Love In Pesantren

Love In Pesantren
Akhir dari niat yang baik


__ADS_3

Haqi yang baru tiba di rumahnya disambut dengan kelegaan keluarganya. Bagaimana tidak, Haqi pergi selama dua hari. Hal yang dianggap pamali oleh orangtua karena Haqi seorang calon pengantin.


Saat ini di rumah Haqi nampak kesibukkan menjelang acara besok. Mereka mempersiapkan barang bawaan yang sudah ada sebelumnya dan menghiasnya jadi hantaran yang cantik.


Bu Salamah dan para perempuan tengah berkutat dengan hal itu sampai kemudian Haqi duduk di sampingnya dengan lesu.


"Ke Pesantren sampai dua hari ngapain aja?" tanya Bu Salamah.


"Gak ngapa-ngapain," ucap Haqi.


Haqi dengan manjanya menyandarkan kepalanya pada bahu sang ibu dan mendekapnya dari samping. Haqi seolah ingin mencharger energinya yang kemarin terkuras habis.


"Mi ...." Haqi memanggil ibunya.


Sang ibu memberi tanggapan deheman halus pada anaknya.


"Aku marah-marah sama Sypa kemarin." kata Haqi.


Bu Salamah menghentikan aktivitasnya dan mengangkat wajah Haqi yang ada di bahunya.


"Ada masalah apa?"


Haqi menggelengkan kepalanya dan berkata, "gak ada Mi, hanya aku yang gak bisa ngontrol emosi. Aku takut Sypa menganggapku pemarah Mi," ucap Haqi.


"Ya, lihat dulu apa masalahnya. Kalau masalahnya pantas untuk marah, Ummi yakin Sypa nerima kok." kata Bu Salamah.


Haqi kembali menyandarkan kepalanya pada sang ibu.


"Dih udah gede masih senderan sama Ummi."


Adiknya yang sedari tadi mendengarkan kini mulai berbicara untuk menggoda sang kakak. Adiknya tahu bahwa kakaknya itu sedang dirundung kerisauan.


"Diem ah! Lagi gak mau ngomong," ucap Haqi.


Haqi beranjak dari duduknya dan meninggalkan kesibukkan yang masih terjadi di ruang tengah rumahnya.


Haqi memilih membaringkan dirinya di atas tempat tidur miliknya. Menyongsong hari esok, Haqi kini dilanda ketakutan yang sama dengan istrinya. Bedanya, Haqi takut bila Hulliyah tidak bisa menerima tabiatnya ketika marah.


Haqi takut tidak akan menjadi suami yang layak untuk Huliyah.


Haqi selalu berusaha memantaskan diri menjadi pendamping wanita pujaannya itu. Wanita yang dikaguminya secara diam-diam kemudian takdir menyatukan mereka dengan cara yang berliku.


Haqi bimbang.


---------------------------

__ADS_1


Hari itu pun tiba, hari yang dinanti untuk meresmikan ikatan suci antara Haqi dan Hulliyah akhirnya datang.


Sejak fajar baru menampakkan sedikit sinarnya, keramaian sudah tercipta di rumah Haqi. Mulai dari antri ke kamar mandi sampai berebut baju antar para ibu.


Sementara yang lain sibuk dengan urusannya, Haqi yang baru selesai berpakaian memandangi cermin yang memantulkan bayangan dirinya mengenakan kemeja berwana putih. Terlihat sedikit berbeda dari biasanya, Haqi mengalami kegugupan yang luar biasa padahal waktu dirinya menikahi Hulliyah beberapa bulan yang lalu kegugupan itu sirna karena rasa ingin melindungi.


Berlama-lama di depan cermin membuat Haqi semakin gugup. Untunglah sang adik segera menyadarkannya karena mereka telah siap untuk berangkat lebih pagi supaya acara selesai lebih cepat.


Haqi dan keluarganya terdiri dari dua mobil, di mobil yang pertama ada paman dan saudaranya yang lain. Sementara Haqi satu mobil bersama ayah dan ibunya serta adik iparnya yang mengendarai mobil.


