Love In Pesantren

Love In Pesantren
Pingsan


__ADS_3

"Tidak ada yang mengizinkan kamu menginjakkan kaki di sini!"


Suara yang bersumber dari arah rumah itu membuat Haqi terpaku.


Ayah Hulliyah keluar dari dalam rumah dengan angkuhnya. Ayah Hulliyah berjalan mendekati Haqi yang masih tercenung tanpa beranjak dari tempatnya berdiri.


"Untuk apa kamu datang?" tanya ayah Hulliyah.


"Saya dengar Sypa sakit, saya ingin bertemu dengannya." jawab Haqi.


"Sebaiknya kamu pulang! Sampai kapanpun saya tidak akan mengizinkan kamu bertemu dengan anak saya."


Sang ayah kemudian masuk ke dalam rumah diiringi adiknya Hulliyah.


Haqi masih tertegun di tempatnya tak beranjak sedikitpun. Haqi tidak ingin pulang, tetapi dia juga tidak bisa bertemu dengan istrinya.


"Nak, mari ke rumah Kakek!"


Seorang kakek tiba-tiba mengajak Haqi untuk beristirahat. Sepertinya sang kakek merasa iba melihat Haqi yang terlihat kelelahan.


Haqi mengikuti langkah sang kakek menuju rumah sederhana miliknya. Rumah yang masih berlapis anyaman bambu sebagai dinding itu terlihat rapuh. Rumah yang kebetulan terletak tepat di samping rumah Hulliyah itu menjadi satu-satunya rumah yang masih berbentuk panggung.


Haqi masuk ke dalam rumah itu, sedikit sungkan karena Haqi baru saja mengenal sang pemilik rumah.


"Kakek tinggal sendiri di sini?" tanya Haqi.


Matanya mengedar kesetiap inci ruangan yang mampu dijangkaunya.


Sang kakek duduk setelah membawa satu poci berisi air putih dan satu gelas yang terbuat dari stainless. Sang kakek menuang air ke dalam gelas kosong tersebut dan menyodorkannya kepada Haqi.


"Seminggu ini, Kakek memang tinggal sendiri. Sebelumnya Kakek tinggal bersama istri Kakek."


"Lantas kemana istri Kakek seminggu ini?" tanya Haqi.


"Istri Kakek sudah lebih dulu pergi, sekarang dia sudah punya rumah baru yang lebih bagus." Seulas senyum diberikan sang kakek kala bercerita.


"Maksud Kakek?" Haqi merasa tidak mengerti dengan ucapan sang kakek.


"Istri Kakek meninggal dunia seminggu yang lalu."


Haqi sedikit tersentak dengan ucapan Kakek tersebut.


"Innalillahi, maaf Kek." Haqi sangat tidak enak membahas tentang hal itu.


Sang kakek menggeleng pelan kemudian berkata, "Ayahnya Lia memang keras Nak, tetapi beliau berhati baik. Lambat laun pasti akan luluh juga dengan kegigihanmu melembutkan hatinya."


Haqi hanya mengangguk sambil tersenyum tipis menanggapi ucapan sang kakek yang berhasil mengalihkan pembicaraan.


Sore itu Haqi mengobrol banyak dengan sang kakek.


Haqi pun memutuskan untuk menginap di rumah sang kakek karena hari mulai gelap.

__ADS_1


-------------


Haqi ikut berjamaah solat magrib dan isya di mushola yang ada di kampung itu. Haqi bertemu dengan ayah mertuanya, namun tidak saling menyapa.


Ayah Hulliyah merasa benar-benar kecewa kepada Haqi yang dia anggap sudah menodai kepercayaannya.


Haqi hanya bisa berdoa disetiap sujudnya semoga semua jalannya dipermudahdan segera ada jalan keluar.


Setelah pulang ke rumah sang kakek, Haqi langsung beristirahat di sebuah kamar yang disiapkan sang kakek khusus untuk tamu.


Sebuah ruangan yang cukup pengap tanpa adanya jendela yang bisa dibuka akan menjadi tempat Haqi beristirahat malam ini.


Di sisi dinding ada kaca transparan yang bisa digunakan untuk sekedar memberikan cahaya pada kamar itu kala siang tiba.


Haqi berjalan menuju jendela yang tidak tertutup tirai itu. Haqi mengusap sedikit debu yang menempel pada kaca itu.


Pikirannya melayang, sedang apakah Hulliyah?


