Love In Pesantren

Love In Pesantren
kenapa begini?


__ADS_3

Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya Nimas dan Ustadz Zamzam sampai juga di rumah mereka.


Sang Ustadz menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah.


Dilihatnya sang istri yang tertidur di sebelahnya. Kemudian dia tersenyum mengelus pipi istrinya.


Dia keluar menurunkan barang bawaannya dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Nimas mengerjapkan matanya dan terbangun dari tidurnya. Setelah menormalkan penglihatan dan kepalanya yang sedikit pusing, Nimas turun dan berjalan ke arah rumah yang terbuka pintunya itu.


Belum Nimas masuk, suaminya muncul di ambang pintu itu kemudian tersenyum.


"Kenapa bangun neng?"


Eh apa katanya, membuat Nimas bingung.


"Memangnya kenapa?"


Sang Ustadz masuk kembali ke dalam rumah, dan mendudukan dirinya di sebuah kursi yang letaknya tepat di ruang tamu.


"Ya tadinya aa mau niruin adegan romantis di film-film gitu, si cowok gendong ceweknya yang ketiduran di mobil."


Kemudian Ustadz Zamzam tergelak. Sementara Nimas meringis sendiri, gini amat punya laki, mungkin itu yang ada dibenaknya.


------------------------------------------


Hari telah berganti gelap, setelah tadi Nimas dan Ustadz Zamzam membereskan rumah supaya layak di tempati.


Mereka memutuskan untuk berkunjung ke pesantren malam ini tepatnya sehabis isya, mereka berjalan kaki menuju pesantren.


"Tadi Aa udah ketemu Mama Haji di mesjid, Ibi ingin bertemu sama neng."


Nimas mengangguk mengikuti langkah suaminya yang lebar, membuat dia harus seperti berlari mensejajarkan langkah berkali-kali.


Setibanya di area pesantren, yang dilihat Nimas adalah apa yang dirindukannya.


Aula itu, madrasah itu, mesjid itu, dan kobong itu.


"Ayok neng.."


Sang Ustadz menarik tangan Nimas yang masih diam di tempat.


Nimas mengikuti langkah suaminya, tapi kini hatinya berdebar kala mendengar sayup-sayup para santri yang tengah mengaji.


Aaaaa rinduu...


Menjerit hati Nimas.


Setibanya di rumah Bi Haji mereka di persilahkan masuk. Nimas dan Bi Haji saling berpelukan melepas rindu.


Belum ada sebulan, mereka tuh lebay kadang.


"Gimana nih jadi penganten?" tanya Bi Haji setelah mereka duduk rapi.


"Enak bi." Ceplos Ustadz Zamzam, membuat Nimas melotot ke arahnya tak percaya apa yang dikatakan suaminya itu.


Bi Haji tertawa mendengarnya, lalu apa yang terjadi selanjutnya.


"Assalamualaikum.."


Suara salam mengalihkan pandangan orang yang tengah tertawa itu.

__ADS_1


"Eh Mama, waalaikumussalam."


Bi Haji mengajak Mama duduk di sampingnya, setelah tadi Nimas dan Ustadz Zamzam menyaliminya.


"Ada apa nih? Suara tawa kalian terdengar sampai teras."


"Maafkan kami Mama, tadi si Zam masa bilang nikah itu enak." Celetuk Bi Haji.


Haisshh Nimas malu dibuatnya.


"Lah emang iya enak ya Zam, ada yang masakin, ada yang bisa diajak curhat, dan ada yang nemenin tidur iya gak?"


Ah Mama malah memperparah, mereka tertawa terlebih melihat Nimas yang kaku tidak bisa diajak bercanda, malah membuat dirinya dijadikan bahan candaan orang-orang itu.


Setelah agak lama berbincang, Ustadz Zamzam dan Nimas pun berpamitan pulang.


"Besok mulai ngajar ya Nim?"


"Ishaalloh bi, kami permisi dulu assalamualaikum."


Nimas pun berjalan pulang, tanpa disangkanya sang Ustadz meraih tangannya dan di genggamnya erat.


Ini apa-apaan sii, fikiran Nimas berlarian sembari menatap wajah sang suami.


Tapi kala Nimas menghadapkan pandangannya lurus ke depan, dia melihat Sofia di sana tengah berjalan bersama Rista.


Seketika itu hati Nimas kembali sakit, dirinya merasa berkali-kali dimanfaatkan sang Ustadz.


