
Haqi berpamitan pulang hari ini, setelah kemarin bertarung dengan emosi jiwa dan penuh drama saat ini Haqi lega. Sang mertua yang keras itu kini mau menerimanya.
"Sypa, aku pulang dulu. Nanti akhir pekan aku sama Ummi ke sini lagi." kata Haqi ketika berpamitan.
"Sama Ummi?" tanya Hulliyah.
"Beliau ingin menjengukmu, sudah aku berangkat dulu. Assalamualaikum."
Haqi memilih untuk merahasiakan niat baiknya kepada Hulliyah, Haqi ingin memberi kejutan manis kepada istrinya itu.
Selepas Haqi pergi dunia Hulliyah menjadi suram, tubuhnya terasa sangat lemas dan tidak bersemangat.
Sementara itu hubungannya dengan sang ayah masih belum membaik. Hulliyah masih diam begitu pun dengan ayahnya yang belum berani berbicara padanya.
Sebenarnya hati kecil Hulliyah ingin sekali meminta maaf pada ayahnya, tetapi mulutnya bungkam tak bersuara.
------------------------
Dua hari berlalu, keadaan Hulliyah semakin membaik. Dia sudah mulai berjalan-jalan mengelilingi perkebunan teh, menikmati keindahan kampung halaman yang selalu dia rindukan kala dirinya masih mondok.
Setelah merasa lelah Hulliyah pulang ke rumahnya. Hulliyah mengistirahatkan pegal kakinya karena berjalan lumayan jauh.
Hingga dering ponsel tiba-tiba terdengar.
Hulliyah sumringah begitu tahu yang menelpon adalah Haqi.
Mereka saling bersahutan menjawab salam.
Gimana sekarang keadaan Sypa?
Haqi bertanya diujung telpon sana.
"Alhamdulillah Kak, sudah baikan," jawab Hulliyah.
Selama mendengar suara Haqi, Hulliyah salah tingkah sendiri. Hulliyah tanpa sadar menggigit-gigit ujung kerudungnya.
Lusa aku ke sana.
Hulliyah kegirangan hingga menepuk-nepuk tembok yang menjadi sandarannya.
"Aw ... sakit," pekik Hulliyah karena tangannya merasa kesakitan.
Sakit apa? Kenapa?
Haqi terdengar panik.
"Eh, enggak Kak barusan aku kejedot."
Hulliyah merutuki kebodohannya, kenapa berbicara dengan Haqi bisa membuatnya melakukan hal sebodoh itu.
Makanya hati-hati.
"Iya Kak, Kakak lagi dimana?" tanya Hulliyah.
Lagi di sekolah, lagi istirahat makan siang. Eh tiba-tiba keinget Sypa akhirnya aku nelpon.
Hanya mendengar kalimat sederhana seperti itu saja sudah membuat Hulliyah melayang, ujung kerudung kembali menjadi korbannya.
Padahal Haqi tidak ada niatan menggombal, entah mengapa Hulliyah terbang tinggi setinggi-tingginya.
Mereka terus mengobrol sampai sambungan itu harus diakhiri karena jam istirahat Haqi telah usai.
Hulliyah mendekap ponsel miliknya sambil tersenyum-senyum. Sampai saat sang adik pulang dari sekolah.
Sang adik masuk tanpa mengetuk pintu.
"Teteh kenapa?" tanyanya keheranan melihat tingkah Hulliyah.
"Eh, kalau masuk rumah itu ngasih salam jangan nyelonong." Hulliyah mengalihkan pembicaraan agar sang adik tidak curiga.
"Aku kira gak ada orang Teh," bela sang adik.
"Sini dengerinTeteh!"
Hulliyah mengajak adiknya itu duduk bersama di atas tikar.
Tidak ada bantahan sama sekali dari sang adik, dia menuruti Hulliyah dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Mau ada orang atau tidak ada orang di dalam rumah, kita harus mengucap salam ketika masuk ke dalam rumah."
"Nanti gak ada yang jawab Teh."
"Siapa bilang? Di dalam rumah yang kosong pasti ada malaikat di sana, jadi malaikat yang akan menjawab salammu."
Sang adik mengangguk paham, Hulliyah pun mendekapnya penuh sayang.
"Ih apa nih? Basah ...."
Sang adik tiba-tiba menjauhkan diri dari Hulliyah.
Hulliyah melihat ke arah kerudungnya yang memang basah.
"Kenapa itu sampai basah begitu Teteh?"
"Teteh gigitin tadi he ...." Hulliyah memberikan cengiran yang menampakan deretan giginya.
"Ih ... jorok pisan, kalau Kak Haqi tahu dia bakal illfeel."
Sang adik merinding kegelian.
"Masa si Dek? Jangan kasih tahu kalau gitu!"
"Gak janji deh ...."
Sang adik berlari menuju kamarnya meninggalkan Hulliyah yang masih menatapi kerudungnya itu.
-------------
Akhir pekan pun tiba, kesibukkan mulai tampak di kediaman Hulliyah. Sang ayah ingin yang terbaik menyambut besannya, hal ini dilakukan untuk menebus dosanya kemarin yang bersikap tidak baik ketika orangtua Haqi berkunjung.
