Love In Pesantren

Love In Pesantren
kamu sama dia?


__ADS_3

Sang Ustadz terus menatap Nimas yang tengah duduk di meja yang tak jauh dari tempatnya duduk.


Ustadz Zamzam fokus pada sosok pria yang sedari tadi di perhatikannya terus memandangi Nimas. Jujur dia merasa saat ini hatinya terbakar melihat pemandangan itu, namun dia mencoba tetap tenang dan memilih untuk mengintai saja dulu.


Ustadz bisa cemburu juga.


Terlebih saat pria itu memberikan hpnya pada Nimas, Ustadz Zamzam bisa memahami arti dari gerak gerik mereka.


Di sisi lain Nimas jadi tak tenang setelah menyadari ada sang suami memperhatikannya.


Beberapa saat kemudian ada seorang perempuan menghampiri Ustadz Zamzam, jelas itu membuat Nimas tertegun ketakutan itu berubah jadi kemarahan.


Oh jadi Ustadz Zam lagi pacaran, begitu fikirnya. Tak lama, sang Ustadz menghampiri mereka bersama perempuan itu yang ternyata adalah bu Rara.


"Assalamualaikum, hai Stadz Ahmad."


"Waalaikumussalam, eh kamu Stadz Zam. Mari-mari gabung!!"


Sementara Bu Rara berpamitan pulang sang Ustadz memilih bergabung dan duduk di samping Nimas, kemudian menyodorkan tangannya pada Farrel.


"Kenalkan, saya Zamzam suaminya Nimas."


Farrel sedikit terkejut, tapi kemudian menyambut tangan Ustadz zamzam.


Yah targetmu bini orang Rel.


Sofia dan Hulliyah sejak tadi sudah saling toel. Aih toal-toel.


"Oh iya semua, doakan yaa Siti lagi mengandung. Moga lancar dan sehat segalanya."


Tiba-tiba Ustadz Ahmad berbicara, mungkin sekalian mencairkan suasana juga.


Udah panas banget aura di sana ya.


Berlanjutlah obrolan yang tadi terhenti. Namun tidak, dengan kedua pria yang tengah berhadapan itu, mereka saling menatap sejak tadi.


Siapa lagi kalau bukan Ustadz Zamzam dan Farrel. Kalau diibaratkan nih sedang ada sengatan listrik yang berapi kala tatapan mereka bertemu.


------------------------


Setelah berapa lama akhirnya mereka membubarkan diri. Nimas beserta Sofia dan Hulliyah akhirnya ikut mobil Ustadz Zamzam.


Di dalam mobil awalnya tak ada kata, namun kemudian.


"Apa wajar seseorang yang telah memiliki suami memberikan nomor ponsel pada lelaki lain?"


Sinis banget Stadz ngomongnya.


Nimas yang mendengar itu lantas memicingkan pandangannya ke arah Ustadz Zamzam.


"Kamu jangan nyindir gitu lah A."


"Oh tersindir ya. Sungguh perbuatan tidak terpuji."

__ADS_1


Apa dia bilang?


Jiwa berontak Nimas yang terselubung menyembul ke permukaan di perlakukan seperti itu.


"Ok, terus apa wajar seseorang yang beristri ketemuan dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan istrinya?."


Sungguh demi apa pun Nimas tak sadar telah berbicara lugas begitu.


"Aku gak cuma berdua, tadinya Pak Anwar dan bu Nanda juga akan ke sana tapi batalin tiba-tiba."


"Halaah alasan."


Nimas ketus banget oii.


"Kamu ya, berani terus ngejawab kalau suami lagi ngomong!!"


Sang Ustadz mulai hilang kendali dia memukul stirnya keras, namun dia baru sadar ternyata di bangku penumpang ada dua orang yang terlihat canggung mau lari tak bisa.


Haha Sofia dan Hulliyah sejak tadi menyaksikan adegan perang itu dengan tak enak hati, mimpi apaa kalian itu bisa berada pada keadaan seperti ini.


"Sofia, Hulli maaf ya."


Sang Ustadz juga jadi tak enak, masalah rumah tangganya jadi tontonan.


Sementara Nimas membuang muka ke samping jendela mobil.


Dia sungguh marah kali ini.


"Lepasin A! Aku mau di sini dulu."


