Love In Pesantren

Love In Pesantren
Hulliyah Sypa (2)


__ADS_3

Hulliyah masih berusaha menyadarkan dirinya dari kehaluan yang hakiki tentang seorang Beni.


"Li, kamu kenapa?"


Neli yang khawatir melihat temannya itu mendadak pucat mengguncang tubuh Hulliyah pelan.


"Eng ... enggak apa-apa." Hulliyah salah tingkah.


"Eh Li, kita enggak salah yaa di tempatkan di sini, jadi kita bisa cuci mata hihi."


Hulliyah mendelik tajam pada Neli yang cekikikan.


"Istighfar Neli, kita harus menjaga pandangan kita supaya tidak jadi zina mata."


Neli terdiam sejenak, kemudian berpura-pura menyesal.


"Yah, gimana dong udah terlanjur mataku ternodai ini. Bukan salah kita dong Li, salah Pak Polisi itu kenapa dia kegantengan begitu."


Apa?


Kegantengan?


Hulliyah menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kelakuan teman sekobongnya itu.


----------------


Serangkaian acara berjalan lancar, tiba di penghujung acara yakni perasmanan.


Aaah author ikutan dong.


Para tamu sedang mengantri mengambil makanan yang tersedia di atas meja panjang itu.


Hulliyah dan Neli masih asik berbincang yang tak jarang di bumbui gelak tawa pelan dari keduanya.


"Lia ya?"


Sebuah suara menghentikan obrolan Hulliyah dan Neli.


Hulliyah dan Neli menoleh pada asal suara.


Deg.


Kenapa jantung Hulli selalu memberi isyarat untuk dirinya gugup.


"Waaah ternyata benar Lia, oh ini Pesantren kamu."


Kata orang itu yang tak lain adalah Beni, seseorang yang mampu membuat Hulliyah terpesona.


Beni mengenalinya, oh apakah ini mimpi.


"Kamu masih mengenalku?"


Pertanyaan polos dari bibir Hulliyah membuat Beni tersenyum sumringah.


"Tentu saja, kita kan sekampung. Mana mungkin aku tidak mengenalmu."


Beni tersenyum menatap raut wajah Hulliyah yang menurutnya sangat manis.


"Kalian saling kenal? Ah Hulli curang nih, enggak bilang-bilang."


Tiba-tiba Neli membuyarkan nostalgia yang tengah terjalin antara Hulliyah dan Beni.

__ADS_1


"Ah iya, ini teman sekampungku Nel. Namanya Beni."


Hulliyah mengenalkan Beni pada temannya yang barbar itu.


"Beni ... Eh Lia kalau makan suka berisik enggak?"


Hulliyah sontak menatap Beni yang dia rasa sedang menggodanya.


"Aku udah bukan anak kecil lagi sekarang."


Hulliyah tak terima hal yang diingat Beni tentangnya adalah hal yang sangat memalukan.


"Ya kali aja Lia, kan kamu kalau makan apalagi pakai sendok keluar bunyi trong-trang gitu."


Beni tergelak sambil mengingat bagaimana kelakuan Hulliyah dulu.


"Lia?"


Lagi-lagi Neli membuyarkan nostalgia Hulliyah.


"Di kampung, teman kamu ini terkenal dengan nama Lia."


Beni menjelaskan supaya Neli tidak penasaran lagi.


"Kamu enggak makan?"


Hulliyah mencoba menghindar dari situasi berdekatan dengan Beni.


"Iya, aku makan dulu. Senang ketemu kamu di sini. Lain kali aku bakal sering ke sini deh."


Eh.


Hulliyah terpaku di tempatnya sambil memperhatikan Beni yang bergabung dengan teman-temannya mengantri untuk makan.


----------------


Malam berlalu dengan cepat tak terasa kumandang adzan subuh telah terdengar.


Hulliyah terbangun dari tadi, dirinya sudah berada dalam mesjid lengkap dengan mukena yang membalut tubuhnya.


-----------


Setelah melaksanakan sholat subuh, Hulliyah mendengarkan kajian singkat dari Mama Haji.


"Saya sangat senang pagi ini karena ada tiga orang anggota kepolisian yang ikut sholat subuh di sini."


Mama Haji mengawali kajian subuhnya dengan menyapa orang-orang yang kebetulan hadir disana.


"Dalam kesempatan pagi hari ini mari kita bahas tentang keutamaan bangun subuh, tepatnya ada lima keutamaan. Mau pada tahu ga nih?"


