
Hulliyah tadi menemaniku sampai sore, membantu memomong Mima, memandikannya, bahkan menyuapi Mima. Agak aneh sebenarnya, ah aku tidak ambil pusing. Lumayan terbantu dengan adanya Hulli, bagiku dia lebih dari seorang sahabat sikapnya yang dewasa kadang membuatku merasa punya kakak perempuan.
Eh tapi Hulli lebih muda dariku, kenapa dia bisa sedewasa itu ya?
Sedikit khawatir juga, tadi Hulli meninggalkan Pesantren agak lama. Takutnya Hulli dihukum sama Mama Haji. Oleh karena itu aku memaksanya agar kembali ke Pesantren, walaupun dengan perdebatan perang kata terlebih dahulu. Akhirnya Hulli kembali ke Pesantren.
----------------------
Selepas Hulli pergi, A Zam pun pulang.
Uh kasihannya suamiku pasti lelah, untungnya Khalila sudah tertidur jadi aku bisa sekedar mengambilkan air minum untuknya.
Guratan lelah tertangkap jelas pada raut wajah A Zam, dia mendudukan dirinya di kursi meja makan.
"Tadi Mima sama Lila ngamuk A."
Boleh dong aku mengadu.
A Zam mengambil gelas yang kuletakkan di atas meja makan itu, meminum airnya sedikit demi sedikit sebelum akhirnya melihat ke arahku yang sedang menyuapi Mima di sampingnya.
"Tumbenan ngamuk? Kenapa?"
A Zam mengambil Mima dan mendudukkan Mima di pangkuannya.
"Tanya tuh Mima! Hayyo loh Mima bicara sama Ayah, ayo!" kataku dengan nada yang dibuat-buat.
Zamima hanya tersenyum-senyum tanpa merespon pertanyaan kami.
Bercanda ria di meja makan adalah suatu kebahagiaan untukku. Seolah menjadi obat tersendiri setelah seharian ribet mengurusi dua anak perempuan.
Bagiku asalkan suami dan anak-anakku ceria aku pun bahagia.
Terimakasih Tuhan.
-------------
Keesokan harinya aku memutuskan untuk bermain ke Pesantren. Setelah beberapa kali Bi Haji selalu mendesak supaya kami berkunjung, akhirnya kini aku meluluskannya.
Aku menyusuri jalanan hotmix ini dengan mendorong sepeda roda tiga yang ditumpangi Mima. Jangan tanya Lila! Tentu aku menggendongnya dengan kain.
Ah aku terlihat menyedihkan tidak sih?
Terlebih dari tadi tetangga yang kulewati seperti berbisik-bisik. Ah menyebalkan sekali.
Aku menpercepat langkah supaya terhindar dari penyakit hati, benci, kesal beserta teman-temannya.
-----------
Berjalan mempertaruhkan harga diri, melesat menghilangkan kesal. Akhirnya aku tiba di gerbang Pesantren.
Ah ya ampun aku selalu rindu tempat ini, meskipun jarak rumah ke sini dekat tapi sudah lama aku tak ke Pesantren. Aku terlalu sibuk dengan keluarga kecilku, aku lebih betah di rumah jarang sekali aku menginjakkan kaki lebih dari lima langkah dari rumah.
Walaupun ini siang hari, sayup-sayup ku dengar para santri sedang menghapal kitab jurumiyah.
Aih...semakin besar rinduku mengingat masa lalu, apa daya waktu tak bisa terulang.
Aku melanjutkan langkah menerobos beberapa santri yang berlalu lalang, sesekali ada yang menyapa aku terus berjalan. Terlihat di depan sana Bi Haji tengah berbincang dengan santriwati di teras madrasah.
Senyum merekah di bibir Bi Haji kala melihatku.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
Setelah menurunkan Mima dari sepedanya, aku memberi salam pada Bi Haji kemudian menghampirinya.
"Waalaikumsalam, eh cucu-cucu nenek."
Seperti biasa, Mima berlari merangkul Bi Haji. Ih anak itu, mirip siapa si perasaan aku mah kalem hihi.
Bi Haji mengajakku ke rumahnya, kebetulan Mama Haji sedang pergi ke Sumedang menghadiri pernikahan salah satu santri jadi kami bebas mengobrol ala wanita.
Mima bermain di luar bersama santri-santri, sementara Lila kalem tidur di karpet bulu milik Bi Haji.