Perlahan Nimas melepaskan genggaman itu, namun sulit. Genggaman tangan itu menguncinya.


Terpaksa Nimas membiarkan seraya tersenyum kala mereka berpapasan dengan Sofia dan Rista.


"Asalamualaikum, Sof Ris. Apa kabar?"


"Ah iya, Sof baru tadi siang nyampe sini. Aku kangen kalian."


"Sayangnya kami tidak, asalamualaikum."


Krekkk retakan hati Nimas terasa sangat menyakitkan kala mendengar ucapan Rista yang menohok.


Nimas mematung di tempat, binaran mata yang tadi ditunjukkannya hilang seketika sepeninggal dua sahabatnya itu.


"Neng, neng, kamu kenapa?"


Sang Ustadz khawatir melihat istrinya terdiam, tatapan Nimas tajam padanya.


Dia ingin sekali berteriak pada suaminya itu.


Kamu penyebab aku ada di posisi seperti ini. Kamu!


Nimas berjalan cepat meninggalkan suaminya yang memanggil-manggilnya.


Ah bodo amat, Nimas hanya ingin berlari hanya ingin menangis.


Tiba di rumah, Nimas langsung menuju kamar dan merebahkan diri di sana.


Sementara sang Ustadz yang tidak peka itu mengejarnya dengan ketakutan akan tidur di luar malam ini.


Sang Ustadz bernafas lega setelah membuka pintu ternyata tidak dikunci begitupun pintu kamar yang masih terbuka.


"Neng?"

__ADS_1


Mendekat kini sang Ustadz meski ragu.


"Apa sii A? neng capek mau tidur."


Nimas menarik selimutnya.


"Neng kenapa?"


Ustadz nih gimana ya fikirannya?


"Kenapa Aa bilang?"


Nimas menyibak selimutnya kemudian terduduk dengan sekuat tenaga menahan agar air yang sudah berkumpul di pelupuk matanya tidak keluar.


"Neng mau tanya, apakah Sofia tau kalau aa dan dia saudara sepersusuan?"


Suara Nimas bergetar mengatakannya.


Sang Ustadz menarik nafasnya, apa yang belum dia jelaskan pada Nimas akhirnya ditanyakan juga.


Ya, Ustadz Zamzam memang salah dalam hal ini membuat kesalah pahaman yang semakin banyak membuatnya pusing sendiri.


"Waktu kami mengetahui perihal itu, kami sudah berdiskusi dengan orang tua Sofia. Dengan berat hati kami memutuskan segala hal yang telah direncanakan."


"Aa mencintai Sofia?" Tatapan Nimas memicing ke arah suaminya kala bertanya hal itu.


Sang Ustadz menunduk, hal yang tak disukai Nimas.


"Jawab A!!"


"Maafkan Aa, neng."


Sudah cukup semua Nimas tahu, kalau saja mereka bukan saudara, bukan Nimas yang ada di posisi seperti saat ini.


Nimas menghapus air matanya yang jatuh begitu derasnya. Nimas tersenyum manis pada suaminya.


"Apa neng kesurupan?"


Pertanyaan macam apa itu.


"Bukan A, aku hanya bahagia karena aa sudah jujur padaku."


"Neng ga marah?"


"Marah sii sedikit, tapi aku iklas."


"Subhanalloh, terimakasih," ucap sang Ustadz kemudian memeluk tubuh istrinya itu erat, seraya berkata dalam hati, "Terima kasih ya Alloh kau hadirkan bidadari untukku. Aku akan menjaganya sepenuh hati, akan menyayanginya dan bersama mencari ridho-Mu yaa Rabb."


Sementara dalam hati Nimas sedang berperang antara hati nurani dan akal fikirannya. Sungguh dirinya bingung, namun Nimas memilih berdamai dengan hatinya.


--------------------------------------------


Haii readersku tercintah, maaf yaa kalau bingung dengan caraku menulis. Karena aku menggunakan dua sudut pandang disini. Hehe...


#Besok biar aku yang ngomong ya thor (Nimas)


#iya Nimas, eh kamu ko ga marah sama Ustadz? (author)


#Apa gunanya thor semua sudah terjadi, mungkin suatu saat hati Ustadz akan berpaling padaku seiring waktu (Nimas)


#Semangat yaa kamu pasti bisa Nimas (author)

__ADS_1


#emang aku bisa ko (Nimas)


__ADS_2