
Seperempat malam ini aku terbangun, kutatap wajah suamiku yang masih tertidur lelap.
Aku beranjak ke kamar mandi mensucikan diri.
Kemudian aku curhat pada Tuhanku, sakit yang kurasa biarlah menjadi ladang ibadah untukku.
Ku teguhkan hati ini untuk ikhlas menerima semua takdir yang di gariskan padaku.
Saking lamanya aku curhat dalam ibadah, tanpa sadar sudah memasuki waktu subuh. Segera ku hampiri suamiku membangunkannya supaya lekas ke mesjid.
"A, bangun udah subuh."
Dia menggeliat pertanda sudah bangun, dia tersenyum padaku.Eh itu lebih terlihat seperti cengiran sii di mataku.
Tak lama dia bergegas ke mesjid.
---------- ------- ---------------- ------ ----
Sepulangnya dari mesjid, dia menghampiriku yang tengah berada di dapur.
"Sayang, bikinin aku kopi ya yang manis seperti kamu."
Isshh apaan sii tuh namanya, gombalan di pagi hari gitu?.. Maaf aku tak tergoda.
Aku pun menyeduh kopi untuknya dengan penuh cinta tentunya.
Ku antarkan padanya yang tengah berada di halaman depan mencuci mobilnya.
"Taruh di sana aja neng!" katanya padaku.
Ok baiklah aku turuti perintahnya.
"Neng sini !"
Mau pa sii dia manggil-manggil?
"Maaf A hati aku takut ada yang nyuri!"
Aku sedikit berlari ke dapur dan benar saja, kucing yang tadi masuk ke rumah tengah mendekati hati ayam yang baru aku cuci tadi.
Setelah itu aku mengamankan hatiku dan menaruhnya ke dalam kulkas.
Eh tapi ko si Aa ke dapur, eh kenapa ini? Ko dia dekat-dekat.
"Aa mau apa?"
Syok dong aku, tiba-tiba si Aa gendong aku masuk kamar.
Yah begitulah akhirnya bayangin sendiri.
-----------------------------------------------
Pukul tujuh lewat A Zam berpamitan berangkat mengajar, aku mengantarnya sampai teras.
Sebelum berangkat A Zam berbisik padaku.
"Jangan halangi aku yang akan mencuri hatimu."
A Zam kenapa ya? tiba-tiba bicara seperti itu.
Maksudnya apa ya tolong artiin pemirsah.
--------------------------------------------
Pagi ini aku benar-benar bersemangat setelah insiden hati tercuri tadi pagi.
Ah lihat itu, anak-anakku mereka berlari ke arahku.
"Yeay bu guruuuuu."
Terharu aku melihat mereka.
Di tengah kebahagiaanku, Hulliyah datang.
__ADS_1
"Asalamualaikum manten."
Ih apa sii Hulliyah tuh bikin aku malu.
"Alaikumsalam, Hulli aku kangen."
Ku rentangkan kedua tanganku memeluknya.
Sesaat kemudian proses belajar di mulai. Aku harus menahan hasratku yang ingin ngobrol lebih lama dengan Hulliyah.
Jam pelajaran usai juga akhirnya, anak-anak pun sudah pulang di jemput orang tuanya.
Akhirnya.. Aku bisa ngobrol bersama Hulliyah, dia mengajakku ke kobongnya yang dulu aku tempati.
Tempat tidurku masih sama seperti dulu. Rindu rasanya.
"Penghuni kobong belum ada yang baru, Li?"
Hulliyah menggeleng, "kamu kaget gak Nim?"
Pertanyaan macam apa itu Hulli.
"Maksud kamu?"
"Iya, perubahan sikap Rista dan Sofia."
Aku melihat gelagat tak enak dari sorot mata Hulliyah.
Tenang saja Hulli aku kuat.
"Enggak kagetlah, wajar aja kan mereka benci sama aku, aku kan seorang perebut."
Orang macam apa aku ya, yang ngatain diri sendiri begini.
"Bukan, kamu bukan perebut. Aku tahu semuanya, kamu jangan hanya tersenyum dong. Lawan kalau kamu merasa benar."
Eh Hulliyah udah mirip penyemangat orang yang mau tinju deh kamu.
"Terus aku harus gimana Hulli? Udah ah jangan bahas itu, pusing aku."
Hulliyah duduk di sampingku, memegang pundakku.
