
"Nimas?"
Siapa sii orang ini, ih nyeremin. Ibu mana sih lama amat.
"Jangan takut begitu, saya bukan orang jahat."
Ih dia ketawa, mana ada orang jahat ngaku. Duh ibu cepet dong!!
"Saya Farrel.."
Ih ngapain nyodorin tangan segala.
"Kamu yang di Pangandaran itu kan?"
Hah apa? Ko dia tahu.
"Saya yang nolongin kamu, waktu kamu mau jatuh."
Siapa sii? Ah bodo, mungkin dia mau imbalan seandainya memang pernah menolongku. Lebih baik aku buka dompetku.
"Nih, terima kasih telah menolong saya."
Heii ko malah bengong, ambil nih tanganku pegel tauuu.
"Maaf, uang itu untuk apa?"
Pake nanya lagi.
"Sebagai ucapan terima kasih karena anda telah menolong saya."
Raut wajahnya kenapa berubah begitu.
"Maaf, tapi saya bukan meminta imbalan di sini. Saya hanya ingin mengembalikan pin kamu."
Hah pin?
"Pin?"
"Iya itu apa namanya benda yang tersemat di kerudung kamu seperti itu."
Eh dia nunjuk apa? Oh brosku.
"Waktu kamu sudah pergi, saya menemukan benda itu di pasir dan saya yakin itu punya kamu. Ada namanya juga, Nimas kan?"
Oh iya, itu kan bros persahabatanku dengan teman sekobongku dulu. Kami memesan bros yang sama dan dikasih nama. Huft manisnya kami dulu.
"Oh itu, buang saja. Saya sudah tidak membutuhkannya."
Cepet sana dong pergi ih.
"Kalau begitu saya permisi, senang bertemu kamu lagi. Semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi."
Nah gitu dong, aku mengangguk sajalah biar dia cepat pergi.
Setelah kepergian pria aneh tadi, ibu pun datang.
Tanpa bertanya bergegas aku mengajaknya pulang.
----------------------------------------
Sesampainya di rumah, aku dan ibu segera ke dapur mengeluarkan belanjaan kami.
"Dek, pakai ini gih!! Ibu tunggu."
__ADS_1
Eh apa tuh? Itu kan alat tes kehamilan. Maksud ibu apa ih?
"Ya ampun bu, aku ga hamil."
"Mana tau, kan kamu belum tes."
Kalau sudah maksa gini nih, ibuku ga bisa di bantah.
"Iya besok aja yaa bangun tidur, biar lebih akurat."
Alasanku sih hihihi...
"Ibu kan pulang nanti sore, nanti ibu gak tahu hasilnya."
"Nimas telpon, iya nanti Nimas telpon kasih tahu ibu."
Gak sia-sia aku pandai bicara, ibu akhirnya menyerah. Dan aku menang yeeee..
Sore itu, aku mengantar ibu dan bang Gazani ke terminal. Naik mobil A Zam tentunya.
"Nak Zam nitip Nimas ya, maafkan kalau Nimas agak manja anaknya."
Ih ibu, siapa coba yang manja?
"Iya Zam harus sabar, apalagi kalau ngambek jitak aja dia."
Aissh abang tuh, bukannya ngomong baik-baik malah mojokin aku mulu. Kesel ih.
"Tentu bu, saya sangat menyayangi Neng."
Sepertinya telingaku perlu di korek nih.
Ku pandangi wajah A Zam terukir senyum di sana. Lalu ku alihkan pandangan ke belakang dimana dua orang yang ada di kursi penumpang itu terlihat menahan senyum.
Aneh kalian semua ih.
"Ini masih siang neng, kita jalan-jalan dulu yuk."
Bolehlah anggap ini kencan kami.. Ciee kencan.
"Kemana nih kita?"
Dih nanya, siapa juga tadi yang ngajak?
"Terserah Aa, aku ikut."
Kemudian A Zam melajukan mobilnya ke salah satu bazar kuliner. Waah tempatnya luas aku terperangah dibuatnya. A Zam tahu ada tempat seperti ini di kota kami. Ah atau karna aku yang ga gaul haha.
