Love In Pesantren

Love In Pesantren
Amarah sang kakak


__ADS_3

Saat membuka pintu Nimas mendapati Gazani di sana.


"Assalamualaikum Adek."


Senyum mengembang di bibir Gazani ketika melihat Nimas.


"Waalaikumsalam...Abang ngapain?"


Nimas tahu jika Gazani datang maka harinya tidak akan beres, Gazani akan selalu menggodanya dan memperlakukan Nimas layaknya anak kecil.


Gazani menerobos masuk tanpa menjawab pertanyaan adiknya tersebut.


Nimas mengikutinya dari belakang dan bersiap menghadapi kakaknya itu.


"Mima...Om datang nih."


Suara Gazani memecah kesunyian rumah.


Zamima nampak keluar dari kamar kemudian dengan semangatnya berlari menyambut Gazani.


"Mana Avin?" Zamima menanyakan sepupunya.


Gazani menggendong Zamima dengan gemas, "Avin gak ikut sayang. Om ke sini cuma minta minum."


"Ambil sendiri sono! Aku mau liat Lila dulu."


Nimas melenggang meninggalkan Gazani yang masih melayani ocehan Zamima.


Baru saja Gazani mendudukkan dirinya di sofa, tiba-tiba terdengar Nimas yang berteriak di dalam kamar. Sontak saja Gazani terperanjat dan berlari menuju kamar sambil menggendong Zamima.


Gazani tiba di kamar dan mendapati Nimas sedang membekap mulutnya sendiri sambil menatap Khalila. Pandangan Gazani kini tertuju pada Khalila di atas kasur itu.


Gazani membulatkan kedua matanya ketika melihat keadaan Khalila. Wajah Khalila penuh dengan coretan merah yang berasal dari lipstik. Seluruh bagian wajahnya tak ada celah tanpa coretan.


Gazani mengalihkan pandangannya pada Zamima yang sedang digendongnya. Gadis kecil itu meletakkan kedua tangannya pada telinga, seakan tahu kesalahannya.


Sejurus kemudian Gazani tertawa terpingkal-pingkal. Sedangkan Nimas hanya bisa mengurut dada sambil menggeleng-gelengkan kepalanya merasa gemas dengan kelakukan Zamima.


Ingin marah tidak mungkin, ingin menangispun tidak bisa.


-----------------------


Nimas membawa Khalila ke ruang tamu dan menidurkannya di atas sofa. Nimas mengambil kapas beserta babby oil yang akan digunakan untuk membersihkan wajah Khalila.


Zamima mendudukkan dirinya di dekat sang adik.


"Mima, ini muka Dedek jangan dicoret-coret lagi ya!"


Nimas memberi pengertian pada Zamima disela kegiatannya membersihkan wajah Khalila.


Zamima hanya mengangguk-angguk sambil memperhatikan cara ibunya membersihkan wajah Khalila dengan dengan seksama.


Tak lama kemudian Zamima merengek meminta kapas pada Nimas. Setelah diberi kapas, kini Zamima membantu ibunya mencoel-coel wajah Khalila dengan kapas tersebut.


"Jangan keras-keras! Kasihan Dedeknya sakit nanti."

__ADS_1


Nimas bukan merasa terbantu dengan kebaikan hati anaknya, tetapi malah dibuat was-was.


Gazani yang sedari tadi memperhatikan mereka pun tak henti-hentinya tertawa karena tingkah laku keponakannya yang dirasa sangat lucu.


"Abang jadi inget perkataan Ibu deh Dek."


Kini disela tawanya Gazani mulai membuka suara.


"Apa?" tanya Nimas.


"Kata Ibu, dulu waktu Adek masih bayi...."


Belum selesai dengan perkataannya, Gazani tertawa lagi.


Nimas mengerutkan keningnya merasa penasaran dengan kelanjutan cerita dari kakaknya tersebut.


"Adek kan dulu tidur tuh waktu bayi, terus Ibu nyuruh Abang jagain Adek. Eh kata Ibu, Abang malah nyuapin Adek kue. Terus kuenya penuh di mulut Adek. Abangnya pura-pura tidur karena takut dimarahin."


Kembali Gazani tertawa kali ini lebih keras daripada sebelumnya.


Nimas menaikan satu sudut bibirnya sembari mencebik.


"Ish...dasar jail!"


Gazani masih tertawa kemudian bangkit dan menggendong Zamima kembali.


"Mima, ayo tos sama Om!" ajak Gazani pada Zamima.


Mereka pun kembali tertawa dan larut dalam candaan. Nimas seakan lupa menanyakan tujuan sang kakak tiba-tiba mengunjunginya.


