Love In Pesantren

Love In Pesantren
Anak sholeh


__ADS_3

Pagi ini, Hulliyah berangkat menjalani hukuman yang diberikan kepadanya. Diantar supir, Hulliyah sampai lebih cepat dibanding yang lain. Suasana gedung tempat acara masih sepi belum banyak yang datang.


Hulliyah mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang sudah berjejer.


Huh ... masih sepi, untung bawa buku ini.


Hulliyah mengeluarkan sebuah buku yang tidak terlalu tebal di dalamnya berisi tentang kumpulan cerita-cerita pendek.


Hulliyah membaca dengan seksama buku tersebut sampai-sampai dirinya larut dalam keasikan tersendiri.


Hulliyah bahkan tidak menyadari kalau orang-orang sudah datang hampir memenuhi ruangan tersebut.


Saat sang Moderator mulai membuka acara, barulah Hulliyah duduk tegap dan menyimpan bukunya ke dalam tas.


Hulliyah memusatkan perhatiannya ke arah depan. Namun, ada sesuatu yang mengganggu penglihatannya. Hulliyah melihat sosok yang dikenalnya sebagai suami dari Nimas.


Ustadz Zamzam nampak tengah berbicara dengan seorang wanita, Hulliyah tahu wanita itu.


Hannah, wanita yang dulu hampir menghancurkan rumah tangga sahabatnya. Lalu, ada urusan apa mereka pergi bersama ke forum ini?


Mata Hulliyah memicing tajam memperhatikan Ustadz Zamzam yang masih sibuk berbicara dengan Hannah.


Kenapa mereka ada di sini?


Apa Nimas tahu?


Pikiran Hulliyah menerka-nerka apa yang sebenarnya ada di hadapannya saat ini. Sampai saat pengamatannya terputus kala salah seorang panitia FASI di kotanya naik ke atas panggung. Memberikan kata sambutan.


Hulliyah menyingkirkan sejenak jiwa detektifnya dan fokus pada acara.


--------------------------


Sebelum pada inti acara, perwakilan dari panitia FASI memberikan sedikit sambutan serta tausiyah.


Salah satu tema yang diangkat adalah seputar bagaimana keutamaan anak-anak sholeh yang berpedoman pada QS. Al-Kahfi: 26.


Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan sholeh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhan serta lebih baik untuk menjadi harapan.


Hmm berarti anak sholeh merupakan tabungan buat bekal di akhirat ya.


Bahkan ada hadist yang mengatakan bahwa 'apabila seorang meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholeh'.


"Mari kita mencetak anak-anak yang sholeh dengan FASI sebagai sarana, semoga ke depannya anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh. Ada tujuhbelas cabang lomba, satu diantaranya adalah Tartil TKQ dan TPQ. Cakupannya mulai dari anak Tk, silahkan setiap Sekolah maupun Pesantren dipersiapkan wakil-wakilnya anak-anak yang sekiranya kompeten mari kita tampilkan. Lomba diadakan pertama ditingkat Kecamatan, kemudian Kabupaten, dan akan berakhir pada tingkat Nasional."


Begitu sambutan yang diberikan oleh panitia, Hulliyah menyimaknya dengan seksama.


-------------


Tibalah saatnya setiap perwakilan Pesantren mendaftarkan nama Pesantren mereka masing-masing, dan saat itulah Ustadz Zamzam menyadari kehadiran Hulliyah.


Sang Ustadz sedikit terkesiap, mungkin dalam hatinya berkata duh Hulli bocor enggak yaa? hihi.

__ADS_1


"Hulli di sini juga?" tanya Ustadz Zamzam.


"Wakilin Pesantren Stadz. Eh Ustadz Zam ko bisa di sini?"


Hulliyah berbicara sambil melirik ke arah Hannah yang kebetulan ada di samping Ustadz Zamzam seolah bertanya akan keberadaan Hannah di sana.


"Mm iya, saya menemani Hannah ke sini. Hannah mendaftarkan perwakilan dari sekolah Tk yang ada di Panti."


Hulliyah mengangguk-angguk seolah mengerti namun hatinya masih meraba-raba apa yang terjadi.


Hannah pun tersenyum sembari menyodorkan tangannya, uh ingin rasanya Hulliyah menerkamnya.


Sabar Li sabaar.


"Oh iya Stadz mari kita pergi!" ucap Hannah tanpa berbasa-basi pada Hulliyah.


"Hulli yuk kita bareng!" ajak Ustadz Zamzam.


Belum sempat Hulliyah menjawab, Hannah terlebih dulu menyelanya. "Mobilnya gak mungkin muat Stadz, itu guru-guru yang ikut bagaimana?"


Ustadz Zamzam menepuk jidatnya, eh aku lupa Li, tadi kami rombongan ke sininya. Duh jadi gimana ya?"


Ah Ustadz Zam mah memberi harapan palsu.


"Enggak apa-apa ko Stadz, saya diantar supir." timpal Hulliyah.


