Love In Pesantren

Love In Pesantren
Hulliyah Sypa (4)


__ADS_3

Hulliyah mempercepat langkah kakinya keluar dari toko buku itu. Novel yang tadi ingin dia beli di letakkan kembali pada rak dengan asal.


Hulliyah terus berjalan tanpa menoleh, dia marah. Pokoknya marah!


Apa itu tadi?


Hulliyah berjalan cepat melewati sisi trotoar dengan amarah yang entah kenapa membumbung tinggi di kepalanya.


"Li, sakit Li. Pelan dikit jalannya!"


Eh?


Hulliyah lupa kalau dirinya dari tadi menyeret-nyeret Neli.


Ko enggak berasaaa yaa hihi.


Hulliyah berhenti kemudian melepaskan cekalan tangannya pada Neli.


Hulliyah kembali berjalan cepat, Neli tertatih mengejarnya berjalan.


"Pelan-pelan Li, kita mau kemana?"


Hulliyah menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan menunggu Neli untuk mendekat.


"Kita pulang!"


"Iyaa, tapi masa jalan kaki?"


Hulliyah menatap jalanan dengan sendu.


"Di ujung jalan sana kita naik angkot."


"Oklah, tapi pelan-pelan jalannya."


Hulliyah tersenyum, menyadari kebodohannya. Dia kesal pada Beni, kenapa Neli yang harus menanggungnya? hihi.


Akhirnya mereka berjalan bersamaan tanpa kata, melewati trotoar yang lumayan sepi.


Sekian lama berjalan dalam keheningan, tiba-tiba Neli berbicara, "Li, mmm tadi aku enggak salah liat kan?"


Neli bertanya dengan takut-takut sambil menoleh ke arah Hulliyah yang menatap jalanan dengan pandangan lurusnya.


Aku harap tadi kita salah liat.


"Enggak usah difikirin anggap saja kita mimpi." ucap Hulliyah tanpa menghentikan langkah kakinya.


Tin ... tin ....


Bunyi klakson terdengar membuyarkan percakapan mereka.


Mereka berhenti sejenak, untuk mengetahui siapa yang membunyikan klakson itu.


"Assalamualaikum, ternyata benar Sypa. Mau kemana?"


Seseorang yang tengah mengemudi mobil itu membuka kaca mobilnya.


Kak Haqi?


"Mau pulang Kak."


Hulliyah kembali berjalan tanpa mengindahkan tanggapan Haqi selanjutnya. Dia tahu ini tidak sopan, apalagi dia tidak menjawab salam dari Haqi hanya Neli yang terdengar menjawab salam dari Haqi tadi.


Lagi-lagi Neli jadi korban, dia berlari kecil guna mengejar Hulliyah yang sudah berjalan lebih dulu.


Haqi masih mengikutinya, dia menjalankan mobil mencoba mensejajarkan dengan langkah Hulliyah.


"Saya antar kalian ke Pesantren, ayo masuk!" ajak Haqi.


"Tidak usah Kak, terimakasih. Kami akan naik angkot.


Hulliyah berbicara tanpa berhenti berjalan, membuat Haqi terus menjalankan mobilnya dengan pelan mengikuti Hulliyah.


"Kita ikut saja Li, kakiku pegel nih jalan terus."


Neli merengek membujuk Hulliyah.


"Kalau kamu mau, ya sudah ikut saja sana!" kata Hulliyah.


Sepertinya Haqi mendengar perdebatan diantara mereka dan menyeringai penuh arti.


"Kamu temannya! Ayo masuk, biarkan Sypa jalan kaki, saya akan mengantar kamu saja. Kebetulan saya juga mau ke Pesantren."

__ADS_1


Hulliyah menghentikan langkahnya kemudian menatap Haqi lalu menoleh pada Neli.


"Ikut saja Nel."


Neli ragu.


"Tapi Li ...."


Haqi kembali bicara, "Ayo ikut saja, tidak akan ada fitnah. Saya jamin."


Akhirnya Neli setuju walau ragu, dia masuk ke dalam mobilnya Haqi tepatnya di jok belakang.


Setelah Neli masuk ke dalam mobil, Haqi pun menjalankan mobilnya dengan normal meninggalkan Hulliyah yang mematung di tengah trotoar.


"Iiiiiih nyebelin, kenapa enggak bujuk aku si ih."


Loh?


Tanpa sadar Hulliyah menghentakkan kakinya pada jalanan trotoar dengan kesal.


Hulliyah kembali berjalan pelan, rasanya jalanan ini sangat panjang untuk dia lalui.


Dari tadi enggak nyampe-nyampe.


Hulliyah kembali teringat Beni, bayangan tak senonoh yang terpampang jelas tertangkap oleh mata sucinya membuat Hulliyah merutuki diri dan bertekat untuk berhenti menjadi pengagum Beni.


Mending jadi hatter aja Li, seperti seniorku Ira Alam yang jadi hatter abadiku huhuhu (curhat).


--------------


Kini Hulliyah tengah berdiri menunggu angkot yang sekiranya melewati atau searah ke Pesantren.


Walau kaki terasa pegal hingga langit yang mendadak mendung, Hulliyah terus berdiri menunggu transportasi umum itu.


