
Hulliyah dan Haqi membawa Zamima dan Khalila keluar dari Villa. Hulliyah menggendong Khalila sedangkan Haqi memangku Zamima. Mereka berjalan kaki menuju danau, sudah setengah jalan masih belum ada obrolan diantara mereka.
Melewati lapak pedagang membuat mereka harus berhenti berkali-kali sebab Zamima selalu merengek meminta jajan.
"Repot juga ya punya anak." ujar Haqi.
Mereka kini berhenti di lapak penjual sosis bakar. Entah sudah berapa makanan yang ditenteng Haqi, tetapi Haqi masih terus menuruti keinginan Zamima.
Hulliyah yang melihat Haqi kerepotan menghadapi Zamima hanya bisa menahan geli.
"Apa sii senyum-senyum?"
Haqi tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya melihat Hulliyah sejak tadi tersenyum.
"Enggak, Mima lucu banget ya?" kata Hulliyah.
"Iya banget, nanti aku kasih bon ke Bapaknya."
"Bon?"
Haqi menggendong Zamima kembali setelah sosisnya selesai dibuat.
"Iya bon jajannya Mima ini."
Hulliyah melotot tidak percaya, "Aku kira Kakak ikhlas."
"Sama Mima ikhlas sama Bapaknya enggak."
Haqi mencium pipi anak gadis yang ada digendongannya itu dengan gemas.
"Dih Kakak, sama aja atuh."
Haqi dan Hulliyah tertawa bersama, mereka merasa bahagia bisa mengobrol berdua seperti ini.
Banyak waktu terbuang yang mereka lewatkan karena sebuah situasi. Mengobrol santai begini setidaknya mengobati kegundahan yang membelenggu satu sama lain.
-----------------------------
Haqi membawa Hulliyah beserta anak-anak ke sebuah rumah makan di pinggir danau. Menu andalan di sana ialah ikan bakar yang langsung ditangkap dari danau.
Sejak tadi Khalila tertidur dalam gendongan Hulliyah, setelah tiba di rumah makan itu Hulliyah menurunkan Khalila pelan-pelan supaya tidak membangunkannya.
Sementara Haqi harus berlari-larian mengejar Zamima yang tidak bisa diam.
"Duh Ustadz Zam lagi ngapain ya kita tinggalin?"
Setelah berhasil membawa Zamima Haqi duduk berhadapan dengan Hulliyah, sementara tangannya mengunci pergerakan Zamima dalam pangkuannya.
"Awas aja kita udah repot begini tapi urusan mereka belum kelar," lanjut Haqi.
"Nimas tidak setega itu, aku yakin mereka sudah baikkan."
Obrolan mereka terhenti kala sang pramusaji datang membawa makanan yang mereka pesan.
Beberapa saat kemudian Haqi dan Hulliyah memulai acara makan siangnya. Hulliyah makan sambil menyuapi Zamima, mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
__ADS_1
---------------------
"Kadang aku ngiri sama Ustadz Zam."
Disela makannya Haqi berbicara, hal itu membuat Hulliyah menatapnya heran.
"Iri?"
Haqi menatap Hulliyah penuh arti, "Aku iri, dia sudah menikah dan kehidupannya normal. Beda sama kita."
Seketika itu Hulliyah tiba-tiba tersedak dan terbatuk-batuk.
Haqi sedikit panik dan mengambilkan minum untuk Hulliyah.Setelah itu suasana kembali canggung, mereka kembali diam.
Hingga makan siang selesai tak ada kata lagi diantara mereka.
-------------------
Malam yang terselimuti sunyi, pekat langit mengukir rasi. Malam kedua untuk Haqi tidur bersama Hulliyah. Sungguh godaan yang siap merobek kepercayaan, bagaimana tidak? Ada istri tetapi tak bisa disentuh.
Kecanggungan selalu menyelimuti mereka berdua, raga ada berpadu tempat tetapi jiwa terhalang keadaan.
Hulliyah dan Haqi berada di atas kasur tanpa pembatas, menatap langit-langit kamar yang mendadak terlihat indah. Tidak ada yang berani menoleh satu sama lain.
Sunyi.
Waktu terus berjalan, malam semakin larut namun dua insan itu tak jua memejamkan mata. Berlama-lama menatap langit-langit dalam kesunyian, akhirnya Hulliyah mengeluarkan suara.
"Apa Kakak tidak mau menyentuhku?"
"Aku ikhlas Kakak menyentuhku sekarang," lanjut Hulliyah.
