
Setelah malam itu, Sofia benar-benar diantar pulang oleh Farrel.
Tiada kata paling pahit dalam bait kesakitan selain kata selamat tinggal.
Setiap hari Sofia menangis seorang diri di kamarnya dan berhenti menangis ketika keluar kamar.
Sungguh saat ini Sofia mengalami sakit yang amat sangat di hatinya.
Yaelah Sof, bukannya kemarin kamu yang ngajakin ya?
Sofia mencoba melawan kesakitannya dengan mengajar anak-anak mengaji di mushola dekat rumahnya.
Namun ternyata mengajar seperti ini malah semakin membuatnya teringat akan Farrel.
Farrel yang mau belajar membaca Al-quran membuat Sofia rindu mengajarinya. Kenangan-kenangan kecil tapi tak indah semua dirindukannya.
Sosok Farrel yang keras hati mampu membuat Sofia ikut kuat menghadapinya.
--------------------
"Farrel, aku ga mau pisah Rel."
Dalam tidurnya, Sofia mengigau selalu satu nama.
Di setiap sujudnya Sofia merancau menyebut nama Farrel.
Apakah Sofia menginginkan Farrel karena mencintainya?
Tapi tidak, Sofia bersikeras dalam hatinya bahwa dia menginginkan Farrel karena dia sudah terbiasa dan nyaman bersama Farrel. Teriakan dan bentakan itu selalu menari-nari di benaknya ibarat melodi yang syahdu.
Hadeeuuh ada yaa bentakan yang syahdu.
-----------------
Saat tengah makan bersama ayah dan ibunya, Sofia terlihat tak bernafsu untuk makan.
"Gimana Sof, kamu betah di rumah Farrel?"
Sofia seketika menoleh pada sang ibu. Sofia takut belum sanggup memberitahu ayah dan ibunya tentang keputusannya untuk berpisah dengan Farrel. Sofia takut orang tuanya itu akan bersedih hati.
Sofia belum siap melihat orang tuanya kecewa.
Sofia menghembuskan nafasnya kasar.
"Sofi betah bu."
Tapi sayang, aku gak akan kembali lagi ke sana.
"Baguslah, Farel anak yang baik. Kamu harus jadi istri yang baik buat dia ya."
Duh ayaaah kenapa sii membuat Sofia makin merasa bersalah.
Sofia hanya mengangguk hampa, dia pasrah jika sebentar lagi akan ada surat perceraian yang dikirim Kantor Urusan Agama.
Jika surat itu sudah di terimanya, baru Sofia akan memberitahu kedua orang tuanya. Begitu isi dalam benak Sofia.
"Kenapa kamu makannya seperti ga nafsu Sof? Kangen suami ya?"
Sofia hanya tersenyum masam menerima godaan dari sang ibu.
"Halaaah, baru seminggu ditinggal udah begitu. Ibu kamu nih dulu ayah tinggal 3 bulan, adem aja."
Tambah ayah, di hadiahi tepukkan manja pada pahanya dari sang istri.
Aihhh romantissnyaa orang tua kamu Sof.
Sofia kembali tersenyum melihat kelakuan kedua orang tuanya yang selalu kompak.
Sebenarnya Sofia menginginkan rumah tangga seperti orang tuanya, namun apa daya takdir tak mengizinkan.
Beda orang beda nasib yaa kan.
__ADS_1
------------------
Dua minggu sudah Sofia berpisah dengan Farrel.
Yaa dalam artian tidak bertemu dan tidak berkomunikasi.
Seperti biasa Sofia menghabiskan waktu di mushola mengajar anak-anak mengaji.
Setelah mengajar, Sofia pulang ke rumahnya dengan hampa, rumah itu nampak sepi dan memang tidak ada siapa-siapa lagi selain orang tuanya. Sofia yang anak tunggal seringkali merasa kesepian karena tak punya saudara.
Semenjak di Pesantren, Sofia merasa memiliki banyak saudara. Bukan hanya itu di Pesantren pula dirinya merasa bahagia dan mendapatkan cinta dari para sahabatnya.
Lagi-lagi cinta itu ada di Pesantren.
Sofia masuk ke dalam kamarnya dan mulai membuka lembaran putih beserta alat lainnya.
Sofia mulai menggoreskan kalimat demi kalimat yang dibuatnya seindah mungkin.
"Sofi,.."