Di dalam mobil yang hening Haqi merenung masih tidak percaya hari ini tiba juga. Hari yang setiap hari diimpikannya datang juga. Mobil melaju bersama asa yang berbaur suka cita.


------------------------


Di rumah Hulliyah kesibukkan tidak jauh beda terjadi semua anggota keluarga bersiap. Untuk kedua kalinya wajah Hulliyah ditempeli bubuk-bubuk berwarna yang mempercantik tampilannya.


Ada kesedihan yang tersirat dari hati Hulliyah. Akankah Haqi datang?


Berbeda 'kah Haqi dengan Beni?


Hulliyah trauma dengan kejadian tempo lalu yang mengharuskannya menelan pil pahit ditinggal dihari pernikahan.


Tidak banyak bicara Hulliyah nampak mengikuti alur yang berjalan dan waktu yang melaju.


Kesalahannya kemarin semoga tidak menjadi bumerang yang akan meluluhlantahkan harapan. Hulliyah kembali terbayang jikalau benar di jurang itu adalah Haqi lantas dirinya mau apa?


Hulliyah sudah berada di depan penghulu tetapi sang mempelai pria tak kunjung datang.


Sang ibu duduk di samping putrinya berusaha menenangkan bahwa semua akan baik-baik saja. Hal itu dirasa percuma ketika sang penghulu sudah terbangun dari duduknya. Bisikan dari tetangga yang sangat keras membuat nyali Hulliyah menciut dan menutup telinganya yang terbalut kerudung dan juga hiasan itu.


Hulliyah menutup mata dan juga telinganya mencoba menarik diri dari kenyataan yang akan mungkin terulang kembali.


Sampai tiba-tiba sang ibu mengusap-usap pundak Hulliyah kemudian tersenyum.


"Suamimu datang Nak."


Bagai ribuan cahaya yang datang ketika terperangkap dalam gelap. Keriuhan terjadi, rombongan Haqi disambut bak tamu agung. Hulliyah terkesiap antara bahagia bercampur haru, Haqi beda. Ya, Haqi berbeda.


Ketika ijabkabul teralun merdu dari mulut Haqi yang terdengar jelas di telinga Hulliyah. Haqi yang meminta Hulliyah kepada sang ayah dan menjadikannya istri yang sah, kini resmi dimata hukum dan agama.


Kulit Hulliyah merinding seketika dilapisi bulu halusnya yang meremang bersamaan.


Bahagia ini menjadi nyata setelah semua kejadian, akhirnya Haqi resmi diterima dalam keluarganya.


Air mata bahagia meluncur deras di pipi Hulliyah yang tertutupi dempul khas pengantin itu.

__ADS_1


Haqi menoleh ke sampingnya menatap lekat istri yang dirindukannya. Istri sahnya yang kini seutuhnya milik Haqi seorang.


Ketika Hulliyah pun menatap Haqi, sang suami masih belum melepas pandangannya. Akhirnya saling memuji lewat tatapan mata terjadi, kalimat saling menyanjung terbaca lewat tatapan satu sama lain.


Prosesi selanjutnya mereka lewati satu persatu. Kini mereka berdiri menerima ucapan selamat dari para tamu yang tidak banyak mereka undang.


Beberapa teman Haqi beserta teman santri Hulliyah yang nampak di sana. Mama bersama Bi Haji juga hadir memberi restu.


Sayangnya tidak terlihat Nimas dan Ustadz Zamzam di sana. Mereka berhalangan hadir menyaksikan akhir dari perjuangan sahabatnya.


Walaupun begitu, rasa bahagia itu tidak berkurang. Haqi dan Hulliyah larut bersama dalam kisah yang berakhir bahagia. Bersiap merenda indahnya kasih cinta dalam mengharap ridhoNya.


Tiada kehidupan yang selalu sesuai dengan keinginan. Kunci hidup bahagia adalah niat.


Jikalau niat kita baik maka hasilnya pun baik, tetapi jikalau niat kita buruk niscaya apa yang dipetik itupun hasilnya buruk.


Akhir cerita *by* Rf Rivi♥️



●**TAMAT●**


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Nantikan bonus chapter dan pertanyaan selanjutnya ya😉


__ADS_2