita cantik yang akan bahkan sudah menjadi seorang istri.


#Ah kamu thor kebanyakan drama.. Adakah yang bisa menyamai kepintaranmu berdrama wkwk (Siapa nih yang ngomong**)


__ADS_2