Di tengah kegiatannya Sofia dikagetkan oleh sang ibu yang masuk tanpa permisi.
"Iya bu."
"Ibu sama ayah mau ke rumah Om Danu, beliau syukuran rumah baru. Kamu mau ikut?"
Ibunya bertanya sembari memperhatikan tangan sang putri yang menari indah di atas lembaran putih itu.
Tadi bentakan yang syahdu sekarang tangan menari di atas lembaran putih, hmmm.
"Duh, Sofia lagi banyak pesanan alhamdulillah. Batas waktunya besok lagi bu. Gimana dong?"
Sang ibu tersenyum mengusap kepala anak satu-satunya itu.
"Tapi kamu ga apa-apa di tinggal sendiri di rumah? Keliatannya ibu sama ayah nginep dua malam di sana."
Tinggal aja buu, Sofi sudah biasa ko sendirian.
"Ga apa bu, pergi aja. Sampaikan permintaan maaf Sofi tidak bisa ke sana sama Om Danu ya."
----------------
Setelah orang tuanya pergi, Sofi malah merebahkan diri di atas kasur.
Dia menghentikan kegiatannya membuat kalighrafi. Rasa malas dan bosan kini dia rasa.
Padahal enak tuh sunyiii, bisa konsentrasi.
Eh ga jamin juga hihi.
Sofia tertidur sampai sore hari.
Sofia merasa terganggu dengan suara berisik yang berasal dari dapur, hingg akhirnya dia bangun.
Ada kucing di dapur?
Ah ganggu aja.
Sofia berjalan dengan malasnya tanpa memakai kerudung dia keluar kamar menuju dapur.
"Husst.. Husst, pergi kucing!!"
Rambut yang acak-acakkan, tak membuatnya risih toh tak ada orang di rumah.
Saat membuka pintu dapur, netranya menangkap sosok yang sangat dia kenal, sosok yang sangat dia rindukan.
Seseorang itu pun menoleh ke arah Sofia.
"Kalau mau tidur itu, kunci pintu!!"
Sofia bergeming di tempatnya, masih menatap sosok itu dalam.
__ADS_1
Mimpinya gini banget sii, bangun Sof bangun.
"Suami datang itu di sambut dengan makanan, bukan di bengongin."
Hah, apakah itu Farrel?
Sofia mengusap-usap wajahnya sambil menepuk-nepuk pipinya. Mencoba menyadarkannya dari mimpinya sendiri.
Mau author bantuin tampol ga?
"Hei, kamu!! Kenapa makin bengong? Buatin makanan, aku lapar."
Sofia mengerjapkan diri dan menyadari bahwa ini bukanlah mimpi.
"Fa-Farel."
Sang lelaki itu berdecak.
"Kamu kira siapa? Buruan ih laper tadi dari Yoga belum makan."
"Yog-ya?"
"Iyaa, aku baru pulang ini."
Lelaki ini benar-benar Farrel ternyata.
"Ta-tapi kkkamu ngapain di sini?"
Farrel semakin jengkel dengan sikap Sofia.
"Ya, aku nyamperin kamu lah. Tadi ayah nelpon katanya kamu sendirian ya di rumah."
Ayah?
Kenapa?
Kenapa Farrel ada di hadapannya saat ini?
"Tapi kamu kan udah lepasin aku Rel?"
Ucap Sofia datar.
"Lepasin? Lepasin apaan?"
Farrel semakin tak mengerti.
"Bukankah malam itu kamu bilang ok, berarti sudah jatuh talak Rel."
Sofia berkaca-kaca.
"Siapa yang jatuhin talak? Malam itu aku bilang mau anterin kamu ke sini, yaa karena aku mau ke Yogya."
Apa?
Sofia salah paham nih ceritanya?
Eh author juga salah paham haha.
" Ja-jadi kita masih suami istri?"
Farrel merotasikan matanya jengah.
"Bodo ah, suami laper bukannya dibuatin makanan malah bengong aja dari tadi."
Farrel pun berjalan melewati Sofia begitu saja.
Sofia tertawa, menertawakan dirinya sendiri.
Sofia sadar dirinya terlalu bodoh. Sungguh saat ini dia ingin memeluk Farrel dan berterima kasih padanya.
Berterima kasih karena Farrel tidak meninggalkannya.
__ADS_1
Duh jadi sia-sia dong air matamu Sof.
Kalau dikumpulin bisa jadi empang tuh kemaren.