Mama melempar pertanyaan pada semua yang mendengarkan kajiannya, semua kompak menjawab iya.


"Satu, malaikat mendoakan orang di saat subuh loh. Dua, bangun subuh kemudian sholat ternyata itu akan membuat hari yang kita lewati itu menyenangkan dan kita akan selalu bersemangat. Tiga, subuh adalah waktu dibukanya rejeki. Empat, mendapat ampunan dari segala dosa. Nah untuk yang kelima ini, menurut saya paling penting dan menjadi idaman kita semua yakni mendapat berkah dari Alloh. Bagaimana nih Pak Polisi mau enggak hidupnya berkah?"


Mama Haji melempar pertanyaan dengan candaan kemudian melanjutkan pembicaraannya.


"Rosululloh bersabda yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani, 'keberkahan bagi umatku mengalir di waktu pagi buta mereka.' Nah apalagi yang kita tunggu untuk mencari keberkahan, hei ayolah kita cuma harus bangun subuh. Kalian paham?"


Author paham Ma, lebih semangat bangun subuh ah.


Kajian pun usai sekitar pukul enam pagi. Hulliyah bersama santri lainnya keluar dari mesjid.

__ADS_1


"Assalamualaikum Lia."


Hulliyah berbalik badan ketika ada yang memanggilnya dari arah belakang.


"Waalaikumussalam."


Hulliyah cepat menundukkan kepalanya melihat Beni berjalan mendekat.


"Ternyata sholat subuh di sini menyenangkan, ada kajiannya pula. Aku bakal tiap hari nih sholat subuh kesini."


Hulliyah tak mengangkat kepalanya, Hulliyah hanya mengangguk menanggapi ucapan Beni.


"Kalau begitu, aku tugas dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Setelah dirasa Beni telah pergi barulah Hulliyah mengangkat kepalanya, kemudian beristighfar mohon perlindungan supaya hatinya senantiasa dijaga oleh yang maha kuasa.


Jauhkan sajalah dia ya Tuhaan.


--------------------


Siang hari ini Hulliyah mengajar Tk seperti biasa. Kelucuan dan keluguan anak-anak itu mampu jadi penghibur tersendiri untuk Hulliyah yang kesepian.


Maaf yaa thoor aku enggak kesepian tuh.


Ah maafkan aku salah bicara.


Setelah usai mengajar Hulliyah pergi ke rumah Nimas, sekedar melepas penat dan mengobrol dengan Nimas mungkin bisa membuat dirinya senang dan terhibur.


Berhubung jam-jam segini Pesantren tak ada kegiatan jadi Hulliyah menggunakannya untuk pergi ke rumah Nimas.


Tiba di rumah Nimas, Hulliyah nyelonong seperti biasa setelah memberi salam terlebih dulu.


Nimas pun tak mempermasalahkan hal itu, dirinya justru senang bila Hulliyah bermain ke rumahnya. Yaa anggap saja ada babbysitter gratis, yang membantu dirinya memomong Zamima.


"Nim, Beni Nim."


Hulliyah bersandar di bahu sahabatnya itu ketika mereka duduk bersebelahan.


"Beni?"


Hullliyah mengangguk.


"Kenapa coba dia musti hadir saat aku mulai lupa?"


Nimas tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Sebelum Nimas bicara tiba-tiba pintu terbuka dan Ustadz Zamzam pulang sambil memberi salam.


"Neng, tolong bikinin minum buat Haqi di luar tuh!" pinta Ustadz Zamzam sesaat setelah dirinya masuk kemudian berlalu ke kamar seperti sedang mencari sesuatu.


Nimas menuruti perintah suaminya, dan pergi ke dapur meninggalkan Hulliyah yang tengah memangku Zamima.


Beberapa saat kemudian Nimas muncul dengan nampan di tangannya. Sebelum Nimas keluar untuk memberikan minuman itu pada Haqi, Ustadz Zamzam terdengar memanggil namanya dari kamar.


"Kenapa A? Sebentar! Duh Li maaf yaa, tolong berikan minuman ini sama tamunya A Zam ya."


Nimas memberikan nampan berisi minuman itu pada Hulliyah dan menggendong Zamima, kemudian berlalu ke kamar.


Hulliyah terbengong sampai akhirnya terpaksa membawakan air minum itu keluar.

__ADS_1


Nah loh Hulli


__ADS_2