Aku?
Serius nanya aku?
Ya tentu aku duduk di kursi bersama Bi Haji. Kami mengobrol tak tentu arah, ini kesenangan buatku.
Aku menyesal tidak dari kemarin main ke sini.
"Eh iya Nim, Ibi sempat ketemu Ustadz Zam di pasar. Emang sekarang suami kamu ngurus panti juga?"
Pertanyaan Bi Haji sedikit mengusikku.
A Zam gak pernah bilang bertemu dengan Bi Haji deh.
"Kebetulan Yayasan Panti Asuhannya satu lingkungan dengan mesjid yang didirikan A Zam Bi."
"Oh iya, pemiliknya neng Hannah ya? Waktu ketemu di Pasar, neng Hannah juga di sana."
Perkataan Bi Haji membuatku sedikit tersentak namun berusaha kututupi.
A Zam kok gak bilang pergi dengan Hannah? Ah coba nanti aku tanya deh.
-----------------------
Puas berbincang dengan Bi Haji, aku memutusksn keluar mencari Mima. Aku meninggalkan Lila yang masih tertidur.
"Mima dibawa Hulliyah ke kobongnya." kata santri yang tadi bersama Mima.
Aku menyusul Mima ke kobong Hulliyah. Setibanya di sana ku dapati Mima yang sedang mencoret-coret kertas di atas kasur Hulli.
Sementara Hulliyah terlihat sedang membaca buku di sampingnya.
"*Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, masuk Nim!" kata Hulliyah.
"Ibu...."
Suara Mima melengking ketika melihatku.
"Maaf tadi aku nyulik Mima gak bilang-bilang." cengir Hulliyah.
Aku mencebik kesal lalu memberikan tatapan menusuk.
"Jangan diulangi ah!"
Dih, Hulliyah makin memperlebar cengirannya.
__ADS_1
Akhirnya kami duduk di depan kobong, setelah tadi Mima merengek minta keluar.
Mima melanjutkan kegiatan bermainnya tak jauh dariku dan Hulli.
"Nimas, aku boleh nanya sesuatu gak?"
Hulliyah kok aneh, tiba-tiba wajahnya serius begitu.
"Apa si?"
"Kamu sama Ustadz Zam...eh maksudku apa Ustsdz Zam sibuk banget belakangan ini?"
Aku menoleh ke arah Hulli, eh kok wajahnya makin serius?
Ada apa si?
"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"
"Ah en-nggak...cuma ingin tahu."
Eh kok Hulliyah gugup?
"Oh aku tahu, kamu nanyain jadwal A Zam biar tahu jadwal Haqi ya?"
Pasti seperti itu. Haha polos banget kamu Li.
Ternyata Hulliyah mengangguk cepat, uh sudah kuduga.
"Jadwal A Zam masih seperti biasa kok Li, cuma kalau hari jumat emang agak sibuk dia. Soalnya hari jumat A Zam suka ke Panti."
"Kenapa kamu gak ikut ke panti aja?"
Aku mengerutkan kening mendengar pertanyaan Hulliyah, sampai kemudian aku merasa geli dan tertawa.
"Aku sungguh-sungguh Nimas! Kamu harus jagain suami kamu supaya tidak dekat-dekat dengan wanita lain!"
Hah?
Seketika aku diam, kutatap sekali lagi wajah Hulliyah penuh keseriusan di sana.
"Maksud kamu?"
Hulliyah nampak salah tingkah dan menggigit bibirnya.
"Emm...anu...sebenarnya waktu di Forum, aku ketemu Ustadz Zam pergi bareng Hannah. Terus di pasar Neli ketemu Ustadz Zam sama Hannah."
Aku tertegun, entahlah aku harus bersikap seperti apa.
"Kamu jangan hanya sibuk di rumah! Membiarkan suami kamu nyaman dengan orang lain, bertindak sebelum terlambat Nim!"
Perkataan Hulliyah barusan begitu menohok, aku seperti ditampar, hatiku seakan tertusuk.
Apa iya A Zam akan nyaman dengan wanita lain?
Bila diingat-ingat semenjak Khalila lahir, A Zam memang jadi lebih sibuk di luar rumah. Kadang kami bertemu hanya di malam hari.
Lebih sering kulihat wajah lelahnya daripada wajahnya yang berseri.
Apa mungkin?
__ADS_1