MENIKAHI ADIK MANTAN

MENIKAHI ADIK MANTAN
Bab 10 : DONGMIN


__ADS_3

Pagi ini Dongmin mengirim pesan pada Bumi dan mengatakan bahwa dia akan menemui Manager Cafe . Setelah itu Dongmin menelpon Ana, Semalam dia sudah mengabari wanita itu mengenai pekerjaan ini.


Semoga ini bisa membantunya.. harap Dongmin.


Dongmin bediri dibawah guyuran air yang hangat, badannya terasa segar. Dia tahu perasaannya pada Ana adalah rasa suka dan kagum pada wanita itu. Sejak pertama kali bertemu, Dongmin sudah tertarik padanya.


Dia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan selembar handuk yang menutupi perut bawah sampai lututnya, dengan satu handuk kecil lagi yang sedang dia gosokkan ke rambut nya yang basah.


Pria itu berjalan ke Walk in closet milik nya. Sesaat pria itu menatap dirinya sendiri di cermin.


"ck." Dia merasa kesal.


Dongmin memang terkadang merasa kesal jika orang-orang mengatakan bahwa dia mirip dengan Minhyun, Menurutnya mereka sama sekali tidak mirip. Dia juga tidak mau di mirip-miripkan dengannya.


"ck apanya yang mirip, bukankah aku lebih tampan?" Dia berusaha mengelak fakta itu,


Dongmin tidak ingin mood nya hancur hanya karena Minhyun, dia tidak membencinya tapi juga tidak menyukainya. Sebenarnya yang memang seharusnya dia benci adalah ayahnya, pria itulah yang mengkhianati ibunya dan memiliki anak dengan perempuan lain.


Dongmin menyemprotkan parfume ² kesukaannya ke tubuh dan lehernya. Dia memilih Kaos hitam polos dengan luaran kemeja berwarna biru dan celana Jeans, tidak lupa dengan topi hitamnya.


Jadwal temu Manager Cafe sekitar jam 10.00 pagi


Sekarang waktu baru menunjukan jam 9.00, Dongmin segera turun untuk menunggu bus dihalte. Dia belum mau mengendarai mobilnya sendiri karena menurutnya ini belum saatnya. Mungkin jika dia sudah bekerja diperusahaan, dia akan menyetir mobilnya sendiri.


Setelah bus tiba, Dongmin duduk dengan earphone di telinganya.


Setelah 1 jam berlalu, Dia sampai di depan gedung Apartemen Ana. Dia turun dari Bus dan langsung berjalan masuk ke Lobi apartemen.


Pria itu mengeluarkan ponselnya berniat mengirim pesan pada Ana, tapi kemudian dia melihat Ana keluar dari arah lorong kiri berjalan sambil berbincang dengan Minhyun.


"Kau dari tadi?" Ana menghampiri nya sambil tersenyum,


Minhyun menatap Dongmin sekilas..


kenapa harus bertemu dengan nya sih .... batin Dongmin.


"Aku baru sampai, sepertinya kita harus berangkat sekarang!" Ajaknya.


"Minhyun terimakasih atas waktumu, semoga lancar hari ini, aku pergi dulu."


Ana melambaikan tangan kepada Minhyun yang menatapnya, pria itu menyunggingkan senyuman tipis pada Ana. Dongmin melihat sinis adiknya, dia dan Ana keluar dari Apartemen berjalan menuju Kantor Bumi.


Kebetulan karena jarak yang tidak jauh jadi mereka memutuskan untuk berjalan sambil mengobrol. Dongmin tahu kemana Minhyun akan pergi, pemuda itu pasti akan pulang kerumah ayah mereka.


Ayah nya, Lee Ro Jun memang selalu meminta anak-anak berkumpul setiap minggu untuk makan atau bermain bersama. Tapi dua minggu terakhir ini Dongmin sedang tidak ingin datang kesana.


"Aku sangat berterimakasih padamu," Ana menatap Dongmin sambil tersenyum, Pria itu membalasnya dengan senyuman tipis.


"Pekerjaan ini sangat aku butuhkan," Ana menunduk sambil berjalan, Dongmin menatap Ana sesekali.


"Oh iya semalam aku bertemu saudaramu." Ana melirik Dongmin sambil tersenyum.


