
Haqi dan Hulliyah berjalan menyusuri jalanan, tidak ada arah tujuan mereka mau kemana. Yang jelas mereka hanya ingin mengobrol.
Saat raga ingin bersatu tetapi ruang dan waktu tak mengizinkan, itulah ibaratnya.
Terus melangkah, saat hati ingin berbicara lebih namun bibir seakan terkunci untuk terbuka. Hanya untuk mengeluarkan satu kalimat saja berat terasa.
"Sypa apa kabar?"
Masih aja kaku hihi.
"Baik, Kakak apa kabar?"
Hulliyah pun canggung rasanya, biar bagaimanapun mereka adalah orang lain yang tidak terlalu dekat lalu dipersatukan takdir.
Permainan takdir yang sangat sempurna dimainkan dalam wadah kehidupan. Qada dan qadar yang harus mereka jalani dengan kepasrahan.
Mereka terus berjalan dalam kebisuan setelah tadi saling bertanya kabar. Entah sudah berapa langkah mereka berjalan, tanpa sadar mereka sudah berada di pinggir sebuah lapangan bola. Lapangan yang biasa dipergunakan untuk pertandingan bola antar kampung. Lapangan itu jaraknya lumayan jauh dari area Pesantren maupun rumah Nimas.
Hulliyah menghentikan langkahnya, kemudian mata Hulliyah berkeliling melihat dan menyusuri apa yang ada di sekitarnya.
Nampak tanah yang lapang dan beberapa rumput hijau yang tumbuh di tengah-tengahnya.
"Ini dimana Kak?" tanya Hulliyah.
Haqi pun ikut tertegun dan memperhatikan sekitar.
"Loh, kita dimana?"
Nah loh, kenapa bisa nyasar wkwk?
------------
Haqi dan Hulliyah akhirnya duduk di atas tembok yang mirip tribun penonton di pinggir lapangan. Hanya sebuah bentangan tembok beratapkan genteng yang terbuat dari seng.
Dari sana, mereka dengan leluasa menatap ke arah tengah lapangan. Menonton kumpulan anak remaja yang sedang bermain bola.
"Maafkan aku," kata Haqi tiba-tiba.
Hulliyah memilih tak menoleh ke arah Haqi, Hulliyah memilih untuk tetap memandangi anak-anak yang nampak ceria di depannya.
"Tidak perlu minta maaf Kak, saya mengerti kok."
"Waah baik banget, untung ada kerudung kamu." kata Haqi.
Hah?
Hulliyah akhirnya menoleh juga dengan sedikit mengerutkan keningnya, Hulliyah menatap Haqi yang sedang menatapnya dan memberikan senyuman terbaiknya.
"Maksud Kakak apa?"
"Iya, tadi aku minta maaf udah dudukin kerudung kamu. Eh kebetulan temboknya kotor jadi celanaku aman deh."
Mata Hulliyah membulat seketika, matanya turun ke arah kerudungnya. Benar saja Haqi dengan santainya menduduki kerudung Hulliyah yang memang memanjang di belakangnya itu.
"Ih Kakak apaan si?"
Hulliyah mendorong-dorong tubuh Haqi supaya Haqi berpindah posisi namun hasilnya nihil. Haqi bergeming di tempatnya merasakan sentuhan tangan Hulliyah yang menggoyang-goyangkan lengannya.
Hulliyah menghentikan aksinya, lalu menatap Haqi gusar. Bagaimana tidak, Haqi malah tertawa-tawa diperlakukan seperti itu oleh Hulliyah.
"Awas Kak!" kata Hulliyah penuh penekanan.
__ADS_1
Haqi yang melihat Hulliyah berwajah serius jadi ngeri sendiri.
"Iya maaf."
Haqi pun berdiri dan membiarkan Hulliyah membersihkan kerudungnya.
Ketika Hulliyah masih sibuk dengan kerudungnya, Haqi berlari ke tengah lapangan menghampiri para remaja yang sedang bermain bola dan ikut dalam permainan mereka.
Haqi bermain bola dengan wajah bahagia, terpancar jelas dari mimik wajahnya yang selalu mengumbar senyum kala menendang bola.
Hal itu pun tak luput dari perhatian Hulliyah yang sudah selesai dengan urusan kerudungnya. Kini Hulliyah menyaksikan permainan bola sang suami dengan seulas senyum menghias di sudut bibirnya.
Sampai ketika bola itu datang kepadanya. Ya, bola yang tertendang ke arahnya tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
"Lempar Kak! Lempar!" ucap salah seorang remaja di tengah lapang sana.
