
Setelah tadi Sofia berpamitan pulang, kini Hulliyah pun bersiap pulang.
"Hulli..!"
Eh kenapa tuh Ustadz Zamzam lari-lari gitu.
Hulliyah menoleh ke arah sang Ustadz.
"Ada apa Stadz?"
Kemudian Ustadz Zamzam berhenti tepat di dekat mobil yang di tumpangi Hulliyah.
"Mau numpang pulang, boleh kan Pak supir?"
Huuh kirain ada apa kamu tuh Stadz.
"Boleh Stadz, emang tadi naik apa kemari?"
Sang Ustadz mengusap lengannya tak enak hati.
"Tadi kesini dianterin Pak Anwar, mobil saya lagi di service."
"Tentu boleh Stadz."
"Tapi tunggu sebentar ya, Haqi sebentar lagi keluar."
Aihhh ko cuma ngomong gitu aja, author bayangin wajah kamu sii Stadz. Astagfirullohaladzim, bukan contoh baik ini haha.
Tak berselang lama pria bernama Haqi itu muncul. Sambil menenteng papperbag dia berjalan menghampiri Ustadz Zamzam.
"Maaf lama."
"Ga apa-apa, ayo masuk!"
Eh tunggu deh Ustadz Zamzam berlagak seperti pemilik mobil itu ckck.
Ustadz Zamzam masuk ke dalam mobil di jok depan. Sementara Haqi ragu untuk masuk, sebab saat membuka pintu belakang, dirinya mendapati Hulliyah di sana.
"Cepatan Qi, sebentar lagi dhuhur."
Sang Ustadz ga sabaran, tapi setelah menoleh ke belakang barulah dia sadar dan menepuk jidatnya.
"Pak, kitab-kitab di bagasi ya?"
Tanya Ustadz Zamzam pada supir.
"Iya Stadz."
"Buka bagasinya Pak !!"
Sang Ustadz keluar dari mobil dan mengeluarkan kitab-kitab itu dari bagasi dan memindahkannya ke kursi penumpang tepatnya di tengah-tengah, hingga kini Haqi bisa masuk dan duduk di jok sebelah kiri dan ditengahnya tuh kitab terus Hulliyah dengan gugupnya duduk di sebelah kanan.
Mobil pun melaju, Ustadz Zamzam sibuk bertelpon ria. Pasti sama Nimas deh kelihatan dari wajahnya yang berseri-seri dengan kata-kata gombalan berkali-kali dia lontarkan duh bikin risih deh.
Kasihan Stadz kedua orang penumpang di belakang sana hihi.
Sementara sang supir fokus ke jalanan hanya jalanan yang ada, eh.
Sesekali supir pun tersenyum mendengar ucapan Ustadz Zamzam pada istrinya. Mungkin begini nih yang ada dalam benak sang supir, " Aje gilee nih Ustadz, nanti aku ikutin ah ngerayu bini di rumah."
Iyaa Pak Supir buat bini aja yaa, ga boleh buat yang lain gombalannya kkk.
Dibelakang sana dua anak manusia sungguh tak nyaman dalam duduknya.
Hulliyah yang terus menunduk, dan Haqi yang sesekali mencuri-curi pandang ke arah Hulliyah meskipun sudah terhalangi tumpukkan kitab.
Hadeeuuh Haqi nakal nih, author bilangin emak kamu nanti looh.
-------
Sesampainya di lingkungan Pesantren, sang Ustadz beserta Haqi langsung menuju mesjid di sana, untuk menunaikan sholat dhuhur.
Setelah selesai, mereka berkunjung ke rumah Mama Haji di sana mereka membicarakan tingkatan Ulya yang ada di Pesantren itu.
__ADS_1
Tingkatan Ulya ini setara dengan SMA sehingga ijazahnya bisa di terima sebagai lulusan SMA.
Ustadz Zam bersama Haqi berencana untuk melebarkan sayap Pesantren ini agar lebih di kenal luas.
Ciee sayap.
Maklum pada bulan Ramadan kemarin mereka kedatangan santri dadakan yakni anak-anak sekolah kejuruan yang hampir sebulan berada di sana. Santri-santri dadakan itu melakukan kegiatan ramadan di Pesantren ini.
Itu menjadi kebanggaan tersendiri tentunya untuk Mama Haji dan di harapkan kegiatan seperti itu akan tetap ada setiap tahun. Dan program kesetaraan yang ada di Pesantren akan menjadi alternatif pilihan buat para orang tua yang galau mau masukin anaknya ke Pesantren apa sekolahin SMA nah ini solusinya.
Duh ko author jadi promosi wkwk.
---------------
Sebelum pulang Haqi menyempatkan diri mampir ke rumah Ustadz Zamzam.
"Oh ini anaknya Ustadz? Wih cantik."
Sesaat setelah Ustadz Zamzam kembali ke teras sambil menggendong Zamima.