Sampai akhirnya titik-titik air mulai menetes dari sang langit. Hujan.


Hulliyah terpaksa berlari-lari mencari tempat berteduh, sangat sulit mencari bangunan di jalanan itu yang ada hanya pepohonan kecil penghias jalan.


Sampai tiba-tiba suara seseorang terdengar memanggilnya.


"Hulli, Li ... sini masuk hei!"


"Loh, kok kalian masih di sini?"


Hulliyah nampak bingung.


"Nanti aku bilang, sekarang cepat masuk hujannya semakin deras!" ucap Neli.


Sejenak Hulliyah menatap ke arah kaca mobil yang tertutup tepatnya tempat duduk pengemudi dimana Haqi berada.


Merasa tidak enak, namun Hulliyah butuh. Ah sudahlah bodo amat, begitu fikir Hulliyah.


Hulliyah masuk ke dalam mobil dengan kerudung bagian atas yang sudah basah.


"Tuh kan basah, makanya jangan bandel."


Haqi berbicara tanpa menoleh.


Hulliyah meringis perasaan malu dan kesal bercampur-campur dalam benaknya.


--------------------


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan menguras kadar rasa dari Hulliyah, akhirnya kini Hulliyah dan Neli tengah berada di kobong.


Hulliyah yang baru saja berganti pakaian mendudukkan dirinya di samping Neli yang tengah asik memakan snack.


"Dapat darimana makanan sebanyak itu?"


Neli sejenak menoleh ke arah Hulliyah.


"Tadi dibeliin Kak Haqi sambil mantau kamu."


Hah?


"Mantau?"


Kening Hulliyah mengkerut dalam.


Neli memutar bola matanya, merasa terganggu karena acara ngemilnya direcoki Hulliyah.


"Jadi tadi itu, Kak Haqi tidak langsung membawaku pergi. Dia malah ngikutin kamu, terus waktu kamu lagi nunggu angkot tuh kita ada di seberang jalan. Terus jajan deh, udah mirip detektif aku tadi hihi."

__ADS_1


Hulliyah makin tak mengerti.


"Kenapa ngikutin aku?"


Neli kembali menatap Hulliyah dengan tatapan menajam.


"Tadi Kak Haqi bilang, mau mastiin kalau kamu pulang dengan selamat. Eh Li, ngerasa enggak?"


Neli menyimpan cemilannya dan menatap Hulliyah lagi.


"Kamu ngerasa enggak?"


"Ngerasa apa sii?" kata Hulliyah.


"Ya ampun, kamu ngerasa enggak? Kak Haqi suka sama kamu. Dari cara dia menatap kamu penuh kekaguman itu jelas banget."


Hulliyah membulatkan kedua bola matanya.


"Ngaco kamu."


Hulliyah berdiri dan memakai kerudungnya.


"Aku enggak ngaco Li, aku yakin."


"Udah ah aku mau ke rumah Mama dulu."


Hulliyah keluar dari kobong tanpa mendengar Neli yang bercuap-cuap tidak jelas itu.


---------------------


Sehabis berjamaah sholat Isya, Ustadz Zamzam ditunjuk Mama untuk menggantikannya menjadi Penceramah.


Pengajian malam minggu memang hanya diisi dengan agenda mendengarkan ceramah, karena Mama Haji sedang kurang sehat alhasil Ustadz Zamzam menggantikannya karena hanya dirinya yang terbilang senior dibandingkan dengan santri yang lain.


Ustadz Zamzam mengangkat tema 'Cara menghadapi wabah dalam Islam'.


"Tahukah kalian, pada zaman Rosululloh dahulu pernah ada wabah yang penularannya sangat cepat, menjangkiti hampir semua warga pada zamannya. Wabah yang berupa lepra. Dahulu, dunia seakan mau kiamat saking tidak tahu caranya bagaimana menghentikan wabah yang tengah terjadi? Semua ketakutan semua was-was tidak ada yang berani keluar rumah."


Ustadz Zamzam menatap satu persatu adik-adik santrinya.


"Lalu apa yang dilakukan Rosul?"


Ustadz Zamzam memberi pertanyaan bukan untuk di jawab.


"Rosul berserah diri dan berdoa kepada sang pencipta supaya di jauhkan dari wabah, dilindungi dari wabah. Setiap hari nabi membaca doa, beginilah bunyinya;


اللهم اني اعودبك من البى ص والجنون


والجذام ومن سىءالاسقام


(Allohumma inni a'udzubika minalbaroshi waljunuuni waljudaami waminsayyiilasqhoom)"


Ustadz Zamzam berhenti sejenak lagi, kemudian melanjutkan ceramahnya.


"Hai pembaca Love In Pesantren! Doa di atas juga bisa dibaca saat ini, saat di kehidupan nyata yang kalian jalani tengah terjadi wabah covid 19, berlindunglah selalu hanya kepada Alloh SWT niscaya kita akan aman."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


# Dan kalian mulai bosan membaca cerita ini hihi (author)


Aku mohon bersabarlah sebentar lagi, berjalanlah sebentar lagi bersama author yang bukan author ini. Temani aku untuk menamatkan cerita ini. Sebentar lagi.

__ADS_1


__ADS_2