Namun hal itu tak membuat Hulliyah bergerak, Hulliyah memperhatikan bola yang kini ada di tangannya itu.
Seandainya saja bola ini adalah kehidupan dan kaki adalah takdir, maka aku akan menjadi kaki itu dan membawa kehidupanku ke tempat yang semestinya.
Pada ahkhirnya yang Hulliyah lakukan adalah turun ke lapangan membawa bola itu menendangnya dan menggiringnya melewati kumpulan remaja yang keheranan.
Pakaian dan roknya tidak menjadi penghalang bagi Hulliyah yang dengan luwesnya menggiring bola.
Sekedar informasi, dulu sebelum Hulliyah dimasukkan ke Pesantren Hulliyah adalah sosok pecinta bola, bahkan Hulliyah sempat masuk ke akademi sepak bola yang lumayan terkenal ditingkat nasional.
Namun cita-cita Hulliyah harus terkubur dalam-dalam ketika keadaan mengharuskannya untuk masuk Pesantren.
Kini, kesempatan bermain bola itu ada lagi. Hulliyah sangat senang, apalagi dia tidak yakin bisa melakukannya lagi setelah ini.
Hulliyah akan menikmatinya.
"Rebut bola ini kalau kalian bisa!" ucap Hulliyah.
Haqi yang awalnya mematung pun ikut bermain lagi. Gelak tawa mengiringi peluh yang bercucuran di tengah terik mentari itu.
Haqi dan Hulliyah kembali larut dalam kegembiraan dengan cara yang sangat sederhana. Melupakan kembali kemelut yang sedang menimpa mereka. Berlari dan tertawa mereka lakukan memecah canggung di hati.
---------------
Setelah olahraga dadakan tadi, kini Haqi sudah mengantar Hulliyah kembali ke Pesantren dengan selamat.
Setelah sempat kesulitan mencari jalan pulang, akhirnya mereka kembali terpisah. Hulliyah tidak memiliki harapan apapun bersama Haqi, Hulliyah tidak ingin bermimpi lagi yang hanya akan membuatnya jatuh dan sakit.
Seperti pemgalamannya bersama Beni yang harus hancur seketika.
"Li, darimana kamu? Tadi dicariin Bi Haji."
Neli yang berada di kobong menyambut kedatanhan Hulliyah dengan pertanyaan.
"Bi Haji nyariin? Ada apa ya kira-kira?"
Neli mengedikkan kedua bahunya pertanda tidak tahu.
Hulliyah bergegas membersihkan diri, dia mandi untuk menghilangkan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya.
Baiklah Hulli, ini saatnya kembali ke dunia nyata.
-----------------
Malam ini selepas sholat isya, Hulliyah bergegas ke rumah Bi Haji. Untungnya ini adalah malam jum'at jadi tidak ada kegiatan mengaji.
__ADS_1
Hulliyah sampai di rumah Bi Haji dan sudah berada di dalamnya sesaat setelah memberi salam dan dipersilahkan masuk.
"Darimana tadi siang Li?" tanya Bi Haji.
Hulliyah yang duduk di depannya serasa sedang disidang.
"Maaf Bi, tadi saya ke rumah Nimas terus bertemu Kak Haqi akhirnya kami berjalan-jalan. Maaf saya lupa waktu."
Hulliyah menundukkan pandangannya merasa bersalah.
"Sebenarnya ini tidak masalah, tetapi kamu berada di lingkungan Pesantren dan kamu tanggung jawab kami. Biarpun kalian suami dan istri tapi kamu tinggal di sini, berarti kamu harus mengikuti peraturan yang ada di sini."
"Iya Bi."
Hulliyah makin menundukkan kepalanya.
"Sebagai hukumannya, besok kamu harus jadi pengisi acara di Forum diskusi muslim se-Kabupaten."
Hulliyah terkesiap, dirinya merasa tidak sanggup apalagi acara itu dihadiri oleh seluruh perwakilan Pesantren yang ada di Kotanya.
"Tapi Bi?"
Bi Haji kemudian memberikan beberapa lembar kertas dan meminta Hulliyah untuk mempelajarinya.
"Kita harus berkontribusi banyak, oh iya besok akan mendiskusikan tentang acara perlombaan FASI."
"FASI? Apa itu Bi?
Hulliyah benar-benar tidak mengerti.
"Festival Anak Sholeh Indonesia, besok bersiaplah! Pak supir akan mengantarmu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Readers: Ko ceritanya aneh?
Author: Huhuhu iya loh, maafkan.
Readers: Tak ada maaf bagimu.
Author: Dih, emang aku pikirin!
__ADS_1
.......................................................