-----------------


Sebelum berangkat ke warung, Nimas sempat mengancam sang kakak.


"Awas loh Bang, jangan nyuapin Lila!"


Nimas kemudian pergi sambil terkekeh geli melihat raut wajah kesal sang kakak.


Lah dikira aku bocah kali si Adek.


Gazani terduduk di sofa ketika suara Ustadz Zamzam mengalihkan perhatiannya. Ustadz Zamzam mengucap salam sembari membuka pintu. Terlihat Ustadz Zamzam sedikit terkejut dengan keberadaan kakak iparnya tersebut.


"Eh Abang, kapan datang?"


Ustadz Zamzam meraih tangan Gazani dan mereka pun bersalaman.


Ketika sang Ustadz menutup pintu, tanpa disangka Gazani memegang kerah baju Ustadz Zamzam dan mendorongnya tepat ke belakang pintu.


Ustadz Zamzam terkesiap mendapatkan serangan mendadak dari Gazani.


"Bang?"


Sang Ustadz kebingungan dengan sikap Gazani.


"Kamu apakan Nimas? Jawab!" tanya Gazani.

__ADS_1


Tangannya semakin kuat mencengkram kerah baju sang Ustadz.


Memang kedatangan Gazani ke rumah Nimas adalah untuk menemui Ustadz Zamzam dan memberinya pelajaran. Waktu sang ibu membawa Zamima pulang, dan bercerita kalau Nimas sedang ada masalah dengan suaminya Gazani yakin salahnya ada pada Ustadz Zamzam.


Setelah beberapa hari menahan amarah serta rasa penasaran, hari ini Gazani menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Nimas. Gazani ingin tahu masalah apa yang sedang dihadapi adik kesayangannya itu.


"Jawab! Ustadz apakan Nimas?"


Sorot mata Gazani terlihat menajam bagai pedang yang siap menusuk apapun yang ada di hadapannya.


"A-Abang salah paham, kita hanya salah paham. Abang istighfar dulu!"


Sang Ustadz mencoba meredam amarah dari kakak iparnya.


"Nimas memang manja tapi dia penurut. Aku yakin kalau kalian sampai berantem salahnya bukan ada sama dia tapi sama kamu Stadz!"


Gazani berbicara pelan namun tegas.


"Iya Bang, aku yang salah. Kita bicara baik-baik saja Bang. Kasihan Nimas kalau sampai melihat kita seperti ini."


Membawa nama Nimas, nyatanya Ustadz Zamzam berhasil melunakkan Gazani.


Gazani pun melepaskan kerah baju sang Ustadz dan kembali duduk di sofa.


Akhirnya mereka berbicara baik- baik, sang Ustadz menceritakan semua kejadian yang membuat dirinya dan Nimas bertengkar.


"Aku benar-benar malu, Bang. Aku tidak mampu menyelesaikan masalah rumah tanggaku sendiri bahkan membuat orang lain cemas seperti ini."


Ustadz Zamzam menunduk.


"Maaf jika aku terlalu ikut campur, tapi aku gak bisa terima kalau Nimas tersakiti. Aku sebagai kakaknya merasa perlu untuk menegur kamu."


Ustadz Zamzam mengangguk paham.


"Apapun kesalahan Nimas, aku harap kamu bersabar dengan sikapnya. Bimbing dia menjadi wanita yang lebih baik. Aku benar-benar menitipkan adikku. Jangan pernah sakiti dia!"


Gazani mempertegas semua kata-katanya, dia begitu berharap banyak pada sang adik ipar.


"Aku mengerti Bang, maafkan aku. Aku akan berusaha menjadi imam yang baik untuk Nimas."


Obrolan mereka terhenti saat Nimas dan Zamima datang. Baik Gazani maupun Ustadz Zamzam bersikap seperti biasa seolah tadi tidak pernah terjadi.


----------------


"Dek, Abang pulang ya," kata Gazani sesaat setelah menghabiskan kopi yang tadi dibuatkan oleh Nimas.


"Kok pulang? Abang ini gak jelas banget."


"Abang ke sini cuma minta minum doang. Jadi sekarang udah gak haus mau pulang aja."


Nimas menatap sang kakak curiga.


"Gak nunggu besok aja Bang, ini udah sore."


Gazani mulai memakai jaketnya dan membereskan barang miliknya yang tergeletak di atas meja.

__ADS_1


"Enggak ah, kasihan Mbak Sari kedinginan gak diklonin Abang."


Satu pukulan tepat mendarat pada lengan Gazani, Nimas memukulnya karena kesal dengan ucapan nyeleneh dari kakaknya tersebut.


__ADS_2