"Yuk neng.."
Duh ko pake pegangan tangan sii, please A aku bisa ambruk ini di pegangin terus.
Bahagia aku sore ini, sepanjang penyusuran kami di sini tanganku dipegangin terus.
"A, ko tahu ada tempat seperti ini."
"Kan Aa sering ke sini sama bu Rara."
Deg...
Aku menghentikan langkahku, kakiku ini mendadak berat untuk melangkah.
A Zam yang menyadari itu pun berbalik ke arahku.
__ADS_1
"Ayok neng kita ke sana, batagornya enak aku sering makan di sana sama bu Rara."
Sungguh aku tak habis fikir ya, kenapa sii kamu tuh A?
Aku benci sama sikapmu ini.
"Aku mau pulang."
Hanya itu yang mampu aku ucapkan sembari berjalan menerobos gerombolan orang itu.
Terdengar A Zam memanggil namaku berkali-kali.
Aku tak peduli !!
Tiba di sisi jalan raya, aku mencoba mencari taxi atau angkot, atau delman, atau apalah yang penting aku mau pulang.
"Neng, hei neng. Kamu itu kenapa?"
Nanya lagi nanya lagi. Pikir sendiri !!
Tanganku ditarik A Zam menuju mobilnya, sakit ih dia nariknya kasar.
Setelah di dalam mobil, kami diam tak ada yang bicara. A Zam coba menyentuh tanganku, aku menepisnya kasar. Gak apa-apa kan sesekali aku begini?
Aku sakit ih. Kamu gak peduli perasaanku.
"Sayang, gak baik kamu sering ngambek seperti ini."
Mikir dong A, aku begini karena apa?
"Terus aku harus gimana, denger aa sering jalan-jalan sama wanita lain. Aku musti gimana coba bilang!! Setiap kali aku merasa diabaikan sama Aa. Apa aku ga punya hak untuk marah."
Nafasku terengah-engah meluapkan sesuatu yang bergumul dalam dada selama ini dengan deraian air mata aku berkata jelas padanya.
Dan lihat A Zam dia memegang wajahku.
"Hei hei, maafkan aku yang tak peka akan perasaanmu. Maaf neng, tapi semenjak kamu hadir di hidupku tak ada sedikit pun niat menyakitimu. Aku pasti tak sengaja melakukan itu."
Sudahlah aku males meladenimu yang penuh drama A.
Sedikit ku berikan senyuman untuknya, semata aku malas berdebat sungguh aku malas yaa bukan karena aku termakan rayuannya tadi.
"Tadinya, Aa pengen tuh jalan-jalan romantis sama neng, secara kan kita nikah dadakan gak ada pacaran. Yah Aa pengen gitu seperti orang-orang ngalamin pacaran terus sama neng. Eh keburu ngambek buyar deh keinginanku."
Buahahaha.. Dalam hati aku tertawa sekerasnya. Ya ampun polosnya suamiku ternyata, kasian.
"Aku mau itu !" Ku alihkan pembicaraan karena melihat tukang mie ayam di seberang sana.
A zam pun tersenyum sumringah kemudian kami turun dari mobil dan menghampiri tukang mie ayam itu.
Kami makan di sana. Rasa mie ayam ini sangat-sangat enak, aku sampai menghabiskan dua mangkok looh eh dua setengah deh. Soalnya tadi A Zam ga habis sayang kan kalau ga dimakan mubazir hehe. Tadi A Zam sampai terbengong dengan kelakuanku hihi.
"Aku bayar dulu ya neng."
A Zam beranjak menghampiri tukang mie ayam, tapi rasanya aku masih ingin mie ini.
"Bungkus satu A, buat di rumah."
Dengan cepat aku bicara, A Zam terdiam sambil geleng-geleng.
Akhirnya kini kami sudah berada di dalam mobil.
"Neng gak kenyang ya makan sebanyak tadi."
__ADS_1
Kenapa ih gak rido kali dia ngeluarin uang tadi.
"Nanti aku ganti uangnya."