Haqi hampir menyalahkan matanya ketika terlihat di seberang sana, Hulliyah membuka jendela kamarnya. Hulliyah terlihat melamun di depan jendelanya.


Ternyata kamar yang di tempati Haqi berada persis di depan kamar Hulliyah.


Ingin sekali Haqi memanggil Hulliyah, tetapi keadaan tidak memungkinkan. Haqi merasa seperti terkurung di kamar pengap itu.


Akhirnya yang dilakukan Haqi adalah memandangi Hulliyah dibalik kaca kecil itu.


Melihat Hulliyah yang sedang melamun dengan tatapan kosongnya, Haqi terenyuh menyaksikannya. Haqi tidak lelah memandangi istrinya itu sampai tiba-tiba raut wajah Hulliyah berubah.


Haqi berlari keluar rumah itu dan mendekati Hulliyah. Haqi tiba di depan jendela yang tadi dibuka oleh Hulliyah. Haqi melihat Hulliyah yang pingsan dan jatuh begitu saja tanpa sebab.


"Sypa ... kamu kenapa? Bangun!"


Lirih Haqi berkata.


Haqi pun berlari ke depan rumah Hulliyah mengetuk pintu itu.


Saat pintu terbuka, nampak sang ayah yang mwmbukakan pintu.


"Assalamualaikum ... Pak."


"Mau apa kamu kemari?" kata ayah Hulliyah.


Haqi yang sedang dilanda kepanikkan sebenarnya ingin menerobos masuk, namun dia tahu itu akan memperburuk keadaan.


"Saya melihat Sypa pingsan di kamar Pak."


Sang ayah terlihat sangat kaget dengan cepat menutup pintu supaya Haqi tidak bisa masuk.


Haqi menghela napas panjang kemudian berjalan menuju jendela kamar Hulliyah.


Setibanya di jendela itu Haqi begitu khawatir, apalagi ketika melihat Hulliyah tidak kunjung bangun walaupun sudah dibangunkan oleh sang ayah dan ibunya di dalam sana.

__ADS_1


Haqi merasa menjadi suami yang tidak berguna, Haqi tidak bisa berbuat apa-apa melihat istrinya pingsan.


"Lia ... bangun Li!"


Sang ibu terlihat panik.


"Biarkan saya masuk!" kata Haqi.


Sang ayah menoleh dan mendelik tajam, kemudian berjalan mendekati jendela.


Sang ayah menutup jendela itu tanpa kata, Haqi hanya bisa memejamkan matanya untuk meredam kemarahan yang mulai bergolak dalam jiwanya.


Haqi terus beristigfar dalam hati supaya syetan tidak mengambil alih raganya. Haqi hanya berharap Hulliyah cepat sadar.


Haqi berjalan lemas menuju rumah sang kakek, menanti kabar tentang Hulliyah. Haqi duduk pada bangku kayu sederhana di depan rumah sang kakek.


Hatinya sungguh kacau saat ini, Haqi menjenggut rambutnya sendiri. Sungguh Haqi membenci keadaan ini.


Tiba-tiba saja kegaduhan terdengar di rumah Hulliyah. Sang ayah nampak keluar rumah dan mengeluarkan motornya. Haqi menghampiri dengan cepat.


"Bagaimana keadaan Sypa, Pak?


Sang ayah menutup mulutnya rapat tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Haqi.


Setelah mengeluarkan motornya, sang ayah kembali masuk ke dalam rumah. Entah keberanian dari mana Haqi ikut masuk melalui pintu yang dibiarkan terbuka itu.


Haqi mengikuti mertuanya yang masuk ke dalam kamar Hulliyah. Sang ayah nampak kesulitan saat akan mengangkat tubuh Hulliyah yang kini berada di punggungnya.


"Biarkan saya menggendongnya!"


Haqi masuk begitu saja kemudian meraih tubuh Hulliyah dan mengangkatnya.


"Turunkan anak saya!" kata ayah Hulliyah.


"Saya yang lebih berhak tentang anak Bapak. Saya harap Bapak diam untuk saat ini!"


Haqi mengeraskan suaranya kemudian membawa Hulliyah keluar kamar diikuti sang ibu.


"Mau dibawa kemana Sypa Bu?" tanya Haqi.


"Ke Dokter Ramlan, Nak. Tetapi jaraknya lumayan jauh."


"Terus Bapak mau membawa Sypa dengan motor?" tanya Haqi.


Mereka kini berada di teras rumah, sang ayah dengan cepat menyalakan motornya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2