"Syukurlah, kalau begitu kami duluan."


Saat sang Ustadz berlalu, mata Hulliyah tak mengalihkan pandangannya yang mengiringi setiap langkah Ustadz Zamzam sampai sosok itu menghilang di balik pintu keluar.


Duh kasihan Nimas, kalau aku bilang-bilang sama dia nanti kepikiran. Aku musti gimana ya?


Sepanjang perjalanan pulang Hulliyah terus memikirkan bagaimana baiknya harus bertindak. Seakan dirinya tak memiliki masalah, Hulliyah lebih takut Nimas menderita.


Hulliyah seakan lupa akan masalahnya sendiri dan berlarut memikirkan Nimas.


----------------


Dua hari setelah acara itu Hulliyah masih belum bisa menemui Nimas. Hulliyah juga tidak bisa menghubunginya karena ponselnya disita.


Siang ini secara kebetulan Haqi datang meninjau proyek barunya. Hulliyah yang melihatnya senang bukan main. Entah karena rindu atau karena ingin bertanya mengenai Ustadz Zamzam.


Maka dari itu, Hulliyah meminta izin Mama Haji supaya diizinkan mengobrol bersama suaminya.


Duh ribet amat, ingin ngobrol dengan suami saja musti izin dulu ckck.


Haqi sedikit terkejut ketika Hulliyah mengajaknya masuk ke dalam kobong. Otak dewasanya mendadak mengingat perkataan Ibu mertuanya. Haqi menjadi gugup sendiri, sibuk dengan pikiran anehnya.


Duh Haqi rindu berat sepertinya haha.


--------------

__ADS_1


Ketika pintu kobong ditutup oleh Hulliyah, kegugupan menyergap diri Haqi. Tubuhnya kaku berdiri, matanya mengikuti gerak tubuh sang istri yang sudah terduduk di tepian kasur lantai tempat dimana Hulliyah biasa tidur.


"Sypa sendiri di kobong ini?"


Hei, pertanyaanmu Bang hihi.


"Berdua sama Neli, tapi sekarang orangnya lagi ke Pasar nganter Bi Haji," jawab Haqi.


"Apa enggak apa-apa saya masuk kesini?"


Ciee Haqi gugup ciee.


"Tadi aku udah minta izin Mama. Kakak duduk sini! Ada yang ingin aku bicarakan."


Haqi melangkah dengan ragu, duduk di sebelah Hulliyah sedikit canggung bagi mereka memang. Namun Hulliyah butuh Haqi untuk saat ini.


"Jadi gini Kak, Ustadz Zam kalau di luaran itu gimana si?"


Hulliyah terang-terangan bertanya mengenai Ustadz Zamzam.


"Maksudnya?"


Haqi kebingungan menentukan arah pembicaraan Hulliyah.


"Dua hari yang lalu aku bertemu Ustadz Zam di Forum sama Hannah. Kakak kenal Hannah 'kan?"


Haqi hanya mengangguk, dirinya tak fokus sedari tadi memperhatikan wajah Hulliyah dari dekat.


"Apa Ustadz Zam sering bertemu Hannah?"


Pertanyaan Hulliyah menyadarkan Haqi seketika. Haqi mengerjap mengusap wajahnya salah tingkah.


"Kakak tidak tahu." jawab Haqi.


Hulliyah mencebik sambil memutar bola matanya jengah.


"Ah Kakak sahabatnya pasti menutupi kesalahan Ustadz Zam."


Haqi terkejut dengan perkataan Hulliyah kemudian menatap Hulliyah sekali lagi, sebelum akhirnya memegang kedua bahu Hulliyah mencengkramnya pelan, menghadapkan Hulliyah supaya menatap wajahnya.


"Dengerin Kakak! Ustadz Zam orang baik tidak mungkin berbuat hal yang tidak terpuji. Satu lagi, Ustadz Zam sangat mencintai istrinya. Sama seperti Kakak yang mencintai Sypa."


Perkataan Haqi membuat Hulliyah terkesiap, Hulliyah menatap kedua mata teduh Haqi mencari tahu kebohongan di dalamnya.


Mana mungkin bisa mencintai dalam waktu singkat? Berbohongmu jangan berlebihan Kak.


"Kakak sangat mencintai kamu, istriku."


Hulliyah masih mematung dan diam, membiarkan wajah Haqi yang makin mendekat kemudian mendaratkan kecupan hangat tepat di pelipisnya.


Hal itu dilakukan Haqi sangat lama, satu, dua, tiga, author menghitung menitnya.

__ADS_1


Haqi melepas kecupannya, kemudian menatap Hulliyah sangat dalam. Wajah Haqi kembali mendekat, sampai pintu kobong itu terbuka lebar.


Haqi dan Hulliyah sontak menoleh, terlihat di sana Neli menjatuhkan buku yang sedang dipegangnya, melotot sambil membuka mulutnya, nafasnya tercekat kaget, canggung dan malu bergumul di dalam kobong itu.


__ADS_2