
Pukul 22:05 Farrel tiba di rumahnya, lampu terlihat padam. Farrel membuka pintu dengan kunci yang dibawanya, menyalakan saklar lampu kemudian berjalan menuju kamar.
Saat Farrel membuka pintu kamar, nampak Sofia asik duduk sambil memangku kertas putih dan mencoret-coretnya.
Farrel keheranan kenapa Sofia tidak terpengaruh dengan suara yang dia timbulkan. Farrel memilih untuk mendekatinya perlahan.
Pantesan lagi pake headset.
Sebuah ide pun muncul.
Farrel berbalik menuju saklar lampu dan mematikan lampunya.
"Astagfirulloh ... mati lampu?"
Sofia kaget dan mulai meraba-raba sekitar.
"Ya Alloh gelap banget."
Sofia bicara dengan gemetar.
Sementara Farrel menahan tawa gelinya mendengar Sofia ketakutan.
Jail tingkat nyebelin sii ini mah namanya.
"Ibuuu ...."
"Ayaaaah ...."
Suara Sofia makin gemetar, Farrel pun tak mendapati pergerakan dari Sofia, hingga dirinya memutuskan untuk lebih mendekat.
Brukkk ... mereka pun bertabrakan.
"Siapa kamu?"
Sofia kaget karena dia menyangka ada orang asing yang masuk ke dalam rumahnya.
Farrel diam belum bermaksud untuk mengakhiri ini semua.
Aaarrgghh parah Farrel nih.
"Siapa kamu? Toloo __"
Karena tak ingin membuat tetangga datang, dengan cepat Farrel membekap mulut Sofia.
Hal itu makin membuat Sofia ketakutan dan meronta dengan sekuat tenaga. Farrel pun sampai kewalahan dan terpaksa menjatuhkannya ke atas kasur dan menahannya dengan tubuh.
Ya elah malah main gulat.
Sofia kaget dan takut, kemudian menggigit tangan Farrel.
Haha rasain!
Tangannya pun terlepas dari mulut Sofia, tapi tidak dengan tubuhnya.
"Kamu siapa? Tol__"
Lagi-lagi Farrel membungkam mulut Sofia tapi kali ini bukan dengan tangan melainkan mulutnya.
Duh sensor yaa bayangin sendiri wkwk.
Sofia menangis, meronta, berusaha menghindar apa daya kekuatan Farrel lebih besar. Sofia mendorong Farrel sekuat tenaga sampai akhirnya tubuhnya dan Farrel sedikit merenggang.
"Aaaaa ... Farrel tolong aku."
Sofia menangis sambil memanggil nama Farrel.
Farrel pun tertegun dan mengendurkan cengkramannya. Sungguh Farrel tak bermaksud membuat Sofia menangis pilu begini.
Apalagi saat ini, Sofia terus menyebut namanya untuk meminta tolong.
Akhirnya Farrel pun menjauh dan berjalan menuju saklar lalu menyalakan kembali lampunya.
Betapa terkejutnya Sofia mendapati Farrel di sana.
Farrel tersenyum kikuk, antara merasa bersalah dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Maaf Sof."
Farrel pun berjalan mendekat.
"Stop di sana! Kamu keterlaluan."
Sofia menghapus air matanya kasar, kemudian memunguti alat-alat kalighrafi yang tadi terjatuh begitu saja.
"Sof, aku ...." Farrel terbata.
"Aku ga bermaksud menakuti kamu, tadi aku bercanda."
Sofia menatapnya nanar.
"Gak lucu!"
__ADS_1
Sofia berlalu keluar kamar.
Farrel pun segera menyusulnya dan menarik tangan Sofia.
"Aku minta maaf Sofi, jangan marah!"
Sofia mendelik sebelum akhirnya berkata, "Siapa yang marah?"
Hah.
"Kamu marah kan sama kejailanku tadi?"
Sofia diam, sesungguhnya Sofia hanya terkejut dan takut kalau tadi itu orang lain. Mungkin saat ini Sofia sedang meratapi nasib karena tidak sanggup melindungi diri.
"Gimana kalau tadi itu bukan kamu? Gimana nasib aku Rel? Suaminya saja belum nyentuh tapi orang lain sudah melecehkannya. Istri macam apa aku kalau itu terjadi?"
Hati Farrel berdenyut nyeri mendengar penuturan Sofia diselingi isak tangis itu.
Farrel mendekat dan memeluk Sofia.
"Maafkan aku." lirih Farrel berujar.
Sofia terdiam tak melanjutkan tangisnya sungguh dirinya lega sangat lega. Berarti ciuman pertamanya yang mengambil adalah suaminya.
-------------
Malam semakin larut tapi dua insan yang saling merindu itu masih enggan untuk pergi ke alam mimpi.