Jadi tadi tuh Haqi disuruh nungguin di teras, uh sadis.
"Alhamdulillah."
Sang Ustadz tersenyum sambil mendudukan dirinya di kursi bersama Zamima di pangkuannya.
"Mamanya kemana?"
Sontak pertanyaan Haqi membuat sang Ustadz mendelik tak terima.
Haqi yang menyadari perubahan sahabatnya buru-buru meluruskan pertanyaannya.
"Woh woh, santai Stadz aku cuma nanya." canda Haqi.
"Lagi bikinin minum buat kamu, eh kalau ga haus ga apa-apa pulang aja."
Isshh ngusir bukan si?
Haqi menanggapi ucapan Ustadz Zamzam asal.
"Sejujurnya sii aku penasaran sama mamanya anakmu, anaknya aja cantik apalagi mamanya."
Haqi pinter ngeledekin Ustadz Zamzam ternyata.
"Mamanya anakku itu istriku."
Ustadz Zam kesal pemirsahh.
"Teruus, mamanya anakku yang adalah istriku itu digebet sahabatku. Gitu kira-kira ya Stadz."
Haqi pun tergelak kencang seakan menemukan kelemahan sang sahabat yang selama ini sedikit dingin.
Mulai saat ini siap-siap deh Stadz di godain Haqi terus haha.
Sang Ustadz hanya geleng-geleng di goda seperti itu oleh Haqi.
Sabar Stadz sabaaaar.
Beberapa saat kemudian Nimas pun datang membawa minuman beserta cemilan dalam toples, yang pasti bukan sisa lebaran kemarin yaa.
"Neng masuk lagi deh, bawa Mima nih."
Sang Ustadz berdiri menyerahkan Zamima pada istrinya itu lalu sedikit mendorongnya masuk ke dalam rumah.
"Ta.. Tapi A.."
Nimas kebingungan dan akhirnya masuk menuruti sang suami.
Ustadz Zamzam pun menutup pintunya rapat. Kemudian dia duduk kembali.
"Wah bener Stadz, mamanya anak kamu cantik banget."
Dan lagi, Haqi tergelak lebih keras.
__ADS_1
Ih Haqi jahil tingkat pakar ini.
"Iyaa dia istriku."
Akhirnya sang Ustadz ketus juga haha, udah kemakan ya?
"Canda Stadz, mukanya jangan tegang gitu."
Andai saja tidak ada adab untuk menghormati tamu mungkin saat ini Ustadz Zamzam sudah menendang Haqi supaya cepat pulang.
Eh itu sih kalau author, Ustadz Zam mah baik ko.
Dan ternyata hadist yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim yang menyelamatkan Haqi kali ini.
Barang siapa yang mengaku beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah dia memuliakan tamu.
Uh selamat kaan hari ini kamu Qi.
Sang Ustadz dari tadi memijat keningnya, entah ini jengah melihat kelakuan Haqi atau sedang berfikir bagaimana caranya supaya Haqi cepat pulang.
Haqi yang masih betah menggoda Ustadz Zamzam pun harus rela pulang karena mendapat telpon darurat barusan.
Ada kelegaan disudut hati Ustadz Zamzam. Sehingga setelah Haqi pergi Ustadz Zam buru-buru masuk ke dalam rumah.
Dilihatnya Nimas tengah menyusui Zamima, sang Ustadz pun duduk di samping Nimas.
"Heboh banget temen kamu A."
Tanpa melihat suaminya Nimas berucap.
Sang Ustadz tersenyum sambil mengusap-usap pipi anaknya.
"Haqi emang gitu orangnya."
"Namanya Haqi, aku ga sopan banget A tadi. Lagian Aa kenapa nyuruh aku masuk?"
Sang Ustadz kini beralih menatap sang istri.
"Karna neng kelemahanku."
Nimas mengernyit tak mengerti.
Ustadz Zamzam bukannya menjelaskan malah mencium pipi Nimas mendadak, kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar.
Elah Ustadz tanggung jawab woii Nimas melotot gitu karena kaget.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Author tuh orangnya mudah bahagia, masa nih yaa cuma baca komenan kalian aja aku senyum-senyum. Tandanya kalian semua sudah memberikan kebaikan berupa sodaqoh komen wkwk. (Author)
# Emang ada thor sodaqoh komen? (Nimas)
#Ada dong Nim, yang namanya sodaqoh itu kan memberi pada yang membutuhkan dengan hati ikhlas juga mampu memberikan kebahagiaan bagi yang menerima. Nah author butuh, author juga bahagia.. Hehe terimakasih semuanya pembacaku yang setia maupun yang baru datang, semoga ceritaku bisa bermanfaat tidak hanya untuk bacaan tapi juga pembelajaran. Duh author ngetik ini udah jam 23:30, kebayang doong matakuh seperti apaa.
Intinya terimakasih semua.
__ADS_1