
Seperti yang sudah ku bilang semalam, akhirnya hari ini aku bisa pergi ke toko kitab langgananku dulu. Tempat dimana aku pernah bertemu dengan Farrel dulu.
Tak ku sangka tak kuduga, Farrel mau mengantarku. Alasannya sih dia juga lagi mau nyari buku. Ya sudahlah yaa aku ajakin, lumayan juga aku ga perlu keluar ongkos.
Setibanya di toko ini, aku harus berkali-kali tutup telinga karena berbagai umpatan Farrel di tempat parkir. Mulai dari parkiran sempit lah, ada sepeda halangin lah. Duh ribet nih orang, kalau bukan suami udah aku sumpal mulutnya dari tadi.
Tak jauh dariku, aku melihat mobil Mama terparkir di sana, aku lihat juga Pak supir yang dulu biasa mengantarku kalau mau belanja kitab.
Aku tinggalkan Farrel yang masih sibuk memberengut kesal itu.
"Assalamualaikum, siapa yang belanja Pak?"
Pak Supir nampak terkejut, hihi maaf Pak. Ngelamunin apa sii?
"Waalaikumussalam, eh neng Sofia di sini juga?"
Aku mengangguk sambil sedikit meringis karena ga enak hati telah mengagetkannya.
"Neng Hulliyah baru aja masuk neng."
Hulli?
Ah aku kegirangan, akhirnya aku masuk tanpa aba-aba setelah berpamitan tentunya.
Mataku berkeliling mencari sosok Hulliyah. Dan, yes. Aku mendapati Hulliyah tengah sibuk memilah-milah kitab yang akan dia beli.
"Hulliiiiii.." Pekikku sedikit berbisik lari-lari kecil dong aku.
Hulliyah pun sama girangnya ketika melihatku.
Duh kan baru kemarin ketemu, tapi tingkah kami seperti yang tidak ketemu bertahun-tahun.
Akhirnya apa yang aku lakukan coba tebak?!
Ya, aku malah lupa akan tujuan awalku ke toko ini. Aku malah sibuk membantu Hulliyah.
Sampai seseorang membuatku tersadar.
"Bagus yaa, aku cari kemana-mana. Malah mojok di sini."
Sontak aku dan Hulliyah menoleh pada arah suara itu. Aku mendapati Farrel sedang bersidekap dada memandangku dengan tatapan tak bersahabat.
Hulliyah mencubitku pelan. Iyaa Hulli aku tahu ini bencana, sabaar.
"Hehe, aku lupa ada kamu."
Nyengir aja sudah.
Lihat itu wajahnya kesal begitu tapi membuatku ingin tetawa di buatnya.
"Udah dapat bukunya?"
Aku alihkan perhatiannya, setidaknya mampu meredam kekesalannya padaku.
Tuh kaan dia ga jawab. Bodo.
------------
Agak lama aku membantu Hulliyah, meski ku tahu Farrel pasti sedang mengumpat dalam hatinya. Idih emang aku peduli apa?
Meski wajahnya di tekuk, tapi Farrel masih berbaik hati membantu kami membawa kitab-kitab ini ke mobil.
__ADS_1
Sebenarnya dia tuh orang baik, tapi yaa gitu deh orangnya gengsian huh.
Sewaktu kami sibuk di kasir, dengan sangat kebetulan ada Ustadz Zamzam yang baru saja masuk ke dalam bersama seorang temannya.
Temannya cowok looh, lumayan keren juga. Isshh Sofi istighfar.
"Kalian di sini?"
Yaa begitulah sapaan Ustadz Zam setelah tadi memberi salam.
"Iya, kebetulan ketemu Stadz." jawabku singkat.
"Kalau begitu, gimana kalau kita makan siang dulu? Jarang-jarang nih bisa makan bareng."
Eh.
Ko jadi begini sii acaranya.
"Loh bukannya Ustadz baru datang ke sini?"
"Emang baru datang, tapi ngeliat kalian ko sepertinya lebih enak makan dulu sebelum beli buku. Iya gak Qi?"
Isshh alasan macam apa itu, Nimas lihat nih suami kamu.
Tadi dia manggil nama temannya Qi? Qi apa yaa kira-kira?
Hmm ko aku jadi kepo begini hihi.