Mereka sibuk memunggungi satu sama lain di kasur mereka masing-masing.
Sofia sibuk memegangi bibirnya yang sedikit ngilu akibat ulah Farrel tadi.
Sementara Farrel dengan fikirannya yang melayang, dia sibuk memikirkan esok hari harus bersikap seperti apa pada Sofia.
Sampai di titik kejenuhan keduanya berbalik bersamaan. Mata mereka saling bertemu, untunglah ada jarak memisahkan sehingga mereka tak terlalu merasa gugup.
"Belum tidur?"
Farrel lebih dulu berbicara, dan Sofia menanggapinya dengan gelengan kepala.
"Kamu beneran ga kangen sama aku?"
Kembali Sofia menggeleng.
Farrel menghembuskan nafas kasar.
"Sia-sia dong tadi aku mutusin Rani."
Sofia memelototkan kedua matanya.
"Kenapa?"
Farrel mengernyit.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kamu mutusin Rani?" Sofia nampak ragu dengan pertanyaannya.
"Sudah seharusnya sejak awal kita menikah aku tidak berhubungan dengan wanita lain."
"Terus kenapa?"
Farrel terlihat gemas dengan ekspresi datar Sofia.
"Yaa ga kenapa-kenapa deh pokoknya. Lagian kamunya juga ga peduli, besok aku minta balikan deh sama Rani."
Sofia bangkit dan terduduk membuat Farrel mengikuti gerakannya.
"Balikan aja lagi sana! Ngapain tadi kamu putusin kalau masih cinta."
Farrel menanggapinya dengan tertawa kecil.
"Jangan ketawa ga lucu!"
"Siapa yang lagi melucu sii Sof?" Farrel beranjak mendekati Sofia.
"Kenapa kamu ke sini? Sana ih!"
"Aku mau ini!"
Farrel menjatuhkan tubuh Sofia dan membuat Sofia terkesiap. Posisinya sama seperti tadi waktu main gulat, eh.
Debaran jantung Sofia mulai tak beraturan tatkala wajah Farrel semakin mendekat ke wajahnya.
"Ma-mau apa?"
Farrel tersenyum, "Mau ini." Cup ... Farrel mengecup mata Sofia bergantian.
"Terus ini."
Cup ... Farrel mencium kedua pipi Sofia.
__ADS_1
Sofia tak mampu berbuat apa-apa karena jujur dalam hatinya dia pun menginginkannya terlebih rasa rindu yang membumbung itu kini terbayarkan.
Namun akalnya kembali bekerja ketika tangan Farrel sudah tidak mau diam. Sofia mendorong tubuh Farrel kemudian bangkit menjauh.
"Kenapa?"
Sekarang giliran Farrel yang bertanya, karena tidak mendapat apa yang dia mau. Sementara nafasnya sudah tidak beraturan.
Ibaratnya sudah di ubun-ubun eh gak dilanjutin hihi sakiiit ya Rel.
"Siapa yang ngizinin kamu buat nyentuh aku?" ujar Sofia.
Farrel mengusap wajahnya.
"Ok, maaf." Farrel beringsut kembali ke kasur miliknya.
Biasa aja dong muka kamu Rel ditekuk gitu.
Sofia bernafas lega kemudian merebahkan diri dan memakai selimutnya.
"Kapan kita bisa melakukannya?"
Hah?
"Melakukan apa?"
Sofia bingung.
"Enggak jadi, selamat tidur!" ucap Farrel ketus.
Mereka pun akhirnya terlelap setelah drama action dan drama romantis dilalui.
---------------------
Keesokan paginya, Uwa bersama dengan Ustadz Ahmad dan Siti datang berkunjung.
Mereka ke sana untuk memberi kejutan pada Farrel yang ternyata tengah berulang tahun.
Dan kini mereka tengah berkumpul di ruang tamu, duduk beralaskan karpet mereka semua bercanda ria.
"Tuh Rel kamu semakin tua, buruan punya anak!"
Perkataan Uwa barusan membuat Farrel dan Sofia saling berpandangan.
Jangankan punya anak dijebol aja belum. Eh otakku.
"Terus harapan kamu setelah ini apa Rel?" tanya Ustadz Ahmad.
Farrel terdiam sejenak kemudian mulai bicara.
"Aku ingin menjadi suami yang baik untuk Sofia."
Hening.
"Harus itu, ayo makan kuenya." Uwa seakan mengerti dengan situasi kemudian memecah kesunyian.
Sementara Farrel dan Sofia masih betah saling pandang.
Hadeeuh nanti kehabisan kue woii.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yang manis aja dulu, yang pahitnya nyusul hihi.
__ADS_1