"Bu, apa Ayah tidak akan marah-marah? Nanti Kak Haqi sama Ummi datang," tanya Hulliyah yang sedang membantu ibunya di dapur.
"Kita lihat saja nanti."
Sang ibu menangkap bahwa Hulliyah belum mengetahui tentang perdamaian antara Haqi dan ayahnya. Sehingga sang ibu memilih berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Senja yang menyingsing lebih cepat menjadi penghantar kedatangan Haqi bersama Bu Salamah. Sang ayah dan ibunya Hulliyah menyambut mereka dengan ramah di teras itu.
Kini mereka telah duduk berlesehan di atas karpet. Di depan mereka tampak berbagai macam makanan yang sengaja dipersiapkan. Hal ini berbeda sekali ketika Bu Salamah dan Pak Darmono pertama kali datang ke sana.
"Abi meminta maaf tidak bisa hadir Pak, Bu."
Haqi berbicara mewakili ayahnya.
"Tapi beliau sangat senang sekali ketika mendengar kabar baik ini Pak. Terimakasih banyak," ucap Bu Salamah.
"Jangan berterimakasih! seharusnya saya meminta maaf terlebih dahulu karena tindakan saya kemarin."
Ayahnya Hulliyah nampak menyesal.
Obrolan mereka pun menghangat diselingi candaan. Waktu pernikahan telah disepakati yakni tiga minggu pagi. Namun Hulliyah masih saja diam, dirinya masih terlalu kaget dengan perubahan sikap ayahnya.
"Sypa kenapa diam saja?" tanya Bu Salamah.
"Mungkin Sypa masih marah sama saya," celetuk ayah Hulliyah.
"Sypa, kita bicara di teras sebentar yuk!" ajak Haqi.
Hulliyah mengikuti langkah suaminya menuju teras rumah yang tidak terlalu luas, tidak ada kursi ataupun meja hanya pembatas yang terbuat dari tembok dijadikan tempat duduk oleh Haqi.
"Sypa marah sama Bapak?" tanya Haqi.
Hulliyah menggelengkan kepalanya, kemudian ikut duduk berhadapan dengan Haqi.
Terpaan angin di sore itu mendinginkan suasana yang tercipta diantara suami istri itu.
"Bapak sangat menyayangimu," kata Haqi.
Hulliyah diam tidak merespon apapun yang dikatakan suaminya.
"Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rosululloh bersabda, 'janganlah engkau membenci bapak-bapakmu! Barangsiapa membenci bapaknya berarti dia telah kafir.' Hadist tersebut diriwayatkan oleh muttafaqun'alaih, Sypa tahu artinya muttafaqun'alaih?"
"Hadist yang disepakati shohihnya. Hadist yang selalu diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim." jawab Hulliyah.
"Nah itu tahu, pintarnya istriku."
__ADS_1
Pujian Haqi yang spontan membuat Hulliyah semakin melayang dan jatuh cinta dibuatnya.
"Aku tidak membenci Ayah, Kak. Aku hanya kecewa saja."
"Tapi kan sekarang Bapak sudah setuju dengan hubungan kita, lalu kenapa Sypa masih mendiamkan Beliau?"
Hulliyah terdiam meresapi ucapan Haqi.
"Kakak Ustadz ya?" Hulliyah tiba-tiba bertanya sesuatu yang memang selama ini menjadi pertanyaan dalam benaknya.
Haqi mengernyit heran mendapat pertanyaan dari Hulliyah.
"Mana ada Ustadz kayak aku."
Haqi tergelak pelan merasa lucu dengan pertanyaan Hulliyah.
"Banyak juga tetangga yang nanya kemarin Kak. Aku hanya mewakili mereka."
"Bukan, aku Haqi. Oh iya nanti malam bakar-bakar yuk di sini!" kata Haqi.
"Bakar rumah?" celetuk Hulliyah.
"Ye ... otak istriku sadis amat."
Haqi mengusap wajah istrinya gemas.
"Ya terus? Bakar-bakar ngapain?"
"Ck ... ceritanya aku ulang tahun, Ummi keukeuh mau rayain. Lah dikira aku anak Tk, ya udah aku saranin aja kita bakar-bakar di sini. Eh Ummi setuju, nanti kita bakar ikan atau ayam. Kebetulan di jalan tadi aku beli."
"Oh Kakak ulang tahun," kata Hulliyah sambil menahan tawa.
"Tuh kan pasti ngeledek 'kan?"
Haqi menggelitik Hulliyah sampai kata ampun terucap dari bibir Hulliyah, setelah puas menggelitiknya Haqi mendekap istrinya itu. Semua kesakitan akan berakhir, kebahagiaan akan menjelang.
Haqi memeluk Hulliyah tidak peduli akan semua orang yang berlalu lalang melewati mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Uh sweet😍
Oh iya ada yang nitip promoin katanya. Yuk mampir ke karya Author Mey Olivia.
Pagi-pagi makan rujak
Minumnya air kelapa
Awas ah sakit perut
Terimakasih semua😘
Eh Nanti di akhir kisah Love In Pesantren aku mau ngasih 5 pertanyaan. Siapa yang jawabannya pas ada hadiahnya. Ditunggu ya😍
__ADS_1