
Aku dan Uwa memulai acara belanja kami, setelah insiden tadi aku mulai berfikir, apa sebenci itu Farrel padaku?
Boleh ga sih aku benci dia?
Boleh ga aku membenci suamiku?
Awalnya memang aku berharap kisahku akan indah pada akhirnya. Aku berharap hubunganku bersama Farrel akan baik-baik saja.
Namun kini asa itu perlahan pupus,setiap hari ku jalani dengan kehampaan. Kini aku pasrah pada takdir ini mengimani qada dan qadarnya sang ilahi. Entah kemana akhirnya aku akan menuju.
Yang jelas ku tahu Tuhan selalu ada bersamaku.
Setelah berlama-lama belanja, tarik ulur harga bersama para pedagang akhirnya acara belanja kami selesai juga.
Sedikit syok melihat belanjaan Uwa yang banyaknyaa minta ampun pantas minta ditemenin pengawal hihi.
Di kejauhan ku lihat Ustadz Ahmad dan Farrel masih mengobrol. Sepertinya serius sekali.
Ah tadi Uwa menyuruhku memanggil mereka untuk membawa barang belanjaannya.
Ku hampiri mereka yang terlihat terkejut akan kedatanganku yang bisa di bilang mendadak.
"Sof-Sofi sejak kapan kamu disitu?"
Loh ko Ustadz Ahmad melotot gitu lihat aku?
Beda tuh sama suamiku yang membuang muka begitu melihatku.
Uh siapa juga yang mau diliatin uwee.
"Barusan Stadz, kata Uwa tolong bawain belanjaannya."
Dua pria itu pun secara bergantian membawa barang belanjaan Uwa, sedangkan aku tadi diajak Uwa menunggu di mobil.
"Sof, maafkan Farrel ya nak."
Eh kenapa Uwa bicara seperti itu?
"Minta maaf untuk apa Wa?"
Mencoba menatap mata Uwa.
"Tadi, insiden tadi. Atas nama Farrel Uwa minta maaf."
Uwa aku ga apa-apa.
"Farrel ga sengaja Wa, kenapa harus minta maaf?"
Ku coba genggam tangan Uwa lembut.
Kenapa Uwa nangis?
"Uwa tahu, pasti Farrel tidak memperlakukanmu dengan baik."
__ADS_1
Sejenak Uwa terdiam kemudian untuk mengatur nafas.
"Sebenarnya Farrel anak baik Sof, Uwa masih inget waktu dulu dia masih kecil. Farrel anak yg ceria tapi setelah..."
Uwa menjeda perkataannya karena menghapus air matanya yang bercucuran.
Aku mencoba menenangkan Uwa, ku usap pelan punggungnya. Sebenarnya seberat apa sampai Uwa begini sedihnya.
"Berawal dari kecelakaan itu, kecelakaan di palang pintu rel kereta api..."
Kembali Uwa menangis sesenggukan mengatur nafasnya sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.
"Ayah Farrel meninggal karena tertabrak kereta api."
Sontak aku membekap mulutku yang menganga karena kaget.
"Hari itu Farrel dan ayahnya pulang berkunjung dari rumah Uwa, mereka naik motor Sof. Farrel yang masih berusia tiga tahun diajak ayahnya naik motor. Ketika mereka melintasi rel entah kenapa karena kejadiannya begitu cepat menurut saksi mata, Farrel terlempar ke depan sedangkan ayahnya terseret kereta api sampai sepuluh meter beserta motornya. Itu semua terjadi di hadapan Farrel, anak sekecil itu menyaksikan ayahnya terseret kereta api."
Tangis itu pecah lagi. Uwa segera menghapus air matanya dan berpaling muka ke arah yang lain sebab di lihatnya Farrel berjalan menuju mobil.
"Wa, minyaknya ada berapa litter?"
Itulah pertanyaan Farrel pada Uwa.
"Sepuluh."
Biar aku yang jawab, meskipun dapat tatapan membunuh dari Farrel.
Uwa memandangi punggung keponakannya itu.
"Setahun setelah ayahnya meninggal, adik Uwa ibunya Farrel menikah lagi dengan seorang duda."
Uwa menghela nafas panjang.
"Awalnya Uwa sangat lega, karna kehidupan Farrel dan ibunya akan normal kembali. Tapi.."