"Minhyun?" Tanya Dongmin dengan ekspresi datar,


"Minhyun Saudaramu?" Ana membuka mulutnya, sedikit agak terkejut. Dongmin masih belum sadar siapa yang Ana maksud. Tadi dia hanya asal bicara, akhirnya dia tidak bisa mengelak lagi sekarang. Ternyata yang dimaksud Ana bukanlah Minhyun.


"Ya" kata Dongmin datar.


"Tapi kenapa kalian tidak saling sapa tadi?" Ana heran.


"Tidak apa-apa kami memang seperti itu," Dongmin menatap jalanan lurus.


"Bukan Dia.." Ana menyilangkan tangan di dada, udara hari ini terasa lebih dingin. Mungkin karena sebentar lagi memasuki Musim dingin.

__ADS_1


"Lalu siapa? Tidak mungkin Bumi kan?" Dongmin melihat Ana yang berjalan didepannya.


"ya betul, dia. Memangnya siapa lagi?" Ana tertawa kecil pada Dongmin.


"Kau bertemu Bumi? Dimana?" Dongmin berlari kecil menyeimbangi jalan Ana.


"Di restoran sebrang Apartemenku," Ana berjalan mundur menghadap Dongmin, Dia hampir saja terjatuh. Untunglah Dongmin dengan sigap memeluk pinggang Ana dengan tangan kekarnya.


Seketika mereka diam membeku, saling menatap satu sama lain, Dongmin membantu Ana berdiri tegak, lalu melanjutkan perjalan mereka dengan canggung.


Akhirnya mereka sampai di KIK, perusahaan yang mencapai pencakar langit ini berdiri kokoh didepan mereka. Keduanya berjalan masuk,


"Salamat pagi Pak Dongmin," para penjaga sudah mengenali Dongmin, tentu saja itu karena dia termasuk pemegang saham diperusahaan kakek nya ini. Dongmin dan Ana berjalan langsung ke arah kanan menuju cafe itu berada.


"Selamat Pagi Pak," Manager Cafe menyambut mereka.


"Selamat Pagi," jawab Dongmin.


Dia menjabat tangannya dan tersenyum, begitupun dengan Ana. Dongmin menemani Ana masuk lalu duduk disana sambil memesan makanan.


"Jadi ini yang Pak Bumi maksud?" Manager itu bertanya pada Dongmin, Pria itu mengangguk dan tersenyum.


"Baiklah, Kau boleh ikut aku ke dalam," Manager itu mengajak Ana ke ruangannya.


"Ya , tentu pak." Ana berdiri lalu menoleh ke arah Dongmin, pria itu tersenyum.


*


*


INTERVIEW


"Apa ada pengalaman sebelumnya?" Tanya pria tua itu.


"Tidak apa-apa, nanti karyawan yang lain akan mengajarimu caranya." Manager Cafe tersenyum, sepertinya Ana akan diterima untuk bekerja disana. Betapa hebatnya kekuatan orang dalam.


"Terimakasih banyak aku pasti akan melakukan yang terbaik," Ana tesenyum.


"Baiklah kalau begitu, kau boleh meninggalkan berkasmu disini. Aku tidak bisa lama-lama karena sepertinya Pak Dongmin menunggumu, nikmatilah hidangan yang disediakan. Besok kau boleh mulai bekerja." Manager menjabat tangan Ana.


"Tentu terimakasih pak." Ana keluar dari ruangan itu dengan wajah sumringah, akhirnya dia mendapat pekerjaan yang sesuai. Dia harus membalas kebaikan Doongmin sekarang. Dongmin tersenyum menyambut Ana datang,


"Makanlah, apa kau ada acara setelah ini?" Dongmin sedang memotong steak di depannya.


"Tidak ada," jawab Ana singkat sambil mengambil garpu dan pisau di atas meja.


"Apa kau mau menonton?" Dongmin berbicara santai sambil melahap makanannya. Sebenarnya dia sama gugupnya dengan wanita itu.


"hmm Ya tentu, sudah lama sekali aku tidak menonton film di bioskop" Ana tersenyum canggung, ini kali pertamanya menonton film dengan seorang pria. Apalagi pria itu adalah seniornya.


Dongmin tersenyum lalu menunduk, ini juga kali pertama nya memberanikan diri mengajak seorang wanita menonton film di bioskop. Walau jantungnya berdegup kencang dia tetap berusaha terlihat tenang di depan Ana.