Haqi tak bisa menyembunyikan lagi rasa keterkejutannya, hingga kini Haqi memberanikan diri untuk menoleh ke arah istrinya.
Hulliyah masih betah memandangi langit- langit itu mencoba menenangkan jiwanya yang tak karuan. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Hulliyah ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar lautan. Hulliyah malu mengucapkan kalimat tersebut.
Hulliyah ingin bersembunyi.
Sejurus kemudian Hulliyah bangkit hendak keluar dari kamar. Hulliyah ingin kabur sejauh mungkin menghindari Haqi.
"Mau kemana?"
Suara Haqi menghentikan langkah Hulliyah.
"Em itu a-aku...."
Keringat dingin merembes keluar melalui pori-porinya. Detak jantung Hulliyah serasa melompat-lompat ingin keluar dari dadanya.
"Sypa tenang saja, aku tidak akan melakukannya," kata Haqi.
Haqi mendudukkan dirinya dan menatap Hulliyah yang masih kaku berdiri.
"Duduk sini!" titah Haqi.
Hulliyah menurut dan mendudukkan dirinya di dekat Haqi.
__ADS_1
"Hubungan suami istri bukan hanya soal saling menyentuh. Suami istri itu aku dan kamu menjadi satu, bersama-sama saling menerima. Bersedia mendengar dan didengar, saling bercerita berbagi dalam segala hal."
"Bukan tidak ingin aku menyentuhmu tetapi aku harus menghormati janjiku kepada ayahmu. Aku tidak akan menyentuhmu sebelum pernikahan yang resmi terjadi. Aku harap Sypa setuju dengan keputusanku. Laki-laki itu yang dipegang adalah janjinya."
Hulliyah menatap takjub seseorang yang sekarang adalah suaminya itu.
"Oh iya, ibuku ingin lebih mengenal Sypa. Kita video call beliau saja yuk!"
"Tapi Kak, ini sudah dinihari."
Hulliyah ragu.
"Eh masa sih, jam berapa sekarang?" tanya Haqi.
Hulliyah menunjukkan ponselnya pada Haqi.
Haqi pun menepuk jidatnya.
"Kalau begitu kita tidur saja," ucap Haqi.
Setelah menghabiskan banyak waktu dengan melamun, akhirnya mereka mengakhiri malam dengan tertidur menyambut mimpi mereka masing-masing. Meninggalkan kemelut dan hasrat yang tak bisa dihindari.
---------------------------
Siang harinya mereka habiskan di danau, menaiki perahu menuju satu gundukan tanah di seberang danau. Berjalan-jalan sambil menikmati kebersamaan dua keluarga kecil itu terlihat riang.
Saat sore menyapa mereka kembali melakukan perjalanan untuk pulang. Di dalam mobil itu, Zamima berceloteh ria mengungkapkan pengalamannya naik perahu. Suasana terasa hidup karena Zamima, tingkahnya yang menggemaskan membuat semua orang terhibur karenanya.
Perjalanan itu terasa sangat cepat, kini mereka tiba di rumah Nimas. Pasangan yang baru berbaikan itu keluar dengan kedua anaknya. Mereka berpisah di sana.
Haqi mengantar Hulliyah kembali ke Pesantren.
Setibanya di Pesantren, Haqi mengantar Hulliyah sampai di depan kobong.
"Aku pulang dulu *Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam*." Senyum terus mengembang di bibir Hulliyah mengiringi kepergian Haqi.
Haqi ternyata tidak langsung pulang, dirinya menyempatkan diri mengunjungi Mama Haji untuk berterimakasih sudah mengizinkan Hulliyah pergi bersamanya.
Setibanya di rumah Mama Haji, Haqi terkejut mendapati seseorang yang dikenalnya sedang berdebat dengan Mama Haji.
"Ini dia orangnya!" ucap orang itu dengan nada tinggi.
"Ba-Bapak...."
Sapaan dari Haqi nyatanya makin membuat amarah orang tersebut memuncak dan menghampirinya. Jari telunjuknya tepat ditujukan di depan wajah Haqi.
"Mana janji kamu?"
"Mana niat baik kamu yang diumbar pada saya waktu itu? Berani-beraninya kamu membawa anak saya menginap berdua!"
Ya, orang tersebut adalah ayahnya Hulliyah yang kebetulan datang untuk mengunjungi anaknya dan tidak mendapati Hulliyah berada di Pesantren.
Amarah itu datang lagi, ayah Hulliyah semakin membenci menantunya itu.
__ADS_1