"Siapa Stadz?"
Hei Qi, aku bisa denger yaa ga usah bisik-bisik.
"Astaghfirulloh lupa, kenalin ini temenku Muhammad Haqi. Panggil aja Haqi, iya kan Qi?"
"Mereka berdua soulmatenya istriku."
Ck bahasamu Stadz.
Orang yang bernama Haqi itu tersenyum ramah.
Tunggu deh.
Aku perhatikan kenapa dari tadi si Haqi liatin Hulliyah terus ya. Hmmm jangan-jangan sang jomblowati mulai ada yang lirik nih hihi.
Tak lama Farrel menghampiri kami dengan wajah datarnya dia menjabat tangan Ustadz Zam dan temannya. Tapi kenapa ya Farrel dengan mantapnya menerima tawaran Ustadz Zamzam untuk makan siang bersama, entah apa motifnya yang jelas aku dan Hulli ga bisa nolak.
---------------------
Di sinilah kami akhirnya di sebuah rumah makan tak jauh dari toko kitab.
Aku duduk diapit Hulliyah dan juga Farrel. Ini perasaanku saja atau memang saat ini Farrel sedang mencoba untuk terus berdekatan denganku.
Ih apa coba maksudnya?
Sementara di sisi lainnya, Ustadz Zam, Haqi dan Pak supir sudah duduk dengan tenang.
"Kalian jangan bilang Nimas yaa kalau kita makan di tempat seperti ini !! Bisa-bisa temen kalian ngambek sama aku. Secara aku belum sempat ajakin dia ke tempat seperti ini."
Duh, sayang banget tadi aku gak rekam tuh omongan Ustadz Zamzam.
Eh dari tadi Hulli ko diam saja ya. Maklum dia emang pendiam terlebih kalau ada orang yang baru dia kenal. Memang begitulah karakternya, bergaul selama sepuluh tahun lebih membuat aku tahu berbagai sifat dan kelakuan keempat sahabatku.
__ADS_1
Tapi gak nunduk terus juga kali, Hulli.
Eh mungkin dia sedang menjaga pandangannya supaya tidak bersitatap langsung dengan Haqi. Duh itu orang beneran deh sepertinya feelingku. Dia tertarik sama Hulliyah hmm.
----------------
Setelah acara makan siang usai, kami pun berpisah dan melanjutkan tujuan kami masing-masing.
Aku kini berada dalam mobil untuk pulang.
"Ko Nimas bisa ya dapat suami seperti itu?"
Farrel ngomong apa?
Mungkin dia belum sepenuhnya move on dari Nimas.
Aku memilih tak menanggapi perkataannya.
"Kamu denger ga sih, aku ngomong."
Mulai kan dia tuh. Marah-maraaah aja kerjaannya.
"Denger ko, aku denger. Terus aku harus jawab apa?"
"Ya, ya apa ke tanggapin."
Haha dia gugup, susah jawab kan.
"Daripada kamu pusing mikirin sesuatu yang membuat hati panas, mendingan kamu bersiap setelah ini kita mulai belajar baca iqro."
Farrel membuang pandangannya ke arah samping untuk sekedar melihat kaca spion. Aku tahu dia jengah dengan ucapanku. Hadapi aku kalau kamu mampu Farrel.
"Satu lagi, aku bukan guru yang baik looh. Jadi siap-siap aja nanti aku marahin kamu kalau kamu ga bisa-bisa."
Matanya menoleh ke arahku dengan malas. Haha, lagi-lagi aku merasa menang dari Farrel.
Sesampainya di rumah, kami langsung berjamaah sholat dhuhur. Duh ini syahdu banget ku fikir. Tapi entahlah bagaimana fikiran Farrel.
Setelah sholat ku bawa iqro yang tadi ku beli. Farrel sempat mau protes katanya ngantuk, yaa aku keluarin dong senjataku yang membuat Farrel nurut juga.
Pertama-tama aku ajari dia huruf hijaiyyah. Yah beginilah beda rasanya ngajar anak tk sama ngajar anak tua, eh.
Sebel deehh Farrel kebalik mulu antara BA dan NA, jelas itu beda ck.
Kalau cabe rawit udah aku ulek kamu tuh. Greget aku.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
#Haha makin ngaco ga sih aku nulis? (author)