
Hari ini tepatnya hari jumat, aku janjian bersama Hulliyah dan Sofia untuk ketemuan dengan Siti di sebuah cafe.
Ga apa-apa ya sesekali kami santri main di cafe hehe biar gaul dikit.
Rista memilih gak ikut, alasannya tak enak padaku. Lah aku nya aja biasa, kamu baper Rista. Ckck.
Sesampainya di cafe, kami celingukan mencari keberadaan Siti yang katanya sudah menunggu di dalam.
Jujur, aku ga nyaman berada di sini maklum biasanya aku mainnya di tukang bakso pinggir jalan.
Jangan salahkan aku ya, kalau aku terkesan kampungan haha.
--------------------------
Setelah aksi saling dorong masuk cafe, akhirnya Hulliyah yang kalah dia berjalan duluan.
Kami berjalan perlahan sambil mengamati setiap pengunjung yang ada di sana. Dan benar kami melihat Siti di meja dekat jendela kaca sedang melambai-lambaikan tangannya ke arah kami.
Ternyata Siti tak sendirian, dia bersama suaminya yaitu Ustadz Ahmad dan satu lagi seorang pria.
Tapi rasa-rasanya aku pernah bertemu dengannya, ah peduli amat yang penting aku ketemu Siti sekarang.
Kami bertiga segera manghampiri meja Siti. Kami meluapkan rasa kangen ini dengan saling berpelukkan, tak memperdulikan kedua lelaki yang ada di sana.
Kami pun kini telah duduk di sana, Siti memperkenalkan pria asing yang ada di tengah-tengah kami itu sebagai sepupu dari Ustadz Ahmad yang kebetulan ada di cafe itu dan bergabung akhirnya.
__ADS_1
"Kenalkan ini Farrel."
Siti jadi moderator deh ah kesannya.
Kami pun saling mengenalkan nama masing-masing.
"Nimas, temannya Siti."
Tanpa menatap aku berkata, sungguh canggung rasanya.
"Saya sudah tahu, kita kan sudah dua kali ketemu dan ini ketiga kalinya."
Eh, nafasku tercekat kemudian memandangnya dan memang rasanya aku pernah bertemu tapi dimana aku lupa. Ah sudahlah tidak penting.
Kami para wanita sibuk mengenang masa di pesantren dulu, para pria itu anggap saja meja haha..
Aku mengernyit, buat apa sii nomor?
"Itu, biar saya bisa menghubungi kamu dan mengembalikan pin kamu."
Oh iya ini pria yang di pasar, aku baru inget. Hadeuh pin lagi pin lagi..
"Sudah saya bilang buang saja, saya tidak butuh lagi."
"Kalian ngomongin pin apa si?" Siti mulai kepo deh.
__ADS_1
"Pin yang ada namanya, Nimas kebetulan aku menemukannya. Mau dibalikin katanya ga usah."
"Wah Nim kamu jahat, itu kan bross kenangan kita."
Yah terpojok kan aku.. Tepuk jidat dulu deh.
Dengan terpaksa aku memberikan nomorku.
--------------------------------
Di tengah obrolan kami yang asik, Sofia berbisik padaku, "Nim, lihat di meja itu Nim!!"
Apa sii Sof kamu tuh ganggu momen aja deh.
Aku pun mengalihkan pandangan ke arah meja yang ditunjuk Sofia. Dan tebak aku melihat siapa?
"A Zam? "
Ya ampun, itu A Zam. Eh dia sedang melihat ke arah sini. Duh ko aku jadi salah tingkah sii.
Tatapannya seakan horor bagiku, aihh tapi dia keren juga ih. Ga nyangka aku punya suami sekeren itu.
Sadar Nim sadar jangan terbuai dulu itu matanya liatin kamu, sorot mata yang tajam.
Eh kenapa? Apa aku ada salah? Kan aku tadi pagi udah izin.
__ADS_1
Tapi pertanyaannya sekarang sedang apa A Zam disini dan dengan siapa?
Ko aku jadi bertanya-tanya, bukankah tadi pagi dia bilang ada perlu sama teman. Ko di cafe? Aku ga nyangka dia suka main di cafe juga.