Setelah selesai makan siang, Mereka langsung pergi menaiki bus ke arah pusat perbelanjaan Kota. Mereka memutuskan untuk menonton film Thor saat itu.


"2 tiket untuk Thor, Juga dua cola dan popcorn ukuran besar." Dongmin memesan tiket dan makanan, Ana mengeluarkan uang dari dompetnya. Tapi dengan sigap Dongmin memberikan Kartu debit yang dia miliki ke kasir.


Setelah mendapatkan makanan dan minuman, mereka duduk dulu untuk menunggu pintu teaternya dibuka,


"Aku yang mengajakmu kemari," Kata Dongmin sambil memberikan cola, sisanya dia yang membawa kedalam.


"Aku merasa tidak enak jika kau yang harus membayar semuanya," Ana mengerucutkan bibirnya canggung.


"Kau boleh membayarnya kembali saat mendapatkan gaji pertamamu nanti" Dongmin melihat Ana lalu meminum cola nya lebih dulu, karena gugup tenggorokannya jadi terasa cepat kering.

__ADS_1


"Tentu," Ana mengangguk setuju sambil tersenyum.


Tidak lama pintu teater pun dibuka, mereka berjalan masuk kedalam.


Setelah 15 menit akhirnya film pun dimulai, Ana sangat fokus menonton film sambil sesekali memakan pop corn. Begitu juga dengan Dongmin, dia sama fokusnya dengan Ana. Keduanya memang pecinta Marvel. Jadi mereka sangat menikmati filmnya.


Tangan mereka bersentuhan saat ingin mengambil Pop Corn, kemudian mereka saling menatap satu sama lain. Karena tidak ingin suasana menjadi lebih canggung, Ana langsung memalingkan wajahnya dan fokus lagi ke film itu. Dongmin menyodorkan popcornnya ke arah Ana.


"Kau lebih dulu!"


"Terimakasih," Dia menyeringai di antara cahaya layar yang menyoroti wajahnya yang cantik.


2 jam sudah dilewati dengan seru dan film pun selesai, waktu menunjukan sekitar pukul 04.15 Sore.


"Kita akan kemana lagi?" Ana menatap Dongmin sambil merapikan rambutnya.


"Apa kau ingin pergi bermain?" Ajak nya, Dongmin menunjuk ke area bermain capit boneka.


"Ya tentuuuu!" Dia terlihat sumringah.


"Kumohon kali ini biar aku yang membayar," Ana mengiba.


"Baiklah," Dongmin tidak bisa menolak, dia menunggu Ana mengisi kartu untuk bermain


"Ayo kita main itu dulu!" Ana menunjuk ke arah lempar bola basket.


Satu masuk (Dongmin)..


Dua masuk (Ana)..


Tiga masuk (Dongmin)..


Tidak ada yang melenceng,


tidak masuk (Giliran Ana)..


"Ahhh maafkan aku," Ana mengerucutkan bibirnya cemberut.


"Tidak apa-apa," Dongmin tertawa kecil melihat ekspresi Ana.


Sekarang mereka beralih ke mainan capit boneka. Tapi Dongmin selalu gagal dan itu membuatnya sedikit malu pada Ana. Dongmin melihat anak berseragam sekolah di sampingnya yang sedari tadi berhasil mendapatkan boneka-boneka.


"Bolehkah aku tau trik nya?" dia berbisik ke anak itu,


"Tidak ada trik, kau hanya perlu keberuntunganmu haha." Anak itu mengejeknya.


"Jangan khawatir," Ana mendekat ke arah Dongmin, Pria itu jadi panas dingin. Dia tidak mau diremehkan anak kecil, jadi dia mencobanya lagi sampai ke 10 kalinya.


"Tidak perlu dipaksakan," Ana melihat kegigihan pria itu.


Akhirnya dia mendapatkan Boneka Stich kecil lucu, dia sangat bangga terhadap dirinya.


"Wowwww kau kerennn!!!" Ana bertepuk tangan bangga.


"Untukmu," Dongmin tersenyum tipis malu-malu, lalu memberikan itu kepada Ana.


"Terimakasih aku sangat menyukainya."


...****************...


...****************...


Kamus Author

__ADS_1


Parfume : minyak wangi


__ADS_2