"Masih ada aku yang siap jadi temanmu, kamu ga sendirian. Jika ingin menangis, menangislah Nim!! Aku tahu kamu terluka di sini."
Uh Hulli please jangan buat hatiku rapuh. Aku gak ingin menangis lagi, aku ingin bahagia.
Ditengah percakapan kami, pintu kobong terbuka terlihat Rista dan Sofia yang datang. Aku tersenyum canggung. Please deh dulu tuh gak canggung begini.
"Hulli lain kali jangan masukin orang asing masuk sembarangan ke kobong kita!!"
Rista ngomong apa? Ko hatiku sakit.
Aku yang tak enak pun segera berpamitan meski Hulliyah menahanku aku tetap pulang.
Tiba di rumah, aku masuk ke kamar menangis dulu, bolehkan?
------------------------------------------ -
Sore ini aku sedang memasak, setelah tadi aku berhasil menenangkan hatiku.
Di tengah kegiatanku A Zam pulang, segera ku hampiri dia.
Eh lihat itu senyumnyaaa, ga wajar deh.
Baru aku jawab salamnya, eh dia mendekat memelukku tanpa permisi.
Adegan telenovela mah kalah dengan kelakuan A Zam.
"Datang-datang maen peluk aja," kataku.
"Memangnya ga boleh peluk istri sendiri?"
Aku diam, issh posisi kami masih berpelukkan ria.
__ADS_1
Apa aku boleh nyaman begini? Tapi aku juga ga ada niat buat lepasin sii lumayanlah anget juga.
Beberapa saat kemudian dia melepas pelukannya. "Maaf aku khilaf."
Apa dia bilang? Sungguh hatiku yang sudah bertaburan bunga mendadak berguguran daun kering.
Aku menghela nafas.
--------------------------------------
Malam ini, kulihat A Zam berkutat dengan laptopnya.
Melihatnya serius seperti itu membuatku berhayal andai aku istri yang dicintainya hmm alangkah bahagianya hidupku.
"Jangan diliatin aja neng, deketin aja sekalian."
Eh, aku sadar dari lamunanku ketika A Zam berbicara dan tengah menatapku. Aku gelagapan dibuatnya.
Ih dia malah ketawa.
Sesaat kemudian A Zam menutup laptopnya dan menghampiriku.
"Kalau pengen di klonin panggil kek neng, jangan diliatin aja. Aku bukan barang pajangan looh."
Ih apaan sii, siapa yang mau diklonin. A Zam itu hobi banget bikin jantungku hampir copot. Eh tapi dia copotkan begitu saja. Karna memang tak ada aku di hatinya.
Perlahan jempol tangannya menyentuh bibirku, aisshh hentikan!!
Aku palingkan wajahku, dia mengkerutkan kening.
"Aku bahagia mempersuntingmu, aku berusaha menempatkanmu di hatiku."
Oh sudahlah berkata manis seperti ini pasti ada maunya.
Kali ini aku ga akan tertipu, ga akan aku mereum liatin aja.
"Neng.."
Kenapa sii suaranya bisa semerdu itu kalo lagi memanggilku?
"Sini dong liatnya, aku ada disini."
Aku ragu namun terpaksa melihat wajahnya lagi. Tuh kaaan aku deg-degan lagi.
"2 minggu lagi, anak-anak Mts mau study tour ke Pangandaran. Neng mau ikut?"
Aku diam mencoba menelaah maksudnya.
"Bisa kita manfaatin buat liburan neng, yaaa itung-itung bulan madu gitu."
Eh beneran nih dia ngomong gitu, seketika hatiku menghangat, lalu mengangguk pertanda mau.
Kami kini tengah berbaring, namun susah mataku terpejam.
"Gimana tadi hari pertama ngajar?"
Nim, dia nanya tuh ko malah bengong.
"euh itu, seru A."
"Neng ketemu Sofia?"
Ini apaa coba maksudnya, kenapa musti nanyain cewek lain disaat suasana lampu temaram gini sii.
Membuyarkan fikiran positifku kamu A.
"Ko diem?"
"Ketemu tadi sebentar, aa mau nitip salam? Besok yaa kalau ketemu lagi. Aku ngantuk A, mau tidur."
Aku hebat kan sandiwara. Ya Alloh biarkan aku ikhlas.
#thor kamu nulis sambil ngantuk yak (Nimas)
__ADS_1
#ko tau (author)
#karna author bikin akhir ceritanya aku lagi di tempat tidur (Nimas)