"Enggak kita harus bicara!!"


Sama-sama keras mereka kali ini, Nimas mengibaskan tangannya keras sehingga terlepaslah cengkraman sang Ustadz.


"Neng!! Nimaas!!"


Teriak uyy Ustadz, namun tak di gubris Nimas dengan cepat dia masuk area pesantren.


Sang Ustadz,akhirnya ikut turun bermaksud untuk menyeret istrinya masuk mobil, namun Sofia tiba-tiba menghadangnya.


"Istighfar Ustadz, anda sedang emosi. Sebaiknya biarkan Nimas di sini dulu. Sudah hampir waktunya solat jumat, baiknya Ustadz bersiap."


Sang Ustadz pun terdiam dan mulai sadar kemudian dia mengusap wajahnya kasar.


Menyerahlah dia dan masuk mobil pulang ke rumah.


Sementara Nimas kini tengah berada di kobong, tadi pas dia masuk Rista yang membuka pintu dan kini Nimas masih menangis di pelukan Rista.


Rista yang belum mengerti keadaan, membiarkan sahabatnya itu untuk menangis di pelukannya dia berfikir mungkin dengan cara ini setidaknya bisa sedikit menebus kesalahannya pada Nimas.


Sofia dan Hulliyah pun kini berada di kobong.


"Sudah Nim, mungkin ini salah paham."

__ADS_1


Hulliyah berinisiatif untuk bicara dan mengusap punggung Nimas untuk menenangkannya.


Nimas melepaskan pelukannya pada Rista, kemudian menatap sahabatnya satu persatu.


"Kalian gak tau rasanya melihat suami bersama wanita lain."


Di sela tangisnya dia bicara.


Eh tapi para sahabatnya malah tersenyum semua membuat Nimas tak mengerti.


"Kenapa pada senyum sii? Kalian senang ya aku diginiin."


"Mana ada Nim, kami kini tahu bahwa kamu mencintai suamimu begitu pun sebaliknya. Ustadz Zamzam juga mencintaimu."


Dari Hongkong!!! Jelas-jelas dia cintanya sama kamu.


Nimas bergelut dengan fikirannya yang begitu sakit.


"Nimas dengerin aku !!"


Rista angkat bicara juga akhirnya.


"Kamu pulang sekarang !!"


Rista, aku kira kamu masih sahabatku.


Begitu kata hati Nimas.


"Kamu pulang, biar nanti Ustadz Zamzam pulang jumatan, dia mendapati istrinya ada di rumah. Masak yang enak terus dandan yang cantik, bukankah untuk para istri besar pahalanya jika menyambut suaminya pulang jumatan. Itu sunat."


Nimas merenungi ucapan Rista, dan akhirnya memutuskan pulang.


Sesampainya di rumah Nimas langsung memasak, kemudian Nimas mandi dan bersiap menunggu sang suami pulang.


Deg-degan juga bagi Nimas menunggu suaminya yang tadi dilingkupi kemarahan. Biar bagaimana pun Ustadz Zamzam adalah manusia biasa yang memiliki emosi da perasaan.


Tiba sang Ustadz membuka pintu rumah, dia sedikit tertegun mendapati sang istri yang menyambutnya dan menjawab salamnya.


Ya, tadi Ustadz Zamzam mengucapkan salam meski dia fikir tak ada orang di rumah karena malaikat yang akan menjawabnya.


Namun kini dia mendapati Nimas tersenyum manis lalu mencium tangannya. Sungguh sang Ustadz kehilangan kata untuk menggambarkan betapa cantiknya Nimas saat itu.


Nimas menuntunnya ke meja makan, dan membantu mengambilkan makanannya. Sementara sang Ustadz masih terpaku memandangi wajah Nimas.


Aduh momen ini nih sulit di deskripsikan hihi.


Setelah selesai makan yang tenang tanpa ada perbincangan. kini mereka tengah berada di kamar, Nimas membantu mengambilkan baju ganti suaminya. Kemudian duduk di tepi tempat tidur dengan kegugupan sambil memperhatikan gerak-gerik suaminya yang tengah mengganti pakaiannya.


"Neng." "A."


Anggap saja mereka berkata bersamaan ya, soalnya mereka berbarengan itu bicaranya.


#aduh momen romantis (author)

__ADS_1


__ADS_2