
Nimas tak mampu menahan air matanya yang kini meluncur deras di pipinya.Rasa kecewa pada semua orang termasuk keluarganya membuatnya hancur.
Ustadz Zamzam begitu tak tega melihatnya dia sadar Nimas menangis itu karena ulahnya.Namun kembali lagi dia harus lakukan itu sebab alasan yang tak bisa diungkapkan, meski alasan itu membuatnya harus dibenci Nimas karena salah faham.
"Jadi kemarin saat anda mengirim pesan, saya sudah menjadi istri anda?"tanya Nimas disela tangisannya.
Sang Ustadz yang kini sudah terduduk lemas dilantai dan menunduk, kemudian mengangkat kepalanya dan mengangguk ada guratan sesal yang dalam dari matanya.
"Saya ingin tahu alasannya Ustadz?"kata Nimas lagi.
"Baiklah, saya membatalkan taaruf dengan Sofia karena saya dan Sofia ternyata saudara sepersusuan.Dulu ibu saya dan ayahnya Sofia disusui oleh satu wanita yaitu nenek saya.Saya baru mengetahuinya waktu berkunjung ke rumah Sofia bersama ibu saya.Saat itu dengan berat hati saya membatalkan semua rencana itu.Bukankah dalam islam saudara sepersusuan haram menikah?"akhirnya sang Ustadz menjelaskan.
Kini Nimas terdiam tapi entah mengapa setelah Ustadz Zamzam menjelaskan masalahnya, Nimas malah semakin sakit ada kata terpaksa membatalkan yang berarti Ustadz berat melakukannya, terus kenapa harus dirinya yang di pilih hanya untuk pelampiasan yang digunakan untuk melupakan? Pertanyaan itu timbul di benak Nimas.Seperti ada duri yang menusuk nusuk luka dalam hatinya.
"Baiknya kita berwudhu supaya hati menjadi tenang."kata sang Ustadz.
__ADS_1
Tanpa memberi penolakkan Nimas menuruti titah suaminya.
Malam pun tiba, Nimas kini tengah berada di tengah keluarganya dengan senda gurau.Apalagi ada Deva anaknya Bang Bagas yang menggemaskan membuat Nimas melupakan kekalutannya sejenak.
"Oh iya dek, besok kan acara resepsi Mama Haji dan Bi Haji akan hadir looh" Bang Gazani membuka percakapan yang serius lagi.
"Mama da Ibi tau?"kata Nimas polos.Membuat semua orang tertawa dibuatnya.
"Ya jelas tau dong dek, waktu itu kan Mama yang jadi saksinya."kata ibu.
Nimas menatap tak percaya merasa terbohongi atau apalah namanya yang jelas dia kecewa.
"Oh iya Nak Zamzam, ibu kenapa ga menginap disini? beliau kan belum pernah bertemu dengan Nimas." kata ibu lagi.
"Ah iya beliau ada urusan yang mendesak bu, jadi tidak bisa menginap.Besok kemari dengan rombongan keluarga."ucap sang Ustadz sambil tersenyum.
__ADS_1
Ustadz Zamzam adalah anak tunggal yang hanya memiliki ibu sedangkan ayahnya sudah lama meninggal.
Dibesarkan hanya oleh seorang ibu membuatnya sangat menghargai wanita.
"Eh ini sudah malam, besok pasti kesiangan kalo sekarang tidak todur ayok tidur."ajak ibu.
Nimas mengikuti kedua orang tuanya ke kamar mereka.Setelah di dalam kamar ibunya berkata "Loh loh ini kenapa masuk kesini, sana tidur di kamar kamu.."
"Biarkan Nimas tidur di sini bu"ucap Nimas yang kemudian masuk kedalam selimut.
"Tapi nak, sekarang kamu sudah menikah lebih baik kamu tidur bersama suamimu."kata ayah.
Namun Nimas tak mendengarkan dia sudah tertidur sekarang..Orang tuanya hanya mampu menggelengkan kepala dengan tingkah anak bungsunya.
Sementara di kamar Nimas, Ust Zamzam tak dapat memejamkan matanya, berulang kali dia menatap ke arah pintu berharap Nimas datang, namun harapannya sia sia.Sampai subuh tiba Nimas tak kunjung kembali ke kamarnya.
__ADS_1
#sadis bener kamu (author)
#sadisan mana aku atau mereka (Nimas)