Kali ini Uwa memelukku dan sesenggukan makin parah.
"Tapi kenapa Wa?"
"Tapi Uwa salah, laki-laki itu bukanlah seseorang yang baik. Laki-laki itu kerap menyiksa adik Uwa bahkan parahnya semua dilakukan dihadapan Farrel, tiap kali Farrel main ke rumah Uwa dia pasti ngadu ke Uwa tentang semua itu. Hingga suatu hari, Uwa menegor laki-laki itu. Uwa harap dia akan jera tapi apa kamu tahu? Laki-laki itu melampiaskan kekesalannya pada Farrel dia berani menyiksa Farrel berkali-kali. Itu salah Uwa."
Oh Farrel sepedih itu masa kecilmu?
"Suatu hari, saat itu matahari sangat terik. Uwa mendapat telpon dari tetangga adik Uwa, orang yang selama ini Uwa mintai tolong untuk mengawasi adik Uwa. Dia memberi kabar bahwa, bahwa.. Aaaaaa"
Tangisan Uwa begitu pilu kini.
Uwa melepas pelukannya dan menundukkan kepalanya pada sandaran jok mobil di depannya.
Pandanganku pun mulai kabur akibat banyaknya air mata yang menggenang di pelupuk mataku.
Ku usap lembut punggung Uwa.
__ADS_1
"Sofiaa, ibunya Farrel meninggal gantung diri, di hadapan Farrel. Saat itu sesampainya Uwa di rumah mereka, warga berkerumun dan Uwa menerobos masuk, Uwa lihat adik Uwa tergantung di kamar mandi. Uwa lihat Farrel yang kala itu belum genap berumur enam tahun menyaksikan wajah ibunya yang membiru itu. Dia lihat tanpa berkedip Soof."
Hampir tak ku percaya ini semua, Farrel kamu?
"Sof, Farrel tidak bicara sebulan Soof. Dia trauma berat, sangat sulit untuk membuatnya sedikit demi sedikit sembuh. Sungguh sangat sulit."
Kali ini Uwa menghadap ke arahku yang kini sudah berurai air mata.
"Uwa harap kamu bertahan sama Farrel yaa, Uwa minta tolong bimbing Farrel jadi manusia yang lebih baik. Uwa nitip Farrel sama kamu."
Tak ada kata yang bisa ku ucapkan selain anggukan dan air mata.
"Farrel beruntung memiliki Uwa, Farrel beruntung ada orang yang menyayangi dia sepenuh hati seperti Uwa. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri seperti tadi. Uwa tidak salah semua ini adalah takdir. Kita tidak bisa merubah qada dan qadar Alloh. Kita harus mengimaninya. Karena memang itu termasuk dalam rukun iman."
Uwa pun mengangguk dan kami pun memperbaiki penampilan kami, supaya tidak ketahuan habis menangis, sebab kedua pengawal itu telah selesai membawa semua barang belanjaan. Dan kini mereka tengah memasukkannya ke dalam mobil.
Saat aku hendak keluar untuk membantu, Uwa menarik tanganku dan geleng-geleng seraya tersenyum.
Ah terpaksa deh aku berlaga layaknya Nyonya besar yang memperhatikan kedua pengawalnya bekerja hehe.
Oh iya barangkali ada yang lupa rukun iman yang wajib kita lakukan ada 6, diantaranya:
1.Iman kepada Alloh, hal paling dasar kita harus percaya bahwa Alloh itu ada.
2.Iman kepada malaikat Alloh, makhluk Alloh yang mempunyai tugas masing-masing ini wajib kita imani.
3.Iman kepada kitab Alloh, ya disini Al-quran termasuk ke dalamnya.
4.Iman kepada Rasul, tentu kita harus mengimani Rasul Alloh, seseorang yang membawa wahyu dan menyampaikannya kepada umat manusia.
5.Iman kepada hari akhir, yaa hari itu pasti tiba. Hari dimana semua alam yang fana ini hancur.
6.Iman kepada qada dan qadar Alloh, Seperti yang kita ketahui ini adalah takdir dan ketetapan Alloh tanpa bisa di ganggu gugat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Hehe bukan bermaksud menggurui, hanya mengingatkan. Hal dasar yang menjadi pondasi keimanan kita (author)
__ADS_1